“ah.. aku dimana sekarang?” akhirnya aku tersadar dari pingsanku.
“hufft.. akhirnya kau terbangun juga.. apa yang kau rasakan? kau kenapa?” tanya seseorang di depanku dengan wajah cemas.
“ehmm.. siapa ya?” aku benar-benar tidak mengenali wajah di depanku.
“ah.. mianhae.. kenalkan, aku Kim Ryeo Wook. salah satu karyawan perusahaan ini juga..” ujar orang tersebut.
“iye.. Annyeong Rye Wook-ssi.. tapi mengapa aku bisa disini bersamamu?” tanyaku.
“tadi kau sedang menunggu lift datang. dan tiba-tiba saja kau terjatuh, dan tidak sadar. aku ada di sekitar sana saat itu, makanya aku segera melarikanmu kesini..” dia memberikan penjelasan panjang lebar.
“ah.. begitu ya.. gamhasamnida.. maaf aku merepotkanmu.” aku berusaha bangun dari tempat tidur.
“hey, tidak apa-apa.. benar, aku tidak merasa kau merepotkan..”dia berujar sambil tersenyum.
dari arah pintu pun terdengar suara..“Min Ra.. apa kau tidak apa-apa?” terlihat kedua temanku, Eun Mi dan Hye Rin masuk menghampiriku.
“Ne.. aku tidak apa-apa.. Untung sekali saat itu ada orang yang menolongku.. ah, kenalkan, Ini Kim Ryeo Wook, orang yang tadi menolongku..” aku tersenyum sambil mengenalkan Ryewook kepada teman-temanku.
“ah.. Ryeo Wook oppa.. gamsahamnida..” Hye Rin membungkuk.
“kau benar-benar baik sekali oppa..” tiba-tiba wajah Eun Mi memerah.
“hahaha.. tidak apa-apa.. ehm.. kalian sudah makan siang? bagaimana kalau kita makan bersama?” tanya Ryeo Wook oppa.
“hah? tidak usah oppa, nanti malah tambah merepotkan..” aku merasa tidak enak.“ah, sudahlah.. ayo, kita makan bersama.” Ryeo Wook oppa berkata riang sambil membantuku berdiri. aku tidak menyadari ada sepasang mata yang melihat adegan ini dengan tatapan iri.
*di cafetaria*“kau mau makan apa? kupesankan ya?” Ryeo Wook oppa benar-benar memusatkan perhatiannya padaku.
“ne.. gomawo oppa..” aku hanya bisa tersenyum.
sambil menunggu makanan datang, kami berbincang-bincang santai. saat itu, tiba-tiba saja mataku menangkap sesuatu. dia, bosku, Lee Sung Min, sedang makan di sendiri di ujung cafe. tatapannya dingin. tapi entah mengapa, aku merasa kasihan sekali melihatnya.
sambil menunggu makanan datang, kami berbincang-bincang santai. saat itu, tiba-tiba saja mataku menangkap sesuatu. dia, bosku, Lee Sung Min, sedang makan di sendiri di ujung cafe. tatapannya dingin. tapi entah mengapa, aku merasa kasihan sekali melihatnya.
tanpa kutahu, sesekali dia melihat ke arah kami dengan tatapan yg sulit dijabarkan.
*sesudah makan*“Min Ra-ssi.. lebih baik kau pulang saja hari ini. siapa atasanmu?” tanya Ryeo Wook oppa tiba-tiba.
“he? Kepala divisiku bernama Lee Sung Min.” jawabku.
“ah dia.. baiklah, aku ke atas sambil meminta izin dulu padanya. kau tidak usah naik. Hye Rin, kau satu divisi kan dengannya? bisa bantu aku ambilkan barang-barangnya? Eun Mi, tolong jaga dia. setelah ini, biar aku yang mengantarnya pulang.” Ryeo Wook oppa memberi arahan.
“tidak usah oppa. aku sudah merasa sehat. lagipula, apa Sung Min oppa mau memberi izin untukku pulang?” aku merasa khawatir.
“tenang saja, pasti beres denganku. tunggu disini ya..” Ryeo Wook oppa dan Hye Rin segera bergegas ke ruanganku.
saat berdua dengan Eun Mi..“kau terlihat akrab sekali dengannya.. sepertinya kau kenal baik dengannya..” aku memulai pembicaraan.
“dia kepala divisiku. dan dia memang sangat baik, dan dekat dengan semua staffnya. oleh karena itu, kami semua sangat menghormatinya. lagipula dia…” Eun Mi menghentikan kalimatnya.
