BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

.

Kamis, 09 Juni 2011

please kim hyun joong

lirik lagu Kim Hyun Joong - Please

Hey Yeah

술에 취해서 I cried

너의 집 앞에서 너를 기다려

불이 꺼진 집으로 들어가는

그와 너를 보고 숨이 막혔어

눈을 맞추고 입을 맞추고

그를 안고 잠이 들

네가 너무 미워서

입술 깨물고 눈물 삼키고

정신 나간 사람처럼 서 있어

난 오직 너라고

영원히 너라고

터져버린 눈물에 주저앉아 불러

널 불러

I just don’t get it, get it,

Why don’t you get it, get it,

제발 너 그 사람 보며 웃지 마

제발 너 그 사람 입 맞추지 마

Cuz you’re the cheater, a liar,

and a killer

눈을 감으면 Baby

아직도 네가 곁에 있는 것 같아

네 숨결이 네 사랑이 내 안에서

도망가지 못하게 붙잡고 있을래

비가 내려서 모두 씻겨서 이별한

그 기억들을 사라지게 하고 싶어

어둠 속으로 더 먼 곳으로

내 아픈 눈물들을 데려가 줘

난 오직 너라고

영원히 너라고

터져버린 눈물에

주저앉아 불러

널 불러

I just don’t get it, get it,

Why don’t you get it, get it,

제발 너 그 사람 보며 웃지 마

제발 너 그 사람 입 맞추지 마

Cuz you’re the cheater, a liar,

and a killer

퍼지는 담배 연기 사이로

너를 흩어지게 해도

하얗게 네가 더욱 깊게 새겨져

너를 못 잊어

Oh Girl

다시 내게로 와

미칠 듯 소리쳐 너만을 사랑해

너를 보낸 잘못에

후회하며 빌어

난 빌어

I just don’t get it, get it,

Why can’t you get it, get it,

제발 너 그 사람 품에 안지 마

제발 너 그 사람 사랑하지 마

Cuz you’re the cheater, a liar,

and a killer

Oh Baby, I need you

You took my love

and killed it girl

You took my love

You took my love

and killed it girl

You took my love

and killed it girl

이러지마

You took my love

and killed it girl

Why my heart cries

Oh Girl, (It’s) like you killed me

You took my love

and killed it girl

Baby you killed it

제발 날 떠나가지 마



Romanised lyrics – Jebal

Hey Yeah

Sule chwihaeseo I cried

Neoui jib apeseo neoreul gidaryeo

Buli ggeojin jibeuro deuleokaneun

Geuwa neoreul bogo sumi makhyeosseo

Nuneul matchugo ipeul matchugo

Geureul ango jamideul

Nega neomu miweoseo

Ipsul ggaemulgo nunmul samkigo

Jangshin nagan saramcheoreom seo isseo

Nan ojik neorago

Yeongweonhi neorago

Teojyeobeorin nunmure jujeoanja bulreo

Neol bulreo

I just don’t get it, get it,

Why don’t you get it, get it,

Jebal neo geu saram bomyeo utjima

Jebal neo geu saram ip matchujima

Cuz you’re the cheater, a liar,

and a killer

nuneul kameumyeon Baby

ajikdo nega gyeote ittneun geot gata

ne sumkyeori ne sarangi nae aneseo

domangjaji mothage butjabgo isseulrae

biga naeryeoseo modu ssitgyeoseo ibyeolhan

geu giokdeureul sarajige hago shipeo

eodum sokeuro deo meon goseuro

nae apeun nunmuldeureul deryeoga jweo

Nan ojik neorago

Yeongweonhi neorago

Teojyeobeorin nunmure

jujeoanja bulreo

Neol bulreo

I just don’t get it, get it,

Why don’t you get it, get it,

Jebal neo geu saram bomyeo utjima

Jebal neo geu saram ip matchujima

Cuz you’re the cheater, a liar,

and a killer

peojineun dambae yeongin sairo

neoreul heuteojige haedo

hayahge nega deo-uk gipge saegyeojyeo

neoreul mot ijeo

Oh Girl

Dashi naegero wa

Michil deut sorichyeo neomaneul saranghae

Neoreul bonaen jalmote

Huhwihamyeo bireo

Nan bireo

I just don’t get it, get it,

Why can’t you get it, get it,

Jebal neo geu saram pume anjima

Jebal neo geu saram saranghajima

Cuz you’re the cheater, a liar,

and a killer

Oh Baby, I need you

You took my love

and killed it girl

You took my love

You took my love

and killed it girl

You took my love

and killed it girl

ireojima

You took my love

and killed it girl

Why my heart cries

Oh Girl, (It’s) like you killed me

You took my love

and killed it girl

Baby you killed it

Jebal nal ddeonakajima



Translated lyrics – Please

Hey Yeah

I was intoxicated so I cried

I waited for you in front of your house

With the light off, I entered the house

I saw you and him and I choked on my breath

Eyes were fixed and you kissed

You embraced him and fell asleep

I really hate you

I bite my lips and swallow my tears

I stood there like a crazy person

To me, it’s still only you

Forever, it’s you

With bursting tears as I collapse, I call out,

I call out for you

I just don’t get it, get it,

Why don’t you get it, get it,

Please, if you look at him, don’t smile

Please don’t kiss him

Cuz you’re the cheater, a liar,

and a killer

When I close my eyes, Baby

I think I’m still at your side

Your breath, your love are inside me

I tightly hold you so you can’t escape

Because it rains, the separation is all washed away

I want those memories to disappear

Into the darkness, into a further place,

Take away my painful tears

To me, it’s still only you

Forever, it’s you

With bursting tears,

As I collapse, I call out,

I call out for you

I just don’t get it, get it,

Why don’t you get it, get it,

Please, if you look at him, don’t smile

Please don’t kiss him

Cuz you’re the cheater, a liar,

and a killer

Between the spreading tobacco smoke

You disperse

You become more deeply etched in white

I can’t forget you

Oh Girl

Come back to me

Shouting like crazy, I love only you

It was wrong to let go of you

Regretfully, I beg

I beg

I just don’t get it, get it,

Why can’t you get it, get it,

Please, don’t embrace in his arms

Please don’t love him

Cuz you’re the cheater, a liar,

and a killer

Oh Baby, I need you

You took my love

and killed it girl

You took my love

You took my love

and killed it girl

You took my love

and killed it girl

Don’t do it this way

You took my love

and killed it girl

Why my heart cries

Oh Girl, (It’s) like you killed me

You took my love

and killed it girl

Baby you killed it

Please don’t leave me

Senin, 06 Juni 2011

my powerful keen #5

*di rumah sakit*
dua orang tersebut tidak bergerak. terlihat sekali mereka sedang berusaha untuk tetap hidup, dengan bantuan berbagai macam alat yang menempel di tubuh. di tengah-tengah mereka, duduk seseorang yang terus-terusan menangis.
ya, dia adalah Min Ra. malam itu benar-benar keajaiban untuknya. saat mobil tersebut terlihat tidak stabil jalannya, Min Ra sudah pasrah bahwa lebih baik malam itu juga dia pergi untuk selama-lamanya. untuk itulah dia memutuskan untuk tetap berdiri di tempatnya berdiri, di samping dia juga merasa tidak bergerak sama sekali.
namun dia tidak tahu, Sung Min, yang memutuskan untuk pergi dari rumah sang kakek, nyatanya tetap mengikutinya selama ini. menjaganya dari jauh, bahkan disaat situasinya semakin buruk dimana dia harus menghadapi kenyataan bahwa orang yang dicintainya akhirnya berpacaran dengan orang yang sangat disayanginya. malam itu, Sung Min pun diam-diam mengikuti mereka, dan saat dia tahu Min Ra tiba-tiba pergi begitu saja, refleks dia mengikutinya.
saat tahu bahwa sang terkasih bisa saja kehilangan nyawanya saat itu, Sung Min yang melihat Min Ra nyaris ditabrak mobil itu akhirnya memutuskan untuk berlari menyelamatkannya. Sung Min mendorong Min Ra ke pinggir jalan, tepat disaat mobil tersebut sudah di depan mata mereka.Sung Min tidak sempat mengelak, badannya langsung terlempar beberapa meter setelahnya. Min Ra pun sangat shock melihatnya, dia tidak tahu bahwa Sung Min mengikutinya.
keadaan semakin parah ketika Ryeo Wook menyadari hyung yang dikasihinya itu menyelamatkan pacarnya, dia benar-benar tidak bisa bertahan lagi saat itu. mengetahui bahwa hyung nya itu bisa saja mati, Ryeo Wook semakin merasa sakit dadanya, dan akhirnya dia pun dibawa juga ke rumah sakit.
kini, kedua saudara sepupu itu harus berusaha agar tetap hidup dengan cara mereka masing-masing. Ryeo Wook ternyata selama ini menderita lemah jantung dan beberapa penyakit lainnya. kejadian selama ini yang menimpanya membuat keadaannya tambah parah saja. Ryeo Wook telah menjalani operasi pada jantungnya, dan dokter berkata operasi itu sangat beresiko.sementara Sung Min mengalami pendarahan dan berbagai macam luka lainnya yang diakibatkan oleh kecelakaan tersebut. dia pun harus menjalani operasi. kesempatannya untuk hidup pun semakin kecil saja. Sung Min dalam keadaan koma sekarang.
saat Min Ra tetap disamping mereka berdua, berdoa terus-menerus mengharapkan keselamatan oppa-oppa yang sangat disayanginya itu, tiba-tiba saja Eun Mi datang menghampirinya.
“Min Ra-ssi.. maafkan aku.. aku tidak tahu akhirnya akan menjadi seperti ini..” wajah Eun Mi sudah basah oleh air mata.
“kau tidak perlu minta maaf padaku, semua ini justru salahku.. akulah penyebab semua ini..” jawab Min Ra dengan tatapan kosong.
“tidak Min Ra.. kalau saja aku tidak memintamu untuk memutuskan hubunganmu dengan Ryeo Wook oppa, mungkin hasilnya akan lain..” Eun Mi benar-benar merasa bersalah sekali.
“sudahlah.. lebih baik kita berdua saja untuk mereka berdua.” Min Ra menjawab lemah.
Eun Mi pun tidak dapat berkata apa-apa lagi. dia hanya memeluk Min Ra dari belakang dan berusaha menguatkan sahabatnya itu.
yang paling kasihan sebenarnya adalah kakek dan nenek. setelah beberapa cucunya pergi, Sung Min dan Ryeo Wook adalah tumpuan dan harapan mereka satu-satunya. mengetahui kedua cucu kesayangannya itu sedang meregang nyawa, mereka merasa tidak dapat hidup lebih lama lagi. Min Ra sangat merasa bersalah terhadap keduanya, tapi mereka sama sekali tidak menyalahkan Min Ra. Min Ra hanya bisa berusaha untuk tetap menjaga mereka agar tetap semangat untuk kedua cucunya itu.
sampai suatu hari..
Min Ra yang tetap berusaha mendampingi mereka berdua akhirnya melihat secercah harapan. Ryeo Wook pun akhirnya menunjukkan tanda-tanda kehidupan kembali. tangannya bergerak sesekali, dan akhirnya dia pun membuka mata.
“Ryeo Wook oppa? oppa.. ah.. akhirnya kau sadar juga oppa..” Min Ra hampir menangis karena begitu senang.
Ryeo Wook pun hanya bisa mengangguk lemah. dari bibirnya, akhirnya terucap satu kata yang terdengar begitu lemah..
“Hyung..” satu kata itu saja, tapi itu membuat Min Ra nyaris meledakkan tangisnya kembali di depan Ryeo Wook. dia benar-benar terharu akan kasih sayang di antara keduanya. Shin Dong telah datang dan menceritakan semuanya, termasuk perasaan Sung Min selama ini terhadap Min Ra. Min Ra benar-benar tidak menyangka, Sung Min rela berkorban untuk dongsaeng yang sangat disayanginya itu.
“Hyung mu tidak apa-apa oppa.. dia pasti akan segera sembuh juga.. Oppa juga, harus banyak istirahat ya..” Min Ra berusaha tetap tersenyum, walau hatinya merasa tidak yakin dengan ucapannya.
Ryeo Wook hanya bisa membalasnya dengan senyuman yang lemah.
walaupun Ryeo Wook telah sadar kembali, menurut dokter, semua harus tetap berusaha menjaganya sebaik-baiknya. kemungkinan Ryeo Wook untuk kembali drop tetaplah besar, karena Ryeo Wook tetap saja terlihat sangat lemah. Min Ra merasa belum tenang sama sekali, ditambah lagi Sung Min tidak menunjukkan tanda-tanda ke arah yang lebih baik.
*beberapa hari kemudian*
Min Ra terlihat sedang berdoa dengan khusuknya ketika tiba-tiba saja Shin Dong dan Eun Mi menghampirinya dengan wajah basah karena air mata.
“kalian berdua kenapa? ada apa?” Min Ra merasa khawatir.
“Sung Min.. Sung Min..” Shin Dong hanya bisa berkata itu. air mata tetap saja jatuh dari kedua matanya.
“Sung Min oppa kenapa? ada apa dengannya? kalian jangan membuatku takut..” Min Ra mulai menangis.
“oh Min Ra.. kau harus melihatnya.. ayo cepat..” Eun Mi pun segera menarik tangan Min Ra dengan erat.
di depan pintu ruangan Sung Min dirawat.
Min Ra merasa sangat pasrah sekali saat itu. dia berusaha tetap tegar. dia rela, apabila Sung Min dipanggil oleh-Nya. perlahan-lahan dia pun membuka pintu..
“Oppa…” Min Ra langsung lemas dan menangis.
*2 tahun kemudian*
hari ini adalah hari peringatan kematiannya. Min Ra tetap terpaku di depan makam tersebut. Dia berusaha mengingat kembali kejadian hari itu. seseorang pun menggandeng tangannya dan mengajaknya pulang.
sebenarnya apa yang terjadi saat itu?
Ingatan Min Ra kembali saat dia diberitahu agar segera melihat keadaan Sung Min. Ya, saat dia datang ke ruangan tempat Sung Min berada, dia langsung merasa lemas, sampai tidak bisa untuk sekedar berdiri sama sekali. air matanya pun langsung keluar tak ada hentinya. Sung Min, yang divonis oleh dokter kemungkinan hidupnya sangat kecil, terlihat tersenyum manis padanya. Sung Min oppa, yang sangat dicintainya, akhirnya kembali sadar. Min Ra pun segera berlari ke arahnya dan memeluknya dengan lembut.
“Oppa.. oppa.. aku tidak mau kehilanganmu.. kau harus berjanji agar cepat sembuh oppa. kau harus berjanji padaku.” Min Ra memeluk Sung Min sambil menangis tiada henti.
“Ne… sekarang, mana Ryeo Wook? aku rindu sekali padanya..” Sung Min yang masih merasa lemas langsung menanyakan dongsaeng tersayangnya itu.
setelah meminta izin kepada dokter, akhirnya mereka bisa membawa Sung Min ke ruangan tempat Ryeo Wook dirawat.hari itu sebenarnya Ryeo Wook terlihat aneh. dia terlihat capai sekali. tapi segera, saat melihat hyung nya itu datang menghampirinya, walaupun dalam keadaan lemah, Ryeo Wook merasa senang sekali.
“Hyung..” Ryeo Wook langsung mengeluarkan senyum manisnya.
Sung Mi dan Ryeo Wook pun kini berhadap-hadapan. keduanya saling mengenggam tangan satu sama lain.
“aku senang akhirnya kau sadar kembali hyung.. aku benar-benar merasa lega sekali.” Ryeo Wook mengucapkannya dengan lemah sekali. nafasnya terdengar sangat berat saat itu.
“aku juga senang melihatmu sehat, Wookie. aku masih punya kesempatan untuk minta maaf padamu kan?” Sung Min membalas dengan lemah pula.
“tentu saja hyung.. mengapa kau merasa harus minta maaf padaku? aku tidak merasa kau melakukan kesalahan sedikitpun padaku selama ini..” Ryeo Wook tersenyum.
“dongsaengku..” Sung Min tidak tahu harus berkata apa.
“Hyung..” tiba-tiba Ryeo Wook berbicara kembali.
“ne? ada apa?” Sung Min merasa penasaran.
“kau masih ingat dengan janji kita dulu kan? tentang nama itu..” Ryeo Wook mengingatkan Sung Min.
“ah.. tentu saja aku ingat itu. ada apa memangnya?” Sung Min tidak mengerti arah pembicaraan Ryeo Wook.
“hyung.. aku tahu kau menyukai Min Ra. dan aku yakin, kau pasti bisa membuatnya bahagia..” Ryeo Wook kembali tersenyum lemah.
“Wookie-ah.. kenapa kau berkata seperti itu? aku juga yakin kau pasti bisa menjaganya dengan baik..” Sung Min merasa khawatir.
“aku tidak yakin hyung.. aku sekarang benar-benar merasa lelah.. aku mengantuk sekali.. ” suara Ryeo Wook semakin lemah.
“ah, kalau kau merasa kecapaian, tidurlah.. nanti aku kembali lagi kesini..” Sung Min bersiap pergi ketika tangan Ryeo Wook kembali menggenggamnya dengan erat.
“hyung.. berjanjilah padaku.. jagalah Min Ra baik-baik. aku sayang sekali padamu hyung..” Kali ini kata-kata Ryeo Wook sudah nyaris tak terdengar.
“iya, aku juga sayang sekali padamu.. sekarang istirahatlah..” Sung Min berbalik menggenggam tangan Ryeo Wook dengan erat.
Ryeo Wook terlihat mengambil napas panjang, dan tiba-tiba saja dia seperti jatuh tertidur. ya, dia memang tertidur, tapi Sung Min segera tahu, tidak ada tarikan nafas sama sekali setelah itu. dada Ryeo Wook terlihat tidak menunjukkan tanda seperti layaknya orang bernafas. Sung Min melihat itu semua. kontan, matanya segera mengeluarkan air mata. wajahnya menunduk dan dia pun terlihat menangis. Min Ra segera tahu apa yang terjadi. dia tidak tahu harus berkata apa lagi. di sampingnya, Eun Mi pun segera sadar apa yang terjadi, dan tahu-tahu saja, kedua sahabat itu menangis sekeras-kerasnya.
sepeninggal Ryeo Wook, Min Ra tetap berusaha tegar dan kuat agar tetap bisa menjaga Sung Min. kesehatan Sung Min pun semakin baik. kakek dan nenek telah memaafkannya, dan akhirnya, Sung Min pun benar-benar sehat dan kembali ke rumah nenek.
demi menepati janjinya terhadap Ryeo Wook, akhirnya Sung Min pun melamar Min Ra untuk menjadi istrinya. Min Ra tidak bisa menolak. malam menjelang pernikahan mereka, Ryeo Wook datang ke mimpi mereka berdua, tersenyum sangat manis. Min Ra dan Sung Min tahu, Ryeo Wook pasti merestui pernikahan mereka berdua.
Pernikahan Sung Min dan Min Ra berlangsung meriah. Jong Woon akhirnya pulang setelah tahu adik satu-satunya pun akhirnya pergi menghadap yang kuasa. setelah mendapat nasehat dan masukan dari berbagai pihak, terutama dari kakek dan nenek, Jong Woon pun akhirnya memutuskan untuk kembali tinggal bersama kakek dan nenek, dan membantu bisnis mereka, dengan tidak mengesampingkan minatnya di bidang musik.
Shin Dong dan Sung Min tetap bersahabat dengan baik. Sung Min pun membantu memberi suntikan dana modal untuk restoran Shin Dong. Sung Min pun tidak lupa memberi bantuan pula untuk restoran kedua teman Ryeo Wook, Han Geng dan Hee Chul.
Kyu Hyun yang sempat menghilang pun akhirnya kembali. dia sekarang menjadi guru matematika di salah satu sekolah. dia datang ke pesta bersama Nam Iseul, tunangannya yang juga menjadi guru bahasa Inggris di sekolah itu. mereka berdua terlihat cocok sekali. Sung Min begitu senang melihatnya.
sementara Si Won, memutuskan untuk pergi ke luar negeri untuk mengembangkan usaha keluarganya. dia mengirimkan beberapa hadiah pernikahan, dan sepucuk surat untuk Sung Min.
“hyung.. chukhae.. aku senang sekali akhirnya kau menikah. ingat, kalau kau butuh bodyguard lagi, jangan lupa telpon aku.. :p “. Sung Min hanya bisa tertawa membacanya.
Young Woon dan Jung Soo tetap sendiri sampai hari ini. di hari pernikahan itu, Min Ra pun berkata kepada mereka berdua:
“ya, kalian berdua.. segeralah mencari pasangan. Young Woon oppa, kau sudah tahu kan bahwa aku tidak mungkin bersamamu? kau juga Jung Soo oppa, kenapa tidak menikah dari dulu?” Min Ra bertanya.
“aku sengaja tidak mau menikah terlebih dahulu, dongsaeng. aku ingin memastikan kau sudah ada yang menjaga, baru setelah itu aku bisa dengan tenang mencari pasangan..” Jung Soo berkata dengan sangat bijak.
“oppa.. mianhaeyo.. aku sudah merepotkanmu selama ini..” Min Ra memeluk oppa tersayangnya itu.
“Min Ra-ssi.. maafkan atas perbuatanku selama ini. tapi, bolehkah aku mendekati temanmu, Hye Rin? dia terlihat sangat manis..” ujar Young Woon oppa sambil melirik Hye Rin.
“ah oppa.. aku sebenarnya tidak keberatan. tapi kumohon, hentikan kebiasaan jelekmu yang temperamental sebelum mendekatinya..” Min Ra memberi syarat.
“tenang saja.. aku berjanji Min Ra..” Young Woon merasa senang sekali.
“sudah, sudah… Dongsaeng-ah.. bolehkah aku minta tolong padamu?” Seketika saja senyum Jung Soo berubah jahil.
“ne.. ada apa oppa?” Min Ra penasaran.
“kenalkan aku kepada teman-temanmu yang baru datang dari Indonesia itu.. mereka bertiga..” Jung Soo menunjuk ke arah beberapa orang.
“ah.. maksudnya Niezha, Lina, dan Yuni? aigoo.. ya!! kau hanya boleh memilih salah satu saja oppa..” Min Ra memukul Jung Soo lembut.
“omoo.. tapi mereka bertiga manis sekali..” Jung Soo melirik mereka sesekali sambil mengerling nakal. Baik Niezha, Lina, maupun Yuni langsung nyaris pingsan melihatnya.
ah.. kurang dua lagi. Hyuk Jae dan Dong Hae. Sung Min pun merasa senang akhirnya kedua dongsaengnya itu kembali datang kepadanya.
“aigoo.. kalian ini jahat sekali. baru sekarang datang mengunjungiku..” Sung Min terlihat merajuk.
“maafkan kami hyung.. kami berjanji tidak akan pergi lagi sekarang. kami akan setia mendampingimu..” Dong Hae tersenyum, tapi matanya melihat ke satu arah.
“Ya! Dong Hae-ah.. kau sedang melihat apa?” Sung Min terlihat sedikit kesal.
“Bukan begitu hyng.. siapa gadis itu? dia terlihat manis sekali..” Dong Hae terlihat sangat fokus melihat ke satu arah.
“oh itu.. itu Eun Mi.. sahabat Min Ra.. ada apa? kau menyukainya?” Sung Min melambai pada Eun Mi.
“sepertinya begitu hyung.. bisakah kau mengenalkan aku padanya?” Dong Hae terlihat senang.
“ya! kau ini.. tapi kau harus berjanji dulu untuk tidak menyakitinya. aku sungguh kasihan padanya.” Sung Min juga memberi syarat, dan Dong Hae pun mengangguk.
“kau? bagaimana denganmu Hyuk Jae? apa kabarnya Sora? Sung Min pun bertanya tentang Sora.
“ah dia.. aku masih dengannya hyung.. tapi.. gadis itu manis sekali.. aku juga mau berkenalan padanya” Hyuk Jae melirik nakal ke satu orang.
“ya!! itu Indri, temannya Min Ra dari Indonesia! kau ini, Hyuk Jae, sifat playboy mu belum hilang juga sampai sekarang”, Sung Min memukul kepala adiknya itu pelan.
benar-benar ramai sekali saat itu, tapi yang terpenting adalah saat itu semua orang merasa senang. baik Min Ra maupun Sung Min belum merasa pernah sebahagia ini. walaupun mereka tetap merasa ada yang kurang. ya tidak ada Ryeo Wook disana.
*kembali lagi ke masa 2 tahun setelahnya*
Min Ra dan Sung Min terlihat sedang melihat-lihat album foto lama. sesekali mereka berdua tertawa. di samping mereka, kini sudah ada seorang anak. ya, anak yang sangat mereka sayangi.
namanya..
Lee Ryeo Min.
nama itu mereka berikan untuk menepati janji Sung Min kepada Ryeo Wook. dulu Sung Min dan Ryeo Wook pernah berjanji satu sama lain, siapa yang mempunyai anak laki-laki terlebih dahulu, maka mereka harus menamakan anaknya dengan nama Ryeo Min. dan itulah yang terjadi.
Sung Min membuka album foto dimana dia dan Ryeo Wook terlihat sedang bermain bersama. seketika saja air matanya jatuh tak tertahan. pelan, dia menyandarkan kepalanya ke bahu Min Ra. Min Ra segera mengusap kepala Sung Min dengan lembut.
“kau tahu chagiya? aku benar-benar rindu sekali padanya..” ujar Sung Min pelan.
“aku pun begitu, Sayang.. tapi kita harus yakin, dia pasti juga bahagia sekarang.” Min Ra berusaha menenangkan suaminya itu.
“ya, dia pasti sedang bermain-main disana. seperti di foto itu..” Sung Min pun segera memejamkan matanya dan membayangkan kebersamaannya dengan Ryeo Wook selama ini.
Min Ra mengambil satu foto dimana Sung Min dan Ryeo Wook sedang tertawa senang. dia pun membalik foto tersebut. dan membaca beberapa kata yang tertulis disana.


“hyung dan Aku. RYEOMIN. Yeongwonhi Saranghae.. <3 <3″
terlihat tulisan tangan Ryeo Wook oppa yang tersusun rapih.
Min Ra pun segera menangis pelan. dia memeluk foto itu sambil berkata lirih..
“RyeoMin.. yeongwonhi, saranghaeyo..”
-the End-

my powerful keen #4

Nenek pun makin keras saja menangis. dia memanggil nama Sungmin dan memintanya kembali, hanya saja, cucunya itu tetap berkeras pergi. kakek pun merasa menyesal telah begitu emosinya terhadap Sungmin, cucu kebanggaannya. di dalam ruang ICU, Min Ra, yang sedang menemani Ryeo Wook hanya bisa menangis diam-diam melihatnya…
Sungmin pun bergegas pulang ke rumah kakeknya, dan memberesi barang-barangnya. tidak ada satupun barang pemberian kakek dan neneknya yang dibawa olehnya. dia pun pergi tanpa meninggalkan surat apapun, bahkan sekedar pamit kepada para pekerja di rumah mereka pun tidak dia lakukan. Sungmin merasa sangat sakit sekali hatinya.
nyaris sebulan Ryeo Wook koma. tapi untungnya, selama itu Min Ra selalu menemaninya. keberadaan Min Ra mungkin dirasakan oleh Ryeo Wook, karena tiap hari, dia makin menunjukkan tanda-tanda kemajuan pada kondisi tubuhnya. Min Ra melakukan ini semua karena dia merasa, dialah penyebab semua ini. mengapa begitu?
sehari setelah Sungmin pergi, Min Ra yang menemani Ryeo Wook selalu selama di RS, pulang ke rumah untuk mengambil baju dan beristirahat. saat itulah sang kakak, Jung Soo, merasa punya kesempatan untuk bertanya, apa yang sedang terjadi.
“Ya, Min Ra, ada apa sebenarnya? mengapa kau jarang sekali pulang? kau tahu, oppa merasa kesepian sekali disini.” Jung Soo mulai bertanya.
“oppa.. kau tahu kan, aku sedang menjaga Ryeo Wook oppa, kasihan sekali dia..” Min Ra yang masih merasa lelah merasa agak malas menjawab.
“Memangnya apa yang terjadi sebenarnya?” Jung Soo mulai melakukan investigasi kepada adiknya itu.
“begini lho, oppa..” Min Ra pun mulai bercerita. sesudahnya, kening Jung Soo terlihat berkerut, dan tiba-tiba saja dia salah tingkah.
“Dongsaeng, aku mau mengaku sesuatu sebenarnya padamu..” Jung Soo mulai berkeringat.
“waeyo?” Min Ra mulai memusatkan perhatian kepada oppanya itu.
“kau bilang Sungmin merasa Ryeo Wook lah yang memukulnya tempo hari..” Jung Soo makin salah tingkah.
“benar. lalu kenapa memangnya?” Min Ra mulai merasa curiga.
“sebenarnya.. saat itu, Young Woon lah yang melakukannya..” Jung Soo mulai menunduk.
“APA?? Kenapa begitu oppa? KENAPA??” Min Ra mulai emosi.
“aku yang menyuruhnya melakukan itu.. aku sebal sekali padanya, dan aku tidak suka dia dekat denganmu. selain itu, karena Young Woon menyukaimu, dia mau saja melakukannya.. mianhaeyo, dongsaengku..” Jung Soo merasa bersalah sekali.
“OPPA!! Kau… Aish.. aku benci sekali padamu oppa!! kuharap kau bisa merenungi apa akibat perbuatanmu dan juga Young Woon oppa. AKU BENCI SEKALI SAMA KALIAN BERDUA!!!” Min Ra yang marah pun langsung pergi ke kamarnya dan membanting pintu dengan kerasnya. Jung Soo hanya bisa memelas, tanpa tahu harus berbuat apa.
*kembali ke Ryeo Wook*
setelah sebulan itu, akhirnya Ryeo Wook pun kembali sadar. Min Ra, Kakek, dan Nenek senang sekali melihatnya. tapi mereka langsung terdiam begitu Ryeo Wook mulai mengucapkan kata-kata pertamanya..
“Hyung.. mana Hyung? aku rindu sekali padanya..” Ryeo Wook bertanya sambil tersenyum.
sang kakek bingung harus menjelaskan apa terhadap cucunya itu. setelah berpikir keras sang kakek pun menjawab:
“Hyung hanya pergi, tuk sementara.. bukan tuk meninggalkanmu, selamanya. hyung pasti kan kembali, pada kita semua. tapi Ryeo Wook-ah jangan nakal, Hyung pasti kembali..”
(ada yang tau lagu ini? hahaha..)
“ah, kenapa hyung pergi, kek? kenapa dia tidak mengajakku?” Ryeo Wook tetap bertanya, seperti tidak pernah terjadi apa-apa terhadap mereka berdua.
“hyung ada urusan mendadak. sudahlah, kau cepat sembuh dulu. biar nanti hyung pulang, dia senang melihatmu..” kakek berusaha tersenyum.
setelah itu, Ryeo Wook dan Min Ra pun semakin dekat, karena Sung Min tidak ada, kakek menunjuk Ryeo Wook menggantikan posisi Sung Min. sebenarnya Ryeo Wook tidak mau, karena dia merasa hyungnya tidak pergi kemana-mana. tapi setelah dibujuk oleh semua pihak, akhirnya Ryeo Wook bersedia menempati jabatan tersebut.
dimana Sung Min sekarang?
alih-alih berada di rumah Kyu Hyun ataupun Si Won, teman nongkrongnya, Sung Min memilih pergi dan tinggal bersama Shin Dong, sahabatnya dari kecil. di rumah Shin Dong, Sung Min benar-benar merasa tenang dan damai. sampai suatu hari..
“Sung Min-ah, kenapa kau tidak pulang dan meminta maaf pada Ryeo Wook? Shin Dong bertanya.
“kenapa kau berkata seperti itu? kau ingin aku pergi?” Sung Min sedikit merasa khawatir.
“bukan begitu.. kau kan laki-laki, tidak seharusnya kau pergi seperti ini.. Lagipula kakekmu sudah tau kan, kau yang berada di balik semua kejadian yang menimpa Ryeo Wook kemarin..” Shin Dong masih berusaha menasihati Sung Min.
“huh, Kyu Hyun.. gara-gara dia kakek jadi tau semuanya..” Sung Min terlihat geram.
ya, Kyu Hyun lah yang melaporkan semuanya kepada kakek. Kyu Hyun melakukan hal itu karena dua hal. satu, dia ingin Sung Min yang terlalu angkuh itu sekali-kali mendapatkan pelajaran, dan yang satunya lagi karena dia tidak ingin melihat saudara sepupu itu saling bertengkar satu sama lain.
“sudahlah.. kau coba pulang dulu saja, minta maaf kepada dongsaengmu itu. kalau kau tidak berniat untuk tinggal disana lagi, kau bisa kembali kesini. aku pasti akan menerimamu. bagaimana?” Shin Dong mencoba meredakan kegeraman Sung Min.
“Baiklah, aku akan coba..” Sung Min akhirnya menyerah.
sementara itu, Kedekatan Ryeo Wook dengan Min Ra makin hari semakin erat. hingga akhirnya, Ryeo Wook mengajak Min Ra makan di suatu tempat.
“Min Ra-ssi.. apa kau suka makanannya?” Ryeo Wook bertanya sambil tersenyum.
“Ne oppa.. ini enak sekali..” Min Ra merasa sangat senang.
“Aku memasaknya sendiri untukmu. senang sekali mendengarmu bilang bahwa masakanku enak..” Ryeo Wook semakin senang.
sesudah makan..
“Min Ra-ssi.. ada apa itu dibawah? sepertinya ramai sekali.. Ayo kita lihat..” Ryeo Wook mengajak Min Ra melihat ke arah bawah gedung. ya, mereka memang sedang makan di atas atap sebuah gedung yang mempunyai view yg sangat indah.
saat Min Ra melongokkan kepalanya untuk melihat apa yang terjadi dibawah, dia langsung terdiam dan terkejut setengah mati. ada apa memangnya?
segerombolan orang memegang lilin dan membentuk suatu formasi yang bertuliskan: “Min Ra, Saranghaeyo..”. Min Ra tidak tahu harus berkata apa, karena setelah itu, dia langsung berbalik dan melihat Ryeo Wook sedang menyanyikan sebuah lagu dengan menggunakan pianonya. malam itu terasa sangat manis sekali, dan Min Ra merasa terharu.
“Min Ra-ssi.. maukah kau menjadi orang paling spesial di hatiku?” Ryeo Wook memohon sesuatu padanya.
Min Ra pun tampak berpikir, dia sayang sekali terhadap oppanya ini, tapi dia tahu, jauh di lubuk hatinya yang terdalam, dia sudah mengukir nama Sung Min disana. tapi setelah berpikir bahwa Sung Min sudah pergi dan mungkin tidak akan kembali, itu menyakitkan hatinya. dan dia pun akhirnya memutuskan untuk menerima cinta Ryeo Wook.
selesai makan malam, Ryeo Wook mengantar Min Ra pulang. sebelum masuk ke dalam rumah, tiba-tiba saja Ryeo Wook memanggil Min Ra, dan seketika saja, Ryeo Wook mencium kening Min Ra dengan sangat lembut. Min Ra sedikit terbuai..
tapi mereka tidak menyadari, di dekat sana, Sung Min sedang memperhatikan adegan tersebut dengan hati yang seperti tersayat. dia tahu, dia juga sangat mencintai Min Ra, dan dia juga selalu menyayangi Ryeo Wook. karena merasa bersalah terhadap keduanya, dia memilih untuk pulang dengan hati hancur, dan hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mereka.
“Min Ra.. saranghaeyo.. tapi kalau memang Ryeo Wook lebih bisa membahagiakanmu, aku rela..” Sung Min berjalan dengan sedikit limbung, pulang ke rumah Shin Dong.
setelah Ryeo Wook dan Min Ra berpacaran, hanya membutuhkan waktu yang sebentar saja agar seluruh karyawan bisa mengetahuinya. hampir dari mereka semua setuju terhadap hubungan tersebut. bagi mereka, pasangan ini sangatlah serasi satu sama lain. apalagi Ryeo Wook juga bisa dengan suksesnya menjalankan perusahaan tersebut dengan baik, semakin menambah kebahagiaan mereka saja. sayang, salah satu karyawan terlihat sangat tidak suka terhadap hubungan mereka.
ya, setelah 3 bulan berlalu, Min Ra akhirnya tidak tahan lagi terhadap sikap Eun Mi yang semakin menjauhinya. setelah berusaha terus agar bisa berbicara empat mata saja, akhirnya hari itu Eun Mi tidak bisa mengelak lagi, dan akhirnya mereka pun berbicara dari hati ke hati.
“Eun Mi-ah.. ada apa sebenarnya denganmu? sikapmu semakin aneh saja padaku. apa salahku sebenarnya? apa aku menyakitimu?” Min Ra langsung memberondong Eun Mi dengan sejuta pertanyaan.
“sudah, aku tidak ada apa-apa. apa alasannya sampai aku harus marah padamu?” Eun Mi berusaha mengelak.
“kau jangan berbohong padaku Eun Mi.. kita sudah bersahabat lama sekali.. kenapa kau tidak bisa jujur padaku kali ini?” Min Ra mulai memaksa.
“sudah kubilang aku tidak apa-apa. sudahlah, aku ngantuk sekali. lebih baik kau pulang saja.” Eun Mi berusaha mengusir Min Ra.
“tidak, aku tidak akan pulang sebelum aku tau apa masalahnya.” Min Ra yang keras kepala mulai membuat Eun Mi marah.
“YA! KAU INI!! kau, kau mau tau kenapa sikapku jadi begini kepadamu? KAU MAU TAHU??” Eun Mi mulai emosi.
“marhaebwa.. aku tidak akan tau kenapa kalau kau tidak mengatakannya padaku..” Min Ra mulai bingung.
“kau, teman macam apa dirimu? berpacaran dengan orang yang disukai temanmu, bagaimana bisa kau melakukannya padaku, Min Ra?? BAGAIMANA BISA KAU SEJAHAT INI PADAKU??” Eun Mi mulai memaki.
“Eun Mi-ah.. kau.. kau suka pada Ryeo Wook oppa? mengapa kau tidak mengatakan soal ini padaku dari awal? aku benar-benar tidak tahu..” Min Ra merasa bersalah.
“kau memang bukan teman yang baik Min Ra-ssi..” Eun Mi tersenyum sinis.
“lalu apa yang harus kulakukan sekarang?” Min Ra berusaha memohon.
“kau mau tau apa yang harus kau lakukan? SEKARANG KAU HARUS MEMILIH, AKU ATAU RYEO WOOK OPPA. kau harus memilih salah satu, kalau kau memilihku, putuskan dia secepatnya, aku minta minggu ini juga. tapi kalau kau memilihnya, jangan pernah anggap kita pernah saling kenal sebelumnya..” Eun Mi yang sedang emosi langsung masuk ke rumah.
seminggu kemudian..
malam ini, seperti biasa, Min Ra dan Ryeo Wook pergi untuk makan berdua di luar. Min Ra terlihat sangat cantik hari itu, dan membuat Ryeo Wook benar-benar merasa senang.
“ya, Chagiya.. kau tambah cantik saja malam ini.. aku benar-benar suka..” Ryeo Wook memandangi Min Ra sambil tersenyum.
“benarkah? ah, aku melakukan ini untukmu oppa..” Min Ra membalasnya dengan senyum yang tidak kalah manis.
“aigoo.. aku senang sekali. tapi aneh ya, kenapa kau tiba-tiba seperti ini? kau tidak berdandan pun, bagiku kau tetap yang paling cantik..” Ryeo Wook tetap memuji Min Ra.
“ah, oppa.. sebenarnya memang ada yang ingin ku bicarakan denganmu..” Min Ra mulai gelisah.
“ada apa sebenarnya? lebih baik kita habiskan dulu makanan ini, baru kita bicarakan semuanya.” Ryeo Wook terlihat agak bingung.
sesudah makan..
“nah, sekarang kau bisa mengatakan apa saja padaku.. marhaebwa..” Ryeo Wook mengajak Min Ra untuk duduk di taman restoran tersebut. Min Ra terlihat menarik nafas panjang, dan akhirnya keluarlah kata-kata tersebut.
“oppa.. mianhae.. tapi lebih baik kita akhiri saja ini semua..” Min Ra mengatakannya dalam satu tarikan nafas,berusaha terdengar tegar dan kuat.
“MWO? andwae.. aku salah dengar kan, chagiya? wae? WAEYO??” Ryeo Wook terlihat tidak bisa menerima semuanya.
“kau mau tahu alasanku? aku tidak pernah benar-benar mencintaimu, oppa. lagipula aku sengaja berpacaran denganmu, agar aku bisa mendapatkan posisi tertinggi di perusahaan kita..” Min Ra berusaha tersenyum dan tertawa puas.
“aku tidak percaya ini semua. kau bohong padaku kan? katakan semua ini bohong!!” Ryeo Wook mulai kehilangan kendali.
“sudahlah oppa, lupakan aku. kau pasti menemukan yang lebih baik dariku. aku rasa sudah tidak ada gunanya lagi aku disini. aku pulang. semoga kau bahagia..” Min Ra pun langsung pergi dari hadapan Ryeo Wook.
Ryeo Wook merasa seperti ada yang memukulnya tepat di jantung. rasanya sakit sekali. sambil memegangi dadanya yang terasa sakit, dia berusaha mengejar Min Ra.
“Min Ra-ssi.. chagiya.. kembalilah.. aku tidak percaya semua ini..” Ryeo Wook mulai melemah.
Min Ra terus saja berusaha berjalan secepat mungkin. dia berusaha tidak memperdulikan sama sekali teriakan Ryeo Wook.
“Min Ra-ssi.. aaaaahhhhh.. dadaku, dadaku sakit..” tiba-tiba saja Ryeo Wook tersungkur.
Min Ra merasa tidak bisa melihat itu semua, hatinya juga merasa sangat sakit. akhirnya dia memutuskan berbalik ke arah Ryeo Wook oppa. tiba-tiba saja dari arah kejauhan, terlihat sinar putih yang semakin mendekat. sinar tersebut aneh, seperti tidak stabil. Min Ra pun segera menyadari, pengemudi mobil tersebut sepertinya tidak bisa mengendalikan laju mobilnya. dan dia pun merasa, seperti tertahan di tempatnya berdiri.
“Min Ra!!!! ANDWAE!!!!” teriakan Ryeo Wook yang mulai melemah terdengar memecah keheningan malam itu.

my powerful keen #3

*di rumah sakit*
“hyung.. kau tidak apa-apa??” terdengar suara seseorang yg terdengar sangat khawatir.
“sudahlah, biarkan hyung mu istirahat dulu.”suara kakek-kakek terdengar.
“kenapa dia jadi begini kek? aku khawatir sekali..” suara yang tadi pun kembali terdengar.
“sesorang memukulinya dan meninggalkannya di jalan. kau tenang saja, hyung mu tidak apa-apa.. duduklah dulu, Ryeo Wook.. jangan mengganggu hyungmu..” ujar kakek tersebut.
Hyung? Ryeo Wook memanggil Sung Min hyung? sebenarnya siapa mereka?

Ryeo Wook memang bersaudara dengan Sung Min, bukan saudara sekandung, mereka hanya saudara sepupu. Ryeo Wook dan Sung Min kini tinggal di rumah kakek dan neneknya. kenapa bisa begitu?
Ayah Sung Min dan Ibu Ryeo Wook adalah adik kakak. setelah keduanya menikah, mereka berpisah, namun tetap dekat satu sama lain. itu pula yang mengakibatkan kedua anak mereka dekat satu sama lain. terutama Ryeo Wook dan Sung Min yang mempunyai hobi yang nyaris sama.
malangnya, kedua orang tua Sung Min bercerai, dan ayahnya menjadi gila. Ibunya memutuskan untuk membawa kedua adik Sung Min, yaitu Hyuk Jae dan Dong Hae ke luar negeri, meninggalkan Sung Min dan ayahnya sendiri saja. ini menimbulkan sedikit kebencian Sung Min terhadap ibunya, dia merasa tidak adil. untung saja, setelah ayahnya dirawat di rumah sakit jiwa, dia akhirnya tinggal di rumah kakek dan neneknya. sebagai cucu pertama, dia pastinya yang akan mewarisi perusahaan milik mereka.
kasus Ryeo Wook, lain lagi. kedua orang tuanya sangat rukun satu sama lain. suatu ketika, mereka berdua sedang pergi liburan bersama dan membawa Ki Bum, adik Ryeo Wook untuk ikut dengan mereka. sayangnya, pesawat yang mereka tumpangi jatuh dan tidak ada satupun yang selamat. Ryeo Wook benar-benar terpuruk saat itu, terlebih lagi sang kakak, Jong Woon, malah memutuskan pergi dari rumah dan berkelana ke Eropa. sebenarnya justru Jong Woon lah yang akan mewarisi perusahaan kakeknya, hanya saja kecintaan Jong Woon terhadap musik jauh lebih besar melebihi segalanya.
Ryeo Wook yang terpuruk, mendapat support penuh dari Sung Min yang juga merasa kehilangan orang tua keduanya. nenek dan kakeknya pun memutuskan agar Ryeo Wook tinggal bersama mereka. awal-awalnya Sung Min merasa senang, tapi melihat kakek dan neneknya lebih perhatian pada Ryeo Wook, Sung Min meradang dan merasa kembali diacuhkan. itulah yang membuatnya hingga kini jadi sangat dingin pada sepupu yang sebenarnya sangat disayanginya itu.
*kembali ke saat Sung Min dirawat*
akhirnya Sung Min tersadar juga, saat itu, dia melihat sesosok orang tidur dengan menumpukan kepalanya di pinggiran tempat tidurnya. hampir saja dia mengelus rambut orang tersebut, namun setelah sadar itu siapa, dia langsung bersikap dingin kembali. Ryeo Wook pun terbangun.
“Hyung.. ah, kau sudah sadar.. mana yang sakit hyung? apa kau lapar?” tanya Ryeo Wook.
“sedang apa kau disini? pergi sana. aku tidak butuh dijenguk olehmu.” Sung Min pun mengusir Ryeo Wook.
“hyung, kenapa kau begitu? aku sangat khawatir dengan keadaanmu.” Ryeo Wook merasa sedih mendapat perlakuan seperti itu.
“sudahlah, tidak usah pura-pura baik padaku. pergi sana.” Sung Min berusaha mendorong Ryeo Wook pergi.
“Hyung.. kau tau? setelah keluargaku tidak ada, hanya kau yang sangat kuandalkan. tapi kenapa kau malah sangat membenciku? apa salahku?” Ryeo Wook mulai menangis.
“PERGI SANA!! KAU DENGAR TIDAK!!” walaupun dalam keadaan sakit, Sung Min masih bisa berteriak mengusir Ryeo Wook.
Ryeo Wook pun pergi keluar dan bertemu dengan kakek dan neneknya yang baru saja akan masuk ke dalam kamar tempat Sung Min dirawat.
“ah, uri Ryeo Wook.. mau kemana kau nak? apa hyungmu sudah bangun?” tanya neneknya.
“iye.. dia sudah bangun nek, aku merasa lapar, makanya aku ingin pergi dulu. boleh sekalian aku pulang, nek?” Ryeo Wook berusaha menyembunyikan tangisnya.
“ya sudahlah, kau pulang dulu. pasti kau capek menunggu hyung mu disini semalaman. pulanglah nak, istirahat dengan baik ya..” sang kakek mengelus rambut cucu mereka itu dengan sayang.
“ne.. aku pulang dulu nek, kek..” Ryeo Wook pun berpamitan dan pergi dari RS dengan hati hancur.
di kamar Sung Min..
“ah, uri Sung Min.. sudah bangun kau sayang?” neneknya berkata sambil tersenyum.
“kemana saja kalian? apa tidak sayang lagi padaku sehingga meninggalkanku sendiri disni bersama Ryeo Wook saja?” Sung Min merajuk.
“aigoo.. kau ini. sudah besar masih saja manja. ini, kakek bawakan sup labu kesukaanmu. oh ya, kemarin Hyuk Jae menelepon ke rumah mencarimu, dia terdengar rindu sekali padamu. dia sangat kaget mendengar kabar kau masuk rumah sakit..” kakeknya bercerita panjang lebar.
“haraboji!! kenapa kau menceritakan soal itu kepadanya? aish.. apa kalian membawa laptopku? siapa tau Hyuk jae atau Dong Hae mengirimkan email padaku.” Sung Min sedikit kesal.
“ne.. ini kami bawakan sayang..” Neneknya berkata dengan lembut sambil menyerahkan laptop kepada Sung Min.
ada tiga email baru yang menyita perhatian Sung Mi saat itu.
1. sender = Hyuk Jae
“Hyung.. ada apa denganmu?ku dengar kau masuk rumah sakit ya? aish.. aku sedih sekali mendengarnya. cepatlah pulang.. aku ingin bercerita tentang hubunganku dengan pacar baruku, namanya Sora. kau mau mendengarkannya kan, hyung? :D
“hahahhaa.. monyet ini, pikirannya hanya pacaran saja..” aku merasa sedikit lebih baik membaca email darinya.
2. sender = Dong Hae
“Hyung!!! cepat sembuh.. SARANGHAE!!!”
“ini lagi, sedikit sekali menulis email padaku.. hahaha.. Saranghaeyo, Lee Dong Hae, adeku tersayang..
3. Sender = Park Soo Young
“nak? kenapa denganmu? aku mendengar dari kedua adikmu kau masuk rumah sakit.. cepat sembuh ya, maaf eomma tidak bisa menjengukmu. jangan salah paham denganku, aku tetap menyayangimu. bisakah kau percaya padaku?”
setelah membaca sekilas, Sung Min langsung mendelete email dari Eommanya tersebut.
*di rumah kakek dan neneknya*
Ryeo Wook merasa sedih sekali saat itu. dia merasa tidak tahu apa yang menjadi penyebab Sung Min hyung yang sangat disayanginya itu selalu saja bersikap dingin padanya. Saat itulah dia mendapatkan sms:
sender = Park Min Ra
“oppa.. kau ada apa sebenarnya? ak kangen sekali bercanda denganmu? apa kau sibuk hari ini? bagaimana kalau kita jalan-jalan saja..”
Ryeo Wook membacanya sambil tersenyum. seketika dia merasa sedikit lebih senang, sekaligus merasa bersalah karena sudah mendiamkan Min Ra. dia pun membalas sms tersebut.
“baiklah.. ayo kita jalan-jalan.. tunggu aku ya..”
Ryeo Wook bergegas ganti baju dan bersiap. sebelum pergi, dia menyempatkan diri untuk menelepon kakeknya untuk minta izin pergi bersama Min Ra.
di rumah sakit.
setelah mendapat telepon dari Ryeo Wook
“ah, uri Ryeo Wook.. dia benar-benar sudah besar sekarang.. hahaha..” kakeknya tertawa senang.
“kenapa kek memangnya?” tanya sang istri.
“dia minta izin akan pergi berkencan dengan temannya itu, Park Min Ra..” kakeknya menjawab sambil tersenyum.
tanpa mereka tahu, Sung Min mendengarkan itu dengan seksama dan seketika saja, dia mengepalkan tangannya dengan amat sangat kuat.
Ryeo Wook dan Min Ra bermain dengan senang hari itu. Ryeo Wook juga mengajaknya makan di restoran China milik kedua temannya, Hang Geng dan hee Chul.
“Min Ra-ssi.. kau pasti pacaran dengan Ryeo Wook. hayo, mengakulah..” hee Chul tidak henti-hentinya menggoda mereka berdua.
“ah oppa.. kau ini. sudah kubilang aku dan Ryeo Wook oppa hanya berteman..” Min Ra berkilah.
“masa sih? coba kita tanya Heebum. Heebum, Min Ra dan Ryeo Wook berpacaran kan? tuh lihat, dia menganggukkan kepalanya”, Hee Chul kembali berulah sambil membawa heebum.
“sudah-sudah, jangan mengganggu mereka terus. ini, sebagai permintaan maaf, kuberi makanan ekstra untuk kalian..” ujar Han Geng sambil menjitak kepala Hee Chul pelan.
Sung Min pun akhirnya sembuh. dia sudah bisa bekerja lagi seperti biasa. Ryeo Wook dan Min Ra pun kembali dekat, dan tiba-tiba begitu juga dengan Eun Mi yang sempat menjauh. Ryeo Wook kini selalu mengantarkan Min Ra pulang setiap malam, menggantikan Sung Min, dan ini malah menimbulkan kebencian yang makin mendalam pada diri Sung Min.
-suatu hari, di sebuah club-
“hey.. akhirnya kau datang juga hyung..” Siwon merasa senang melihat Sung Min datang.
“bagaimana denganmu? kau sudah tidak sakit lagi kan?” tanya Kyu Hyun.
“ya. tentu saja. aku kan kuat..” ujar Sung Min sedikit membanggakan dirinya.
“hahahhaa.. yang benar saja. kemarin kau dipukul itu bukannya tidak berdaya sama sekali?” Kyu Hyun mengejek Sung Min.
“YA! Kalian ini. aku kesini malah kalian ledek. aku akan bayar semua pesanan kalian. tapi, apa kalian bisa membantuku?” ujar Sung Min to the point.
“bantu apa hyung? denganku mah tenang saja. pasti semua beres..” ujar Siwon yang juga anak konglomerat itu.
“tolong carikan aku beberapa orang yang bisa membantuku sedikit memberi pelajaran terhadap seseorang..” Sung Min tersenyum licik.
“siapa orang tersebut hyung?” Kyu Hyun merasa penasaran.
“Ryeo Wook. aku benar-benar sudah tak tahan dengannya. aku ingin dia sedikit mendapat pelajaran dariku. aku yakin, kemarin aku masuk rumah sakit karena orang suruhan dia memukuliku. lagipula, dia mendekati seorang stafku juga.” Sung Min berkata dengan sedikit emosi.
“kau yakin hyung? dia kan adikmu juga? apa kau sudah cek dulu soal orang yang memukulimu?” Kyu Hyun merasa sangsi.
“aku yakin sekali.. ya!! kau ini, bertanya terus. mau membantuku tidak?” Sung Min sedikit kesal.
“maaf hyung, aku tidak bisa. bagaimanapun, Ryeowook juga temanku.” Kyu Hyun tidak mau ikut campur.
“payah sekali dirimu. Ya, Choi Si Won, bagaimana denganmu?” Sung Min beralih kepada Si Won.
“sebenarnya aku juga ingin tidak terlibat dalam hal ini. tapi bagaimanapun juga, aku bisa membantu menyewakan beberapa orang bodyguardku untuk membantumu, hyung..” Siwon sedikit ragu.
“baiklah, begini rencananya..” Sung Min membisikkan rencananya tentang apa yang harus dilakukan kepada Ryeo Wook.
malam itu, orang-orang suruhan Si Won benar-benar melaksanakan tugasnya dengan baik. Ryeo Wook dipukuli habis-habisan. bahkan lebih parah dari apa yang terjadi pada Sung Min dulu. Ryeo Wook masuk rumah sakit dalam keadaan koma.
-di rumah sakit-
nenek menangis tidak henti-hentinya. di sampingnya, sang suami terlihat geram sekali. seperti ada sebongkah hal yang ingin dikeluarkannya. dari kejauhan, terlihat Sung Min berjalan seolah dia tidak tahu apa-apa.
“kek, nek? bagaimana dengan Ryeo Wook? apa keadaannya sudah lebih baik?” Sung Min berpura-pura tidak tahu.
sang kakek pun berdiri, dan seketika…
PLAK!!
sang kakek menampar Sung Min Sekeras-kerasnya.
“YA!! haraboji, apa yang kau lakukan padaku?” Sung Min benar-benar merasa kesal saat itu.
“KAU! aku tidak punya cucu seperti kau!!! bagaimana bisa kau membuat adik yang begitu menyayangimu menjadi begini!!!” kakek benar-benar marah saat itu.
“apa yang kau katakan kek? aku tidak tahu apa-apa..” Sung Min masih berusaha membela dirinya.
“JANGAN PURA-PURA TIDAK TAHU!! Kau, mulai hari ini, pergi dari rumahku!!! jangan panggil aku kakekmu lagi. kau sudah bukan cucuku lagi!!!” Kakek yang begitu marah mengusir Sung Min.
“hah.. begitu.. kenapa tidak dari dulu saja kakek mengusirku!! sejujurnya aku sudah muak sekali, asal kalian tahu. kalian selalu saja membela Ryeo Wook dan menyingkirkan aku. baiklah, kalau itu maumu, kek. aku pergi..” Sung Min pun pergi tanpa menoleh kembali..

my powerful keen #2

*di ruang kesehatan*
“ah.. aku dimana sekarang?” akhirnya aku tersadar dari pingsanku.
“hufft.. akhirnya kau terbangun juga.. apa yang kau rasakan? kau kenapa?” tanya seseorang di depanku dengan wajah cemas.
“ehmm.. siapa ya?” aku benar-benar tidak mengenali wajah di depanku.
“ah.. mianhae.. kenalkan, aku Kim Ryeo Wook. salah satu karyawan perusahaan ini juga..” ujar orang tersebut.
“iye.. Annyeong Rye Wook-ssi.. tapi mengapa aku bisa disini bersamamu?” tanyaku.
“tadi kau sedang menunggu lift datang. dan tiba-tiba saja kau terjatuh, dan tidak sadar. aku ada di sekitar sana saat itu, makanya aku segera melarikanmu kesini..” dia memberikan penjelasan panjang lebar.
“ah.. begitu ya.. gamhasamnida.. maaf aku merepotkanmu.” aku berusaha bangun dari tempat tidur.
“hey, tidak apa-apa.. benar, aku tidak merasa kau merepotkan..”dia berujar sambil tersenyum.
dari arah pintu pun terdengar suara..
“Min Ra.. apa kau tidak apa-apa?” terlihat kedua temanku, Eun Mi dan Hye Rin masuk menghampiriku.
“Ne.. aku tidak apa-apa.. Untung sekali saat itu ada orang yang menolongku.. ah, kenalkan, Ini Kim Ryeo Wook, orang yang tadi menolongku..” aku tersenyum sambil mengenalkan Ryewook kepada teman-temanku.
“ah.. Ryeo Wook oppa.. gamsahamnida..” Hye Rin membungkuk.
“kau benar-benar baik sekali oppa..” tiba-tiba wajah Eun Mi memerah.
“hahaha.. tidak apa-apa.. ehm.. kalian sudah makan siang? bagaimana kalau kita makan bersama?” tanya Ryeo Wook oppa.
“hah? tidak usah oppa, nanti malah tambah merepotkan..” aku merasa tidak enak.
“ah, sudahlah.. ayo, kita makan bersama.” Ryeo Wook oppa berkata riang sambil membantuku berdiri. aku tidak menyadari ada sepasang mata yang melihat adegan ini dengan tatapan iri.
*di cafetaria*
“kau mau makan apa? kupesankan ya?” Ryeo Wook oppa benar-benar memusatkan perhatiannya padaku.
“ne.. gomawo oppa..” aku hanya bisa tersenyum.
sambil menunggu makanan datang, kami berbincang-bincang santai. saat itu, tiba-tiba saja mataku menangkap sesuatu. dia, bosku, Lee Sung Min, sedang makan di sendiri di ujung cafe. tatapannya dingin. tapi entah mengapa, aku merasa kasihan sekali melihatnya.
tanpa kutahu, sesekali dia melihat ke arah kami dengan tatapan yg sulit dijabarkan.
*sesudah makan*
“Min Ra-ssi.. lebih baik kau pulang saja hari ini. siapa atasanmu?” tanya Ryeo Wook oppa tiba-tiba.
“he? Kepala divisiku bernama Lee Sung Min.” jawabku.
“ah dia.. baiklah, aku ke atas sambil meminta izin dulu padanya. kau tidak usah naik. Hye Rin, kau satu divisi kan dengannya? bisa bantu aku ambilkan barang-barangnya? Eun Mi, tolong jaga dia. setelah ini, biar aku yang mengantarnya pulang.” Ryeo Wook oppa memberi arahan.
“tidak usah oppa. aku sudah merasa sehat. lagipula, apa Sung Min oppa mau memberi izin untukku pulang?” aku merasa khawatir.
“tenang saja, pasti beres denganku. tunggu disini ya..” Ryeo Wook oppa dan Hye Rin segera bergegas ke ruanganku.
saat berdua dengan Eun Mi..
“kau terlihat akrab sekali dengannya.. sepertinya kau kenal baik dengannya..” aku memulai pembicaraan.
“dia kepala divisiku. dan dia memang sangat baik, dan dekat dengan semua staffnya. oleh karena itu, kami semua sangat menghormatinya. lagipula dia…” Eun Mi menghentikan kalimatnya.
-di ruangan Sung Min-
“permisi hyung..” Ryeo Wook mengetok pintu.
“masuklah..” terdengar nada dingin di balik pintu tersebut.
“ah kau.. ada apa tiba-tiba kemari?” Sungmin tetap memusatkan perhatiannya pada kertas di depannya.
“aku meminta izin untuk salah satu stafmu, Park Min Ra. dia baru saja pingsan tadi. kukira lebih baik dia pulang cepat hari ini.” Ryeo Wook memulai pembicaraan.
“ohya? kulihat tadi dia sudah bisa tertawa denganmu dan teman-temannya di cafetaria tadi.” Sung Min pun mendongakkan kepalanya menatap Ryeo Wook dengan tatapan tajam.
“tapi dia masih sedikit lemah.. biarkan dia istirahat. apa kau tidak melihat dengan jelas, dia terlihat benar-benar tidak sehat hari ini.” Ryeowook mulai panas.
“terserah kau sajalah..” Sung Min kembali sibuk dengan urusannya dan tidak memperdulikan Ryeo Wook.
“aku pergi dulu.” Ryeo Wook memutuskan segera pergi dari ruangan Sung Min.
hari itu, Min Ra diantar pulang oleh Ryeo Wook. mereka berdua berbincang banyak di mobil.
sesampainya di rumah Min Ra..
ting-tong..
Min Ra memencet bel.
“oppa.. aku pulang..” Min Ra mulai berteriak. pintu pun terbuka.
“ah adikku, kau sudah pulang. lho? kau siapa? Jung Soo segera memasang tampang bingung melihat adiknya diantar oleh seseorang.
“annyeong.. aku Kim Ryeo Wook. maaf, hari ini aku mengantar Min Ra pulang. dia sedang tidak sehat hari ini.” Ryeo Wook memberi salam kepada Jung Soo.
“ah, begitu.. gamsahamnida.. ayo masuk dulu.” Jung Soo tersenyum manis.
“aniyo.. aku harus segera kembali ke kantor. baiklah, jaga kesehatanmu Min Ra.. aku pulang dulu..” Rye Wook membungkuk dan segera pergi.
“dia baik sekali.. hey, ada apa denganmu? kulihat dua hari terakhir ini kau tidak tidur ya? Jung Soo mulai cemas.
“ah oppa.. aku hanya sibuk mengerjakan tugas yang diberikan atasanku..aku ngantuk sekali. biarkan aku tidur dulu..” Min Ra pun melangkah pergi masuk ke kamarnya.
“Sung Min maksudmu? hah.. bocah itu.. awas saja kalau membuat adikku seperti ini lagi. akan kuhabiskan dia.” ujar Jung Soo geram.
“Sung Min? siapa dia?” terdengar satu suara di rumah itu.
“ah.. dia bos Min Ra.. tengil sekali orangnya..” ujar Jung Soo pada seseorang.
“wah, orang itu cari perkara denganku. tunjukkan mana orangnya.” dia Young Woon oppa, sahabat Jung Soo oppa. yang kutahu selama ini memang Young Woon oppa menaruh hati padaku. tapi aku berusaha tidak memperdulikannya.
“kalian jangan macam-macam ya.. jangan pernah punya pikiran aneh.” aku berteriak dari dalam kamarku.
“arasso.. tidurlah.. jangan banyak bicara.” Jung Soo oppa pun membalas ucapanku.
selanjutnya hari-hariku makin membaik.kesehatanku sudah kembali seperti dulu. dan kini, aku, Eun Mi, dan Hye Rin selalu makan siang bersama Ryeo Wook oppa di cafetaria.
Ryeo Wook oppa benar-benar baik terhadapku. dia selalu mengingatkanku untuk makan, dan terkadang mengirimiku sms sekedar memberi semangat. aku semakin dekat dengannya.
hari itu, Sung Min, bosku, memintaku untuk kerja lembur. karena kutahu kami harus menyelesaikan beberapa design mainan sesegera mungkin, aku pun tidak merasa keberatan. hari itu sudah malam sekali. aku harus pulang sendiri. tiba-tiba saja ada mobil menghampiriku.
“kau pulang dengan siapa?” kaca mobilku pun terbuka dan terlihat wajah Sung Min oppa dibaliknya.
“sendiri saja pastinya. memang kenapa?” aku berusaha menjawab dengan dingin.
“naiklah, biar ku antar.” Sung Min pun membukakan pintu.
“tidak usah. biar aku pulang sendiri saja.” aku segera pergi.
“hey, naiklah. aku tidak ingin bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa denganmu.” dia menjajari langkahku sambil mengemudikan mobilnya pelan-pelan.
karena aku sendiri merasa takut. akhirnya aku naik juga. aku tidak tahu, kalau ternyata Ryeo Wook oppa juga ada di parkiran itu. menungguku pulang.
sepanjang jalan kami tidak berbincang apapun. sesampainya di rumahku..
“ah, gamhasamnida..” kataku sebelum keluar dari mobilnya.
“maaf sudah membuatmu pulang malam-malam. dan mungkin malam seterusnya juga begini. apa kau tidak keberatan?” nada suaranya tetap dingin seperti biasa.
“ne.. gwenchanayo.. hati-hati di jalan.” aku pun membungkuk sebelum mobilnya pergi dari hadapanku.
“tidurlah dengan nyenyak.” dan Sung Min oppa pun pergi dari hadapanku.
“dia baik juga ternyata..” aku tersenyum sambil melangkah masuk ke rumah.
” Min Ra!!” tiba-tiba seseorang memanggilku dan menghampiriku.
“ah, Young Woon oppa.. apa yang kau lakukan disini?” tanyaku.
“aku sedang duduk-duduk saja di warung itu. ah, siapa dia? Ryeo Wook kah yang mengantarmu pulang tadi?” Young Woon oppa memasang ekspresi penasaran.
“aniyo.. dia bosku. Lee Sung Min. sudah ya. aku masuk dulu.” aku pun segera masuk dan menutup pintu pagarku.
di luar, Young Woon oppa memasang ekspresi yang sulit dijelaskan.
hari-hari berikutnya pun aku tetap harus pulang malam untuk menyelesaikan tugasku. setiap hari, aku selalu diantar dengan Sung Min oppa. lama-lama kami akhirnya bisa mengobrol satu sama lain. ternyata dia orang yang hangat sekali. dia juga bisa melontarkan lelucon yang bisa membuatku tertawa.
hanya satu yang kusesali, tiba-tiba saja Ryeo Wook oppa seperti menjauh dariku. aku tidak tahu alasannya. Eun Mi juga bersikap sama seperti Ryeo Wook oppa. aku kira dia tidak suka berteman lagi denganku.
malam ini, seperti biasa aku diantar pulang oleh Sung Min oppa. sesaat setelah turun..
“gamsahamnida oppa.. lain kali antar aku pulang lagi ya..” ujarku sambil tertawa.
“huh.. besok-besok kau harus pulang sendiri.” katanya sambil menahan tawa.
“jahat kau oppa. sudah ah, lebih baik kau cepat pulang. hati-hati di jalan oppa. setelah pulang, langsung istirahat ya..” aku melambaikan tanganku.
“ne…kau juga. istirahat dengan baik ya..” Sung Min oppa balas melambai dan segera menghilang dari hadapanku.
saat Sung Min di jalan menuju pulang, tiba-tiba saja ada yang menghentikan mobilnya dari depan. merasa terhalang, Sung Min segera turun untuk meminta orang tersebut pergi.
“hey kau, bisa tidak menghentikan kendaraanmu dengan baik. ini sangat berbahaya tau..” Sung Min sedikit kesal.
orang yang ada di mobil tersebut segera keluar, dan tiba-tiba saja..
Bukk!!
seseorang memukul Sung Min tepat di wajahnya. tidak mengira akan mendapat serangan seperti itu, Sung Min lengah, dan tidak berdaya.
“Kau!! jangan dekati Min Ra lagi.. awas ya!! kau dengar itu? hah?” orang tersebut terus memukuli Sung Min. Sung Min berusaha keras untuk menghentikan serangan yang menimpanya, tapi dia semakin melemah.. di sela-sela pukulan itu dia hanya bisa berkata..
“Min Ra.. tolong aku.. tolong aku…”, dan tidak lama kemudian, dia tidak sadarkan diri.

my powerful keen #1

“wah, tempat apa ini? indah sekali.. damainya…” aku tersenyum senang sambil menghirup udara segar.
dari kejauhan kulihat seseorang sedang berjalan. Tapi, mengapa di sekelilingnya seperti ada uap-uap air? aku tidak bisa melihat wajahnya. tiba-tiba saja dia sudah di depanku, lalu berkata:
“maukah kau menikah denganku?”
seketika saja uap-uap air yang menutupi wajahnya perlahan menghilang, nyaris sedikit lagi sampai seluruh uap air itu menghilang, tiba-tiba saja….
“Min Ra.. Min Ra!! YA!! bangunlah, nanti kau terlambat..” aku merasa seseorang sedang menggoyang-goyangkan tubuhku dan memaksaku bangun dari mimpi indahku. kubuka mataku, dan kulihat disana, bukan, bukan seseorang yang seperti pangeran yang ada di mimpiku tadi, melainkan kakakku, dengan tampang sangarnya.
“ah, Oppa.. aku mengantuk sekali.. biarkan aku tidur sebentar..” aku kembali menutup tubuhku dengan selimut.
“ah, begitu. jd kau tidak mau bangun? baiklah..” kakakku, segera pergi.
dan setelah itu..
Byur!!

“ah, oppa.. kau iseng sekali sih? bisa tidak sekali saja tidak menggangguku?” aku bangun dengan kesal.
“adeku sayang, cantik, manis.. JAM BERAPA INI? bukankah kau akan pergi interview?” kakakku mulai mengeluarkan jurus 5 oktafnya itu.
“MWO? Aish.. mengapa kau tidak bangunkan aku dari tadi.. ah, kau sangat menyebalkan oppa..” aku segera berlari menuju kamar mandi untuk segera bersiap.
“aigoo… susah kalau punya ade yg aneh kyk dia..” kakakku hanya bisa geleng-geleng kepala.
annyeong.. namaku Park Min Ra, panggil saja Min Ra. aku tinggal berdua di Seoul bersama kakakku, Park Jung Soo. Eomma dan Appa? mereka ada di Ilsan, daerah kelahiranku. Mereka mengirim kami kemari agar kami bisa mendapatkan kehidupan yg lebih baik. sedih sebenarnya tidak bisa tinggal bersama mereka, tapi untung saja Jung Soo oppa tetap menemaniku disini. lagipula kedua orang tuaku selalu tidak pernah lupa berkunjung setiap bulannya.
hari ini, aku berencana akan mengikuti interview di salah satu perusahaan yang selama ini menjadi idamanku. Sapphire Blue Corperation. perusahaan ini bergerak di bidang produksi mainan anak-anak, dan juga menyediakan taman bermain yang juga edukatif. senang sekali rasanya aku berhasil melewati tahapan pertama untuk test masuk kesana, dan hari ini, adalah final test, dimana aku akan langsung di wawancara oleh CEO dari perusahaan tersebut. Wish me luck!! ^^
setengah jam kemudian..
“Oppa.. aku pergi dulu..” aku pamit pada kakakku itu.
“kau tidak makan dulu Min Ra? tidak baik pergi interview dalam keadaan perut kosong.”
“aniyo.. aku bisa terlambat oppa.. nanti saja kalau aku pulang, aku pasti akan makan.. doakan aku berhasil ya, oppa..” kataku.
“hum, baiklah..tapi setidaknya, bawalah roti ini. untuk dimakan di jalan. sekedar untuk ganjal perut. bagaimana?”
“iya, iya.. gomawo oppaku sayang..” aku melambai padanya, lalu segera pergi.
Min Ra pun akhirnya sampai di tempat interview tersebut.
“huahh.. Sapphire Blue Corporation. aku datang!!” aku mulai berteriak gaje sesampainya disana.
“Heh? Min Ra? apa yg kau lakukan? tiba-tiba seseorang datang menghampiriku. Namanya Eun Mi, dia adalah sahabatku tersayang. Eun Mi beruntung, bisa terlebih dahulu bekerja disini. untuk itulah, aku minta beberapa trik agar aku bisa masuk ke perusahaan ini.
“gimana? dah siap? kamu dah makan belum?” ujarnya.
“udah dong, beres deh pokoknya. eh, gimana penampilanku, bagus kan? aku mulai narsis.
“hiaaa.. kamu ini. iya, iya, bagus koq. jangan lupa perkataanku kemarin ya, nanti kalau ditanya, cari jawaban seunik dan sebagus mungkin.oke?” Eun Mi memberi saran.
“siap chingu! doakan aku ya..” aku pun memeluk Eun Mi dengan penuh rasa sayang.
“Ne, good luck Min Ra.. my yeongwonhi Chingu, saranghaeyo.. haha..” aku pun sedikit lebih merasa tenang setelah bertemu dengan Eun Mi.
akhirnya giliranku tiba.. aku masuk ke ruangan untuk wawancara tersebut dengan perasaan yang tak menentu.
“Annyeong Haseyo, Min Ra imnida..” aku membungkukkan badan. setelah aku kembali ke posisi semula, di depanku, duduk seseorang dengan ekspresi wajah yang dingin sekali. tapi, oh tapi.. wajahnya tampan sekali..
“Silahkan duduk.” Ujarnya.
“Ne, gamsahamnida..” aku pun duduk.
“Park Min Ra.. baiklah, apa motivasimu untuk bekerja disini?” orang tersebut mulai bertanya.
“saya ingin lebih berperan dalam dunia anak-anak. tentunya apabila masuk kesini, saya ingin bisa bergabung untuk membuat mainan untuk anak-anak yang berkualitas, bagus, dan edukatif pastinya.” jawabku panjang lebar.
“hmm.. begitu ya. apa sebelumnya kau tidak pernah bekerja di tempat lain?” orang tersebut mulai bertanya lagi.
“pernah, tapi saya memutuskan untuk keluar karena tidak sesuai dengan visi dan misi saya”. aku merasa lebih deg-degan sekarang.
“bagaimana anda bisa tahu kalau perusahaan ini cocok dengan visi dan misi anda?” dia kembali bertanya dengan nada tajam.
” dari yang saya lihat selama ini pak.” aku kembali menjawab.
“lalu, kalau tidak cocok, kau akan keluar lagi dari perusahaan ini?” pertanyaannya semakin menusuk saja.
“mungkin, tapi toh menurut saya, itu saya yang akan merugi. toh saya yang membutuhkan bekerja disini.” hatiku tambah kebat-kebit saja.
“hmm.. baiklah.” akhirnya suaranya terdengar melunak.
dan kami pun melanjutkan kembali wawancara tersebut hingga selesai.
“baiklah Park Min Ra, kami tidak bisa langsung memutuskannya sekarang. anda bisa mengecek hasilnya di website kami, satu minggu lagi dari sekarang.” akhirnya wawancara ini selesai juga.
“Ne, gamsahamnida..” aku membungkukkan badan, lalu segera pergi dari ruangan tersebut.
diluar, Eun Mi sahabatku, sudah menungguku.
“Bagaimana? apa kau bisa menjawab semua pertanyaan yang diajukan?” tanyanya.
“ya begitulah. doakan saja hasilnya sesuai dengan yang kita harapkan. tapi ada sesuatu yang ingin kutanyakan. siapa tadi yang mewancaraiku? orangnya dingin sekali..” aku mencibir.
“ah dia.. dia Lee Sung Min. salah satu manager perusahaan ini, dia tampan ya..” Eun Mi mulai memujinya.
“ah, Sung Min ya namanya.. ah, percuma saja kalau tampan tapi hatinya dingin seperti itu.” aku tidak setuju dengannya.
“hahahaha.. sudah, sudah.. kalau nanti kamu jadi kerja disini, kamu harus membiasakan diri menghadapinya. bagaimana kalau kita makan saja sekarang? perutku sudah lapar..” Eun Mi berkata sambil tersenyum.
“baiklah, aku juga langsung merasa lapar setelah diwawancarai olehnya.. ahahhahaa..’ aku sudah bisa tertawa kembali.
“satu minggu kemudian*
aku membuka website perusahaan tersebut, dan melihat namaku masuk di daftar yang berhasil lulus dari semua test. saking gembiranya aku langsung berteriak-teriak seperti orang kesetanan.
“oppa, oppa, AKU LULUS!!! YEA!!!” lalu aku mulai menari-nari. kali ini aku melakukan octopus dance. kakakku hanya bisa tertawa melihat kelakuanku.
*dua hari kemudian*
ini hari pertamaku masuk kerja. aku berusaha tampil sebaik-baiknya. semoga aku bisa betah disana.
ternyata, Lee Sung Min itu akan langsung menjadi pemimpin divisiku. mula-mula aku merasa takut, apalagi ternyata Eun Mi ada di divisi yang berbeda denganku. tapi ternyata dugaanku salah, teman-teman di divisiku sangatlah baik dan ramah. mereka tidak segan menolongku. hasil kerjaku pun tidak terlalu mengecewakan sampai sejauh ini. aku merasa beruntung sekali bisa masuk sini.
*dua bulan kemudian*
“Park Min Ra, bisa ke ruangan saya sekarang?” tiba-tiba saja bosku memanggilku.
“baik pak, saya segera kesana.” aku segera menuju ruangannya.
kuketok pintunya..
“masuk”, kulihat, dia, Lee Sung Min, bosku yang dingin itu, sedang sibuk dengan berkasnya.
“ada perlu apa pak, memanggil saya?” tanyaku.
“tolong buatkan contoh design mainan untuk anak laki-laki usia 3-6 tahun. saya ingin mainan yang colorful, tapi juga mendidik, dan tentunya tidak berbahaya. bisa?” dia mulai bertanya.
“bisa pak. berapa jenis mainan yang harus saya buat?” tanyaku.
” buat lima saja. jangan lupa diberi warna. saya tunggu besok pengumpulannya. jam 10 pagi. silahkan kembali ke tempatmu.” dia kembali sibuk dengan berkas-berkas di hadapannya.
“Ne..” aku pun kembali ke tempatku.
malamnya, aku bekerja keras mengerjakan tugas yang dia berikan. sebenarnya aku merasa mengantuk sekali, tapi aku tetap paksakan untuk terus mengerjakannya. hasilnya, malam itu aku hanya tidur satu jam saja.
tapi apa yang kudapat? keesokan harinya..
“gambar apa ini? mainan ini sudah pernah ada sebelumnya. yang ini, saya tidak menemukan manfaatnya sama sekali. dan pewarnaannya, benar-benar berantakan. tolong direvisi.” tiba-tiba saja dia langsung main tembak tanpa memperdulikan perasaanku. aku hanya bisa berjalan tertunduk lesu dan keluar dari ruangannya.
malamnya, aku kembali merevisi gambar-gambar tersebut. mencari ide baru. dan lagi-lagi, aku hanya tidur satu jam saja malam itu.
dan keesokan harinya..
“hmm.. baiklah, ini sudah lebih bagus dari yang kemarin. walau saja, tetap masih banyak kekurangan. bawalah ini, kau simpan sendiri.” ujar Lee Sung Min yang makin lama semakin menyebalkan itu.
“design ini tidak diterima pak?” tanyaku merasa sedih.
“diterima? saya hanya mencari ide-ide baru saja. saya membutuhkan penjelasan yang lebih detail, melalui gambar, tapi sekarang ini memang tidak ada produksi khusus. anggap saja ini sebagai latihan.” ujarnya dengan enteng.
“mwo? latihan? gw cuma tidur 2 jam dari kemarin dianggap apaan?” ujarku dalam hati.
“baiklah pak, saya pergi dulu.” kataku menahan geram.
“Min Ra, kau tidak apa-apa?” Hye Rin, teman satu divisiku mulai melihat perubahan wajahku yang menunjukkan tanda-tanda kelelahan akut.
“ne.. gwenchanayo.. aku turun ke lantai bawah dulu ya..” kataku sambil merapihkan tas.
“apa perlu kutemani? kau terlihat benar-benar tidak sehat..” Hye Rin mulai khawatir.
“sudah, tidak apa-apa.. aku pergi dulu ya..”
di depan lift. aku menunggu lift yang akan mengantarku ke lantai bawah, tapi tiba-tiba saja, aku merasa pusing sekali, dan aku mulai merasa gelap. segera saja aku jatuh dengan lunglai di depan lift, sebelum kesadaranku benar-benar hilang, aku merasa seperti ada yang menangkap tubuhku. siapa dia???

my confession

“Cho Kyuhyun!! Saranghae…” ucapku mantap dan tanpa ragu. Kalau aku tidak menyatakan perasaanku sekarang, kapan lagi aku bisa. Jadi aku harus semangat dan percaya kalau aku pasti bisa mengucapkannya.
Pria itu tersenyum padaku. Oh~ manis sekali. Aku hampir ambruk karena senyumannya itu.
“Mianheyo. Aku tidak suka gadis yang lebih tua. Noona,” sahutnya.
Jlebb… Kyaaa~~ aku DITOLAK!!!

Mendengar jawabannya membuatku duduk tersungkur karena lututku sudah terlanjur lemas dan kecewa. Aku menangis sejadi-jadinya sementara dia pergi saja tanpa memperdulikanku. Tangisanku sangat deras sampai-sampai bajuku basah dan kenapa tiba-tiba disekelilingku jadi banjir begini?
Byurr~. Ada air yang menyiram wajahku. KYaa~~ orang bodoh mana sih yang menyiram gadis yang sedang patah hati begini? Aku lagi patah hati bukannya kerasukan!
“Dasar babo! Sudah disiram air masih tidak bangun juga. Ya sudahlah. Aku berangkat ke sekolah duluan,” ujar suara orang yang menyiramku itu.
Ku kejap-kejapkan mataku dan melihat ruangan tempat ku berbaring sekarang. Ternyata tadi aku hanya bermimpi.
“Ya~ Lee Donghae! Tidak bisa kah kau membangunkanku dengan cara yang lebih sopan!” bentak ku pada orang yang menyiramku tadi.
“Lebih baik kau lihat jam sebelum marah-marah. Cepat siap-siap!
Aku menuruti anjurannya dan setelah melihat jam, aku pun meloncat dari tempat tidurku menuju lemari pakaian untuk berganti.
“Hei~ biarpun tidak mandi, paling tidak kau cuci muka dan berkumur dulu ‘kan? dan OH Tidak! Kenapa kau mengganti pakaianmu dihadapanku?!” tegurnya sambil berlari keluar dari kamarku.
#$%#$%#$%
“Huftt~ hampir saja kita tertinggal kereta,” ujarku lega.
“Kalau kita sampai tertinggal, berarti ini hari terakhir aku berangkat ke sekolah denganmu!”seru Donghae kasar padaku kemudian teredengar suara menyapa kami.
“Hae-oppa, Myu ra onnie! Annyeong,” sapa gadis bernama Kim Seera itu.
“Rara, annyeong,” sahut Donghae dengan senyum sumringah.
Cih~ anak itu memang berubah drastis jika di hadapan Seera, kekasihnya. Kalau dihadapanku dia menjadi pria yang banyak protes dan cerewet. Tetapi jika dihadapan Seera berubah menjadi romantis. Menyebalkan.
Lee Donghae adalah saudara sepupuku yang lahir pada hari dan tahun yang sama denganku. Eommaku dan eommanya bersaudara. Orang-orang sering mengira kami saudara kembar padahal kami tak mirip sedikitpun. Dia tinggal dirumahku sejak kami di sekolah menengah pertama. Dan setiap hari memang dia yang selalu membangunkan ku. Dia dan Seera sudah berpacaran semenjak mereka duduk dibangku menengah pertama. Sudah sekitar empat tahun mereka berpacaran. Seera sendiri adalah hoobae ku dan Donghae. Dia lebih muda setahun dari kami dan yang lebih penting lagi, dia merupakan teman sekelas Cho Kyuhyun, pria yang selama satu tahun ini mengisi hatiku.
Kulihat Donghae sudah duduk manis disamping Seera tanpa mengajakku sama sekali. Syukurnya masih ada bangku kosong dihadapan mereka. Aku lalu duduk disana disamping seorang pria yang sedang asyik mendengarkan musik lewat ipod nya.
“Lagi-lagi kau disisihkan,” ujar pria itu sambil tersenyum padaku.
“Chulie-oppa, kau selalu mengatakan itu setiap hari padaku. Menyebalkan! Cobalah mengatakan hal lain padaku,” sahutku ketus.
Kim Heechul adalah kakak lelaki Kim Seera. Dia adalah sunbae ku yang sudah berada ditingkat akhir. Sangat pintar dan tampan. Banyak sekali gadis yang tergila-gila padanya. Menurutku dia seorang playboy, karena dalam empat bulan ini dia sudah berpacaran dengan dua orang gadis. Pertama Heebon tetapi hanya bertahan satu bulan. Kemudian tak lama setelah putus dari Heebon, dia berpacaran dengan Park Chaeri yang juga teman sekelas Seera dan Kyuhyun. Dia berbeda sekali dengan adiknya yang hanya setia dengan sepupuku.
Kemudian kereta berhenti untuk menyambut penumpang baru. Inilah yang kunantikan. Kyuhyun akan muncul dari stasiun ini. Setiap hari kami memang selalu satu kereta hanya saja beda stasiun. Dan dikeretalah menjadi tempat ku dengan puasnya memandangi secara diam-diam wajah Kyuhyun. Selain di kantin dan aula sekolah tentunya. Di mataku, ketika dia muncul aura yang ditimbulkannya berbeda dari anak lelaki lain padahal mereka sama-sama menggunakan seragam sekolah. Tetapi Kyuhyun lebih menawan. Mungkin inilah yang namanya disebut jatuh cinta. Hanya si ‘dia’ yang terlihat indah dimata.
Aku yang sedang asyik mengamati Kyuhyun dikagetkan oleh sebuah suara, “Onnie, bisakah kau pindah tempat duduk? Aku ingin duduk disamping Chullie-oppa,” seru suara manja itu tapi ada nada perintah didalamnya, dan suara itu milik Chaeri.
Awalnya aku tidak mau menurutinya karena kulihat kereta sudah penuh. Jika aku menurutinya pasti aku tidak akan mendapat tempat duduk lagi. Tetapi kulihat lirikan tajam dari Heechul yang seakan mengusirku sehingga aku pun akhirnya menurut. Terlihat senyum gembira dari keduanya saat aku bangkit dari duduk ku. Dasar pasangan kekasih yang egois.
Karena belum menemukan bangku yang kosong, aku terpaksa berdiri. Kulihat couple DongRa dan ChulRi cuek saja ketika melihatku tak kebagian tempat duduk. Mereka asyik-asyik saja bermesraan. Dasar pasangan-pasangan tak tau diri. Mereka anggap kereta ini milik mereka saja apa? Kita ‘kan sama-sama penumpang.
Kereta kembali berhenti, masih 2 stasiun lagi untuk ke sekolah dan aku tidak rela jika masih harus berdiri. Ku edarkan pandanganku mencari bangku yang kosong karena ditinggalkan penumpang yang turun. Pucuk dicinta ulam pun tiba, ada bangku kosong. Yang lebih membahagiakan lagi, bangku itu disamping Kyuhyun. Dengan cepat aku melesat menduduki kursi itu. Kyuhyun terbengong-bengong melihat tingkah abnormal ku itu. Tapi masa bodoh! Kapan lagi aku bisa duduk berdua dengannya. Tuhan terima kasih karena telah memberi ku hari yang sangat indah.
#$%#$%#$%
“Onnie-ya, sudah sebulan sejak kau duduk berdua dengan Kyuhyun dikereta. Tapi masih saja kau tidak bosan menceritakan hal itu,” seru Seera padaku.
Hari itu Seera datang ke rumah ku untuk belajar bersama. Lebih tepatnya meminta bantuan Donghae untuk mengerjakan PR-nya. Begitulah jika kau punya kekasih yang merupakan seniormu, apalagi jika punya otak yang sangat pandai seperti sepupuku. Seera tidak pernah ikut bimbingan belajar karena dia sudah memiliki pengajar yang setia membantunya. Seera benar-benar mengandalkan Donghae dalam pelajaran, tidak heran saat dulu mereka bertengkar nilai Seera anjlok karena tidak ada yang membantunya. Jadi nilai plus dari Donghae sebagai kekasih selain sikap romantisnya juga karena kerelaannya menjadi tutor gratis bagi Seera.
“Rara, bagaimana aku bisa bosan menceritakannya. karena pengalaman itu pengalaman terindah dalam hidupku. Aku duduk disampingnya, mencium aroma tubuhnya dan mendengar suaranya jelas dikupingku. Betapa indahnya…” sahutku sambil menerawang mengingat kejadian itu.
“Ya, mungkin kata-katanya saat itu juga sangat indah bagimu ‘kan?” timpal Donghae. Kemudian dia melirik Seera sambil tersenyum dan dengan serentak mereka berkata, “Noona, Sweater yang kau kenakan sangat manis. Cocok sekali denganmu.”
“Oh..So sweet banget deh ucapannya, aku tidak menyangka dia memperhatikan diriku sampai seperti itu, benar-benar pria yang manis,”sahutku lagi dengan wajah memerah.
“Ya, saking manisnya dia juga tidak lupa menyapamu dengan sebutan ‘noona’ haha~” balas Donghae dengan tawa yang membludak.
Aku memanyunkan mulutku mendengar ucapannya itu. kata-kata Kyuhyun padaku saat itu memang manis, tetapi andai saja dia tidak memanggilku dengan sebutan ‘noona’. Tapi, itulah dia. Selalu sopan padaku. Andai saja kami sebaya, aku sangat ingin dia memanggiku dengan namaku saja.
“Kapan kau akan menyatakan perasaan mu padanya?” tanya Seera secara tiba-tiba padaku.
“Entahlah, aku takut,” jawabku.
“Onnie-ya, kalau kau tidak nyatakan bagaimana dia akan tau? Lagipula banyak gadis yang suka padanya,”
“Ra, kalau begitu bantulah aku,” pinta ku padanya dengan tatapan memelas.
“Aku tidak dekat dengannya. Tapi, mungkin Chaeri bisa, mereka sudah berteman sejak sekolah dasar.”
“Benarkah? Tapi, aku tidak suka dengan gadis itu. Dia selalu memandang tajam ke arahku sejak dia melihat aku duduk disamping Heechul saat dikereta dulu.”
“Dia memang pencemburu. Lagipula cukup sulit mendekatinya sekarang. Dia dan kakak ku lagi perang dingin.”
“Mwo? Perang dingin lagi?” seru Donghae yang dibalas anggukan oleh Seera.
“Padahal dulu saat Chaeri menyatakan cinta pada Chullie-oppa, seluruh sekolah dibuat heboh. Tapi, tampaknya sekarang mereka akan benar-benar putus,” lanjut Seera. Ada nada sedih di suaranya.
“Aku harap mereka bertengkar bukan karena aku,” sahutku.
“Tentu saja bukan. Gadis itu memang babo. Dia masih saja tidak percaya dengan perasaan oppa ku padanya. Dia sangat takut jika oppa ku dekat dengan gadis lain. Itulah yang selalu membuat mereka bertengkar, tapi bukan dengan Onnie dia cemburu. Tapi dengan Heebon.” Jelas Seera yang membuatku cukup lega.
“Menurutku Heechul-hyung juga salah,” sahut Donghae yang membuat Seera menatap tajam padanya. Seera memang tidak suka jika saudaranya di salahkan. Dia begitu menyayangi kakaknya itu.
“Apa salah Chullie-oppa?” tanya Seera dengan pandangan menantang sementara Donghae masih tidak sadar bahwa kata-katanya itu sudah menyulut emosi kekasihnya.
“Dia terlalu mudah berpindah hati. Baru saja putus dengan Heebon, tapi ketika Chaeri menyatakan cinta langsung diterima. Itu namanya tidak punya sikap. Wajar saja Chaeri beranggapan kalau dia itu hanya dianggap sebagai pelarian cinta.”
Mendengar ucapan Donghae membuat Seera naik pitam. Dengan cepat dia membereskan barang-barangnya dan pulang tanpa pamit pada kami.
“Dia marah?” tanya Donghae padaku dengan tatapan tak percaya.
Aku menghela panjang nafasku. Aku heran, mereka sudah empat tahun berpacaran tapi masih juga tidak saling mengerti. Sudah berulangkali Donghae melakukan hal yang sama yang membuat Seera merajuk, yaitu menjelekkan kelakuan Heechul. Tapi, selalu saja diulangi.
“Cepat kejar dia kalau tidak mau mengalami perang dingin seperti kasus couple ‘ChulRi’,” saranku bijak padanya. Dan seperti biasa Donghae melesat cepat mengejar Seera.
Ah~ satu lagi kelebihan sepupuku itu sebagai kekasih. Dia terlalu mencintai kekasihnya sehingga menyebabkan dirinya sudah terjerat sangat kuat dalam lilitan benang cinta Kim Seera. Tipe pria takut istri.
#$%#$%#$%
Kabar putusnya hubungan kasih antara Heechul dan Chaeri menjadi buah bibir di seluruh sekolah. Dengar-dengar banyak anak yang bertaruh tentang ke awetan hubungan pasangan itu. Aku merasa iba dengan Heechul karena kejadian itu. Wajahnya lebih masam ketimbang saat putus dengan Heebon dulu. Tetapi yang menimpa sang gadis tampaknya lebih parah. Selama seminggu Chaeri tidak masuk sekolah. Saat sudah bisa ke sekolah pun wajah Chaeri tak kalah masamnya. Hubungan mereka sangat buruk setelah putus. Aku jadi tidak bisa meminta tolong padanya untuk membantuku mendekati Kyuhyun. Rupanya hubungan mereka yang berakhir juga memberikan dampak buruk bagi hidupku.
Tiga minggu berlalu setelah itu. Seperti biasa aku pergi ke sekolah menggunakan kereta yang sama dengan Heechul, Seera dan Donghae. Dan pagi itu aku dikejutkan dengan pemandangan yang sama sekali tidak ingin kulihat dalam hidupku. Saat tiba di stasiun tempat biasa Kyuhyun menunggu kereta, kulihat Kyuhyun dan Chaeri sedang bergandengan tangan mesra, ketika mereka masuk kedalam kereta pun mereka tetap pamer kemesraan tanpa ada rasa sungkan karena bagaimana pun juga mereka melihat bahwa Heechul juga ada dalam kereta yang sama. Sakit sekali rasanya melihat Kyuhyun merangkul pinggang Chaeri dan menciumi pipi gadis itu, dia benar-benar seperti pria yang sedang dimabuk kepayang. Menyakitkan.
Aku kemudian menoleh ke sebelahku, ingin melihat ekspresi Heechul ketika melihat pemandangan itu karena kulihat Seera dan Donghae sudah mengepal-ngepalkan tangan mereka dengan gemas. Tapi, pria itu tetap santai dan tanpa ada tanda-tanda kecemburuan di raut mukanya. Membuatku menjadi kebingungan.
Seera kemudian memanggil-manggil Heechul, “Oppa, kau tidak cemburu?” tanyanya dengan tatapan tak percaya. Heechul menjawab pertanyaan adiknya itu dengan seringai kemudian menggeleng.
Aku tidak mengerti dengan sikap orang ini, sangat tidak wajar. Pantas saja kalau Chaeri beranggapan dirinya sebagai pelarian. Heechul sama sekali tidak menganggapnya. Kasihan. Tapi, aku yang lebih pantas dikasihani. Gara-gara hubungan mereka yang berakhir, aku jadi kehilangan pria yang kucintai. Aku kembali memandangi Kyuhyun dan Chaeri, mereka masih saja bersikap saling mesra. Menyedihkan.
“Sungguh kau tidak cemburu melihat mereka pamer kemesraan seperti itu?” kali ini aku memberanikan diri menanyakan itu pada Heechul.
“Untuk apa? Dia sudah bukan kekasihku lagi, terserah dia bermesraan dengan siapapun,” sahutnya santai.
“Sungguh?”tanyaku masih tak percaya. Berharap setelah mendengar pertanyaan ku ini membuat hati Heechul bergerak untuk menarik Chaeri lagi kedalam pelukannya. Tetapi sama seperti yang dilakukannya pada Seera saat menjawab pertanyaannya. Dia hanya menyeringai padaku dan menggeleng.
Jadi, hari ini aku mengalami patah hati. Bahkan sebelum aku mengungkapkan perasaanku. Dalam hati aku berdoa, berharap mereka segera putus. Tapi, sampai empat bulan setelah hari itu belum ada tanda-tanda hubungan mereka berakhir. Chaeri berpacaran dengan Kyuhyun jauh lebih lama ketimbang ketika berpacaran dengan Heechul. Doa ku jadi tidak terkabul. Menyedihkan. Mungkin aku harus siap merelakan Kyuhyun. Kata orang-orang cinta tak harus memiliki, melihatnya tersenyum saja itu sudah membahagiakan. Tapi, rasanya aku masih tidak rela.
#$%#$%#$%
“Onnie-ya, ayo ikut kami! Liburan musim panas seperti ini lebih asyik kalau kita ke kolam renang lalu ke bioskop. Ayolah,” ajak Seera sambil menarik-narik kaki ku agar bangun dari tempat tidurku.
“Kalian pergi berdua saja. Aku mau tidur,” elakku.
“Onnie harus ikut. Kalau tidak, kita tidak akan mendapat diskon,” sahut Seera masih menarik-narik kakiku.
“Hm? Diskon?” tanyaku sambil mengucek mataku dan duduk disamping Seera sambil melihat brosur yang diletakan Seera di tubuhku.
“Pasangan kencan ganda akan mendapat diskon 50% untuk masuk ke kolam renang,” kataku sambil mengerenyitkan dahi tanda tak mengerti sementara kulihat Donghae dan Seera mengangguk-angguk seperti anak anjing, entah aku tak mengerti maksud mereka.
“Myu ra, ayolah ikut dengan kami,” ajak Donghae.
“Lalu siapa pasangan kencan ku?”
“Chullie-oppa,” sahut Seera bersemangat.
“Ogah! Aku mau melanjutkan tidurku saja.”
“Onnie, ayo ikut kami. Ayo, kami akan tetap mengganggumu sampai kau mau!” seru Seera sambil menggelitik kakiku.
Akhirnya, aku menyerah. Kubiarkan saja mereka menyeretku untuk mengikuti mereka. Saat di kolam renang, aku hanya duduk disamping kolam sambil mengawasi Seera dan Donghae yang asyik berenang. Iri sekali melihat kemesraan mereka. Aku juga ingin punya pacar, tapi cintaku selalu gagal. Aku memnag sangat menyedihkan.
“Kenapa melamun saja? Tidak bisa berenang?” tanya Heechul padaku, rupanya dia memperhatikanku dari tadi.
“Bisa kok, cuman lagi gak mood,” sahutku acuh.
Dan tiba-tiba..Byurr~, aku didorong Heechul sampai tercebur ke kolam.
“Kyaa~ Kim Heechul. Kau jahat,” jeritku. Ah~ menyebalkan aku sampai terminum air kolam gara-gara ulahnya sementara dia hanya tertawa saja.
“Gyahaha~ mianheyo,” sahutnya masih tertawa.
“Mana ada orang yang meminta maaf sambil tertawa begitu,” rungutku.
Heechul masih tidak menghentikan tawanya tapi dia kemudian menjulurkan tangannya padaku. Menyuruhku meraihnya untuk menarik ku keluar dari kolam. Ini kesempatan untuk membalasnya. Ku raih tangannya dan kutarik sehingga dia pun akhirnya mengalami hal yang sama denganku, terjatuh ke kolam. Aku tertawa karena sudah berhasil membalasnya, tetapi dia malah marah-marah. Menyebalkan, dia suka mengerjai orang tapi saat di kerjai malah marah-marah.
“Chullie-oppa, ayolah jangan marah-marah begitu. Kau sendiri yang memulai. Aku hanya mau membalasmu,” bujuk ku sambil mengikutinya keluar dari kolam.
“Ada syaratnya,” sahutnya sambil berhenti mendadak yang membuatku hampir saja menubruknya.
“Kya~ kenapa malah bersyarat,” amuk ku sambil menonjok tangannya.
“Ayo kita ke bioskop,”
Aku mengerenyitkan keningku tak mengerti.
“Syarat dari ku, ayo kita ke bioskop. Kau harus menemaniku nonton,” ujar Heechul lagi menjelaskan maksud ucapannya yang sebelumnya.
“Hah~ bilang saja kalau kau mau kencan dengan ku,” sahutku setengah mengejeknya.
“Yah, lebih baik kita pergi berdua. Aku lebih suka menonton film ketimbang menonton aksi ke dua makhluk itu,” jelas Heechul sambil menunjuk-nunjuk Seera dan Donghae yang sedang asik berciuman di pinggir kolam membuatku jadi merasa jijik.
“Baiklah, aku ikut dengan mu,” sahutku mantap.
Akhirnya, tanpa memberitahu Seera dan Donghae, kami pun pergi meninggalkan kolam renang. Baru kali ini aku pergi berdua saja dengan Heechul. Ternyata dia sangat menyenangkan pantas saja banyak gadis yang menyukainya. Sebelum pergi ke bioskop, dia mentraktirku ice cream terlebih dahulu. Orang-orang yang melihat kami mungkin akan mengira kalau kami berdua sedang berkencan karena tanpa sungkan aku menggandeng tangannya dan dia pun membiarkan saja aku menggandengnya. Aku jadi tidak menyesal menyetujui ajakannya ini.
#$%#$%#$%
“Oppa, kau menungguku lama?” tanyaku sekeluarnya dari toilet sesudah film yang kami tonton berakhir.
“Tidak. Hm, setelah ini kau mau kemana?” tanya Heechul dengan ramah padaku.
“Aku lapar, kita makan saja dulu sambil merencanakan akan pergi kemana lagi,” saranku.
“Baiklah, ayo kita per..” kata-kata Heechul terhenti saat melihat ada seorang gadis yang menatapnya. Pandanganku pun ku alihkan ke gadis itu, tampaknya dari tadi dia memang memperhatikan kami. Kulihat air mata mengalir deras dari matanya.
“Chaeri-ya, kenapa kau…” Heechul menghentikan pertanyaannya. Kulihat tangan Heechul bergetar dan ada kecemasan di wajahnya sementara gadis itu masih diam saja.
Kemudian Kyuhyun muncul, oh tidak. Aku tidak ingin melihat pemandangan seperti ini. Begitu kaku dan sangat dingin. Kyuhyun menatap tajam kepada Heechul, ada amarah di balik pandangannya itu.
“Chaeri, ayo kita pergi dari sini,” ajak Kyuhyun sambil merangkul bahu gadis itu dan menariknya untuk meninggalkan kami. Tetapi, langkah mereka terhenti saat Heechul meraih tangan gadis itu.
“Kenapa… kenapa masih menangis seperti itu? Aku melepaskanmu agar aku tak membuatmu menangis lagi. Kupikir kau sudah..” ucap Heechul.
Aku tidak ingin disini. Melihat pemandangan ini. Kulihat Kyuhyun menggigit bibirnya menahan geram karena ada seorang pria yang tampaknya sedang berusaha merebut kekasihnya.
“Untuk apa kepedulianmu itu? Kau sudah melepaskannya ‘kan?” tanya Kyuhyun ketus.
Heechul tidak menjawab, dia masih saja memandangi Chaeri yang masih menangis. Rupanya dia hanya ingin gadis itu yang menjawabnya.
Chaeri akhirnya bisa mengendalikan dirinya, dia membalas tatapan Heechul sambi berkata, “karena aku tidak pernah bisa berhenti menyukaimu. Walau kau melepaskanku, aku masih ingin disampingmu. Tapi, kau tak pernah mengerti.”
Mendengar itu, wajah Kyuhyun langsung merah padam. Kulihat dia berusaha menarik Chaeri untuk pergi tapi gadis itu tak bergeming.
“Kyuhyunnie-ya, kita hentikan saja permainan ini. Aku lelah,” isak Chaeri.
“Permainan?” tanyaku dan Heechul serempak.
“Aku dan Kyu hanya berpura-pura saja berpacaran. Aku melakukannya untuk memanasimu, untuk membuatmu cemburu. Chullie-oppa harusnya kau tau, aku tidak mungkin bisa menyukai pria lain selain kau,” jelas Chaeri yang membuat mata bulat Heechul semakin membulat.
“Sungguh?” tanya Heechul tak percaya, Chaeri mengangguki. Tanpa ragu Heechul kemudian menarik gadis itu ke dalam pelukannya, “Saranghae, Chaeri-ya. Aku tak akan melepaskanmu lagi.”
“Chukkae, akhirnya kalian balikan,” ujarku tersenyum lebar. Entah kenapa aku juga sangat bahagia. Itu karena Kyuhyun dan Chaeri hanya berpacaran untuk membuat Chaeri kembali pada Heechul.
“Gomawoyo, Myu ra. Tapi, maafkan aku. Sepertinya kita tidak jadi makan berdua,” sahut Heechul.
“Ah, tak apa. Kau bersenang-senang saja berdua dengan Chaeri. Aku akan makan dirumah saja. Tidak apa-apa, tak perlu sungkan,” balasku.
“Gomawoyo onnie,” kemudian Chaeri menatap Kyuhyun sambil berkata, “Kyuhyunnie-ya, aku tidak tau harus membalasmu dengan apa. Aku hanya bisa berterima kasih,”
Kyuhyun menggeleng mendengar perkataan Chaeri, “Tak apa, kita sudah lama bersahabat. Melihat kau bahagia itu sudah cukup.” Dia pun mengelus rambut Chaeri, kemudian melanjutkan, “aku pergi, kalian bersenang-senanglah.”
Setelah Kyuhyun berlalu, aku pun tersadar. Pria itu sedang patah hati. Dari caranya memperlakukan Chaeri tadi, aku tau kalau itu bukan sikap sayang dari seorang sahabat. Tapi dari seorang Namja kepada yeoja yang dicintainya.
“Aku juga akan pergi,” seruku pada Heechul dan Chaeri.
Setelah berpamitan, aku pun berlari mencoba menyusul Kyuhyun. Aku takut dia berbuat bodoh. Tapi, aku tidak berhasil menemukannya di dalam gedung bioskop. Sementara di luar sana sedang hujan deras. Dari salah satu jendela di dalam gedung,aku melihat Kyuhyun sedang duduk di sebuah bangku di halaman gedung. Dasar babo, kenapa dia malah membiarkan dirinya kebasahan seperti itu. Aku akhirnya nekat menerobos hujan untuk mendatanginya.
“Kyuhyun baboya. Kau pikir dengan mebiarkan dirimu kehujanan akan bisa menutupi air mata mu itu. Dasar babo, kalau kau menyukai gadis itu harusnya kau mengungkapkannya. Bertingkah seperti pahlawan tetapi pasti terasa sakit ‘kan?” seruku memarahinya sementara dia menatapku seolah tidak percaya dengan apa yang ku ucapkan.
“Tak ada gunanya. Sudah jelas tak ada harapan untukku,”sahutnya sambil berusaha mengalihkan pandangannya menghindari tatapan tajam ku.
“Pengecut!”
“Aku memang pengecut,” jeritnya sambil berdiri dan menatapku. “Aku takut saat dia mengetahui perasaanku dia akan membenciku, menghindariku. Aku seorang pecundang yang membiarkan diriku dimanfaatkan dalam permainannya. Aku hanya bisa menahan perasaan ku saat melihatnya bersama dengan kekasihnya, menjadi pendengar yang baik saat dia menceritakan kebahagiaan dan kesedihannya saat bersama dengan kekasihnya. Dan hanya membiarkan diriku menjadi kekasih pura-puranya karena pada saat itu saja aku bisa memeluknya, menciumnya dan melindunginya. Kau benar, aku seorang pengecut.”
Aku terdiam mendengar ucapannya itu. Sakit sekali rasanya mengetahui orang yang sangat kusukai ternyata mempunyai perasaan yang begitu mendalam pada gadis lain.
“Noona, mianheyo. Pergilah, tinggalkan aku sendiri, jebal,” ucapnya lagi.
Tapi, aku tidak ingin menurutinya. Karena aku tidak mau seperti dirinya, menjadi seorang pengecut. Aku ingin dia membuka matanya, aku ingin dia melihatku. Melihatku sebagai seorang yeoja yang mencintai nya bukan sebagai seorang sunbaenim belaka.
“Jangan panggil aku dengan sebutan ‘noona’,” seruku.
“Noona, apa maksudmu?”
“Kubilang jangan panggil aku dengan sebutan ‘noona’ lagi, karena aku menyukaimu dan sangat sakit rasanya mendengar orang yang ku suka memanggilku dengan sebutan itu.”
Dia memandangku dengan tatapan tak percaya. Masih tidak mengerti dengan ucapanku. Aku pun semakin membulatkan tekad ku untuk menyatakan perasaanku padanya. Membuatnya mengerti dengan perasaanku.
“Cho Kyuhyun, sarangheyo…” dia terduduk saat mendengar pernyataanku. Aku pun melanjutkan lagi pengakuanku, “Aku menyukaimu pada pandangan pertama. Saat kau memberikan sambutan sebagai perwakilan murid baru pada tahun ajaran baru tahun lalu. Sejak saat itu aku selalu mengamatimu. Semakin hari, aku semakin menyukaimu. Tapi, aku sangat takut mengungkapkannya. Entah kenapa saat ini keberanian untuk mengungkapkannya muncul. Aku mengatakan hal ini hanya untuk kau tau perasaanku, bukan untuk membebanimu. Walaupun kau tak menerimaku, kita bisa berteman ‘kan? kau tidak akan menjauhiku?”
Dia kemudian bergumam, tapi aku tak dapat mendengarnya karena hujan yang semakin deras.
“Tadi.. kau bicara apa?” tanyaku pada Kyuhyun karena kulihat dia sedang tersenyum padaku.
“Kau mau aku menjawab perasaan mu sekarang atau mau menunggu?”tanyanya padaku atnpa menghiraukan pertanyaanku.
“Kalau kau menjawab sekarang dan jawabannya kau menolakku, lebih baik kau menjawab nanti bila jawaban itu nanti adalah kau menerimaku,” sahutku yang membuatnya tertawa.
“Bagaimana kalau yang terjadi justru sebaliknya?”
“Itu tidak mungkin,” sahutku mantap. “Aku yakin kau bukan pria yang dengan mudah berpindah hati. Baru saja patah hati tidak mungkin membuatmu langsung menerimaku. Aku akan menunggu.”
Lagi-lagi dia tertawa mendengar ucapanku. Di tengah guyuran hujan di musim panas, aku menyatakan perasaanku. Perasaan yang mengganjal selama ini karena hanya di pendam saja lambat laun menghilang setelah aku mengungkapkannya dan berubah menjadi rasa lega. Sekarang tugasku adalah menunggu jawaban darinya dan aku akan dengan setia menunggu serta menyiapkan hatiku agar bisa menerima apapun keputusannya.
Kemudian di akhir musim gugur, Kyuhyun menepati janjinya. Dia membalas perasaanku, menjadikan diriku bagaikan yeoja yang paling berbahagia. Sejak saat itu dia tidak lagi memanggilku dengan sebutan ‘Myu ra-noona’ tetapi menjadi ‘yeobo’. Aku pun sudah mulai merasakan apa yang disebut ‘pahit-manisnya’ cinta dan yang pasti aku akan selalu berusaha agar dia semakin mencintaiku.
~The End~
“Cho Kyuhyun!! Saranghae…” ucapku mantap dan tanpa ragu. Kalau aku tidak menyatakan perasaanku sekarang, kapan lagi aku bisa. Jadi aku harus semangat dan percaya kalau aku pasti bisa mengucapkannya.
Pria itu tersenyum padaku. Oh~ manis sekali. Aku hampir ambruk karena senyumannya itu.
“Mianheyo. Aku tidak suka gadis yang lebih tua. Noona,” sahutnya.
Jlebb… Kyaaa~~ aku DITOLAK!!!

Mendengar jawabannya membuatku duduk tersungkur karena lututku sudah terlanjur lemas dan kecewa. Aku menangis sejadi-jadinya sementara dia pergi saja tanpa memperdulikanku. Tangisanku sangat deras sampai-sampai bajuku basah dan kenapa tiba-tiba disekelilingku jadi banjir begini?
Byurr~. Ada air yang menyiram wajahku. KYaa~~ orang bodoh mana sih yang menyiram gadis yang sedang patah hati begini? Aku lagi patah hati bukannya kerasukan!
“Dasar babo! Sudah disiram air masih tidak bangun juga. Ya sudahlah. Aku berangkat ke sekolah duluan,” ujar suara orang yang menyiramku itu.
Ku kejap-kejapkan mataku dan melihat ruangan tempat ku berbaring sekarang. Ternyata tadi aku hanya bermimpi.
“Ya~ Lee Donghae! Tidak bisa kah kau membangunkanku dengan cara yang lebih sopan!” bentak ku pada orang yang menyiramku tadi.
“Lebih baik kau lihat jam sebelum marah-marah. Cepat siap-siap!
Aku menuruti anjurannya dan setelah melihat jam, aku pun meloncat dari tempat tidurku menuju lemari pakaian untuk berganti.
“Hei~ biarpun tidak mandi, paling tidak kau cuci muka dan berkumur dulu ‘kan? dan OH Tidak! Kenapa kau mengganti pakaianmu dihadapanku?!” tegurnya sambil berlari keluar dari kamarku.
#$%#$%#$%
“Huftt~ hampir saja kita tertinggal kereta,” ujarku lega.
“Kalau kita sampai tertinggal, berarti ini hari terakhir aku berangkat ke sekolah denganmu!”seru Donghae kasar padaku kemudian teredengar suara menyapa kami.
“Hae-oppa, Myu ra onnie! Annyeong,” sapa gadis bernama Kim Seera itu.
“Rara, annyeong,” sahut Donghae dengan senyum sumringah.
Cih~ anak itu memang berubah drastis jika di hadapan Seera, kekasihnya. Kalau dihadapanku dia menjadi pria yang banyak protes dan cerewet. Tetapi jika dihadapan Seera berubah menjadi romantis. Menyebalkan.
Lee Donghae adalah saudara sepupuku yang lahir pada hari dan tahun yang sama denganku. Eommaku dan eommanya bersaudara. Orang-orang sering mengira kami saudara kembar padahal kami tak mirip sedikitpun. Dia tinggal dirumahku sejak kami di sekolah menengah pertama. Dan setiap hari memang dia yang selalu membangunkan ku. Dia dan Seera sudah berpacaran semenjak mereka duduk dibangku menengah pertama. Sudah sekitar empat tahun mereka berpacaran. Seera sendiri adalah hoobae ku dan Donghae. Dia lebih muda setahun dari kami dan yang lebih penting lagi, dia merupakan teman sekelas Cho Kyuhyun, pria yang selama satu tahun ini mengisi hatiku.
Kulihat Donghae sudah duduk manis disamping Seera tanpa mengajakku sama sekali. Syukurnya masih ada bangku kosong dihadapan mereka. Aku lalu duduk disana disamping seorang pria yang sedang asyik mendengarkan musik lewat ipod nya.
“Lagi-lagi kau disisihkan,” ujar pria itu sambil tersenyum padaku.
“Chulie-oppa, kau selalu mengatakan itu setiap hari padaku. Menyebalkan! Cobalah mengatakan hal lain padaku,” sahutku ketus.
Kim Heechul adalah kakak lelaki Kim Seera. Dia adalah sunbae ku yang sudah berada ditingkat akhir. Sangat pintar dan tampan. Banyak sekali gadis yang tergila-gila padanya. Menurutku dia seorang playboy, karena dalam empat bulan ini dia sudah berpacaran dengan dua orang gadis. Pertama Heebon tetapi hanya bertahan satu bulan. Kemudian tak lama setelah putus dari Heebon, dia berpacaran dengan Park Chaeri yang juga teman sekelas Seera dan Kyuhyun. Dia berbeda sekali dengan adiknya yang hanya setia dengan sepupuku.
Kemudian kereta berhenti untuk menyambut penumpang baru. Inilah yang kunantikan. Kyuhyun akan muncul dari stasiun ini. Setiap hari kami memang selalu satu kereta hanya saja beda stasiun. Dan dikeretalah menjadi tempat ku dengan puasnya memandangi secara diam-diam wajah Kyuhyun. Selain di kantin dan aula sekolah tentunya. Di mataku, ketika dia muncul aura yang ditimbulkannya berbeda dari anak lelaki lain padahal mereka sama-sama menggunakan seragam sekolah. Tetapi Kyuhyun lebih menawan. Mungkin inilah yang namanya disebut jatuh cinta. Hanya si ‘dia’ yang terlihat indah dimata.
Aku yang sedang asyik mengamati Kyuhyun dikagetkan oleh sebuah suara, “Onnie, bisakah kau pindah tempat duduk? Aku ingin duduk disamping Chullie-oppa,” seru suara manja itu tapi ada nada perintah didalamnya, dan suara itu milik Chaeri.
Awalnya aku tidak mau menurutinya karena kulihat kereta sudah penuh. Jika aku menurutinya pasti aku tidak akan mendapat tempat duduk lagi. Tetapi kulihat lirikan tajam dari Heechul yang seakan mengusirku sehingga aku pun akhirnya menurut. Terlihat senyum gembira dari keduanya saat aku bangkit dari duduk ku. Dasar pasangan kekasih yang egois.
Karena belum menemukan bangku yang kosong, aku terpaksa berdiri. Kulihat couple DongRa dan ChulRi cuek saja ketika melihatku tak kebagian tempat duduk. Mereka asyik-asyik saja bermesraan. Dasar pasangan-pasangan tak tau diri. Mereka anggap kereta ini milik mereka saja apa? Kita ‘kan sama-sama penumpang.
Kereta kembali berhenti, masih 2 stasiun lagi untuk ke sekolah dan aku tidak rela jika masih harus berdiri. Ku edarkan pandanganku mencari bangku yang kosong karena ditinggalkan penumpang yang turun. Pucuk dicinta ulam pun tiba, ada bangku kosong. Yang lebih membahagiakan lagi, bangku itu disamping Kyuhyun. Dengan cepat aku melesat menduduki kursi itu. Kyuhyun terbengong-bengong melihat tingkah abnormal ku itu. Tapi masa bodoh! Kapan lagi aku bisa duduk berdua dengannya. Tuhan terima kasih karena telah memberi ku hari yang sangat indah.
#$%#$%#$%
“Onnie-ya, sudah sebulan sejak kau duduk berdua dengan Kyuhyun dikereta. Tapi masih saja kau tidak bosan menceritakan hal itu,” seru Seera padaku.
Hari itu Seera datang ke rumah ku untuk belajar bersama. Lebih tepatnya meminta bantuan Donghae untuk mengerjakan PR-nya. Begitulah jika kau punya kekasih yang merupakan seniormu, apalagi jika punya otak yang sangat pandai seperti sepupuku. Seera tidak pernah ikut bimbingan belajar karena dia sudah memiliki pengajar yang setia membantunya. Seera benar-benar mengandalkan Donghae dalam pelajaran, tidak heran saat dulu mereka bertengkar nilai Seera anjlok karena tidak ada yang membantunya. Jadi nilai plus dari Donghae sebagai kekasih selain sikap romantisnya juga karena kerelaannya menjadi tutor gratis bagi Seera.
“Rara, bagaimana aku bisa bosan menceritakannya. karena pengalaman itu pengalaman terindah dalam hidupku. Aku duduk disampingnya, mencium aroma tubuhnya dan mendengar suaranya jelas dikupingku. Betapa indahnya…” sahutku sambil menerawang mengingat kejadian itu.
“Ya, mungkin kata-katanya saat itu juga sangat indah bagimu ‘kan?” timpal Donghae. Kemudian dia melirik Seera sambil tersenyum dan dengan serentak mereka berkata, “Noona, Sweater yang kau kenakan sangat manis. Cocok sekali denganmu.”
“Oh..So sweet banget deh ucapannya, aku tidak menyangka dia memperhatikan diriku sampai seperti itu, benar-benar pria yang manis,”sahutku lagi dengan wajah memerah.
“Ya, saking manisnya dia juga tidak lupa menyapamu dengan sebutan ‘noona’ haha~” balas Donghae dengan tawa yang membludak.
Aku memanyunkan mulutku mendengar ucapannya itu. kata-kata Kyuhyun padaku saat itu memang manis, tetapi andai saja dia tidak memanggilku dengan sebutan ‘noona’. Tapi, itulah dia. Selalu sopan padaku. Andai saja kami sebaya, aku sangat ingin dia memanggiku dengan namaku saja.
“Kapan kau akan menyatakan perasaan mu padanya?” tanya Seera secara tiba-tiba padaku.
“Entahlah, aku takut,” jawabku.
“Onnie-ya, kalau kau tidak nyatakan bagaimana dia akan tau? Lagipula banyak gadis yang suka padanya,”
“Ra, kalau begitu bantulah aku,” pinta ku padanya dengan tatapan memelas.
“Aku tidak dekat dengannya. Tapi, mungkin Chaeri bisa, mereka sudah berteman sejak sekolah dasar.”
“Benarkah? Tapi, aku tidak suka dengan gadis itu. Dia selalu memandang tajam ke arahku sejak dia melihat aku duduk disamping Heechul saat dikereta dulu.”
“Dia memang pencemburu. Lagipula cukup sulit mendekatinya sekarang. Dia dan kakak ku lagi perang dingin.”
“Mwo? Perang dingin lagi?” seru Donghae yang dibalas anggukan oleh Seera.
“Padahal dulu saat Chaeri menyatakan cinta pada Chullie-oppa, seluruh sekolah dibuat heboh. Tapi, tampaknya sekarang mereka akan benar-benar putus,” lanjut Seera. Ada nada sedih di suaranya.
“Aku harap mereka bertengkar bukan karena aku,” sahutku.
“Tentu saja bukan. Gadis itu memang babo. Dia masih saja tidak percaya dengan perasaan oppa ku padanya. Dia sangat takut jika oppa ku dekat dengan gadis lain. Itulah yang selalu membuat mereka bertengkar, tapi bukan dengan Onnie dia cemburu. Tapi dengan Heebon.” Jelas Seera yang membuatku cukup lega.
“Menurutku Heechul-hyung juga salah,” sahut Donghae yang membuat Seera menatap tajam padanya. Seera memang tidak suka jika saudaranya di salahkan. Dia begitu menyayangi kakaknya itu.
“Apa salah Chullie-oppa?” tanya Seera dengan pandangan menantang sementara Donghae masih tidak sadar bahwa kata-katanya itu sudah menyulut emosi kekasihnya.
“Dia terlalu mudah berpindah hati. Baru saja putus dengan Heebon, tapi ketika Chaeri menyatakan cinta langsung diterima. Itu namanya tidak punya sikap. Wajar saja Chaeri beranggapan kalau dia itu hanya dianggap sebagai pelarian cinta.”
Mendengar ucapan Donghae membuat Seera naik pitam. Dengan cepat dia membereskan barang-barangnya dan pulang tanpa pamit pada kami.
“Dia marah?” tanya Donghae padaku dengan tatapan tak percaya.
Aku menghela panjang nafasku. Aku heran, mereka sudah empat tahun berpacaran tapi masih juga tidak saling mengerti. Sudah berulangkali Donghae melakukan hal yang sama yang membuat Seera merajuk, yaitu menjelekkan kelakuan Heechul. Tapi, selalu saja diulangi.
“Cepat kejar dia kalau tidak mau mengalami perang dingin seperti kasus couple ‘ChulRi’,” saranku bijak padanya. Dan seperti biasa Donghae melesat cepat mengejar Seera.
Ah~ satu lagi kelebihan sepupuku itu sebagai kekasih. Dia terlalu mencintai kekasihnya sehingga menyebabkan dirinya sudah terjerat sangat kuat dalam lilitan benang cinta Kim Seera. Tipe pria takut istri.
#$%#$%#$%
Kabar putusnya hubungan kasih antara Heechul dan Chaeri menjadi buah bibir di seluruh sekolah. Dengar-dengar banyak anak yang bertaruh tentang ke awetan hubungan pasangan itu. Aku merasa iba dengan Heechul karena kejadian itu. Wajahnya lebih masam ketimbang saat putus dengan Heebon dulu. Tetapi yang menimpa sang gadis tampaknya lebih parah. Selama seminggu Chaeri tidak masuk sekolah. Saat sudah bisa ke sekolah pun wajah Chaeri tak kalah masamnya. Hubungan mereka sangat buruk setelah putus. Aku jadi tidak bisa meminta tolong padanya untuk membantuku mendekati Kyuhyun. Rupanya hubungan mereka yang berakhir juga memberikan dampak buruk bagi hidupku.
Tiga minggu berlalu setelah itu. Seperti biasa aku pergi ke sekolah menggunakan kereta yang sama dengan Heechul, Seera dan Donghae. Dan pagi itu aku dikejutkan dengan pemandangan yang sama sekali tidak ingin kulihat dalam hidupku. Saat tiba di stasiun tempat biasa Kyuhyun menunggu kereta, kulihat Kyuhyun dan Chaeri sedang bergandengan tangan mesra, ketika mereka masuk kedalam kereta pun mereka tetap pamer kemesraan tanpa ada rasa sungkan karena bagaimana pun juga mereka melihat bahwa Heechul juga ada dalam kereta yang sama. Sakit sekali rasanya melihat Kyuhyun merangkul pinggang Chaeri dan menciumi pipi gadis itu, dia benar-benar seperti pria yang sedang dimabuk kepayang. Menyakitkan.
Aku kemudian menoleh ke sebelahku, ingin melihat ekspresi Heechul ketika melihat pemandangan itu karena kulihat Seera dan Donghae sudah mengepal-ngepalkan tangan mereka dengan gemas. Tapi, pria itu tetap santai dan tanpa ada tanda-tanda kecemburuan di raut mukanya. Membuatku menjadi kebingungan.
Seera kemudian memanggil-manggil Heechul, “Oppa, kau tidak cemburu?” tanyanya dengan tatapan tak percaya. Heechul menjawab pertanyaan adiknya itu dengan seringai kemudian menggeleng.
Aku tidak mengerti dengan sikap orang ini, sangat tidak wajar. Pantas saja kalau Chaeri beranggapan dirinya sebagai pelarian. Heechul sama sekali tidak menganggapnya. Kasihan. Tapi, aku yang lebih pantas dikasihani. Gara-gara hubungan mereka yang berakhir, aku jadi kehilangan pria yang kucintai. Aku kembali memandangi Kyuhyun dan Chaeri, mereka masih saja bersikap saling mesra. Menyedihkan.
“Sungguh kau tidak cemburu melihat mereka pamer kemesraan seperti itu?” kali ini aku memberanikan diri menanyakan itu pada Heechul.
“Untuk apa? Dia sudah bukan kekasihku lagi, terserah dia bermesraan dengan siapapun,” sahutnya santai.
“Sungguh?”tanyaku masih tak percaya. Berharap setelah mendengar pertanyaan ku ini membuat hati Heechul bergerak untuk menarik Chaeri lagi kedalam pelukannya. Tetapi sama seperti yang dilakukannya pada Seera saat menjawab pertanyaannya. Dia hanya menyeringai padaku dan menggeleng.
Jadi, hari ini aku mengalami patah hati. Bahkan sebelum aku mengungkapkan perasaanku. Dalam hati aku berdoa, berharap mereka segera putus. Tapi, sampai empat bulan setelah hari itu belum ada tanda-tanda hubungan mereka berakhir. Chaeri berpacaran dengan Kyuhyun jauh lebih lama ketimbang ketika berpacaran dengan Heechul. Doa ku jadi tidak terkabul. Menyedihkan. Mungkin aku harus siap merelakan Kyuhyun. Kata orang-orang cinta tak harus memiliki, melihatnya tersenyum saja itu sudah membahagiakan. Tapi, rasanya aku masih tidak rela.
#$%#$%#$%
“Onnie-ya, ayo ikut kami! Liburan musim panas seperti ini lebih asyik kalau kita ke kolam renang lalu ke bioskop. Ayolah,” ajak Seera sambil menarik-narik kaki ku agar bangun dari tempat tidurku.
“Kalian pergi berdua saja. Aku mau tidur,” elakku.
“Onnie harus ikut. Kalau tidak, kita tidak akan mendapat diskon,” sahut Seera masih menarik-narik kakiku.
“Hm? Diskon?” tanyaku sambil mengucek mataku dan duduk disamping Seera sambil melihat brosur yang diletakan Seera di tubuhku.
“Pasangan kencan ganda akan mendapat diskon 50% untuk masuk ke kolam renang,” kataku sambil mengerenyitkan dahi tanda tak mengerti sementara kulihat Donghae dan Seera mengangguk-angguk seperti anak anjing, entah aku tak mengerti maksud mereka.
“Myu ra, ayolah ikut dengan kami,” ajak Donghae.
“Lalu siapa pasangan kencan ku?”
“Chullie-oppa,” sahut Seera bersemangat.
“Ogah! Aku mau melanjutkan tidurku saja.”
“Onnie, ayo ikut kami. Ayo, kami akan tetap mengganggumu sampai kau mau!” seru Seera sambil menggelitik kakiku.
Akhirnya, aku menyerah. Kubiarkan saja mereka menyeretku untuk mengikuti mereka. Saat di kolam renang, aku hanya duduk disamping kolam sambil mengawasi Seera dan Donghae yang asyik berenang. Iri sekali melihat kemesraan mereka. Aku juga ingin punya pacar, tapi cintaku selalu gagal. Aku memnag sangat menyedihkan.
“Kenapa melamun saja? Tidak bisa berenang?” tanya Heechul padaku, rupanya dia memperhatikanku dari tadi.
“Bisa kok, cuman lagi gak mood,” sahutku acuh.
Dan tiba-tiba..Byurr~, aku didorong Heechul sampai tercebur ke kolam.
“Kyaa~ Kim Heechul. Kau jahat,” jeritku. Ah~ menyebalkan aku sampai terminum air kolam gara-gara ulahnya sementara dia hanya tertawa saja.
“Gyahaha~ mianheyo,” sahutnya masih tertawa.
“Mana ada orang yang meminta maaf sambil tertawa begitu,” rungutku.
Heechul masih tidak menghentikan tawanya tapi dia kemudian menjulurkan tangannya padaku. Menyuruhku meraihnya untuk menarik ku keluar dari kolam. Ini kesempatan untuk membalasnya. Ku raih tangannya dan kutarik sehingga dia pun akhirnya mengalami hal yang sama denganku, terjatuh ke kolam. Aku tertawa karena sudah berhasil membalasnya, tetapi dia malah marah-marah. Menyebalkan, dia suka mengerjai orang tapi saat di kerjai malah marah-marah.
“Chullie-oppa, ayolah jangan marah-marah begitu. Kau sendiri yang memulai. Aku hanya mau membalasmu,” bujuk ku sambil mengikutinya keluar dari kolam.
“Ada syaratnya,” sahutnya sambil berhenti mendadak yang membuatku hampir saja menubruknya.
“Kya~ kenapa malah bersyarat,” amuk ku sambil menonjok tangannya.
“Ayo kita ke bioskop,”
Aku mengerenyitkan keningku tak mengerti.
“Syarat dari ku, ayo kita ke bioskop. Kau harus menemaniku nonton,” ujar Heechul lagi menjelaskan maksud ucapannya yang sebelumnya.
“Hah~ bilang saja kalau kau mau kencan dengan ku,” sahutku setengah mengejeknya.
“Yah, lebih baik kita pergi berdua. Aku lebih suka menonton film ketimbang menonton aksi ke dua makhluk itu,” jelas Heechul sambil menunjuk-nunjuk Seera dan Donghae yang sedang asik berciuman di pinggir kolam membuatku jadi merasa jijik.
“Baiklah, aku ikut dengan mu,” sahutku mantap.
Akhirnya, tanpa memberitahu Seera dan Donghae, kami pun pergi meninggalkan kolam renang. Baru kali ini aku pergi berdua saja dengan Heechul. Ternyata dia sangat menyenangkan pantas saja banyak gadis yang menyukainya. Sebelum pergi ke bioskop, dia mentraktirku ice cream terlebih dahulu. Orang-orang yang melihat kami mungkin akan mengira kalau kami berdua sedang berkencan karena tanpa sungkan aku menggandeng tangannya dan dia pun membiarkan saja aku menggandengnya. Aku jadi tidak menyesal menyetujui ajakannya ini.
#$%#$%#$%
“Oppa, kau menungguku lama?” tanyaku sekeluarnya dari toilet sesudah film yang kami tonton berakhir.
“Tidak. Hm, setelah ini kau mau kemana?” tanya Heechul dengan ramah padaku.
“Aku lapar, kita makan saja dulu sambil merencanakan akan pergi kemana lagi,” saranku.
“Baiklah, ayo kita per..” kata-kata Heechul terhenti saat melihat ada seorang gadis yang menatapnya. Pandanganku pun ku alihkan ke gadis itu, tampaknya dari tadi dia memang memperhatikan kami. Kulihat air mata mengalir deras dari matanya.
“Chaeri-ya, kenapa kau…” Heechul menghentikan pertanyaannya. Kulihat tangan Heechul bergetar dan ada kecemasan di wajahnya sementara gadis itu masih diam saja.
Kemudian Kyuhyun muncul, oh tidak. Aku tidak ingin melihat pemandangan seperti ini. Begitu kaku dan sangat dingin. Kyuhyun menatap tajam kepada Heechul, ada amarah di balik pandangannya itu.
“Chaeri, ayo kita pergi dari sini,” ajak Kyuhyun sambil merangkul bahu gadis itu dan menariknya untuk meninggalkan kami. Tetapi, langkah mereka terhenti saat Heechul meraih tangan gadis itu.
“Kenapa… kenapa masih menangis seperti itu? Aku melepaskanmu agar aku tak membuatmu menangis lagi. Kupikir kau sudah..” ucap Heechul.
Aku tidak ingin disini. Melihat pemandangan ini. Kulihat Kyuhyun menggigit bibirnya menahan geram karena ada seorang pria yang tampaknya sedang berusaha merebut kekasihnya.
“Untuk apa kepedulianmu itu? Kau sudah melepaskannya ‘kan?” tanya Kyuhyun ketus.
Heechul tidak menjawab, dia masih saja memandangi Chaeri yang masih menangis. Rupanya dia hanya ingin gadis itu yang menjawabnya.
Chaeri akhirnya bisa mengendalikan dirinya, dia membalas tatapan Heechul sambi berkata, “karena aku tidak pernah bisa berhenti menyukaimu. Walau kau melepaskanku, aku masih ingin disampingmu. Tapi, kau tak pernah mengerti.”
Mendengar itu, wajah Kyuhyun langsung merah padam. Kulihat dia berusaha menarik Chaeri untuk pergi tapi gadis itu tak bergeming.
“Kyuhyunnie-ya, kita hentikan saja permainan ini. Aku lelah,” isak Chaeri.
“Permainan?” tanyaku dan Heechul serempak.
“Aku dan Kyu hanya berpura-pura saja berpacaran. Aku melakukannya untuk memanasimu, untuk membuatmu cemburu. Chullie-oppa harusnya kau tau, aku tidak mungkin bisa menyukai pria lain selain kau,” jelas Chaeri yang membuat mata bulat Heechul semakin membulat.
“Sungguh?” tanya Heechul tak percaya, Chaeri mengangguki. Tanpa ragu Heechul kemudian menarik gadis itu ke dalam pelukannya, “Saranghae, Chaeri-ya. Aku tak akan melepaskanmu lagi.”
“Chukkae, akhirnya kalian balikan,” ujarku tersenyum lebar. Entah kenapa aku juga sangat bahagia. Itu karena Kyuhyun dan Chaeri hanya berpacaran untuk membuat Chaeri kembali pada Heechul.
“Gomawoyo, Myu ra. Tapi, maafkan aku. Sepertinya kita tidak jadi makan berdua,” sahut Heechul.
“Ah, tak apa. Kau bersenang-senang saja berdua dengan Chaeri. Aku akan makan dirumah saja. Tidak apa-apa, tak perlu sungkan,” balasku.
“Gomawoyo onnie,” kemudian Chaeri menatap Kyuhyun sambil berkata, “Kyuhyunnie-ya, aku tidak tau harus membalasmu dengan apa. Aku hanya bisa berterima kasih,”
Kyuhyun menggeleng mendengar perkataan Chaeri, “Tak apa, kita sudah lama bersahabat. Melihat kau bahagia itu sudah cukup.” Dia pun mengelus rambut Chaeri, kemudian melanjutkan, “aku pergi, kalian bersenang-senanglah.”
Setelah Kyuhyun berlalu, aku pun tersadar. Pria itu sedang patah hati. Dari caranya memperlakukan Chaeri tadi, aku tau kalau itu bukan sikap sayang dari seorang sahabat. Tapi dari seorang Namja kepada yeoja yang dicintainya.
“Aku juga akan pergi,” seruku pada Heechul dan Chaeri.
Setelah berpamitan, aku pun berlari mencoba menyusul Kyuhyun. Aku takut dia berbuat bodoh. Tapi, aku tidak berhasil menemukannya di dalam gedung bioskop. Sementara di luar sana sedang hujan deras. Dari salah satu jendela di dalam gedung,aku melihat Kyuhyun sedang duduk di sebuah bangku di halaman gedung. Dasar babo, kenapa dia malah membiarkan dirinya kebasahan seperti itu. Aku akhirnya nekat menerobos hujan untuk mendatanginya.
“Kyuhyun baboya. Kau pikir dengan mebiarkan dirimu kehujanan akan bisa menutupi air mata mu itu. Dasar babo, kalau kau menyukai gadis itu harusnya kau mengungkapkannya. Bertingkah seperti pahlawan tetapi pasti terasa sakit ‘kan?” seruku memarahinya sementara dia menatapku seolah tidak percaya dengan apa yang ku ucapkan.
“Tak ada gunanya. Sudah jelas tak ada harapan untukku,”sahutnya sambil berusaha mengalihkan pandangannya menghindari tatapan tajam ku.
“Pengecut!”
“Aku memang pengecut,” jeritnya sambil berdiri dan menatapku. “Aku takut saat dia mengetahui perasaanku dia akan membenciku, menghindariku. Aku seorang pecundang yang membiarkan diriku dimanfaatkan dalam permainannya. Aku hanya bisa menahan perasaan ku saat melihatnya bersama dengan kekasihnya, menjadi pendengar yang baik saat dia menceritakan kebahagiaan dan kesedihannya saat bersama dengan kekasihnya. Dan hanya membiarkan diriku menjadi kekasih pura-puranya karena pada saat itu saja aku bisa memeluknya, menciumnya dan melindunginya. Kau benar, aku seorang pengecut.”
Aku terdiam mendengar ucapannya itu. Sakit sekali rasanya mengetahui orang yang sangat kusukai ternyata mempunyai perasaan yang begitu mendalam pada gadis lain.
“Noona, mianheyo. Pergilah, tinggalkan aku sendiri, jebal,” ucapnya lagi.
Tapi, aku tidak ingin menurutinya. Karena aku tidak mau seperti dirinya, menjadi seorang pengecut. Aku ingin dia membuka matanya, aku ingin dia melihatku. Melihatku sebagai seorang yeoja yang mencintai nya bukan sebagai seorang sunbaenim belaka.
“Jangan panggil aku dengan sebutan ‘noona’,” seruku.
“Noona, apa maksudmu?”
“Kubilang jangan panggil aku dengan sebutan ‘noona’ lagi, karena aku menyukaimu dan sangat sakit rasanya mendengar orang yang ku suka memanggilku dengan sebutan itu.”
Dia memandangku dengan tatapan tak percaya. Masih tidak mengerti dengan ucapanku. Aku pun semakin membulatkan tekad ku untuk menyatakan perasaanku padanya. Membuatnya mengerti dengan perasaanku.
“Cho Kyuhyun, sarangheyo…” dia terduduk saat mendengar pernyataanku. Aku pun melanjutkan lagi pengakuanku, “Aku menyukaimu pada pandangan pertama. Saat kau memberikan sambutan sebagai perwakilan murid baru pada tahun ajaran baru tahun lalu. Sejak saat itu aku selalu mengamatimu. Semakin hari, aku semakin menyukaimu. Tapi, aku sangat takut mengungkapkannya. Entah kenapa saat ini keberanian untuk mengungkapkannya muncul. Aku mengatakan hal ini hanya untuk kau tau perasaanku, bukan untuk membebanimu. Walaupun kau tak menerimaku, kita bisa berteman ‘kan? kau tidak akan menjauhiku?”
Dia kemudian bergumam, tapi aku tak dapat mendengarnya karena hujan yang semakin deras.
“Tadi.. kau bicara apa?” tanyaku pada Kyuhyun karena kulihat dia sedang tersenyum padaku.
“Kau mau aku menjawab perasaan mu sekarang atau mau menunggu?”tanyanya padaku atnpa menghiraukan pertanyaanku.
“Kalau kau menjawab sekarang dan jawabannya kau menolakku, lebih baik kau menjawab nanti bila jawaban itu nanti adalah kau menerimaku,” sahutku yang membuatnya tertawa.
“Bagaimana kalau yang terjadi justru sebaliknya?”
“Itu tidak mungkin,” sahutku mantap. “Aku yakin kau bukan pria yang dengan mudah berpindah hati. Baru saja patah hati tidak mungkin membuatmu langsung menerimaku. Aku akan menunggu.”
Lagi-lagi dia tertawa mendengar ucapanku. Di tengah guyuran hujan di musim panas, aku menyatakan perasaanku. Perasaan yang mengganjal selama ini karena hanya di pendam saja lambat laun menghilang setelah aku mengungkapkannya dan berubah menjadi rasa lega. Sekarang tugasku adalah menunggu jawaban darinya dan aku akan dengan setia menunggu serta menyiapkan hatiku agar bisa menerima apapun keputusannya.
Kemudian di akhir musim gugur, Kyuhyun menepati janjinya. Dia membalas perasaanku, menjadikan diriku bagaikan yeoja yang paling berbahagia. Sejak saat itu dia tidak lagi memanggilku dengan sebutan ‘Myu ra-noona’ tetapi menjadi ‘yeobo’. Aku pun sudah mulai merasakan apa yang disebut ‘pahit-manisnya’ cinta dan yang pasti aku akan selalu berusaha agar dia semakin mencintaiku.
~The End~
“Cho Kyuhyun!! Saranghae…” ucapku mantap dan tanpa ragu. Kalau aku tidak menyatakan perasaanku sekarang, kapan lagi aku bisa. Jadi aku harus semangat dan percaya kalau aku pasti bisa mengucapkannya.
Pria itu tersenyum padaku. Oh~ manis sekali. Aku hampir ambruk karena senyumannya itu.
“Mianheyo. Aku tidak suka gadis yang lebih tua. Noona,” sahutnya.
Jlebb… Kyaaa~~ aku DITOLAK!!!

Mendengar jawabannya membuatku duduk tersungkur karena lututku sudah terlanjur lemas dan kecewa. Aku menangis sejadi-jadinya sementara dia pergi saja tanpa memperdulikanku. Tangisanku sangat deras sampai-sampai bajuku basah dan kenapa tiba-tiba disekelilingku jadi banjir begini?
Byurr~. Ada air yang menyiram wajahku. KYaa~~ orang bodoh mana sih yang menyiram gadis yang sedang patah hati begini? Aku lagi patah hati bukannya kerasukan!
“Dasar babo! Sudah disiram air masih tidak bangun juga. Ya sudahlah. Aku berangkat ke sekolah duluan,” ujar suara orang yang menyiramku itu.
Ku kejap-kejapkan mataku dan melihat ruangan tempat ku berbaring sekarang. Ternyata tadi aku hanya bermimpi.
“Ya~ Lee Donghae! Tidak bisa kah kau membangunkanku dengan cara yang lebih sopan!” bentak ku pada orang yang menyiramku tadi.
“Lebih baik kau lihat jam sebelum marah-marah. Cepat siap-siap!
Aku menuruti anjurannya dan setelah melihat jam, aku pun meloncat dari tempat tidurku menuju lemari pakaian untuk berganti.
“Hei~ biarpun tidak mandi, paling tidak kau cuci muka dan berkumur dulu ‘kan? dan OH Tidak! Kenapa kau mengganti pakaianmu dihadapanku?!” tegurnya sambil berlari keluar dari kamarku.
#$%#$%#$%
“Huftt~ hampir saja kita tertinggal kereta,” ujarku lega.
“Kalau kita sampai tertinggal, berarti ini hari terakhir aku berangkat ke sekolah denganmu!”seru Donghae kasar padaku kemudian teredengar suara menyapa kami.
“Hae-oppa, Myu ra onnie! Annyeong,” sapa gadis bernama Kim Seera itu.
“Rara, annyeong,” sahut Donghae dengan senyum sumringah.
Cih~ anak itu memang berubah drastis jika di hadapan Seera, kekasihnya. Kalau dihadapanku dia menjadi pria yang banyak protes dan cerewet. Tetapi jika dihadapan Seera berubah menjadi romantis. Menyebalkan.
Lee Donghae adalah saudara sepupuku yang lahir pada hari dan tahun yang sama denganku. Eommaku dan eommanya bersaudara. Orang-orang sering mengira kami saudara kembar padahal kami tak mirip sedikitpun. Dia tinggal dirumahku sejak kami di sekolah menengah pertama. Dan setiap hari memang dia yang selalu membangunkan ku. Dia dan Seera sudah berpacaran semenjak mereka duduk dibangku menengah pertama. Sudah sekitar empat tahun mereka berpacaran. Seera sendiri adalah hoobae ku dan Donghae. Dia lebih muda setahun dari kami dan yang lebih penting lagi, dia merupakan teman sekelas Cho Kyuhyun, pria yang selama satu tahun ini mengisi hatiku.
Kulihat Donghae sudah duduk manis disamping Seera tanpa mengajakku sama sekali. Syukurnya masih ada bangku kosong dihadapan mereka. Aku lalu duduk disana disamping seorang pria yang sedang asyik mendengarkan musik lewat ipod nya.
“Lagi-lagi kau disisihkan,” ujar pria itu sambil tersenyum padaku.
“Chulie-oppa, kau selalu mengatakan itu setiap hari padaku. Menyebalkan! Cobalah mengatakan hal lain padaku,” sahutku ketus.
Kim Heechul adalah kakak lelaki Kim Seera. Dia adalah sunbae ku yang sudah berada ditingkat akhir. Sangat pintar dan tampan. Banyak sekali gadis yang tergila-gila padanya. Menurutku dia seorang playboy, karena dalam empat bulan ini dia sudah berpacaran dengan dua orang gadis. Pertama Heebon tetapi hanya bertahan satu bulan. Kemudian tak lama setelah putus dari Heebon, dia berpacaran dengan Park Chaeri yang juga teman sekelas Seera dan Kyuhyun. Dia berbeda sekali dengan adiknya yang hanya setia dengan sepupuku.
Kemudian kereta berhenti untuk menyambut penumpang baru. Inilah yang kunantikan. Kyuhyun akan muncul dari stasiun ini. Setiap hari kami memang selalu satu kereta hanya saja beda stasiun. Dan dikeretalah menjadi tempat ku dengan puasnya memandangi secara diam-diam wajah Kyuhyun. Selain di kantin dan aula sekolah tentunya. Di mataku, ketika dia muncul aura yang ditimbulkannya berbeda dari anak lelaki lain padahal mereka sama-sama menggunakan seragam sekolah. Tetapi Kyuhyun lebih menawan. Mungkin inilah yang namanya disebut jatuh cinta. Hanya si ‘dia’ yang terlihat indah dimata.
Aku yang sedang asyik mengamati Kyuhyun dikagetkan oleh sebuah suara, “Onnie, bisakah kau pindah tempat duduk? Aku ingin duduk disamping Chullie-oppa,” seru suara manja itu tapi ada nada perintah didalamnya, dan suara itu milik Chaeri.
Awalnya aku tidak mau menurutinya karena kulihat kereta sudah penuh. Jika aku menurutinya pasti aku tidak akan mendapat tempat duduk lagi. Tetapi kulihat lirikan tajam dari Heechul yang seakan mengusirku sehingga aku pun akhirnya menurut. Terlihat senyum gembira dari keduanya saat aku bangkit dari duduk ku. Dasar pasangan kekasih yang egois.
Karena belum menemukan bangku yang kosong, aku terpaksa berdiri. Kulihat couple DongRa dan ChulRi cuek saja ketika melihatku tak kebagian tempat duduk. Mereka asyik-asyik saja bermesraan. Dasar pasangan-pasangan tak tau diri. Mereka anggap kereta ini milik mereka saja apa? Kita ‘kan sama-sama penumpang.
Kereta kembali berhenti, masih 2 stasiun lagi untuk ke sekolah dan aku tidak rela jika masih harus berdiri. Ku edarkan pandanganku mencari bangku yang kosong karena ditinggalkan penumpang yang turun. Pucuk dicinta ulam pun tiba, ada bangku kosong. Yang lebih membahagiakan lagi, bangku itu disamping Kyuhyun. Dengan cepat aku melesat menduduki kursi itu. Kyuhyun terbengong-bengong melihat tingkah abnormal ku itu. Tapi masa bodoh! Kapan lagi aku bisa duduk berdua dengannya. Tuhan terima kasih karena telah memberi ku hari yang sangat indah.
#$%#$%#$%
“Onnie-ya, sudah sebulan sejak kau duduk berdua dengan Kyuhyun dikereta. Tapi masih saja kau tidak bosan menceritakan hal itu,” seru Seera padaku.
Hari itu Seera datang ke rumah ku untuk belajar bersama. Lebih tepatnya meminta bantuan Donghae untuk mengerjakan PR-nya. Begitulah jika kau punya kekasih yang merupakan seniormu, apalagi jika punya otak yang sangat pandai seperti sepupuku. Seera tidak pernah ikut bimbingan belajar karena dia sudah memiliki pengajar yang setia membantunya. Seera benar-benar mengandalkan Donghae dalam pelajaran, tidak heran saat dulu mereka bertengkar nilai Seera anjlok karena tidak ada yang membantunya. Jadi nilai plus dari Donghae sebagai kekasih selain sikap romantisnya juga karena kerelaannya menjadi tutor gratis bagi Seera.
“Rara, bagaimana aku bisa bosan menceritakannya. karena pengalaman itu pengalaman terindah dalam hidupku. Aku duduk disampingnya, mencium aroma tubuhnya dan mendengar suaranya jelas dikupingku. Betapa indahnya…” sahutku sambil menerawang mengingat kejadian itu.
“Ya, mungkin kata-katanya saat itu juga sangat indah bagimu ‘kan?” timpal Donghae. Kemudian dia melirik Seera sambil tersenyum dan dengan serentak mereka berkata, “Noona, Sweater yang kau kenakan sangat manis. Cocok sekali denganmu.”
“Oh..So sweet banget deh ucapannya, aku tidak menyangka dia memperhatikan diriku sampai seperti itu, benar-benar pria yang manis,”sahutku lagi dengan wajah memerah.
“Ya, saking manisnya dia juga tidak lupa menyapamu dengan sebutan ‘noona’ haha~” balas Donghae dengan tawa yang membludak.
Aku memanyunkan mulutku mendengar ucapannya itu. kata-kata Kyuhyun padaku saat itu memang manis, tetapi andai saja dia tidak memanggilku dengan sebutan ‘noona’. Tapi, itulah dia. Selalu sopan padaku. Andai saja kami sebaya, aku sangat ingin dia memanggiku dengan namaku saja.
“Kapan kau akan menyatakan perasaan mu padanya?” tanya Seera secara tiba-tiba padaku.
“Entahlah, aku takut,” jawabku.
“Onnie-ya, kalau kau tidak nyatakan bagaimana dia akan tau? Lagipula banyak gadis yang suka padanya,”
“Ra, kalau begitu bantulah aku,” pinta ku padanya dengan tatapan memelas.
“Aku tidak dekat dengannya. Tapi, mungkin Chaeri bisa, mereka sudah berteman sejak sekolah dasar.”
“Benarkah? Tapi, aku tidak suka dengan gadis itu. Dia selalu memandang tajam ke arahku sejak dia melihat aku duduk disamping Heechul saat dikereta dulu.”
“Dia memang pencemburu. Lagipula cukup sulit mendekatinya sekarang. Dia dan kakak ku lagi perang dingin.”
“Mwo? Perang dingin lagi?” seru Donghae yang dibalas anggukan oleh Seera.
“Padahal dulu saat Chaeri menyatakan cinta pada Chullie-oppa, seluruh sekolah dibuat heboh. Tapi, tampaknya sekarang mereka akan benar-benar putus,” lanjut Seera. Ada nada sedih di suaranya.
“Aku harap mereka bertengkar bukan karena aku,” sahutku.
“Tentu saja bukan. Gadis itu memang babo. Dia masih saja tidak percaya dengan perasaan oppa ku padanya. Dia sangat takut jika oppa ku dekat dengan gadis lain. Itulah yang selalu membuat mereka bertengkar, tapi bukan dengan Onnie dia cemburu. Tapi dengan Heebon.” Jelas Seera yang membuatku cukup lega.
“Menurutku Heechul-hyung juga salah,” sahut Donghae yang membuat Seera menatap tajam padanya. Seera memang tidak suka jika saudaranya di salahkan. Dia begitu menyayangi kakaknya itu.
“Apa salah Chullie-oppa?” tanya Seera dengan pandangan menantang sementara Donghae masih tidak sadar bahwa kata-katanya itu sudah menyulut emosi kekasihnya.
“Dia terlalu mudah berpindah hati. Baru saja putus dengan Heebon, tapi ketika Chaeri menyatakan cinta langsung diterima. Itu namanya tidak punya sikap. Wajar saja Chaeri beranggapan kalau dia itu hanya dianggap sebagai pelarian cinta.”
Mendengar ucapan Donghae membuat Seera naik pitam. Dengan cepat dia membereskan barang-barangnya dan pulang tanpa pamit pada kami.
“Dia marah?” tanya Donghae padaku dengan tatapan tak percaya.
Aku menghela panjang nafasku. Aku heran, mereka sudah empat tahun berpacaran tapi masih juga tidak saling mengerti. Sudah berulangkali Donghae melakukan hal yang sama yang membuat Seera merajuk, yaitu menjelekkan kelakuan Heechul. Tapi, selalu saja diulangi.
“Cepat kejar dia kalau tidak mau mengalami perang dingin seperti kasus couple ‘ChulRi’,” saranku bijak padanya. Dan seperti biasa Donghae melesat cepat mengejar Seera.
Ah~ satu lagi kelebihan sepupuku itu sebagai kekasih. Dia terlalu mencintai kekasihnya sehingga menyebabkan dirinya sudah terjerat sangat kuat dalam lilitan benang cinta Kim Seera. Tipe pria takut istri.
#$%#$%#$%
Kabar putusnya hubungan kasih antara Heechul dan Chaeri menjadi buah bibir di seluruh sekolah. Dengar-dengar banyak anak yang bertaruh tentang ke awetan hubungan pasangan itu. Aku merasa iba dengan Heechul karena kejadian itu. Wajahnya lebih masam ketimbang saat putus dengan Heebon dulu. Tetapi yang menimpa sang gadis tampaknya lebih parah. Selama seminggu Chaeri tidak masuk sekolah. Saat sudah bisa ke sekolah pun wajah Chaeri tak kalah masamnya. Hubungan mereka sangat buruk setelah putus. Aku jadi tidak bisa meminta tolong padanya untuk membantuku mendekati Kyuhyun. Rupanya hubungan mereka yang berakhir juga memberikan dampak buruk bagi hidupku.
Tiga minggu berlalu setelah itu. Seperti biasa aku pergi ke sekolah menggunakan kereta yang sama dengan Heechul, Seera dan Donghae. Dan pagi itu aku dikejutkan dengan pemandangan yang sama sekali tidak ingin kulihat dalam hidupku. Saat tiba di stasiun tempat biasa Kyuhyun menunggu kereta, kulihat Kyuhyun dan Chaeri sedang bergandengan tangan mesra, ketika mereka masuk kedalam kereta pun mereka tetap pamer kemesraan tanpa ada rasa sungkan karena bagaimana pun juga mereka melihat bahwa Heechul juga ada dalam kereta yang sama. Sakit sekali rasanya melihat Kyuhyun merangkul pinggang Chaeri dan menciumi pipi gadis itu, dia benar-benar seperti pria yang sedang dimabuk kepayang. Menyakitkan.
Aku kemudian menoleh ke sebelahku, ingin melihat ekspresi Heechul ketika melihat pemandangan itu karena kulihat Seera dan Donghae sudah mengepal-ngepalkan tangan mereka dengan gemas. Tapi, pria itu tetap santai dan tanpa ada tanda-tanda kecemburuan di raut mukanya. Membuatku menjadi kebingungan.
Seera kemudian memanggil-manggil Heechul, “Oppa, kau tidak cemburu?” tanyanya dengan tatapan tak percaya. Heechul menjawab pertanyaan adiknya itu dengan seringai kemudian menggeleng.
Aku tidak mengerti dengan sikap orang ini, sangat tidak wajar. Pantas saja kalau Chaeri beranggapan dirinya sebagai pelarian. Heechul sama sekali tidak menganggapnya. Kasihan. Tapi, aku yang lebih pantas dikasihani. Gara-gara hubungan mereka yang berakhir, aku jadi kehilangan pria yang kucintai. Aku kembali memandangi Kyuhyun dan Chaeri, mereka masih saja bersikap saling mesra. Menyedihkan.
“Sungguh kau tidak cemburu melihat mereka pamer kemesraan seperti itu?” kali ini aku memberanikan diri menanyakan itu pada Heechul.
“Untuk apa? Dia sudah bukan kekasihku lagi, terserah dia bermesraan dengan siapapun,” sahutnya santai.
“Sungguh?”tanyaku masih tak percaya. Berharap setelah mendengar pertanyaan ku ini membuat hati Heechul bergerak untuk menarik Chaeri lagi kedalam pelukannya. Tetapi sama seperti yang dilakukannya pada Seera saat menjawab pertanyaannya. Dia hanya menyeringai padaku dan menggeleng.
Jadi, hari ini aku mengalami patah hati. Bahkan sebelum aku mengungkapkan perasaanku. Dalam hati aku berdoa, berharap mereka segera putus. Tapi, sampai empat bulan setelah hari itu belum ada tanda-tanda hubungan mereka berakhir. Chaeri berpacaran dengan Kyuhyun jauh lebih lama ketimbang ketika berpacaran dengan Heechul. Doa ku jadi tidak terkabul. Menyedihkan. Mungkin aku harus siap merelakan Kyuhyun. Kata orang-orang cinta tak harus memiliki, melihatnya tersenyum saja itu sudah membahagiakan. Tapi, rasanya aku masih tidak rela.
#$%#$%#$%
“Onnie-ya, ayo ikut kami! Liburan musim panas seperti ini lebih asyik kalau kita ke kolam renang lalu ke bioskop. Ayolah,” ajak Seera sambil menarik-narik kaki ku agar bangun dari tempat tidurku.
“Kalian pergi berdua saja. Aku mau tidur,” elakku.
“Onnie harus ikut. Kalau tidak, kita tidak akan mendapat diskon,” sahut Seera masih menarik-narik kakiku.
“Hm? Diskon?” tanyaku sambil mengucek mataku dan duduk disamping Seera sambil melihat brosur yang diletakan Seera di tubuhku.
“Pasangan kencan ganda akan mendapat diskon 50% untuk masuk ke kolam renang,” kataku sambil mengerenyitkan dahi tanda tak mengerti sementara kulihat Donghae dan Seera mengangguk-angguk seperti anak anjing, entah aku tak mengerti maksud mereka.
“Myu ra, ayolah ikut dengan kami,” ajak Donghae.
“Lalu siapa pasangan kencan ku?”
“Chullie-oppa,” sahut Seera bersemangat.
“Ogah! Aku mau melanjutkan tidurku saja.”
“Onnie, ayo ikut kami. Ayo, kami akan tetap mengganggumu sampai kau mau!” seru Seera sambil menggelitik kakiku.
Akhirnya, aku menyerah. Kubiarkan saja mereka menyeretku untuk mengikuti mereka. Saat di kolam renang, aku hanya duduk disamping kolam sambil mengawasi Seera dan Donghae yang asyik berenang. Iri sekali melihat kemesraan mereka. Aku juga ingin punya pacar, tapi cintaku selalu gagal. Aku memnag sangat menyedihkan.
“Kenapa melamun saja? Tidak bisa berenang?” tanya Heechul padaku, rupanya dia memperhatikanku dari tadi.
“Bisa kok, cuman lagi gak mood,” sahutku acuh.
Dan tiba-tiba..Byurr~, aku didorong Heechul sampai tercebur ke kolam.
“Kyaa~ Kim Heechul. Kau jahat,” jeritku. Ah~ menyebalkan aku sampai terminum air kolam gara-gara ulahnya sementara dia hanya tertawa saja.
“Gyahaha~ mianheyo,” sahutnya masih tertawa.
“Mana ada orang yang meminta maaf sambil tertawa begitu,” rungutku.
Heechul masih tidak menghentikan tawanya tapi dia kemudian menjulurkan tangannya padaku. Menyuruhku meraihnya untuk menarik ku keluar dari kolam. Ini kesempatan untuk membalasnya. Ku raih tangannya dan kutarik sehingga dia pun akhirnya mengalami hal yang sama denganku, terjatuh ke kolam. Aku tertawa karena sudah berhasil membalasnya, tetapi dia malah marah-marah. Menyebalkan, dia suka mengerjai orang tapi saat di kerjai malah marah-marah.
“Chullie-oppa, ayolah jangan marah-marah begitu. Kau sendiri yang memulai. Aku hanya mau membalasmu,” bujuk ku sambil mengikutinya keluar dari kolam.
“Ada syaratnya,” sahutnya sambil berhenti mendadak yang membuatku hampir saja menubruknya.
“Kya~ kenapa malah bersyarat,” amuk ku sambil menonjok tangannya.
“Ayo kita ke bioskop,”
Aku mengerenyitkan keningku tak mengerti.
“Syarat dari ku, ayo kita ke bioskop. Kau harus menemaniku nonton,” ujar Heechul lagi menjelaskan maksud ucapannya yang sebelumnya.
“Hah~ bilang saja kalau kau mau kencan dengan ku,” sahutku setengah mengejeknya.
“Yah, lebih baik kita pergi berdua. Aku lebih suka menonton film ketimbang menonton aksi ke dua makhluk itu,” jelas Heechul sambil menunjuk-nunjuk Seera dan Donghae yang sedang asik berciuman di pinggir kolam membuatku jadi merasa jijik.
“Baiklah, aku ikut dengan mu,” sahutku mantap.
Akhirnya, tanpa memberitahu Seera dan Donghae, kami pun pergi meninggalkan kolam renang. Baru kali ini aku pergi berdua saja dengan Heechul. Ternyata dia sangat menyenangkan pantas saja banyak gadis yang menyukainya. Sebelum pergi ke bioskop, dia mentraktirku ice cream terlebih dahulu. Orang-orang yang melihat kami mungkin akan mengira kalau kami berdua sedang berkencan karena tanpa sungkan aku menggandeng tangannya dan dia pun membiarkan saja aku menggandengnya. Aku jadi tidak menyesal menyetujui ajakannya ini.
#$%#$%#$%
“Oppa, kau menungguku lama?” tanyaku sekeluarnya dari toilet sesudah film yang kami tonton berakhir.
“Tidak. Hm, setelah ini kau mau kemana?” tanya Heechul dengan ramah padaku.
“Aku lapar, kita makan saja dulu sambil merencanakan akan pergi kemana lagi,” saranku.
“Baiklah, ayo kita per..” kata-kata Heechul terhenti saat melihat ada seorang gadis yang menatapnya. Pandanganku pun ku alihkan ke gadis itu, tampaknya dari tadi dia memang memperhatikan kami. Kulihat air mata mengalir deras dari matanya.
“Chaeri-ya, kenapa kau…” Heechul menghentikan pertanyaannya. Kulihat tangan Heechul bergetar dan ada kecemasan di wajahnya sementara gadis itu masih diam saja.
Kemudian Kyuhyun muncul, oh tidak. Aku tidak ingin melihat pemandangan seperti ini. Begitu kaku dan sangat dingin. Kyuhyun menatap tajam kepada Heechul, ada amarah di balik pandangannya itu.
“Chaeri, ayo kita pergi dari sini,” ajak Kyuhyun sambil merangkul bahu gadis itu dan menariknya untuk meninggalkan kami. Tetapi, langkah mereka terhenti saat Heechul meraih tangan gadis itu.
“Kenapa… kenapa masih menangis seperti itu? Aku melepaskanmu agar aku tak membuatmu menangis lagi. Kupikir kau sudah..” ucap Heechul.
Aku tidak ingin disini. Melihat pemandangan ini. Kulihat Kyuhyun menggigit bibirnya menahan geram karena ada seorang pria yang tampaknya sedang berusaha merebut kekasihnya.
“Untuk apa kepedulianmu itu? Kau sudah melepaskannya ‘kan?” tanya Kyuhyun ketus.
Heechul tidak menjawab, dia masih saja memandangi Chaeri yang masih menangis. Rupanya dia hanya ingin gadis itu yang menjawabnya.
Chaeri akhirnya bisa mengendalikan dirinya, dia membalas tatapan Heechul sambi berkata, “karena aku tidak pernah bisa berhenti menyukaimu. Walau kau melepaskanku, aku masih ingin disampingmu. Tapi, kau tak pernah mengerti.”
Mendengar itu, wajah Kyuhyun langsung merah padam. Kulihat dia berusaha menarik Chaeri untuk pergi tapi gadis itu tak bergeming.
“Kyuhyunnie-ya, kita hentikan saja permainan ini. Aku lelah,” isak Chaeri.
“Permainan?” tanyaku dan Heechul serempak.
“Aku dan Kyu hanya berpura-pura saja berpacaran. Aku melakukannya untuk memanasimu, untuk membuatmu cemburu. Chullie-oppa harusnya kau tau, aku tidak mungkin bisa menyukai pria lain selain kau,” jelas Chaeri yang membuat mata bulat Heechul semakin membulat.
“Sungguh?” tanya Heechul tak percaya, Chaeri mengangguki. Tanpa ragu Heechul kemudian menarik gadis itu ke dalam pelukannya, “Saranghae, Chaeri-ya. Aku tak akan melepaskanmu lagi.”
“Chukkae, akhirnya kalian balikan,” ujarku tersenyum lebar. Entah kenapa aku juga sangat bahagia. Itu karena Kyuhyun dan Chaeri hanya berpacaran untuk membuat Chaeri kembali pada Heechul.
“Gomawoyo, Myu ra. Tapi, maafkan aku. Sepertinya kita tidak jadi makan berdua,” sahut Heechul.
“Ah, tak apa. Kau bersenang-senang saja berdua dengan Chaeri. Aku akan makan dirumah saja. Tidak apa-apa, tak perlu sungkan,” balasku.
“Gomawoyo onnie,” kemudian Chaeri menatap Kyuhyun sambil berkata, “Kyuhyunnie-ya, aku tidak tau harus membalasmu dengan apa. Aku hanya bisa berterima kasih,”
Kyuhyun menggeleng mendengar perkataan Chaeri, “Tak apa, kita sudah lama bersahabat. Melihat kau bahagia itu sudah cukup.” Dia pun mengelus rambut Chaeri, kemudian melanjutkan, “aku pergi, kalian bersenang-senanglah.”
Setelah Kyuhyun berlalu, aku pun tersadar. Pria itu sedang patah hati. Dari caranya memperlakukan Chaeri tadi, aku tau kalau itu bukan sikap sayang dari seorang sahabat. Tapi dari seorang Namja kepada yeoja yang dicintainya.
“Aku juga akan pergi,” seruku pada Heechul dan Chaeri.
Setelah berpamitan, aku pun berlari mencoba menyusul Kyuhyun. Aku takut dia berbuat bodoh. Tapi, aku tidak berhasil menemukannya di dalam gedung bioskop. Sementara di luar sana sedang hujan deras. Dari salah satu jendela di dalam gedung,aku melihat Kyuhyun sedang duduk di sebuah bangku di halaman gedung. Dasar babo, kenapa dia malah membiarkan dirinya kebasahan seperti itu. Aku akhirnya nekat menerobos hujan untuk mendatanginya.
“Kyuhyun baboya. Kau pikir dengan mebiarkan dirimu kehujanan akan bisa menutupi air mata mu itu. Dasar babo, kalau kau menyukai gadis itu harusnya kau mengungkapkannya. Bertingkah seperti pahlawan tetapi pasti terasa sakit ‘kan?” seruku memarahinya sementara dia menatapku seolah tidak percaya dengan apa yang ku ucapkan.
“Tak ada gunanya. Sudah jelas tak ada harapan untukku,”sahutnya sambil berusaha mengalihkan pandangannya menghindari tatapan tajam ku.
“Pengecut!”
“Aku memang pengecut,” jeritnya sambil berdiri dan menatapku. “Aku takut saat dia mengetahui perasaanku dia akan membenciku, menghindariku. Aku seorang pecundang yang membiarkan diriku dimanfaatkan dalam permainannya. Aku hanya bisa menahan perasaan ku saat melihatnya bersama dengan kekasihnya, menjadi pendengar yang baik saat dia menceritakan kebahagiaan dan kesedihannya saat bersama dengan kekasihnya. Dan hanya membiarkan diriku menjadi kekasih pura-puranya karena pada saat itu saja aku bisa memeluknya, menciumnya dan melindunginya. Kau benar, aku seorang pengecut.”
Aku terdiam mendengar ucapannya itu. Sakit sekali rasanya mengetahui orang yang sangat kusukai ternyata mempunyai perasaan yang begitu mendalam pada gadis lain.
“Noona, mianheyo. Pergilah, tinggalkan aku sendiri, jebal,” ucapnya lagi.
Tapi, aku tidak ingin menurutinya. Karena aku tidak mau seperti dirinya, menjadi seorang pengecut. Aku ingin dia membuka matanya, aku ingin dia melihatku. Melihatku sebagai seorang yeoja yang mencintai nya bukan sebagai seorang sunbaenim belaka.
“Jangan panggil aku dengan sebutan ‘noona’,” seruku.
“Noona, apa maksudmu?”
“Kubilang jangan panggil aku dengan sebutan ‘noona’ lagi, karena aku menyukaimu dan sangat sakit rasanya mendengar orang yang ku suka memanggilku dengan sebutan itu.”
Dia memandangku dengan tatapan tak percaya. Masih tidak mengerti dengan ucapanku. Aku pun semakin membulatkan tekad ku untuk menyatakan perasaanku padanya. Membuatnya mengerti dengan perasaanku.
“Cho Kyuhyun, sarangheyo…” dia terduduk saat mendengar pernyataanku. Aku pun melanjutkan lagi pengakuanku, “Aku menyukaimu pada pandangan pertama. Saat kau memberikan sambutan sebagai perwakilan murid baru pada tahun ajaran baru tahun lalu. Sejak saat itu aku selalu mengamatimu. Semakin hari, aku semakin menyukaimu. Tapi, aku sangat takut mengungkapkannya. Entah kenapa saat ini keberanian untuk mengungkapkannya muncul. Aku mengatakan hal ini hanya untuk kau tau perasaanku, bukan untuk membebanimu. Walaupun kau tak menerimaku, kita bisa berteman ‘kan? kau tidak akan menjauhiku?”
Dia kemudian bergumam, tapi aku tak dapat mendengarnya karena hujan yang semakin deras.
“Tadi.. kau bicara apa?” tanyaku pada Kyuhyun karena kulihat dia sedang tersenyum padaku.
“Kau mau aku menjawab perasaan mu sekarang atau mau menunggu?”tanyanya padaku atnpa menghiraukan pertanyaanku.
“Kalau kau menjawab sekarang dan jawabannya kau menolakku, lebih baik kau menjawab nanti bila jawaban itu nanti adalah kau menerimaku,” sahutku yang membuatnya tertawa.
“Bagaimana kalau yang terjadi justru sebaliknya?”
“Itu tidak mungkin,” sahutku mantap. “Aku yakin kau bukan pria yang dengan mudah berpindah hati. Baru saja patah hati tidak mungkin membuatmu langsung menerimaku. Aku akan menunggu.”
Lagi-lagi dia tertawa mendengar ucapanku. Di tengah guyuran hujan di musim panas, aku menyatakan perasaanku. Perasaan yang mengganjal selama ini karena hanya di pendam saja lambat laun menghilang setelah aku mengungkapkannya dan berubah menjadi rasa lega. Sekarang tugasku adalah menunggu jawaban darinya dan aku akan dengan setia menunggu serta menyiapkan hatiku agar bisa menerima apapun keputusannya.
Kemudian di akhir musim gugur, Kyuhyun menepati janjinya. Dia membalas perasaanku, menjadikan diriku bagaikan yeoja yang paling berbahagia. Sejak saat itu dia tidak lagi memanggilku dengan sebutan ‘Myu ra-noona’ tetapi menjadi ‘yeobo’. Aku pun sudah mulai merasakan apa yang disebut ‘pahit-manisnya’ cinta dan yang pasti aku akan selalu berusaha agar dia semakin mencintaiku.
~The End~
 
Dikutip dari: http://ade-tea.blogspot.com/2011/05/kursor-diikuti-jam-dan-tanggal-v2.html#ixzz1OkC3Xc7e