-di ruangan Sung Min-“permisi hyung..” Ryeo Wook mengetok pintu.
“masuklah..” terdengar nada dingin di balik pintu tersebut.
“ah kau.. ada apa tiba-tiba kemari?” Sungmin tetap memusatkan perhatiannya pada kertas di depannya.
“aku meminta izin untuk salah satu stafmu, Park Min Ra. dia baru saja pingsan tadi. kukira lebih baik dia pulang cepat hari ini.” Ryeo Wook memulai pembicaraan.
“ohya? kulihat tadi dia sudah bisa tertawa denganmu dan teman-temannya di cafetaria tadi.” Sung Min pun mendongakkan kepalanya menatap Ryeo Wook dengan tatapan tajam.
“tapi dia masih sedikit lemah.. biarkan dia istirahat. apa kau tidak melihat dengan jelas, dia terlihat benar-benar tidak sehat hari ini.” Ryeowook mulai panas.
“terserah kau sajalah..” Sung Min kembali sibuk dengan urusannya dan tidak memperdulikan Ryeo Wook.
“aku pergi dulu.” Ryeo Wook memutuskan segera pergi dari ruangan Sung Min.
hari itu, Min Ra diantar pulang oleh Ryeo Wook. mereka berdua berbincang banyak di mobil.
sesampainya di rumah Min Ra..
ting-tong..sesampainya di rumah Min Ra..
Min Ra memencet bel.
“oppa.. aku pulang..” Min Ra mulai berteriak. pintu pun terbuka.
“ah adikku, kau sudah pulang. lho? kau siapa? Jung Soo segera memasang tampang bingung melihat adiknya diantar oleh seseorang.
“annyeong.. aku Kim Ryeo Wook. maaf, hari ini aku mengantar Min Ra pulang. dia sedang tidak sehat hari ini.” Ryeo Wook memberi salam kepada Jung Soo.
“ah, begitu.. gamsahamnida.. ayo masuk dulu.” Jung Soo tersenyum manis.
“aniyo.. aku harus segera kembali ke kantor. baiklah, jaga kesehatanmu Min Ra.. aku pulang dulu..” Rye Wook membungkuk dan segera pergi.
“dia baik sekali.. hey, ada apa denganmu? kulihat dua hari terakhir ini kau tidak tidur ya? Jung Soo mulai cemas.
“ah oppa.. aku hanya sibuk mengerjakan tugas yang diberikan atasanku..aku ngantuk sekali. biarkan aku tidur dulu..” Min Ra pun melangkah pergi masuk ke kamarnya.
“Sung Min maksudmu? hah.. bocah itu.. awas saja kalau membuat adikku seperti ini lagi. akan kuhabiskan dia.” ujar Jung Soo geram.
“Sung Min? siapa dia?” terdengar satu suara di rumah itu.
“ah.. dia bos Min Ra.. tengil sekali orangnya..” ujar Jung Soo pada seseorang.
“wah, orang itu cari perkara denganku. tunjukkan mana orangnya.” dia Young Woon oppa, sahabat Jung Soo oppa. yang kutahu selama ini memang Young Woon oppa menaruh hati padaku. tapi aku berusaha tidak memperdulikannya.
“kalian jangan macam-macam ya.. jangan pernah punya pikiran aneh.” aku berteriak dari dalam kamarku.
“arasso.. tidurlah.. jangan banyak bicara.” Jung Soo oppa pun membalas ucapanku.
selanjutnya hari-hariku makin membaik.kesehatanku sudah kembali seperti dulu. dan kini, aku, Eun Mi, dan Hye Rin selalu makan siang bersama Ryeo Wook oppa di cafetaria.
Ryeo Wook oppa benar-benar baik terhadapku. dia selalu mengingatkanku untuk makan, dan terkadang mengirimiku sms sekedar memberi semangat. aku semakin dekat dengannya.
hari itu, Sung Min, bosku, memintaku untuk kerja lembur. karena kutahu kami harus menyelesaikan beberapa design mainan sesegera mungkin, aku pun tidak merasa keberatan. hari itu sudah malam sekali. aku harus pulang sendiri. tiba-tiba saja ada mobil menghampiriku.
“kau pulang dengan siapa?” kaca mobilku pun terbuka dan terlihat wajah Sung Min oppa dibaliknya.
“sendiri saja pastinya. memang kenapa?” aku berusaha menjawab dengan dingin.
“naiklah, biar ku antar.” Sung Min pun membukakan pintu.
“tidak usah. biar aku pulang sendiri saja.” aku segera pergi.
“hey, naiklah. aku tidak ingin bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa denganmu.” dia menjajari langkahku sambil mengemudikan mobilnya pelan-pelan.
karena aku sendiri merasa takut. akhirnya aku naik juga. aku tidak tahu, kalau ternyata Ryeo Wook oppa juga ada di parkiran itu. menungguku pulang.
sepanjang jalan kami tidak berbincang apapun. sesampainya di rumahku..
“ah, gamhasamnida..” kataku sebelum keluar dari mobilnya.“maaf sudah membuatmu pulang malam-malam. dan mungkin malam seterusnya juga begini. apa kau tidak keberatan?” nada suaranya tetap dingin seperti biasa.
“ne.. gwenchanayo.. hati-hati di jalan.” aku pun membungkuk sebelum mobilnya pergi dari hadapanku.
“tidurlah dengan nyenyak.” dan Sung Min oppa pun pergi dari hadapanku.“dia baik juga ternyata..” aku tersenyum sambil melangkah masuk ke rumah.
” Min Ra!!” tiba-tiba seseorang memanggilku dan menghampiriku.
“ah, Young Woon oppa.. apa yang kau lakukan disini?” tanyaku.
“aku sedang duduk-duduk saja di warung itu. ah, siapa dia? Ryeo Wook kah yang mengantarmu pulang tadi?” Young Woon oppa memasang ekspresi penasaran.
“aniyo.. dia bosku. Lee Sung Min. sudah ya. aku masuk dulu.” aku pun segera masuk dan menutup pintu pagarku.
di luar, Young Woon oppa memasang ekspresi yang sulit dijelaskan.
di luar, Young Woon oppa memasang ekspresi yang sulit dijelaskan.
hari-hari berikutnya pun aku tetap harus pulang malam untuk menyelesaikan tugasku. setiap hari, aku selalu diantar dengan Sung Min oppa. lama-lama kami akhirnya bisa mengobrol satu sama lain. ternyata dia orang yang hangat sekali. dia juga bisa melontarkan lelucon yang bisa membuatku tertawa.
hanya satu yang kusesali, tiba-tiba saja Ryeo Wook oppa seperti menjauh dariku. aku tidak tahu alasannya. Eun Mi juga bersikap sama seperti Ryeo Wook oppa. aku kira dia tidak suka berteman lagi denganku.
malam ini, seperti biasa aku diantar pulang oleh Sung Min oppa. sesaat setelah turun..
“gamsahamnida oppa.. lain kali antar aku pulang lagi ya..” ujarku sambil tertawa.
“huh.. besok-besok kau harus pulang sendiri.” katanya sambil menahan tawa.
“jahat kau oppa. sudah ah, lebih baik kau cepat pulang. hati-hati di jalan oppa. setelah pulang, langsung istirahat ya..” aku melambaikan tanganku.
“ne…kau juga. istirahat dengan baik ya..” Sung Min oppa balas melambai dan segera menghilang dari hadapanku.
saat Sung Min di jalan menuju pulang, tiba-tiba saja ada yang menghentikan mobilnya dari depan. merasa terhalang, Sung Min segera turun untuk meminta orang tersebut pergi.
“hey kau, bisa tidak menghentikan kendaraanmu dengan baik. ini sangat berbahaya tau..” Sung Min sedikit kesal.
orang yang ada di mobil tersebut segera keluar, dan tiba-tiba saja..
orang yang ada di mobil tersebut segera keluar, dan tiba-tiba saja..
Bukk!!
seseorang memukul Sung Min tepat di wajahnya. tidak mengira akan mendapat serangan seperti itu, Sung Min lengah, dan tidak berdaya.
seseorang memukul Sung Min tepat di wajahnya. tidak mengira akan mendapat serangan seperti itu, Sung Min lengah, dan tidak berdaya.
“Kau!! jangan dekati Min Ra lagi.. awas ya!! kau dengar itu? hah?” orang tersebut terus memukuli Sung Min. Sung Min berusaha keras untuk menghentikan serangan yang menimpanya, tapi dia semakin melemah.. di sela-sela pukulan itu dia hanya bisa berkata..
“Min Ra.. tolong aku.. tolong aku…”, dan tidak lama kemudian, dia tidak sadarkan diri.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar