persiapan hack
tema dan skenario
tema = wireless hack ---> mac hack
skenario
wireless dengan mac filtering security hanya mac address yg terdaftar yang bisa connect to ap.
persiapan :
1. siapkan lapie or pc dengan wireless card untuk hardware.
2. install kismet dan macchanger
-------------------------------------------------------------------------------------------
to skenario :
baik, di awal sudah di katakan bahwa, target yang hendak di hacking adalah sebuah akses point dengan pertahanan mac address filtering. Dari sini logika kita harus di bangun seperti sistem mac address. Baik analoginya seperti berikut.
-------------------------------------------------------------------------------------------
Logika dan Analogi
Misal ada sebuah pertunjukan sirkus, dan hanya orang-orang yang di kenali lah dengan tanda pengenal yang di perbolehkan masuk ke dalam sirkus. Berarti kita harus di kenali atau memiliki tanda pengenal yang dapat di kenali oleh guard sirkus.
Sehingga yang harus kita lakukan adalah :
1. Datang ke adminnya dan memelas meminta mac qta di masukan :-), (Tidak
disarankan)
2. Or kita Hack dia (ini yg sangat di sarankan)
Untuk yang no 1 tidak perlu di bahas, kita bahas no 2. Baik logikanya begini, seperti layaknya film2 di luar, untuk membobol mac address ini, kita ada 2 cara --> 1. mempunyai tanda pengenal asli(berarti mengambil wireless card lapie nya yg di kenali -- ndak banget!!!), 2. kita bikin kartu pengenal tiruan nya.
-------------------------------------------------------------------------------------------
In Action
Baik, sekarang kita sudah paham bagaiman logika membobolnya, simple bukan, yups se-simple cara untuk membobolnya juga. Okay langsung in Action saja.
1. Setelah install kismet dan mengkonfigurasinya, kita lakukan SCANNING
2. SCanning data2 mac address yang di kenali oleh AP target.
3. Catat no Mac Address yang di Kenali oleh AP target.
Setelah selesai pada no 3 di atas, sekarang lakukan langkah teknis berikut.
1. Masuk terminal dan hak akses dengan mode root.
2. ketikan ifconfig wlan0(or wlan1, ath0, ath1 ini tergantung vendor
wireless card anda).
3. catat data mac addres wireless card anda.
4. setelah itu matikan layanan wireless anda dengan mengetikan ifconfig
wlan0 down. ingat wlan0 or yg lain, ini seperti langkah 2.
5. sekarang jalankan macchanger dengan perintah macchangger --mac
data_mac_addres_yang_di_kenal_ap wlan0 [enter]
6. jika sukses maka sukses maka setelah enter akan muncul tulisan
[Current MAC: xx:xx:xx:xx:xx:xx -> xx adalah data mac address anda
Faked MAC : xx:xx:xx:xx:xx:xx -> adalah data mac yang di kenali Ap]
7. Okay sekarang tinggal konek ke AP dan, jreng anda bisa konek bukan.
-------------------------------------------------------------------------------------------
Catatan dan FAQ
[Current MAC: xx:xx:xx:xx:xx:xx -> xx adalah data mac address anda
Faked MAC : xx:xx:xx:xx:xx:xx -> adalah data mac yang di kenali Ap]
tulisan current adalah data asli mac anda, faked adalah data mac yang akan merubah data asli mac anda menjadi mac yang ada di faked yang merupakan mac yang di kenali. Dengan kata lain, anda mengganti data kartu anda dengan data kartu yang di kenali oleh AP.
FAQ
1. Bagaimana Cara setting kismet??
untuk setting kismet saya tidak cantumkan di dalam catatan ini, namun bisa di cari di search engine dengan kata kunci konfigurasi kismet, atau tunggu postingan saya berikutnya di http://arisarea.blogspot.com.
2. Masalah dengan Kartu wireless anda??
Sekedar informasi saja, setiap wireless card memiliki ciri dan kemampuan untuk menjalankan kismet. info lengkapnya ada di http://aircrack-ng.org.
Untuk saat ini FAQ yang masih tercantum hanya 2, selanjutnya mungkin anda bisa mengirimkanm, pertanyaan, atau saran di email aris.winchester@gmail.com
(ttd)
Aris Eko Priyanto
Selasa, 24 Mei 2011
Selasa, 17 Mei 2011
[PG+13/S/1s] G Dragon - The Pieces of a Painful Memory
Title : The Pieces of a Painful Memory
Author : Azura-chan
Beta Reader : Kimmie Hirosheero
Main Casts : Kwon Ji Yong (G-Dragon Big Bang) and Wang Hae Min
Other Casts : Big Bang Members
Length : Oneshot (4198 words)
Genre: Tragedy, Drama
Rating : T (PG+13)
A/N :
Annyeong semua, saia author baru di mari he he...
Di sini saia liat jarang ada fic Big Bang yeh, tapi emang saia dasarnya VIP he he..
Jadi pengen nge-share fic oneshot saia di mari, hope u like it! >.<
Komennya juga saia tunggu lho~
-azura-
PRANG!
Keping demi keping pecahan cermin berjatuhan di hadapanku.
Kutatap tanganku dengan pandangan dingin.
Tetes demi tetes darah segar merembes di antara sela-sela jariku.
Perih. Itu yang kurasakan, tetapi di dalam hatiku rasa perih itu lebih terasa sakit dari apa yang kurasakan saat ini.
Beratus-ratus kali kumencoba untuk melupakan kenangan-kenangan indah itu, namun mengapa semuanya begitu sulit?
Senyuman, belaian, keceriaan, dan semua yang ada pada dirinya seolah seperti ganja bagiku.
Otak dan tubuhku bagaikan terkena candunya.
Mencoba untuk melupakannya, tetapi itu sia-sia saja karena itu semua tidak akan pernah berhasil.
Kutatap potongan cermin yang retak di hadapanku.
Wajahku. Ini seperti bukan wajahku lagi.
Luka dan goresan sekarang telah mengotorinya.
Tinjuan itu masih terasa hingga sekarang dan tetap membekas di benakku.
Semuanya disebabkan oleh dirinya.
Persahabatan, kehidupan, dan segalanya rela kukorbankan demi merebut dirinya kembali.
Akan tetapi, semua itu tetap tidak berhasil.
Aku tidak menyangka ia rela meninggalkan diriku hanya karena laki-laki brengsek itu.
Dong Young Bae.
Apa yang telah merubah dirimu?
Padahal aku sampai menganggapmu seperti saudaraku sendiri, tetapi mengapa kau berani merebut Hae Min dari diriku?
Mengapa kau sampai berani mengkhianatiku?
Apa yang telah kulewati bersama dirimu seolah seperti kebodohan terbesar yang pernah kulakukan.
Aku menyesal telah bersahabat denganmu.
----------------------------------------------
Drrtt...Drrtt...Drrtt...
SEUNG HYUN CALLING
Dengan sigap segera kutekan tombol ‘answer’ di ponselku.
“Yeoboseyo?” tanyaku.
“Ji Yong~a.” Suaranya terdengar sedikit bergetar.
“Waegurae?”
“Minahae, aku sudah berbohong pada dirimu selama ini.”
Aku mengernyitkan dahi karena ucapannya itu.
“Aku tidak mengerti ucapamu.”
“Mian karena telah menipumu tentang keadaan Hae Min selama ini.”
Mataku membulat saat ia mengatakan nama itu.
“Ia mengidap kanker otak stadium akhir.”
“MWO?! Kau bercanda bukan? Ya! Seung Hyun~a! Katakan bahwa itu bohong!”
Emosiku memuncak.
“Ji Yong~a, mian aku tidak memberitahumu dari dulu.”
Aku tidak dapat membalas kata-katanya itu.
Lidahku kelu. Perlahan air mata turun tanpa kontrol dari otakku.
Apakah hanya diriku seorang yang tidak tahu akan penyakitnya ini?
Hae Min, mengapa kau begitu tega akan semua ini?
Kau hanya tidak memberitahu diriku seorang?
Kau meninggalkan diriku begitu saja tanpa alasan yang jelas.
Apakah kata-kata Seung Hyun-lah yang menjadi jawaban akan keputusan yang kau buat itu?
Ting Tong! Ting Tong!
Bel apartemenku berbunyi.
“Changkaman!” teriakku.
Aku bergegas menghampiri pintu dan memutar kenopnya.
Saat kubuka, ternyata seorang lelaki paruh baya telah berdiri di sana.
“Kwon Ji Yong?” tanyanya.
Aku mengangguk cepat.
“Igeu, kau mendapat kiriman.” Ia menyodorkan sebuah kotak ke hadapanku.
Kotak itu tidak terlalu besar, namun kotak itu sudah sedikit usang dan berdebu.
Aku menerimanya lalu menutup pintu.
Kuletakan kotak yang kuterima tadi di atas meja.
Perlahan kubuka tutupnya dan kutemukan sebuah kotak kaleng di dalamnya.
Sebenarnya siapa pemilik kotak ini?
Lalu mengapa ia mengirimkannya kepadaku?
Rasa penasaranku rupanya tidak kunjung hilang, dengan berhati-hati kukeluarkan kotak kaleng itu lalu memangkunya.
Kubuka tutupnya dan betapa terkejutnya diriku saat menemukan sebuah benda yang kukenal di dalamnya.
Setumpuk foto diriku dan Hae Min tertata rapi di sana.
Rasa sakit itu bagaikan mucul kembali di benakku, tetapi aku tetap berusaha menutupinya sambil memandang foto-foto itu.
Sudah dua tahun lamanya sejak Hae Min meninggalkan diriku, namun rupanya bayang-bayang wajahnya tidak akan pernah berhenti mengganggu kehidupanku.
Kutatap sebuah foto—foto yang terletak di urutan paling atas.
Aku mencoba untuk membayangkan kembali kenangan itu.
Kenangan di mana saat-saat terakhir yang dapat kuhabisankan bersama dirinya.
Kenangan terakhir di mana ia dapat menunjukan senyuman menawan itu di hadapaku.
“Oppa, bolehkah kubuka mataku sekarang?”
“Andwe, changkamanyo! Sebentar lagi kau boleh membukanya, tetapi jangan sekarang.”
Aku menuntun Hae Min ke sebuah taman indah di pinggiran kota.
Aku ingin menghabiskan waktu dengan dirinya hari ini, dan aku harap ia menyukainya.
“Hana, deul, set! Kau dapat membuka matamu sekarang!”
Aku senang dengan ekspersinya wajahnya itu.
Ia berseri dan tak henti-hentinya mengerjap kagum ke arah pemandangan di depan kami.
Danau yang membentang luas seolah telah menghipnotis matanya itu.
“Oppa, gomawoyo.” Ia memelukku bahagia.
“Ne, aku memiliki satu hadiah lagi untukmu.”
Kukeluarkan sebuah kalung platina dari saku kemejaku lalu menyematkan benda itu di lehernya.
“Otte? Joa?” Ia mengangguk cepat lalu mencium pipiku.
“Bagaimana jika kita berfoto bersama?” Ia tersenyum manja ke arahku.
“Geurae,” jawabku.
Ia mengambil kamera dari tas yang dibawanya itu, kemudian mengarahkan lensanya ke arah kami berdua.
14 Agustus 2006
Aku bertemu kembali dengan Ji Yong.
Hari itu adalah hari di mana aku datang ke toko aksesoris langgananku.
“Ahjussi, bagaimana? Apa pesananku sudah tiba?” tanyaku.
Bukannya menjawab Ahjussi malah mengernyitkan dahi.
“Ji Yong~a, mian...topi itu sudah terjual kepada orang lain.”
“MWO?! Ahjussi! Bagaimana ini? Bukannya aku yang pertama memesannya? Bagaimana barang itu dapat terjual kepada orang lain?”
“Orang itu membeli dengan harga yang sangat tinggi, jadi mau tak mau, ahjussi harus memberikan barang itu kepadanya.”
Aku menggela nafas kesal.
Benar-benar tidak dapat dipercaya, barang yang kuimpikan selama berbulan-bulan dengan mudahnya dijual kepada orang lain.
Aku membanting pintu toko sambil mengeluarkan beberapa umpatan kasar.
Kuturuni setiap anak tangga dengan langkah seenaknnya.
Pokoknya dengan cara bagaimanapun aku harus mendapatkan kembali topi itu.
Aku mati-matian berkerja paruh waktu untuk mendapatkan uang demi membeli topi itu, tetapi mengapa tidak ada seorang pun yang menghormati kerja kerasku itu.
Hari itu juga, aku berkeliling di sebuah pusat pertokoan demi menemukan topi impianku itu.
Tiba-tiba aku menangkap sebuah gambaran yang sangat kudamba di dalam pikiranku.
Topi itu. Aku menemukan orang yang telah merebut topi itu dari diriku.
Kuayunkan langkahku dengan cepat dan berlari kepada sang pemilik topi.
“Ya! Khajima!” Teriakanku menggelegar di penjuru pertokoan.
Akhirnya orang itu berbalik.
Ia menatapku heran, sedangkan diriku ikut terkejut saat menatapnya.
“Kita bertemu lagi rupanya!” sahutnya.
Aku tidak mempedulikan siapa dirinya.
Kita pernah bertemu sebelumnya atau tidak, itu tidak penting bagi diriku karena yang kuinginkan sekarang hanyalah topi itu.
“Ya! Kembalikan topi itu kepadaku!”“SHIRO!” Ia melepas topi itu lalu menyembunyikan di balik tubuhnya.
“Mworago?! Aku yang memesannya terlebih dahulu! Kau yang merebutnya dari diriku!”
“Aku yang merebutnya? Apa kau tidak salah tuduh?! Aku yang membelinya terlebih dahulu! Jadi ini milikk dan kau tidak punya hak untuk menjadikannya milikmu!”
Sejenak aku tertawa kecil saat mengingat kembali pertemuan kedua diriku dengan dirinya itu.
Peristiwa itu begitu konyol.
Kami berteriak-teriak seperti orang gila di tengah pusat pertokoan hanya karena sebuah topi.
Karena peristiwa itu pula aku menjadi benci terhadap dirinya, tetapi untungnya kebencian itu tidak berangsur lama.
Apa mungkin pertemuan kami yang ketigalah yang menjadikan diriku selalu berdebar saat berada di dekatnya?
31 Desesmber 2006
Sepertinya aku berjodoh dengan Ji Yong.
Pertemuan ketiga kami terjadi saat malam perayaan tahun baru.
Itulah kenangan yang tidak pernah kulupakan.
Kami diundang ke dalam sebuah pesta perayaan yang sama dan aku terkejut saat kembali melihat dirinya.
“Ya! Kau?!” Aku terkejut saat melihat dirinya termenung dengan riasan yang berantakan di sebelah lorong toilet wanita.
Ia menatapku dengan tatapan dingin.
“Apa maumu?” tanyanya dengan berlinang air mata.
Mendengar responnya entah mengapa hatiku merasa iba.
Kulepas jasku lalu mengenakannya di atas bahunya.
Ia tertegun saat aku melakukan hal itu kepada dirinya.“Kha cha!”
Wajahnya berubah menjadi heran saat aku berkata seperti itu kepadanya sambil mengulurkan tangan.
“Sebentar lagi hitungan mundur itu akan dimulai, apa kau rela melewatkannya begitu saja?”
Aku menjelaskan maksudku.
Ia tersenyum hambar, tetapi ia tetap menggapai uluran tanganku.
Aku menggandengnya menuju kerumunan orang yang sedang berdiri di bawah langit cerah pada malam hari itu.
Mimik wajahnya ternyata belum juga berubah.
Aku masih dapat melihat sebuah kesedihan terukir di wajahnya.“No gwenchana?” tanyaku.
Ia menggeleng cepat, namun tiba-tiba ia bersembunyi di belakangku saat seorang pria menghampiri kami.
Aku penasaran dengan tingkahnya itu.
Apakah laki-laki itu memiliki hubungan dengan dirinya?
“Waegeurae?”
Ia tetap menggeleng saat kuajukan pertanyaan itu, tetapi kali ini aku tidak puas dengan jawabannya itu.
“Ia mantan-mu?” Aku mencoba memancing sebuah jawaban pasti dari dirinya.
Kali ini wajahnya terlihat ingin memungkiri, namun semuanya telah terbaca olehku.
“Aku sudah tau itu, kau boleh meminjam diriku malam ini untuk melupakannya.”
Ia mulai teresenyum kecil ke arahku.
Memang pernyataan yang barusan kuucap terdengar konyol, akan tetapi aku turut senang jika dapat membantunya.
Malam itu, seolah rasa dendamku terhadap dirinya telah terhapuskan.
Aku baru menyadari bahwa perbedaan antar benci dan cinta sangatlah tipis.
Tidak ada yang tahu kapankah sebuah kebencian dapat berubah menjadi rasa cinta, sampai aku merasa bahwa di dekatnya merupakan suatu kebahagiaan terindah dalam hidupku.
29 Januari 2007
Ji Yong resmi menjadi namja chingu-ku
Aku kembali tersenyum kecut saat melihat tulisan pada kotak bertanggal dua puluh sembilan itu.
Hari itu—hari di mana aku mengumpulkan seluruh keberanian untuk mengakui perasaanku di hadapannya.
Ini memang bukan pertama kalinya, tetapi ini pun tidak dapat dianggap semudah yang dikira.
Setelah menjalin persahabatan dengannya, akhirnya aku pun menyadari bahwa diriku memiliki perasaan lain terhadap dirinya selama ini.
Gugup dan debar jantung selalu menghantui diriku saat bersama dengannya.
Aku berusaha menutupi semua itu, tetapi ini tidak dapat berlangsung selamanya.
“Hae Min~a, kau pulang sendirian hari ini?”
Aku bertanya sambil menatap butiran-butiran yang yang menggelantung di sisi jendela.“Ye, waeyo?”
“Anio, hanya saja—”
Tenggorokanku seperti tercekat oleh sesuatu, entah mengapa keberanian itu lenyap seketika.“Ye?” Hae Min menatapku dengan padangan bingung.
“Chogiyo..umm—” Ucapanku lagi-lagi terhenti. Kali ini karena tawaan Hae Min yang tiba-tiba menyeruak tanpa sebab.
“Hae Min~a, mengapa tertawa?”
“Anio, aku hanya merasa bahwa kau lucu sekali, sebenarnya apa yang hendak kau katakan? Sedari tadi kulihat kau gugup sekali, memang apakah ada yang salah?”
Kali ini Hae Min memang sudah curiga dengan gerak-gerikku.
"Geurae, kau terlalu lama berpikir, lebih baik aku yang terlebih dahulu berbicara.”
Aku mengangkat tinggi kedua alisku sambil mengangguk terpaksa.
“Ara, memang apa yang hendak kau bicarakan?” tantangku.
Ia tersenyum ke arahku lalu menghela nafas dengan pelan, kemudian ia menghadap ke arah jendela yang terbuka itu.
“KWON JI YONG, KAU HARUS MAU MENJADI NAMJA CHINGU KU, ARA?”
Mataku membulat seketika saat ia meneriakkan pertanyaan itu.Mwo? Apa aku tidak salah dengar?
“Otte?” Ia bertanya kepadaku dengan nafas terengah-engah.
Aku hanya bisa tercengang membisu di hadapannya.
“Ji Yong~a, apa jawaban darimu?” tanyanya sambil menguncang tubuhku.
Aku mendekapnya erat.
“Hae Min~a, kau telah merebut kata-kataku.”
Aku berbisik pelan.
“Nun babo ya! Kau terlalu pengecut untuk mengucapkan itu, jika aku menunggunya mungkin aku sudah berubah pikiran.”
“Aku pengecut?”
Ia menangguk dengan bersemangat.
“YA! AKU BUKAN PENGECUT! WANG HAE MIN, SARANGHAE!” kuteriakan kata-kata itu keluar jendela sambil merangkulnya erat.
Sebutir tetesan air mata jatuh dan menodai halaman itu.
Aku tidak sanggup menahan tangis haruku,
Entah mengapa sekarang aku berharap agar dapat kembali ke masa itu.
6 Februari 2007
Acara lembur bersama Ji Yong.
Lembur. Aku ingat akan saat itu—saat di mana ia berkata kepadaku bahwa ia bercita-cita ingin menjadi penulis terkenal.
Seminggu sebelumnya Hae Min mendapat tawaran dari sebuah perusahaan penerbit di Korea.
Aku melihat dirinya sudah amat dekat dengan impiannya itu.
Aku ingin selalu mendukungnya.
“Ji Yong~a, bisa kau temani diriku untuk malam ini saja?”
Ia merengek dengan wajah memelasnya.
“Arasseo, tetapi sebaiknya kau istirahat dulu, kau kan tidak perlu menyelesaikannya hari ini juga?”
Aku tahu benar akan sifatnya.
Ia selalu keras kepala, namun aku tahu bahwa adalah seseorang yang tidak pantang menyerah.
Ia menggeleng dengan pasti.
“Waeyo? Kemarin editor sudah menagih script dariku, jadi mana mungkin aku dapat mengundurnya lagi.”
Aku hanya dapat menghela nafas saat mendengar bantahannya itu.
“Geurae, aku akan menemanimu,” jawabku dengan nada sedikit terpaksa.
“Oh yah, bukannya lirik lagumu juga belum selesai? Bagaimana jika kau mengerjakannya sambil menemaniku.”
Benar katanya, aku baru ingat bahwa lagu ciptaanku itu belum sepenuhnya selesai.
Lebih baik aku mengerjakannya sekarang.
Jam sudah menunjukan pukul dua dini hari.
Sekilas kulihat Hae Min sudah tertidur pulas di meja komputernya itu.
Wajahnya terlihat damai dan aku enggan membangunkan tidurnya itu.
Kutatap kertas-kertas lirik dan partitur di hadapanku.
Semuanya sudah selesai kukerjakan dan sekarang aku ingin mencoba untuk memainkannya.
Aku mulai beranjak menuju piano yang terletak di sudut ruangan.
Kusentuh tuts-tuts hitam putih itu, kemudian mulai memainkannya.
Sejanak kumenutup mata, merenungkan setiap alunan nada yang bertending di telingaku.
Lagu ini kutulis untuk Hae Min—gadisku yang selalu mengisi hari-hariku.
Hari-hari yang kulewati bersamanya seakan tidak pernah terasa hambar di mataku.
Ia selalu ceria dan mengisi hari-hariku ini, oleh karena itu kunamai lagu ini “Haru Haru”.
“Ji Yong~a.” Seseorang memanggil namaku.
Permainan pianoku langsung terhenti.
Aku berbalik dan menemukan Hae Min menggeliat di sisi meja komputernya itu.
“Mian, aku membangunkanmu.. Sekarang, lanjutkan saja tidurmu.” Aku membalas tersenyum ke arahnya.
“Aku tidak bisa tidur lagi,” erangnya.“Waeyo?”
“Aku ingin mendengarkan lagu itu sekali lagi, boleh bukan?”
Ia berjalan mendekati piano yang sedang kumainkan ini.
Aku mengangguk setuju, lalu menggeser posisi dudukku.
Setelah itu aku menepuk jok kursi sambil menatap ke arahnya. Ia tersenyum ke arahku lalu duduk di sampingku.
Malam terasa begitu spesial di mataku.
Malam di mana aku dapat memainkan lagu khusus untuknya dan ia menyenderkan kepalanya di bahu kananku.
Sesekali ia tertawa melihat permainan pianoku.
“Sekarang giliranmu, mana hasil tulisanmu? Aku mau membacanya.”
“Andwe, tulisanku belum sempurna.”
Lagi-lagi alasan itu yang dilontarkan olehnya.
Aku mendengus kesal.
Akhirnya dengan cepat kubalikan tubuhku lalu beranjak menuju meja komputer miliknya.
“Ya! Apa yang ingin kau lakukan?!” Ia berteriak heran, namun aku mengacuhkannya begitu saja.
Aku langsung mengarahkan mouse komputer dan membuka data miliknya.
“Ya! Ji Yong~a!” Belum sempat aku bertindak lebih, ia sudah terlebih dahulu menahan tanganku.
Ia merebut mouse di tanganku lalu mencabut flashdisk yang terpasang di komputer itu.
“Hae Min~a. Waegurae? Mengapa aku tidak boleh melihatnya?” teriakku dengan nada kecewa.
“Karena ini belum sempurna.” Ia menjulurkan lidahnya seolah mencibir diriku.
Aku berusaha merebut benda itu dari dirinya, tetapi ia malah melarikan diri.
Kami terus berkejar-kejaran hingga tiba-tiba dirinya tersandung dan jatuh ke salah satu sofa di ruang tengah.
Aku menimpa tubuhnya.
Sejenak diriku membeku.
Jarang sekali diriku dapat melihat wajahnya dalam jarak sedekat ini.
Matanya membulat dan bibirnya seolah mengisyaratkan sesuatu kepada diriku.
Kami berdua menjadi sangat canggung, namun ia malah memejamkan matanya.
Aku tahu isyarat ini, kudekati wajahnya lalu perlahan kutempelkan bibirku lembut di bibirnya.
Pada bulan yang sama kuperhatikan Hae Min mengisi tulisan di dua buah kotak yang tidak terlalu jauh jaraknya.
Aku terus membaca sampai aku menyadari bahwa kotak yang kedua itu bertanggal empat belas.
Mengingat yang terjadi perasaan bahagia dan haru langsung menyelimuti diriku seketika itu juga.
14 Ferbruari 2007
Hari Valentine Pertamaku dengan Ji Yong sekaligus hari pertama aku menemukan gejala itu.
Aku menatap heran kata ‘gejala’ yang tertulis di dalam kotak itu.
Aku baru menyadari bahwa selama ia bersama diriku, ia sudah merasaknnya.
Tetapi, mengapa dirimu begitu egois, Hae Min~a.
Kau selalu saja keras kepala dan berusaha menanggung sendiri.
Terkadang aku merenung, sebenarnya aku ini tidak bisa dikatakan sebagai namja-chingu yang baik untuk dirinya karena aku selalu merasa bahwa aku tidak berguna di hadapannya.
Sebenarnya akulah yang sangat membutuhkan dirinya dalam hidupku, namun aku tidak bisa membalas kebaikkannya itu.
Ji Yong, nun babo ya!
“Ji Yong~a, aku ingin menghabiskan malam ini dengan melihat bintang bersamamu, bagaimana?”
Kupandang wajahnya yang bersemu merah itu sambil mengangguk dengan pasti.
“Ara, tetapi sebaiknya kita tidak jauh-jauh dari rumah. Aku mengkhawatirkan kesehatanmu.”
Ia memasang wajah cemberutnya yang menurutku lucu itu.
“Aku benar-benar menyusahkan orang saja, di hari yang berbahagia seperti ini mengapa diriku malah sakit?!”
Ia mengutuki dirinya sendiri.
“Ya! Apa yang kau bicarakan? Setidaknya kita masih bisa bersenang-senang bukan—”
“Tapi aku telah membuatmu repot, Kwon Ji Yong.” Ia mencubit kedua pipiku.
“Ahh, apeu. Apa yang kau lakukan?”
Aku mengusap-usap pipiku, tetapi ia malah tertawa geli.
“Mian, tetapi aku gemas dengan dirimu. Mengapa kau bisa sabar sekali? Aku sang pemilik tubuh saja sudah kesal dengan penyakit ini.”
Saat itu—hari Valentine pertamaku dengan Hae Min tepatnya.
Kami hanya bisa melewati hari spesial itu dengan kegiatan yang menurut orang sama sekali tidak spesial.
Hal itu dikarenakan, seminggu sebelumnya kesehatan Hae Min mendadak menurun tanpa sebab.
Aku sempat khawatir dengan kondisinya yang sering pusing dan muntah-muntah itu, tetapi Hae Min selalu berkata bahwa dirinya baik-baik saja.
Ia selalu berusaha memasang wajah ceria di hadapanku.
“Ji Yong~a, apakah kau berjanji akan selalu berada di sampingku?”
Sejenak kutertegun dengan pertanyaannya itu.
Matanya seolah menerawang ke arah langit yang membentang luas di atas kami.
“Mengapa kau bertanya soal itu?”
Aku sedikit terheran.
“Anio, hanya saja aku berpikir bahwa sepertinya aku akan selalu membutuhkanmu.”
Ia menghela nafas pelan.
Aku tersenyum dan mengacak-ngacak rambutnya dengan lembut.
“Hae Min~a, seharusnya yang berkata seperti itu adalah diriku, jadi kau tidak perlu khawatir. Kita akan selalu bersama dan menggapai impian kita.”
Sebuah bintang jatuh tiba-tiba melintas di atas kami.
“Ahh, lihat itu!” Hae Min berseru kencang.
Aku pun tersontak kaget melihat reaksinya.
Kulihat sekilas ia melipat tangannya lalu mengucapkan harapan dalam hatinya, namun aku hanya bisa terkekeh dalam hati melihat tingkah lucunya itu.
Kubolak-balikan setiap lembaran yang tersisa di dalam buku diary itu, tetapi yang kutemukan hanyalah kotak-kotak kosong tanpa tulisan.
Beberapa lembaran bulan kuteliti dengan seksama.
Akan teapi, hasilnya sama saja.
Agustus 2007
Mataku seolah terdiam saat membaca tulisan itu.
Kuingat-ingat kembali kejadian itu—kejadian paling menyakitkan itu ternyata terjadi di bulan Agustus tepatnya saat hari ulang tahunku.
Dengan cepat kukibatkan lembar di bulan Agustus itu dan menuju kotak yang bertulisankan angka delapan belas.
18 Agustus 2007
Kuakhiri kisahku dengan Ji Yong.
“Saengil chukahamnida, saengil chukahamnida, sarang han neun Kwon Ji Yong, saengil chukahamnida!”
Aku tertawa lepas saat sahabat-sahabatku—Seung Hyun, Young Bae, Dae Sung, dan Seung Ri—mengejutkanku dengan nyanyian itu.
Kulihat wajah Hae Min yang berada di sampingku.
Ia seperti memaksakan tawanya demi menghiburku.
Belakangan ini sikapnya menjadi semakin aneh.
Ia mejadi jarang tersenyum seperti dulu.
Sebenarnya apa yang terjadi pada diri Hae Min?
“Ya! Ji Yong~a, ayo cepat buat permohonan!” seru Young Bae dengan bersemangat.
Aku memejamkan mataku kemudian mulai membuat permohonan dalam hati.
Sekilas kuperhatikan wajah Hae Min.
Kebahagiaan dan keceriaan seolah pupus dari benaknya itu.
Aku terus-terus bertanya dalam hati, namun aku tidak menemukan jawaban apapun.
Aku pernah bertanya kepadanya, tetapi ia menutupi semuanya dari diriku.
Aku terasa seperti orang asing dalam hidupnya.
“Ji Yong~a, aku mau kita putus.”
“Mwo?! Hae Min~a, kau jangan membuat candaan yang bodoh seperti itu.”
Aku tersenyum hambar.
“Aku serius.” Ia menatapku dingin.
Aku ubah posisi dudukku sehingga menghadap dirinya.
Kugenggam kedua tangannya yang memucat itu.
“Hae Min~a, sebenarnya apa alasannya kau mengatakan ini padaku?”
Ia terdiam, namun perlahan butiran air mata melucur keluar dari kantung matanya.
Hening. Aku benci keheningan ini.
Mengapa di hari yang kuanggap sangat bahagia ini, ia justru mengatakan hal pahit itu?!
“Ya! Jawab!” Emosiku sudah tak tertahankan lagi.
Aku mengguncang tubuhnya.
Ia terisak. “Mian, aku tidak ber—”
Belum aku menyelesaikan kalimatku, tetapi ia sudah terlebih dahulu mengambil tas lalu berlari pergi meninggalkanku.
Hari itu merupakan hari yang kurasa paling tidak adil di dalam hidupku.
Mengapa ia sema sekali tidak memikirkan perasaanku?
Mengapa ia malah tidak memberitahu mengenai penyakit yang dideritanya kepadaku?
Ia malah memilih untuk menutupinya dari diriku.
Membaca diary ini rasanya sama saja seperti mengembalikan kesedihan yang berusaha kukubur dua tahun yang lalu.
Kotak bertanggal delapan belas itulah yang merupaka kotak terakhirnya yang ditulisnya.
Ia tidak meninggalkan pesan apapun lagi.
Hanya sebuah kenangan pahit yang tertulis di sana.
Aku bermaskud untuk menutup kembali buku itu, namun sebuah lipatan kecil di akhir buku seperti memanggilku untuk menariknya.
Rasa penasaranku semakin bertambah dan akhirnya kuputuskan untuk menariknya.
Ternyata itu sebuah amplop.
Amplop itu berwarna lavender dan di depannya tertulis tertulis namaku.
Kubuka perlahan amplop itu dan lagi-lagi aku menemukan sebuah foto.
Foto diriku dan Hae Min saat di kencan pertama kami.
Rona senyuman manisnya itu masih menggembang di wajahnya dan aku rindu saat-saat itu.
Andai Tuhan tidak memanggilnya.
Andai ia tidak menderita penyakit jahanam itu, aku pasti masih bisa melihat senyuman manis itu ada di hadapanku sekarang.
Aku menemukan selembar lipatan kertas yang terselip di belakang foto itu.
Kubentangkan kertas itu dan ternyata aku menemukan sebuah surat tertulis di atasnya.
Ji Yong,
Kau tahu, aku merasa sangat bahagia karena dapat menyebut namamu kembali.
Saat aku mengetahui yang sebenarnya, ternggorokanku terasa tercekat saat mengucapkan namamu.
Aku merasa diriku tidak pantas untuk memanggil dirimu lagi.
Aku tidak ingin melibatkan dirimu lebih jauh.
Kadang aku berpikir bahwa aku masih ingin bersamamu.
Aku merindukan tawa dan dukunganmu, tetapi ternyata semua itu hanya boleh ada dalam anganku saja.
Aku terlalu egois jika ingin memiliki semua itu karena itu sama saja halnya dengan memupuskan impianmu.
Akhirnya aku sadar bahwa aku harus melepaskan dirimu.
Memang rasanya sulit untuk percaya karena aku masih membutuhkan dirimu, tetapi aku bersedia menahan segala penderitaannya.
Aku hanya mau melihat kau bahagia, sekalipun aku tidak berada di sampingmu.
Hari demi hari berjalan tanpa dirimu.
Penyakitku semakin parah dan aku tahu bahwa waktuku sudah tidak lama lagi.
Rasa sakit ini semakin menggerogoti diriku.
Kucoba untuk berdiri di bawah derasnya hujan, mengira setiap tetesannya akan melunturkan rasa sakitnya, tetapi aku salah.
Semuanya hanya sia-sia saja karena yang kubutuhkan adalah dirimu.
Aku ingin merasakan dekapanmu untuk terakhir kalinya, tetapi sekali lagi aku berusaha menghardik diriku untuk mengurungkan niat itu.
Mianhae, karena telah menutupi semuanya.
Sekalipun aku telah menginggalkan dirimu, tetapi aku ingin melihat sebuah senyum tetap terulas di wajahmu.
Tetesan air mataku sudah tak terbendung dan membasahi lembaran itu.
Saat membacanya aku merasa bahwa aku begitu tidak berguna.
Rasa sakit itu terus menghancurkan tubuhnya perlahan, tetapi aku malah tidak dapat berbuat apa-apa untuknya.
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Ia ingin melihatku bahagia, tetapi tidak dengan cara seperti ini.
Aku berusaha tersenyum seperti apa yang tertulis di sana.
Menutup buku diary itu dan menyimpannya di dalam kotak seperti semula.
Aku berjanji tidak akan melupakan dirimu, Hae Min.
Sekalipun dirimu tidak berada di sisiku, tetapi aku yakin aku akan selalu menerangiku layaknya bintang yang kau gemari itu.
Author : Azura-chan
Beta Reader : Kimmie Hirosheero
Main Casts : Kwon Ji Yong (G-Dragon Big Bang) and Wang Hae Min
Other Casts : Big Bang Members
Length : Oneshot (4198 words)
Genre: Tragedy, Drama
Rating : T (PG+13)
A/N :
Annyeong semua, saia author baru di mari he he...
Di sini saia liat jarang ada fic Big Bang yeh, tapi emang saia dasarnya VIP he he..
Jadi pengen nge-share fic oneshot saia di mari, hope u like it! >.<
Komennya juga saia tunggu lho~
-azura-
PRANG!
Keping demi keping pecahan cermin berjatuhan di hadapanku.
Kutatap tanganku dengan pandangan dingin.
Tetes demi tetes darah segar merembes di antara sela-sela jariku.
Perih. Itu yang kurasakan, tetapi di dalam hatiku rasa perih itu lebih terasa sakit dari apa yang kurasakan saat ini.
Beratus-ratus kali kumencoba untuk melupakan kenangan-kenangan indah itu, namun mengapa semuanya begitu sulit?
Senyuman, belaian, keceriaan, dan semua yang ada pada dirinya seolah seperti ganja bagiku.
Otak dan tubuhku bagaikan terkena candunya.
Mencoba untuk melupakannya, tetapi itu sia-sia saja karena itu semua tidak akan pernah berhasil.
Kutatap potongan cermin yang retak di hadapanku.
Wajahku. Ini seperti bukan wajahku lagi.
Luka dan goresan sekarang telah mengotorinya.
Tinjuan itu masih terasa hingga sekarang dan tetap membekas di benakku.
Semuanya disebabkan oleh dirinya.
Persahabatan, kehidupan, dan segalanya rela kukorbankan demi merebut dirinya kembali.
Akan tetapi, semua itu tetap tidak berhasil.
Aku tidak menyangka ia rela meninggalkan diriku hanya karena laki-laki brengsek itu.
Dong Young Bae.
Apa yang telah merubah dirimu?
Padahal aku sampai menganggapmu seperti saudaraku sendiri, tetapi mengapa kau berani merebut Hae Min dari diriku?
Mengapa kau sampai berani mengkhianatiku?
Apa yang telah kulewati bersama dirimu seolah seperti kebodohan terbesar yang pernah kulakukan.
Aku menyesal telah bersahabat denganmu.
----------------------------------------------
Drrtt...Drrtt...Drrtt...
SEUNG HYUN CALLING
Dengan sigap segera kutekan tombol ‘answer’ di ponselku.
“Yeoboseyo?” tanyaku.
“Ji Yong~a.” Suaranya terdengar sedikit bergetar.
“Waegurae?”
“Minahae, aku sudah berbohong pada dirimu selama ini.”
Aku mengernyitkan dahi karena ucapannya itu.
“Aku tidak mengerti ucapamu.”
“Mian karena telah menipumu tentang keadaan Hae Min selama ini.”
Mataku membulat saat ia mengatakan nama itu.
“Ia mengidap kanker otak stadium akhir.”
“MWO?! Kau bercanda bukan? Ya! Seung Hyun~a! Katakan bahwa itu bohong!”
Emosiku memuncak.
“Ji Yong~a, mian aku tidak memberitahumu dari dulu.”
Aku tidak dapat membalas kata-katanya itu.
Lidahku kelu. Perlahan air mata turun tanpa kontrol dari otakku.
Apakah hanya diriku seorang yang tidak tahu akan penyakitnya ini?
Hae Min, mengapa kau begitu tega akan semua ini?
Kau hanya tidak memberitahu diriku seorang?
Kau meninggalkan diriku begitu saja tanpa alasan yang jelas.
Apakah kata-kata Seung Hyun-lah yang menjadi jawaban akan keputusan yang kau buat itu?
--------------------------------------------------------
Lorong demi lorong rumah sakit kususuri dengan hati pilu.
Aku berlari tanpa arah menyusuri setiap bilik hingga akhirnya kutemukan Seung Hyun dan lainnya berdiri di depan sebuah kamar operasi.
Kutatap satu persatu wajah mereka.
Aku dapat melihat guratan-guratan kecemasan menghiasi wajah mereka.
Aku frustasi akan semua hal ini.
Semua yang dikatakan Seung Hyun ternyata benar.
Hanya diriku seoranglah yang tidak tahu akan masalah ini.
Mengapa dirinya tega berbuat begitu padaku?
Satu jam, dua jam, hingga empat jam kami semua menunggu.
Kami tetap diam dan tak berbicara satu sama lain.
Aku enggan berbicara kepada pembohong.
Mereka berkata bahwa mereka sahabatku, tetapi mengapa ia menipuku seperti ini?
Aku kecewa terhadap mereka semua.
Aku berlari tanpa arah menyusuri setiap bilik hingga akhirnya kutemukan Seung Hyun dan lainnya berdiri di depan sebuah kamar operasi.
Kutatap satu persatu wajah mereka.
Aku dapat melihat guratan-guratan kecemasan menghiasi wajah mereka.
Aku frustasi akan semua hal ini.
Semua yang dikatakan Seung Hyun ternyata benar.
Hanya diriku seoranglah yang tidak tahu akan masalah ini.
Mengapa dirinya tega berbuat begitu padaku?
Satu jam, dua jam, hingga empat jam kami semua menunggu.
Kami tetap diam dan tak berbicara satu sama lain.
Aku enggan berbicara kepada pembohong.
Mereka berkata bahwa mereka sahabatku, tetapi mengapa ia menipuku seperti ini?
Aku kecewa terhadap mereka semua.
-----------------------------------------------------
Sudah hampir lima jam kami termenung di lorong depan kamar operasi.
Tiba-tiba pintu terbuka.
Aku tercengang dan segera bangkit dari posisi dudukku.
Semuanya seakan jauh dari harapanku.
Sebuah tempat tidur bertutup kain putih didorong keluar dari kamar itu.
Aku langsung berlari menghampirinya.
Air mataku tak dapat kubendung kembali.
Perlahan kubuka kain putih itu.
Tampak wajah manis Hae Min-ku yang tertidur nyenyak di atasnya.
Aku mengelus pelan pipinya yang dingin itu.
Kucoba untuk mengulas senyum demi kepergiannya, tetapi sesungguhnya hatiku ini tidak rela.
Kenangan yang telah kami ukir bersama tidak dapat semudah itu hilang bagaikan ditiup angin.
Perlahan air mataku jatuh.
Aku mengerang histeris dan kemudian berjalan ke arah Young Bae.
Aku menarik kerah bajunya, kemudian dengan amarah yang memuncak kudaratkan tinju kekesalan di wajahnya.
BUAG!
Rasanya itu semua belum cukup.
Aku ingin melampiaskan kembali sisa kekesalanku ini, tetapi sayangnya Dae Sung dan Seung Ri sudah terlebih dahulu menahan kedua lenganku.
Young Bae menatapku acuh.
Aku membalasnya dengan cibiran dan kata-kata umpatan.
Young Bae merogoh sesuatu di saku celananya itu.
Aku memperhatikan gerak-geriknya dengan tatapan dendam.
“Igeu.” Ia menyodorkan sebuah kalung platina berinisial H&J ke arahku.
Kalung itu bukanlah benda asing di mataku, tetapi mengapa benda ini dapat berada di tangan Young Bae sekarang.
Apa Hae Min memberikan ini kepadanya?
Aku terus bertanya-tanya di dalam hati dan enggan mengambil kalung yang disodorkan Young Bae itu.
Tiba-tiba Young Bae menarik tanganku dengan kasar.
Ia meletakan kalung itu di telapak tanganku, kemudian memaksa jari-jariku untuk menggenggam benda dingin itu.
“Kau tahu, Hae Min banyak membicarakan dirimu, ia masih mencintaimu.”
Aku menatapnya lurus saat ia mengucapkan kata-kata itu.
“Minahae karena telah membohongiku selama ini.”
Ia tertunduk lesu di hadapanku, sedangkan diriku—aku hanya tertegun dan membujur kaku saat mendengarkan kata-katanya itu.
Tiba-tiba pintu terbuka.
Aku tercengang dan segera bangkit dari posisi dudukku.
Semuanya seakan jauh dari harapanku.
Sebuah tempat tidur bertutup kain putih didorong keluar dari kamar itu.
Aku langsung berlari menghampirinya.
Air mataku tak dapat kubendung kembali.
Perlahan kubuka kain putih itu.
Tampak wajah manis Hae Min-ku yang tertidur nyenyak di atasnya.
Aku mengelus pelan pipinya yang dingin itu.
Kucoba untuk mengulas senyum demi kepergiannya, tetapi sesungguhnya hatiku ini tidak rela.
Kenangan yang telah kami ukir bersama tidak dapat semudah itu hilang bagaikan ditiup angin.
Perlahan air mataku jatuh.
Aku mengerang histeris dan kemudian berjalan ke arah Young Bae.
Aku menarik kerah bajunya, kemudian dengan amarah yang memuncak kudaratkan tinju kekesalan di wajahnya.
BUAG!
Rasanya itu semua belum cukup.
Aku ingin melampiaskan kembali sisa kekesalanku ini, tetapi sayangnya Dae Sung dan Seung Ri sudah terlebih dahulu menahan kedua lenganku.
Young Bae menatapku acuh.
Aku membalasnya dengan cibiran dan kata-kata umpatan.
Young Bae merogoh sesuatu di saku celananya itu.
Aku memperhatikan gerak-geriknya dengan tatapan dendam.
“Igeu.” Ia menyodorkan sebuah kalung platina berinisial H&J ke arahku.
Kalung itu bukanlah benda asing di mataku, tetapi mengapa benda ini dapat berada di tangan Young Bae sekarang.
Apa Hae Min memberikan ini kepadanya?
Aku terus bertanya-tanya di dalam hati dan enggan mengambil kalung yang disodorkan Young Bae itu.
Tiba-tiba Young Bae menarik tanganku dengan kasar.
Ia meletakan kalung itu di telapak tanganku, kemudian memaksa jari-jariku untuk menggenggam benda dingin itu.
“Kau tahu, Hae Min banyak membicarakan dirimu, ia masih mencintaimu.”
Aku menatapnya lurus saat ia mengucapkan kata-kata itu.
“Minahae karena telah membohongiku selama ini.”
Ia tertunduk lesu di hadapanku, sedangkan diriku—aku hanya tertegun dan membujur kaku saat mendengarkan kata-katanya itu.
-----------------------------------------------------------
Ting Tong! Ting Tong!
Bel apartemenku berbunyi.
“Changkaman!” teriakku.
Aku bergegas menghampiri pintu dan memutar kenopnya.
Saat kubuka, ternyata seorang lelaki paruh baya telah berdiri di sana.
“Kwon Ji Yong?” tanyanya.
Aku mengangguk cepat.
“Igeu, kau mendapat kiriman.” Ia menyodorkan sebuah kotak ke hadapanku.
Kotak itu tidak terlalu besar, namun kotak itu sudah sedikit usang dan berdebu.
Aku menerimanya lalu menutup pintu.
Kuletakan kotak yang kuterima tadi di atas meja.
Perlahan kubuka tutupnya dan kutemukan sebuah kotak kaleng di dalamnya.
Sebenarnya siapa pemilik kotak ini?
Lalu mengapa ia mengirimkannya kepadaku?
Rasa penasaranku rupanya tidak kunjung hilang, dengan berhati-hati kukeluarkan kotak kaleng itu lalu memangkunya.
Kubuka tutupnya dan betapa terkejutnya diriku saat menemukan sebuah benda yang kukenal di dalamnya.
Setumpuk foto diriku dan Hae Min tertata rapi di sana.
Rasa sakit itu bagaikan mucul kembali di benakku, tetapi aku tetap berusaha menutupinya sambil memandang foto-foto itu.
Sudah dua tahun lamanya sejak Hae Min meninggalkan diriku, namun rupanya bayang-bayang wajahnya tidak akan pernah berhenti mengganggu kehidupanku.
-------------------------------------------------------
Kutatap sebuah foto—foto yang terletak di urutan paling atas.
Aku mencoba untuk membayangkan kembali kenangan itu.
Kenangan di mana saat-saat terakhir yang dapat kuhabisankan bersama dirinya.
Kenangan terakhir di mana ia dapat menunjukan senyuman menawan itu di hadapaku.
“Oppa, bolehkah kubuka mataku sekarang?”
“Andwe, changkamanyo! Sebentar lagi kau boleh membukanya, tetapi jangan sekarang.”
Aku menuntun Hae Min ke sebuah taman indah di pinggiran kota.
Aku ingin menghabiskan waktu dengan dirinya hari ini, dan aku harap ia menyukainya.
“Hana, deul, set! Kau dapat membuka matamu sekarang!”
Aku senang dengan ekspersinya wajahnya itu.
Ia berseri dan tak henti-hentinya mengerjap kagum ke arah pemandangan di depan kami.
Danau yang membentang luas seolah telah menghipnotis matanya itu.
“Oppa, gomawoyo.” Ia memelukku bahagia.
“Ne, aku memiliki satu hadiah lagi untukmu.”
Kukeluarkan sebuah kalung platina dari saku kemejaku lalu menyematkan benda itu di lehernya.
“Otte? Joa?” Ia mengangguk cepat lalu mencium pipiku.
“Bagaimana jika kita berfoto bersama?” Ia tersenyum manja ke arahku.
“Geurae,” jawabku.
Ia mengambil kamera dari tas yang dibawanya itu, kemudian mengarahkan lensanya ke arah kami berdua.
---------------------------------------------------
Kusingkirkan foto-foto menyakitkan itu dari hadapanku.
Aku berusaha menenangkan diri dan melupakan kenangan-kenangan yang terpampang di dalamnya.
Kutemukan sebuah buku kecil berwarna violet tertimbun di bawah foto-foto itu.
Kuangkat benda itu keluar lalu meniup debunya dengan perlahan.
Sebuah pita berwarna pink muda membalutnya seakan mengunci kerahasia buku itu.
Kutarik perlahan simpulnya, lalu membuka halaman pertama dari buku itu.
Annyeong, buku ini milik Wang Hae Min.
Jika anda menemukannya, tolong buku ini dikembalikan ke alamat yang tertera di bawah ini. . .
Ternyata ini buku harian Hae Min.
Rasanya diriku seperti tidak layak untuk membacanya, tetapi jika begitu, untuk apa benda ini dikirimkan kepadaku?
Dengan hati yang ragu akhirnya kuputuskan untuk membuka halaman selanjutnya dari buku harian itu, namun yang kudapati hanyalah lembaran-lembaran kertas yang diselingi oleh goresan kotak-kotak di atasnya.
Setiap kotak memliki sebuah angka dan angka itu merupakan tanggal setiap harinya.
Kotak-kotak itu tidak semuanya terisi.
Kebanyakan malah dibiarkan kosong begitu saja, namun akhirnya aku menjumpai sebuah kotak yang berisi sebuah tulisan kecil tertulis di dalamnya.
27 April 2006
Hari pertama diriku dan Ji Yong bertemu.
Hari ini bagaikan hari tersial dalam hidupku.
Motorku mendadak mogok dan hujan deras juga tidak segan-segan menyiram tubuhku ini.
Aku hanya dapat menatap nanar dan meratapi nasib.
Kutinggalkan motorku di pinggir jalan.
Kemudian kujadikan tas sebagai payung darurat bagi diriku.
Kubelari sekencang mungkin menuju halte bus terdekat.
Halte begitu sepi saat cuaca buruk seperti ini, namun malah bertemu seorang gadis.
Gadis itu datang hampir bersamaan denganku.
Kami saling bertatap muka lalu tersenyum menyapa.
Aku berusaha menenangkan diri dan melupakan kenangan-kenangan yang terpampang di dalamnya.
Kutemukan sebuah buku kecil berwarna violet tertimbun di bawah foto-foto itu.
Kuangkat benda itu keluar lalu meniup debunya dengan perlahan.
Sebuah pita berwarna pink muda membalutnya seakan mengunci kerahasia buku itu.
Kutarik perlahan simpulnya, lalu membuka halaman pertama dari buku itu.
Annyeong, buku ini milik Wang Hae Min.
Jika anda menemukannya, tolong buku ini dikembalikan ke alamat yang tertera di bawah ini. . .
Ternyata ini buku harian Hae Min.
Rasanya diriku seperti tidak layak untuk membacanya, tetapi jika begitu, untuk apa benda ini dikirimkan kepadaku?
Dengan hati yang ragu akhirnya kuputuskan untuk membuka halaman selanjutnya dari buku harian itu, namun yang kudapati hanyalah lembaran-lembaran kertas yang diselingi oleh goresan kotak-kotak di atasnya.
Setiap kotak memliki sebuah angka dan angka itu merupakan tanggal setiap harinya.
Kotak-kotak itu tidak semuanya terisi.
Kebanyakan malah dibiarkan kosong begitu saja, namun akhirnya aku menjumpai sebuah kotak yang berisi sebuah tulisan kecil tertulis di dalamnya.
27 April 2006
Hari pertama diriku dan Ji Yong bertemu.
Hari ini bagaikan hari tersial dalam hidupku.
Motorku mendadak mogok dan hujan deras juga tidak segan-segan menyiram tubuhku ini.
Aku hanya dapat menatap nanar dan meratapi nasib.
Kutinggalkan motorku di pinggir jalan.
Kemudian kujadikan tas sebagai payung darurat bagi diriku.
Kubelari sekencang mungkin menuju halte bus terdekat.
Halte begitu sepi saat cuaca buruk seperti ini, namun malah bertemu seorang gadis.
Gadis itu datang hampir bersamaan denganku.
Kami saling bertatap muka lalu tersenyum menyapa.
--------------------------------------------------------
14 Agustus 2006
Aku bertemu kembali dengan Ji Yong.
Hari itu adalah hari di mana aku datang ke toko aksesoris langgananku.
“Ahjussi, bagaimana? Apa pesananku sudah tiba?” tanyaku.
Bukannya menjawab Ahjussi malah mengernyitkan dahi.
“Ji Yong~a, mian...topi itu sudah terjual kepada orang lain.”
“MWO?! Ahjussi! Bagaimana ini? Bukannya aku yang pertama memesannya? Bagaimana barang itu dapat terjual kepada orang lain?”
“Orang itu membeli dengan harga yang sangat tinggi, jadi mau tak mau, ahjussi harus memberikan barang itu kepadanya.”
Aku menggela nafas kesal.
Benar-benar tidak dapat dipercaya, barang yang kuimpikan selama berbulan-bulan dengan mudahnya dijual kepada orang lain.
Aku membanting pintu toko sambil mengeluarkan beberapa umpatan kasar.
Kuturuni setiap anak tangga dengan langkah seenaknnya.
Pokoknya dengan cara bagaimanapun aku harus mendapatkan kembali topi itu.
Aku mati-matian berkerja paruh waktu untuk mendapatkan uang demi membeli topi itu, tetapi mengapa tidak ada seorang pun yang menghormati kerja kerasku itu.
Hari itu juga, aku berkeliling di sebuah pusat pertokoan demi menemukan topi impianku itu.
Tiba-tiba aku menangkap sebuah gambaran yang sangat kudamba di dalam pikiranku.
Topi itu. Aku menemukan orang yang telah merebut topi itu dari diriku.
Kuayunkan langkahku dengan cepat dan berlari kepada sang pemilik topi.
“Ya! Khajima!” Teriakanku menggelegar di penjuru pertokoan.
Akhirnya orang itu berbalik.
Ia menatapku heran, sedangkan diriku ikut terkejut saat menatapnya.
“Kita bertemu lagi rupanya!” sahutnya.
Aku tidak mempedulikan siapa dirinya.
Kita pernah bertemu sebelumnya atau tidak, itu tidak penting bagi diriku karena yang kuinginkan sekarang hanyalah topi itu.
“Ya! Kembalikan topi itu kepadaku!”“SHIRO!” Ia melepas topi itu lalu menyembunyikan di balik tubuhnya.
“Mworago?! Aku yang memesannya terlebih dahulu! Kau yang merebutnya dari diriku!”
“Aku yang merebutnya? Apa kau tidak salah tuduh?! Aku yang membelinya terlebih dahulu! Jadi ini milikk dan kau tidak punya hak untuk menjadikannya milikmu!”
Sejenak aku tertawa kecil saat mengingat kembali pertemuan kedua diriku dengan dirinya itu.
Peristiwa itu begitu konyol.
Kami berteriak-teriak seperti orang gila di tengah pusat pertokoan hanya karena sebuah topi.
Karena peristiwa itu pula aku menjadi benci terhadap dirinya, tetapi untungnya kebencian itu tidak berangsur lama.
Apa mungkin pertemuan kami yang ketigalah yang menjadikan diriku selalu berdebar saat berada di dekatnya?
-----------------------------------------------------------
31 Desesmber 2006
Sepertinya aku berjodoh dengan Ji Yong.
Pertemuan ketiga kami terjadi saat malam perayaan tahun baru.
Itulah kenangan yang tidak pernah kulupakan.
Kami diundang ke dalam sebuah pesta perayaan yang sama dan aku terkejut saat kembali melihat dirinya.
“Ya! Kau?!” Aku terkejut saat melihat dirinya termenung dengan riasan yang berantakan di sebelah lorong toilet wanita.
Ia menatapku dengan tatapan dingin.
“Apa maumu?” tanyanya dengan berlinang air mata.
Mendengar responnya entah mengapa hatiku merasa iba.
Kulepas jasku lalu mengenakannya di atas bahunya.
Ia tertegun saat aku melakukan hal itu kepada dirinya.“Kha cha!”
Wajahnya berubah menjadi heran saat aku berkata seperti itu kepadanya sambil mengulurkan tangan.
“Sebentar lagi hitungan mundur itu akan dimulai, apa kau rela melewatkannya begitu saja?”
Aku menjelaskan maksudku.
Ia tersenyum hambar, tetapi ia tetap menggapai uluran tanganku.
Aku menggandengnya menuju kerumunan orang yang sedang berdiri di bawah langit cerah pada malam hari itu.
Mimik wajahnya ternyata belum juga berubah.
Aku masih dapat melihat sebuah kesedihan terukir di wajahnya.“No gwenchana?” tanyaku.
Ia menggeleng cepat, namun tiba-tiba ia bersembunyi di belakangku saat seorang pria menghampiri kami.
Aku penasaran dengan tingkahnya itu.
Apakah laki-laki itu memiliki hubungan dengan dirinya?
“Waegeurae?”
Ia tetap menggeleng saat kuajukan pertanyaan itu, tetapi kali ini aku tidak puas dengan jawabannya itu.
“Ia mantan-mu?” Aku mencoba memancing sebuah jawaban pasti dari dirinya.
Kali ini wajahnya terlihat ingin memungkiri, namun semuanya telah terbaca olehku.
“Aku sudah tau itu, kau boleh meminjam diriku malam ini untuk melupakannya.”
Ia mulai teresenyum kecil ke arahku.
Memang pernyataan yang barusan kuucap terdengar konyol, akan tetapi aku turut senang jika dapat membantunya.
Malam itu, seolah rasa dendamku terhadap dirinya telah terhapuskan.
Aku baru menyadari bahwa perbedaan antar benci dan cinta sangatlah tipis.
Tidak ada yang tahu kapankah sebuah kebencian dapat berubah menjadi rasa cinta, sampai aku merasa bahwa di dekatnya merupakan suatu kebahagiaan terindah dalam hidupku.
-----------------------------------------------------------
29 Januari 2007
Ji Yong resmi menjadi namja chingu-ku
Aku kembali tersenyum kecut saat melihat tulisan pada kotak bertanggal dua puluh sembilan itu.
Hari itu—hari di mana aku mengumpulkan seluruh keberanian untuk mengakui perasaanku di hadapannya.
Ini memang bukan pertama kalinya, tetapi ini pun tidak dapat dianggap semudah yang dikira.
Setelah menjalin persahabatan dengannya, akhirnya aku pun menyadari bahwa diriku memiliki perasaan lain terhadap dirinya selama ini.
Gugup dan debar jantung selalu menghantui diriku saat bersama dengannya.
Aku berusaha menutupi semua itu, tetapi ini tidak dapat berlangsung selamanya.
“Hae Min~a, kau pulang sendirian hari ini?”
Aku bertanya sambil menatap butiran-butiran yang yang menggelantung di sisi jendela.“Ye, waeyo?”
“Anio, hanya saja—”
Tenggorokanku seperti tercekat oleh sesuatu, entah mengapa keberanian itu lenyap seketika.“Ye?” Hae Min menatapku dengan padangan bingung.
“Chogiyo..umm—” Ucapanku lagi-lagi terhenti. Kali ini karena tawaan Hae Min yang tiba-tiba menyeruak tanpa sebab.
“Hae Min~a, mengapa tertawa?”
“Anio, aku hanya merasa bahwa kau lucu sekali, sebenarnya apa yang hendak kau katakan? Sedari tadi kulihat kau gugup sekali, memang apakah ada yang salah?”
Kali ini Hae Min memang sudah curiga dengan gerak-gerikku.
"Geurae, kau terlalu lama berpikir, lebih baik aku yang terlebih dahulu berbicara.”
Aku mengangkat tinggi kedua alisku sambil mengangguk terpaksa.
“Ara, memang apa yang hendak kau bicarakan?” tantangku.
Ia tersenyum ke arahku lalu menghela nafas dengan pelan, kemudian ia menghadap ke arah jendela yang terbuka itu.
“KWON JI YONG, KAU HARUS MAU MENJADI NAMJA CHINGU KU, ARA?”
Mataku membulat seketika saat ia meneriakkan pertanyaan itu.Mwo? Apa aku tidak salah dengar?
“Otte?” Ia bertanya kepadaku dengan nafas terengah-engah.
Aku hanya bisa tercengang membisu di hadapannya.
“Ji Yong~a, apa jawaban darimu?” tanyanya sambil menguncang tubuhku.
Aku mendekapnya erat.
“Hae Min~a, kau telah merebut kata-kataku.”
Aku berbisik pelan.
“Nun babo ya! Kau terlalu pengecut untuk mengucapkan itu, jika aku menunggunya mungkin aku sudah berubah pikiran.”
“Aku pengecut?”
Ia menangguk dengan bersemangat.
“YA! AKU BUKAN PENGECUT! WANG HAE MIN, SARANGHAE!” kuteriakan kata-kata itu keluar jendela sambil merangkulnya erat.
Sebutir tetesan air mata jatuh dan menodai halaman itu.
Aku tidak sanggup menahan tangis haruku,
Entah mengapa sekarang aku berharap agar dapat kembali ke masa itu.
-------------------------------------------------------
6 Februari 2007
Acara lembur bersama Ji Yong.
Lembur. Aku ingat akan saat itu—saat di mana ia berkata kepadaku bahwa ia bercita-cita ingin menjadi penulis terkenal.
Seminggu sebelumnya Hae Min mendapat tawaran dari sebuah perusahaan penerbit di Korea.
Aku melihat dirinya sudah amat dekat dengan impiannya itu.
Aku ingin selalu mendukungnya.
“Ji Yong~a, bisa kau temani diriku untuk malam ini saja?”
Ia merengek dengan wajah memelasnya.
“Arasseo, tetapi sebaiknya kau istirahat dulu, kau kan tidak perlu menyelesaikannya hari ini juga?”
Aku tahu benar akan sifatnya.
Ia selalu keras kepala, namun aku tahu bahwa adalah seseorang yang tidak pantang menyerah.
Ia menggeleng dengan pasti.
“Waeyo? Kemarin editor sudah menagih script dariku, jadi mana mungkin aku dapat mengundurnya lagi.”
Aku hanya dapat menghela nafas saat mendengar bantahannya itu.
“Geurae, aku akan menemanimu,” jawabku dengan nada sedikit terpaksa.
“Oh yah, bukannya lirik lagumu juga belum selesai? Bagaimana jika kau mengerjakannya sambil menemaniku.”
Benar katanya, aku baru ingat bahwa lagu ciptaanku itu belum sepenuhnya selesai.
Lebih baik aku mengerjakannya sekarang.
Jam sudah menunjukan pukul dua dini hari.
Sekilas kulihat Hae Min sudah tertidur pulas di meja komputernya itu.
Wajahnya terlihat damai dan aku enggan membangunkan tidurnya itu.
Kutatap kertas-kertas lirik dan partitur di hadapanku.
Semuanya sudah selesai kukerjakan dan sekarang aku ingin mencoba untuk memainkannya.
Aku mulai beranjak menuju piano yang terletak di sudut ruangan.
Kusentuh tuts-tuts hitam putih itu, kemudian mulai memainkannya.
Sejanak kumenutup mata, merenungkan setiap alunan nada yang bertending di telingaku.
Lagu ini kutulis untuk Hae Min—gadisku yang selalu mengisi hari-hariku.
Hari-hari yang kulewati bersamanya seakan tidak pernah terasa hambar di mataku.
Ia selalu ceria dan mengisi hari-hariku ini, oleh karena itu kunamai lagu ini “Haru Haru”.
“Ji Yong~a.” Seseorang memanggil namaku.
Permainan pianoku langsung terhenti.
Aku berbalik dan menemukan Hae Min menggeliat di sisi meja komputernya itu.
“Mian, aku membangunkanmu.. Sekarang, lanjutkan saja tidurmu.” Aku membalas tersenyum ke arahnya.
“Aku tidak bisa tidur lagi,” erangnya.“Waeyo?”
“Aku ingin mendengarkan lagu itu sekali lagi, boleh bukan?”
Ia berjalan mendekati piano yang sedang kumainkan ini.
Aku mengangguk setuju, lalu menggeser posisi dudukku.
Setelah itu aku menepuk jok kursi sambil menatap ke arahnya. Ia tersenyum ke arahku lalu duduk di sampingku.
Malam terasa begitu spesial di mataku.
Malam di mana aku dapat memainkan lagu khusus untuknya dan ia menyenderkan kepalanya di bahu kananku.
Sesekali ia tertawa melihat permainan pianoku.
“Sekarang giliranmu, mana hasil tulisanmu? Aku mau membacanya.”
“Andwe, tulisanku belum sempurna.”
Lagi-lagi alasan itu yang dilontarkan olehnya.
Aku mendengus kesal.
Akhirnya dengan cepat kubalikan tubuhku lalu beranjak menuju meja komputer miliknya.
“Ya! Apa yang ingin kau lakukan?!” Ia berteriak heran, namun aku mengacuhkannya begitu saja.
Aku langsung mengarahkan mouse komputer dan membuka data miliknya.
“Ya! Ji Yong~a!” Belum sempat aku bertindak lebih, ia sudah terlebih dahulu menahan tanganku.
Ia merebut mouse di tanganku lalu mencabut flashdisk yang terpasang di komputer itu.
“Hae Min~a. Waegurae? Mengapa aku tidak boleh melihatnya?” teriakku dengan nada kecewa.
“Karena ini belum sempurna.” Ia menjulurkan lidahnya seolah mencibir diriku.
Aku berusaha merebut benda itu dari dirinya, tetapi ia malah melarikan diri.
Kami terus berkejar-kejaran hingga tiba-tiba dirinya tersandung dan jatuh ke salah satu sofa di ruang tengah.
Aku menimpa tubuhnya.
Sejenak diriku membeku.
Jarang sekali diriku dapat melihat wajahnya dalam jarak sedekat ini.
Matanya membulat dan bibirnya seolah mengisyaratkan sesuatu kepada diriku.
Kami berdua menjadi sangat canggung, namun ia malah memejamkan matanya.
Aku tahu isyarat ini, kudekati wajahnya lalu perlahan kutempelkan bibirku lembut di bibirnya.
-----------------------------------------------------------------
Pada bulan yang sama kuperhatikan Hae Min mengisi tulisan di dua buah kotak yang tidak terlalu jauh jaraknya.
Aku terus membaca sampai aku menyadari bahwa kotak yang kedua itu bertanggal empat belas.
Mengingat yang terjadi perasaan bahagia dan haru langsung menyelimuti diriku seketika itu juga.
14 Ferbruari 2007
Hari Valentine Pertamaku dengan Ji Yong sekaligus hari pertama aku menemukan gejala itu.
Aku menatap heran kata ‘gejala’ yang tertulis di dalam kotak itu.
Aku baru menyadari bahwa selama ia bersama diriku, ia sudah merasaknnya.
Tetapi, mengapa dirimu begitu egois, Hae Min~a.
Kau selalu saja keras kepala dan berusaha menanggung sendiri.
Terkadang aku merenung, sebenarnya aku ini tidak bisa dikatakan sebagai namja-chingu yang baik untuk dirinya karena aku selalu merasa bahwa aku tidak berguna di hadapannya.
Sebenarnya akulah yang sangat membutuhkan dirinya dalam hidupku, namun aku tidak bisa membalas kebaikkannya itu.
Ji Yong, nun babo ya!
“Ji Yong~a, aku ingin menghabiskan malam ini dengan melihat bintang bersamamu, bagaimana?”
Kupandang wajahnya yang bersemu merah itu sambil mengangguk dengan pasti.
“Ara, tetapi sebaiknya kita tidak jauh-jauh dari rumah. Aku mengkhawatirkan kesehatanmu.”
Ia memasang wajah cemberutnya yang menurutku lucu itu.
“Aku benar-benar menyusahkan orang saja, di hari yang berbahagia seperti ini mengapa diriku malah sakit?!”
Ia mengutuki dirinya sendiri.
“Ya! Apa yang kau bicarakan? Setidaknya kita masih bisa bersenang-senang bukan—”
“Tapi aku telah membuatmu repot, Kwon Ji Yong.” Ia mencubit kedua pipiku.
“Ahh, apeu. Apa yang kau lakukan?”
Aku mengusap-usap pipiku, tetapi ia malah tertawa geli.
“Mian, tetapi aku gemas dengan dirimu. Mengapa kau bisa sabar sekali? Aku sang pemilik tubuh saja sudah kesal dengan penyakit ini.”
Saat itu—hari Valentine pertamaku dengan Hae Min tepatnya.
Kami hanya bisa melewati hari spesial itu dengan kegiatan yang menurut orang sama sekali tidak spesial.
Hal itu dikarenakan, seminggu sebelumnya kesehatan Hae Min mendadak menurun tanpa sebab.
Aku sempat khawatir dengan kondisinya yang sering pusing dan muntah-muntah itu, tetapi Hae Min selalu berkata bahwa dirinya baik-baik saja.
Ia selalu berusaha memasang wajah ceria di hadapanku.
“Ji Yong~a, apakah kau berjanji akan selalu berada di sampingku?”
Sejenak kutertegun dengan pertanyaannya itu.
Matanya seolah menerawang ke arah langit yang membentang luas di atas kami.
“Mengapa kau bertanya soal itu?”
Aku sedikit terheran.
“Anio, hanya saja aku berpikir bahwa sepertinya aku akan selalu membutuhkanmu.”
Ia menghela nafas pelan.
Aku tersenyum dan mengacak-ngacak rambutnya dengan lembut.
“Hae Min~a, seharusnya yang berkata seperti itu adalah diriku, jadi kau tidak perlu khawatir. Kita akan selalu bersama dan menggapai impian kita.”
Sebuah bintang jatuh tiba-tiba melintas di atas kami.
“Ahh, lihat itu!” Hae Min berseru kencang.
Aku pun tersontak kaget melihat reaksinya.
Kulihat sekilas ia melipat tangannya lalu mengucapkan harapan dalam hatinya, namun aku hanya bisa terkekeh dalam hati melihat tingkah lucunya itu.
****
Kubolak-balikan setiap lembaran yang tersisa di dalam buku diary itu, tetapi yang kutemukan hanyalah kotak-kotak kosong tanpa tulisan.
Beberapa lembaran bulan kuteliti dengan seksama.
Akan teapi, hasilnya sama saja.
Agustus 2007
Mataku seolah terdiam saat membaca tulisan itu.
Kuingat-ingat kembali kejadian itu—kejadian paling menyakitkan itu ternyata terjadi di bulan Agustus tepatnya saat hari ulang tahunku.
Dengan cepat kukibatkan lembar di bulan Agustus itu dan menuju kotak yang bertulisankan angka delapan belas.
18 Agustus 2007
Kuakhiri kisahku dengan Ji Yong.
“Saengil chukahamnida, saengil chukahamnida, sarang han neun Kwon Ji Yong, saengil chukahamnida!”
Aku tertawa lepas saat sahabat-sahabatku—Seung Hyun, Young Bae, Dae Sung, dan Seung Ri—mengejutkanku dengan nyanyian itu.
Kulihat wajah Hae Min yang berada di sampingku.
Ia seperti memaksakan tawanya demi menghiburku.
Belakangan ini sikapnya menjadi semakin aneh.
Ia mejadi jarang tersenyum seperti dulu.
Sebenarnya apa yang terjadi pada diri Hae Min?
“Ya! Ji Yong~a, ayo cepat buat permohonan!” seru Young Bae dengan bersemangat.
Aku memejamkan mataku kemudian mulai membuat permohonan dalam hati.
Sekilas kuperhatikan wajah Hae Min.
Kebahagiaan dan keceriaan seolah pupus dari benaknya itu.
Aku terus-terus bertanya dalam hati, namun aku tidak menemukan jawaban apapun.
Aku pernah bertanya kepadanya, tetapi ia menutupi semuanya dari diriku.
Aku terasa seperti orang asing dalam hidupnya.
“Ji Yong~a, aku mau kita putus.”
“Mwo?! Hae Min~a, kau jangan membuat candaan yang bodoh seperti itu.”
Aku tersenyum hambar.
“Aku serius.” Ia menatapku dingin.
Aku ubah posisi dudukku sehingga menghadap dirinya.
Kugenggam kedua tangannya yang memucat itu.
“Hae Min~a, sebenarnya apa alasannya kau mengatakan ini padaku?”
Ia terdiam, namun perlahan butiran air mata melucur keluar dari kantung matanya.
Hening. Aku benci keheningan ini.
Mengapa di hari yang kuanggap sangat bahagia ini, ia justru mengatakan hal pahit itu?!
“Ya! Jawab!” Emosiku sudah tak tertahankan lagi.
Aku mengguncang tubuhnya.
Ia terisak. “Mian, aku tidak ber—”
Belum aku menyelesaikan kalimatku, tetapi ia sudah terlebih dahulu mengambil tas lalu berlari pergi meninggalkanku.
Hari itu merupakan hari yang kurasa paling tidak adil di dalam hidupku.
Mengapa ia sema sekali tidak memikirkan perasaanku?
Mengapa ia malah tidak memberitahu mengenai penyakit yang dideritanya kepadaku?
Ia malah memilih untuk menutupinya dari diriku.
--------------------------------------------------------
Membaca diary ini rasanya sama saja seperti mengembalikan kesedihan yang berusaha kukubur dua tahun yang lalu.
Kotak bertanggal delapan belas itulah yang merupaka kotak terakhirnya yang ditulisnya.
Ia tidak meninggalkan pesan apapun lagi.
Hanya sebuah kenangan pahit yang tertulis di sana.
Aku bermaskud untuk menutup kembali buku itu, namun sebuah lipatan kecil di akhir buku seperti memanggilku untuk menariknya.
Rasa penasaranku semakin bertambah dan akhirnya kuputuskan untuk menariknya.
Ternyata itu sebuah amplop.
Amplop itu berwarna lavender dan di depannya tertulis tertulis namaku.
Kubuka perlahan amplop itu dan lagi-lagi aku menemukan sebuah foto.
Foto diriku dan Hae Min saat di kencan pertama kami.
Rona senyuman manisnya itu masih menggembang di wajahnya dan aku rindu saat-saat itu.
Andai Tuhan tidak memanggilnya.
Andai ia tidak menderita penyakit jahanam itu, aku pasti masih bisa melihat senyuman manis itu ada di hadapanku sekarang.
Aku menemukan selembar lipatan kertas yang terselip di belakang foto itu.
Kubentangkan kertas itu dan ternyata aku menemukan sebuah surat tertulis di atasnya.
Ji Yong,
Kau tahu, aku merasa sangat bahagia karena dapat menyebut namamu kembali.
Saat aku mengetahui yang sebenarnya, ternggorokanku terasa tercekat saat mengucapkan namamu.
Aku merasa diriku tidak pantas untuk memanggil dirimu lagi.
Aku tidak ingin melibatkan dirimu lebih jauh.
Kadang aku berpikir bahwa aku masih ingin bersamamu.
Aku merindukan tawa dan dukunganmu, tetapi ternyata semua itu hanya boleh ada dalam anganku saja.
Aku terlalu egois jika ingin memiliki semua itu karena itu sama saja halnya dengan memupuskan impianmu.
Akhirnya aku sadar bahwa aku harus melepaskan dirimu.
Memang rasanya sulit untuk percaya karena aku masih membutuhkan dirimu, tetapi aku bersedia menahan segala penderitaannya.
Aku hanya mau melihat kau bahagia, sekalipun aku tidak berada di sampingmu.
Hari demi hari berjalan tanpa dirimu.
Penyakitku semakin parah dan aku tahu bahwa waktuku sudah tidak lama lagi.
Rasa sakit ini semakin menggerogoti diriku.
Kucoba untuk berdiri di bawah derasnya hujan, mengira setiap tetesannya akan melunturkan rasa sakitnya, tetapi aku salah.
Semuanya hanya sia-sia saja karena yang kubutuhkan adalah dirimu.
Aku ingin merasakan dekapanmu untuk terakhir kalinya, tetapi sekali lagi aku berusaha menghardik diriku untuk mengurungkan niat itu.
Mianhae, karena telah menutupi semuanya.
Sekalipun aku telah menginggalkan dirimu, tetapi aku ingin melihat sebuah senyum tetap terulas di wajahmu.
Hae Min
Tetesan air mataku sudah tak terbendung dan membasahi lembaran itu.
Saat membacanya aku merasa bahwa aku begitu tidak berguna.
Rasa sakit itu terus menghancurkan tubuhnya perlahan, tetapi aku malah tidak dapat berbuat apa-apa untuknya.
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Ia ingin melihatku bahagia, tetapi tidak dengan cara seperti ini.
Aku berusaha tersenyum seperti apa yang tertulis di sana.
Menutup buku diary itu dan menyimpannya di dalam kotak seperti semula.
Aku berjanji tidak akan melupakan dirimu, Hae Min.
Sekalipun dirimu tidak berada di sisiku, tetapi aku yakin aku akan selalu menerangiku layaknya bintang yang kau gemari itu.
Heo Young Saeng seorang anggota dari SS501 melakukan debut solo!
Dengan singlenya berjudul "Let It Go".
Check it out videonya! keren deh beneran, suaranya juga bagus.. :*
Yang mau download Mp3 nya silahkan. :)
Lyrick Romanisasi + Hangul
내게 무심한 듯 차갑기만 한 니 맘 난 잘 모를 것만 같아 니가 난 어려워
아직까지 해보고 해도 이런 여자라서 좁고 좁은 소심한 나라서 매일 돌고 돌아 계속
이런 내가 그런 네게 자꾸 끌려가 불안할 뿐인데 아파질 뿐인데
제발 뭐라도 말을 해봐 내게 답답하게 거짓말이라도 해봐 넌 갑갑하게
아직까지 해보고 해도 이런 여자라서 좁고 좁은 소심한 나라서 매일 돌고 돌아 계속
이런 내가 그런 네게 자꾸 끌려가 불안할 뿐인데 아파질 뿐인데
제발 뭐라도 말을 해봐 내게 답답하게 거짓말이라도 해봐 넌 갑갑하게
naege musimhan deut chagapgiman han ni mam nan jal moreul geotman gata niga nan eoryeowo
ajikkkaji haebogo haedo ireon yeojaraseo jopgo jobeun sosimhan naraseo maeil dolgo dora gyesok
ireon naega geureon nege jakku kkeullyeoga buranhal ppuninde apajil ppuninde
jebal mworado mareul haebwa naege dapdaphage geojitmarirado haebwa neon gapgaphage
ajikkkaji haebogo haedo ireon yeojaraseo jopgo jobeun sosimhan naraseo maeil dolgo dora gyesok
ireon naega geureon nege jakku kkeullyeoga buranhal ppuninde apajil ppuninde
jebal mworado mareul haebwa naege dapdaphage geojitmarirado haebwa neon gapgaphage
아쉬울 것도 없다 너 말고도 많으니
기회는 단 한 번 더는 묻지 않아
아니면 쿨하게 보내줄게
sigan ttawin eopda milgo danggimyeo neoreul eotgien
aswiul geotdo eopda neo malgodo manheuni
gihoeneun dan han beon deoneun mutji anha
animyeon kulhage bonaejulge
just let it go let it go let it go
원래 이런 난데 모르지 않을 텐데
wollae ireon nande moreuji anheul tende
I just let it go let it go let it go.. oh no
망설일 필요 없어 그 까짓 거
mangseoril pillyo eobseo geu kkajit geo
시작 조차 없다 니가 날 가지고 또 잰다면
손해 볼 것도 없다 원래 혼자였으니
진심이 없다면 나도 줄 게 없어
원래 넌 내께 아니었으니
sijak jocha eopda niga nal gajigo tto jaendamyeon
sonhae bol geotdo eopda wollae honjayeosseuni
jinsimi eopdamyeon nado jul ge eobseo
wollae neon naekke anieosseuni
just let it go let it go let it go
원래 이런 난데 모르지 않을 텐데
wollae ireon nande moreuji anheul tende
I just let it go let it go let it go.. oh no
망설일 필요 없어 그 까짓 거
mangseoril pillyo eobseo geu kkajit geo
모르겠니 모르겠니
강한 척 하는 말 뒤에 숨은 내 맘
아닌 척 가는 척
moreugenni moreugenni
ganghan cheok haneun mal dwie sumeun nae mam
anin cheok ganeun cheok
내민 손 놓치지 말란 말
naemin son nochiji mallan mal
just let it go let it go let it go
원래 이런 난데 모르지 않을 텐데
wollae ireon nande moreuji anheul tende
I just let it go let it go let it go.. oh no
망설일 필요 없어 그 까짓 거
mangseoril pillyo eobseo geu kkajit geo
너 땜에 지쳐가도 모른 척 못 본 척 그게 난 너무 아파와
차라리 싫다면 속 시원하게 싫다고 솔직하게 가 달라고 그게 난 더 낫잖아
니 말이 어려워 니 맘을 모를 것 같애 모든 게 장난인지 착각해 버릴 것 같애
조금만 마음을 열어 확실히 말해줘 뭐가 됐든 니 말에 따라줄게 난
차라리 싫다면 속 시원하게 싫다고 솔직하게 가 달라고 그게 난 더 낫잖아
니 말이 어려워 니 맘을 모를 것 같애 모든 게 장난인지 착각해 버릴 것 같애
조금만 마음을 열어 확실히 말해줘 뭐가 됐든 니 말에 따라줄게 난
neo ttaeme jichyeogado moreun cheok mot bon cheok geuge nan neomu apawa
charari sirtamyeon sok siwonhage sirtago soljikhage ga dallago geuge nan deo natjanha
ni mari eoryeowo ni mameul moreul geot gatae modeun ge jangnaninji chakgakhae beoril geot gatae
jogeumman maeumeul yeoreo hwaksilhi malhaejwo mwoga dwaetdeun ni mare ttarajulge nan
charari sirtamyeon sok siwonhage sirtago soljikhage ga dallago geuge nan deo natjanha
ni mari eoryeowo ni mameul moreul geot gatae modeun ge jangnaninji chakgakhae beoril geot gatae
jogeumman maeumeul yeoreo hwaksilhi malhaejwo mwoga dwaetdeun ni mare ttarajulge nan
Jumat, 13 Mei 2011
Oh My Sweet Maid – Chapter 1
NOT FOR SILENT READER..

Title : Oh My Sweet Maid
Chapter : 1
Author : Shinstarkey/Nanonadia
Cast : Onew Lee Jinki, Victoria Song
Other cast : Nichkhun, Shinee Member
Language : Indonesia
ps : Maaf sama yang gak suka Onew di pasangin sama Victoria yah ^^
__
“JIIIIIIIINNNNKKIIIIII.. sudah berapa kali appa bilang!! Kau harus jadi anak yang baik.. bukan anak berandalan seperti ini!!!” Suara itu menggema di sektar rumah.
Terlihat Jinki yang kerap di panggil Onew yang sedang menundukan kepalanya dan terlihatpula Appanya yang sedang memarahinya.
“Kau tahu perbuatanmu itu??!! Kau sudah membuat malu keluarga!! Nama keluarga kita sudah tercoreng karena sifatmu yang tidak karuan itu!! Sampai kapan kau mau terus bgini hah??”
Onew hanya menundukan kepala mendengar suara Appanya itu. Sebenarnya ia tidak perduli dengan semua omongan appanya yang dia anggap hanya ‘omong kosong’. Beginilah Onew sehari-hari. Dia hanya membuat ulah dengan kenakalannya. Sering memalukan keluarganya yang cukup di kenal banyak orang karena perusahaan yang di kelola Appanya sangat berjaya. Dan kenakalan yang ia lakukan hari ini adalah memakai credit card dengan se-enaknya sampai tagihan mencapai 10.000.000 (won).
Onew tiba-tiba berjalan ke arah pintu kamarnya tanpa memperdulikan Appanya yang dengan serius terus menatapnya dan memarahinya.
“HEI!! Jinki.. Kau sudah mulai kurangajar dengan orang tua?!! Appa sedang berbicara denganmu. Cepat kembali kesini!” teriak Appanya lagi sambil membentak ke arah onew. Tapi onew tidak menghiraukannya lagi. Dia tetap saja berjalan ke arah kamarnya.
__
Lee Jinki.. yang kerap di sapa Onew ini memang sangat menyusahkan orang tuanya. Dia sering sekali membuat malu keluarga. Berbuat nakal. Dan sifat jeleknya yang sering berhura-hura dengan uang orangtuanya. Ini semua di sebabkan karena Eommanya yang suka memanjakannya. Semua kemauan onew selalu di penuhi. Dan urusan wanita. Onew sekarang memang tidak punya pacar. Tapi itu bukan masalah baginya. Dia mempunyai banyak wanita di sekelilingnya yang kapan saja bisa ia manfaatkan untuk menjadi pacarnya dalam sehari atau dua hari. Itu di sebebkan karena keTampanan wajah onew yang membuat semua wanita terpesona.
(Onew P.O.V)
“Jinki-ah.. Appa dan Eomma akan pergi ke Jerman untuk beberapa bulan. Jaga dirimu baik-baik.. Eomma mempekerjakan pembantu untukmu, agar kau tidak kesulitan.. mengerti?” Sahut eomma saat hendak meninggalkan rumah. Aku merekahkan senyumku yang sepertinya jarang aku tunjukan pada mereka. Ya, aku tersenyum karena aku senang. Aku senang bila orangtuaku tak ada di rumah. Sepertinya aku akan bebas sekarang. Hahaha.
“Jinki.. appa tidak mau dengar kau berbuat onar selama appa tidak mengawasimu.” Appa menatapku lurus. Tapi aku hanya tersenyum ke arahnya. Aku memancarkan ekspresi menurut padanya.
Dan kemudian merekapun pergi. “Ahh akhirnya aku bebas…….”
__
Aku berbaring di kasurku. “Aku pikir sekarang aku bisa membuat pesta di rumah. Tanpa gangguan eomma dan appa… “
Aku segera mengambil telepon genggamku dan menelepon ke-empat teman baikku. Key, Minho, Jonghyun dan Taemin.
Pikiranku sudah menuju ke hal yang nakal. “mungkin aku bisa menggunakan ATM appa untuk keperluan Pesta malam ini..” dan akupun mulai tersenyum licik.
Tiba-tiba aku pun teringat pada sesuatu. “ ‘Pembantu’ yang eomma pekerjakan disini.. apa dia akan mengadu dengan eomma..??” sahutku tiba-tiba.
Dan aku mulai berfikir lagi. Sepertinya tidak. Pasti pembantu yang eomma pekerjakan itu hanya seorang nenek-nenek tua yang bila di ancam dia bisa menutup mulutnya, ya.. aku rasa iya.
__
Aku duduk di ruang TV sambil memakan seEmber popcorn yang ada di tanganku. Aku menunggu ke-empat temanku itu datang. Dan tak lama suara bel berbunyi.. Aku segera beranjak dari sofa menuju pintu rumah.
Dan TADA…
Dugaanku salah.. bukan ke-empat temanku yang ada di hadapanku sekarang. Tapi seorang wanita cantik. Mengapa gayanya sangat kuno? Dengar rambut di cepol dan baju agak lusuh dengan membawa tas besar yang di sangkutkan pada lengannya..
Dan kemudia aku mulai teringat pada perkataan eomma tentang seorang pembantu rumah tangga yang disuruhnya menemaniku?
“Annyeonghaseyo~ apa ini rumah tuan Lee?” sahut wanita itu dan menundukan dirinya 90 drajat. Aku menganggukan kepala kearahnya dan memperhatikannya dari atas hingga bawah.
“ Senang bertemu dengan anda.. saya Victoria.. pembantu ramah tangga yang akan bekerja disini.. “ sahutnya sambil menundukan badannya lagi. Aku mengangkat sebelah alisku dan terus menatapnya dengan membubuhkan tampang angkuh. Namanya sangat bagus. Tidak cocok sebagai nama pembantu.
“Baiklah.. kau sudah boleh bekerja disini. “ sahutku santai dan langsung mempersilahkan wanita itu masuk.
Wanita itu cantik, tapi mengapa jadi pembantu? Dan gayanya begitu kuno? Aku memperhatikan postur tubuhnya dari belakang. Terlihat sexy memang.. hahahah… tapi dia tidak akan selevel denganku. Dia pembantu.
Aku pikir umurnya tak jauh berbeda denganku, mungkin dia lebih tua dariku 2 atau 3 tahun.
__
aku tertawa terbahak-bahak saat Key menunjukan sifat konyolnya di depan kami ber-empat.. dan kemudian jonghyun merusak suasana dengan pertanyaan yang sedikit tidak penting..
“Ya! Onew.. wanita itu pembantumu yang baru, huhh?” jonghyun menyenggol lenganku dengan sikutnya.
“Iya.. dia pembantu baru, eommaku yang menyuruhnya bekerja disini..” sahutku agak datar sambil memakan keripik kentang yang ada di tanganku..
“apa kau memperhatikannya, onew? Dia cantik.. sexy.. tidak biasanya ada pembantu muda seperti dia..” jonghyun masih terus menatapku.
“ya, aku tahu itu.. terus? “ aku sedikit mengacuhkan jonghyun dan mulai menoleh kearah taemin dan mengambil minuman soda yang hendak di minum taemin.
“kau sangat beruntung tinggal dengan wanita cantik seperti itu.. kalau dia tetap menjadi pembantumu aku akan terus main kerumahmu.. hahahhaa”
Aku menatap jonghyun dengan sangat heran, mengapa dia berbicara seperti itu. Wanita itu hanya seorang pembantu apa yang harus di banggakan darinya.
“terserah mau mu… tapi aku rasa seleramu sangat murahan. Hahahha” aku tertawa terbahak-bahak menatap jonghyun yang hanya tersenyum dengan kata-kataku tadi.
“hey onew.. kau tidak bisa melihatnya.. dia bukan hanya pembantu.. dia seakan wanita cantik yang sekarang adalah milikmu.. dia berada bersama mu 24 jam.. kau bisa melakukan ‘apa saja’ dengannya..” sahut jonghyun lagi. Perkatanya itu membuat tawaku berhenti dan baru menyadarinya. Victoria adalah wanita yang tidak begitu buruk. Mungkin hanya profesinya saja.
Aku merangkul leher jonghyun sambil tersenyum. “jonghyun.. thanks.. kau menyadarkanku.” Aku segera berjalan keluar kamar hendak menemui Victoria.
__
Bau gosong tercium saat aku keluar dari kamar, dan asap hitam mengebul di sekitar ruangan. Apa-apaan ini ?
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA~” suara teriakan yang sedikit mengagenkan ku itu berasal dari dapur. Aku segera berlari menuju dapur dengan cepat.
Dan kemudian aku menemukan Victoria yang sedang loncat-loncat dan berteriak di depan kompor dengan api yang sudah mulai membesar. DAPUR KU KEBAKARAN ?
Tanpa pikir panjang aku langsung memadamkan api itu dengan air yang ku ambil dari dari washtuffle dapur.Akhirnya api itu mati.
Aku menatap Victoria yang sedang menutupi mukanya. Niatku mendekatinya hilang seketika saat menyadari wanita itu hanya membuat masalah.
“Ya! Apa yang kau lakukan dengan dapurku, huhh ?” aku menatapnya dengan tatapan marah, bagaimana tidak, dia hampir menghancurkan rumahku. Belum 5 jam dia bekerja disini dan dia sudah membuat ulah. Apa maksudnya ini ?
“ Maaf.. saya tidak sengaja.. tiba-tiba api di kompor itu membesar dan saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan.. “ Victoria memundukan kepalanya. Aku memutar bolamataku dan menghela napas. Aku tidak habis fikir dengan pembantu ini. Apa dia bisa kerja huhh ?
“Ya! Kau tahu.. kau hampir saja membakar rumahku! Sebenarnya kau bisa kerja atau tidak sih? Menyusahkan saja” aku meninggalkan victoria dan berjalan ke arah kamar lagi dengan perasaan yang sangat amat kesal !
(Onew P.o.v End)
__
(Victoria P.o.v)
Aku membersihkan seluruh ruangan dapur yang hampir terbakar ini. Begitu cerobohnya aku sampai hampir membuat rumah ‘Majikan’ku kebakaran. Dan memang benar apa katanya. Aku memang tidak bisa bekerja.. bekerja bukanlah kebiasaanku. Dan ini sangat menyulitkan.
Aku bergegas bangun mengerjakan apa yang aku bisa kerjakan di rumah ini. Semoga saja aku tidak ceroboh lagi.
‘mysteric mysteric molla.. molla.. ajik naneun molla…’
Suara teleon genggamku berbunyi dengan nyaringya. Dan mendapatkan nama Nichkhun yang sedang menelepohoneku itu, dia kekasihku. Segera ku angkat..
“ada apa kau menghubungiku, huh?” aku sedikit mengecilkan volume suaraku, aku tidak ingin majikanku itu tahu bahwa aku sedang menelephone.
“ya! Mengapa kau berbicara sangat pelan.. ? dimana kau ?”
“hey.. kau menelephoneku hanya untuk menanyakan aku dimana? Sudah aku bilang.. aku tidak ada waktu untukmu. Gara-gara ulahmu kemarin aku hampir saja di bunuh oleh keluargaku… dan gara-gara kau juga aku harus mengerjakan hukuman ini..!!” sahutku agak kesal kepadanya.
“aku.. minta maaf.. tapi bisa kah kita bertemu ? kau tahu.. kau kangen ‘minum-minum’ dengan mu dan ‘bermesraan’ denganmu.. “
Aku memutar bolamataku saat mendengar perkataan Nichkhun tadi. “jangan berbicara hal seperti itu!. Sudah! aku banyak kerjaan.. “ aku sedikit kesal dengan kata-kata nichkhun. Dia masih menganggapku seperti yang dulu, padahal aku sudah ingin berubah. Dan gara-gara dia pula aku harus menjadi pembantu seperti ini. Aku segera menutup telephone genggamku dan memasukkannya ke saku bajuku.
“VICTORIAAAAAAAAAAAAA~!!!!” teriakan itu bergeming di kupingku. Lagi lagi majikanku itu. Jinki..
Aku segera berlari menuju kamar Jinki dan mengetuk pintu kamarnya.
Pintu terbuka dan jinki berdiri tepat di depanku.
“Ya! Victoria!! Belikan kami 5 botol bir dan makanan kecil.. kami akan berpesta disini! Dan aku harap kau tidak akan bilang ke Eomma tentang hal ini. Mengerti !!”
Dia mengasih sejumlah uang padaku dan menyuruhku menutup mulut soal ‘pesta Bir’ yang akan dia lakukan dengan teman-temannya. Ternyata dia sama saja seperti anak berandalan di jalan. Hanya dia orang kaya. Aku segera menuruti perintahnya.
(Victoria P.o.v End)
__
(Onew P.o.v)
Suara musik yang kencang membuat suasana pesta ini semakin ramai walau hanya di lakukan oleh lima orang. Kami tidak memikirkan jam berapa sekarang. Kami hanya terus minum-minum sambil sesekali bergurau membicarakan hal yang biasa di bicarakan pria tentang wanita sexy.. hahaha
Walaupun si magnae taemin masih terlihat kecil, tapi dialah yang paling semangat membicarakan para wanita. Mungkin itu akibat otaknya sudah di racuni oleh aku, key, jonghyun dan minho yang sedikit tidak beres.
“Onew Hyung! Apa kita boleh memanggil wanita-wanita untuk kesini? Tidak seru bila berpesta tidak ada wanita-wanita cantik yang menemani..” kata minho sabil terus meminum bir nya.
“Aku setuju.. lagian tidak ada orangtuaku disini.. kita bebas. Hahhaha” aku tertawa sambil meneguk bir milikku berkali-kali.
Tiba-tiba jonghyun datang menghampiriku. “Onew bagaimana dengan pembantumu itu? Tidak di ajak juga? hahahha”
“Hey jonghyun! Kau gila? Pembantu itu sangatlah ketinggalan jaman! Mungkin dia tidak mengerti cara berpesta seperti kita! Dia hanya pembantu kuno.” Sahutku dengan entengnya. Tiba-tiba jonghyun berjalan keluar kamar. Apa dia sudah benar-benar gila? Mengajak pembantu berpesta.. Aneh.
(Onew P.o.v end)
__
(Victoria P.o.v)
HUH!! Suara musik itu membuatku pusing, sudah lama aku tidak mendengar musik kencang seperti itu dan sekarang malah membuat kupingku sakit. Ternyata Jinki bukanlah orang yang ku duga. Aku pikir dia orang kaya yang sangat elegan, tampan, sempurna seperti yang di cerminkan oleh orang tuanya itu. Tapi ternyata malah anak berandalan yang seperti ini. tak jauh beda sih denganku. Tapi aku kan sudah berubah. Dulu aku memang sering melakukan pesta seperti itu juga, tepatnya bersma nichkhun. Dia yang mengajarkan aku semua tentang hal seperti ini.
‘Ding Dong’ suara bell yang sedikit terpendam karena suara musik yang sangat kencang memaksaku untuk bangun dan melihat siapa yang datang. Aku segera menuju kearah pintu.
Disana berdiri 5 orang wanita cantik dengan pakaian sangat sexy, yang hampir terlihat seperti memakai bikini. Huh?
“Hey! Siapa kau ? wanita simpanan Onew yang baru ? hah?” sahut salah satu wanita yang berdiri paling depan. Dia menyebut nama ‘Onew’ ? siapa Onew?
“onew? Maaf disini tidak ada yang namanya Onew.. mungki kalian salah rumah.” Sahutku sedikit datar menatap lima wanita itu.
“ seungyeon.. mungkin dia pembantu disini jadi tidak tahu siapa onew.. “ sahut wanita di belakangnya kepada wanita yang menanyaiku tadi.
“Onew.. Onew.. bisa saja dia mencari pembantu secantik ini.. tapi aku tak akan pernah mau kalah dengan pembantu ini.. “ sahut wanita bernama seungyeon tadi. Aku hanya menggelengkan kepala. Terserah dia mau bilang apa…
Tiba-tiba seseorang menghampiriku dari belakang merangkulku
siapa dia?…..
TBC

Title : Oh My Sweet Maid
Chapter : 1
Author : Shinstarkey/Nanonadia
Cast : Onew Lee Jinki, Victoria Song
Other cast : Nichkhun, Shinee Member
Language : Indonesia
ps : Maaf sama yang gak suka Onew di pasangin sama Victoria yah ^^
__
“JIIIIIIIINNNNKKIIIIII.. sudah berapa kali appa bilang!! Kau harus jadi anak yang baik.. bukan anak berandalan seperti ini!!!” Suara itu menggema di sektar rumah.
Terlihat Jinki yang kerap di panggil Onew yang sedang menundukan kepalanya dan terlihatpula Appanya yang sedang memarahinya.
“Kau tahu perbuatanmu itu??!! Kau sudah membuat malu keluarga!! Nama keluarga kita sudah tercoreng karena sifatmu yang tidak karuan itu!! Sampai kapan kau mau terus bgini hah??”
Onew hanya menundukan kepala mendengar suara Appanya itu. Sebenarnya ia tidak perduli dengan semua omongan appanya yang dia anggap hanya ‘omong kosong’. Beginilah Onew sehari-hari. Dia hanya membuat ulah dengan kenakalannya. Sering memalukan keluarganya yang cukup di kenal banyak orang karena perusahaan yang di kelola Appanya sangat berjaya. Dan kenakalan yang ia lakukan hari ini adalah memakai credit card dengan se-enaknya sampai tagihan mencapai 10.000.000 (won).
Onew tiba-tiba berjalan ke arah pintu kamarnya tanpa memperdulikan Appanya yang dengan serius terus menatapnya dan memarahinya.
“HEI!! Jinki.. Kau sudah mulai kurangajar dengan orang tua?!! Appa sedang berbicara denganmu. Cepat kembali kesini!” teriak Appanya lagi sambil membentak ke arah onew. Tapi onew tidak menghiraukannya lagi. Dia tetap saja berjalan ke arah kamarnya.
__
Lee Jinki.. yang kerap di sapa Onew ini memang sangat menyusahkan orang tuanya. Dia sering sekali membuat malu keluarga. Berbuat nakal. Dan sifat jeleknya yang sering berhura-hura dengan uang orangtuanya. Ini semua di sebabkan karena Eommanya yang suka memanjakannya. Semua kemauan onew selalu di penuhi. Dan urusan wanita. Onew sekarang memang tidak punya pacar. Tapi itu bukan masalah baginya. Dia mempunyai banyak wanita di sekelilingnya yang kapan saja bisa ia manfaatkan untuk menjadi pacarnya dalam sehari atau dua hari. Itu di sebebkan karena keTampanan wajah onew yang membuat semua wanita terpesona.
(Onew P.O.V)
“Jinki-ah.. Appa dan Eomma akan pergi ke Jerman untuk beberapa bulan. Jaga dirimu baik-baik.. Eomma mempekerjakan pembantu untukmu, agar kau tidak kesulitan.. mengerti?” Sahut eomma saat hendak meninggalkan rumah. Aku merekahkan senyumku yang sepertinya jarang aku tunjukan pada mereka. Ya, aku tersenyum karena aku senang. Aku senang bila orangtuaku tak ada di rumah. Sepertinya aku akan bebas sekarang. Hahaha.
“Jinki.. appa tidak mau dengar kau berbuat onar selama appa tidak mengawasimu.” Appa menatapku lurus. Tapi aku hanya tersenyum ke arahnya. Aku memancarkan ekspresi menurut padanya.
Dan kemudian merekapun pergi. “Ahh akhirnya aku bebas…….”
__
Aku berbaring di kasurku. “Aku pikir sekarang aku bisa membuat pesta di rumah. Tanpa gangguan eomma dan appa… “
Aku segera mengambil telepon genggamku dan menelepon ke-empat teman baikku. Key, Minho, Jonghyun dan Taemin.
Pikiranku sudah menuju ke hal yang nakal. “mungkin aku bisa menggunakan ATM appa untuk keperluan Pesta malam ini..” dan akupun mulai tersenyum licik.
Tiba-tiba aku pun teringat pada sesuatu. “ ‘Pembantu’ yang eomma pekerjakan disini.. apa dia akan mengadu dengan eomma..??” sahutku tiba-tiba.
Dan aku mulai berfikir lagi. Sepertinya tidak. Pasti pembantu yang eomma pekerjakan itu hanya seorang nenek-nenek tua yang bila di ancam dia bisa menutup mulutnya, ya.. aku rasa iya.
__
Aku duduk di ruang TV sambil memakan seEmber popcorn yang ada di tanganku. Aku menunggu ke-empat temanku itu datang. Dan tak lama suara bel berbunyi.. Aku segera beranjak dari sofa menuju pintu rumah.
Dan TADA…
Dugaanku salah.. bukan ke-empat temanku yang ada di hadapanku sekarang. Tapi seorang wanita cantik. Mengapa gayanya sangat kuno? Dengar rambut di cepol dan baju agak lusuh dengan membawa tas besar yang di sangkutkan pada lengannya..
Dan kemudia aku mulai teringat pada perkataan eomma tentang seorang pembantu rumah tangga yang disuruhnya menemaniku?
“Annyeonghaseyo~ apa ini rumah tuan Lee?” sahut wanita itu dan menundukan dirinya 90 drajat. Aku menganggukan kepala kearahnya dan memperhatikannya dari atas hingga bawah.
“ Senang bertemu dengan anda.. saya Victoria.. pembantu ramah tangga yang akan bekerja disini.. “ sahutnya sambil menundukan badannya lagi. Aku mengangkat sebelah alisku dan terus menatapnya dengan membubuhkan tampang angkuh. Namanya sangat bagus. Tidak cocok sebagai nama pembantu.
“Baiklah.. kau sudah boleh bekerja disini. “ sahutku santai dan langsung mempersilahkan wanita itu masuk.
Wanita itu cantik, tapi mengapa jadi pembantu? Dan gayanya begitu kuno? Aku memperhatikan postur tubuhnya dari belakang. Terlihat sexy memang.. hahahah… tapi dia tidak akan selevel denganku. Dia pembantu.
Aku pikir umurnya tak jauh berbeda denganku, mungkin dia lebih tua dariku 2 atau 3 tahun.
__
aku tertawa terbahak-bahak saat Key menunjukan sifat konyolnya di depan kami ber-empat.. dan kemudian jonghyun merusak suasana dengan pertanyaan yang sedikit tidak penting..
“Ya! Onew.. wanita itu pembantumu yang baru, huhh?” jonghyun menyenggol lenganku dengan sikutnya.
“Iya.. dia pembantu baru, eommaku yang menyuruhnya bekerja disini..” sahutku agak datar sambil memakan keripik kentang yang ada di tanganku..
“apa kau memperhatikannya, onew? Dia cantik.. sexy.. tidak biasanya ada pembantu muda seperti dia..” jonghyun masih terus menatapku.
“ya, aku tahu itu.. terus? “ aku sedikit mengacuhkan jonghyun dan mulai menoleh kearah taemin dan mengambil minuman soda yang hendak di minum taemin.
“kau sangat beruntung tinggal dengan wanita cantik seperti itu.. kalau dia tetap menjadi pembantumu aku akan terus main kerumahmu.. hahahhaa”
Aku menatap jonghyun dengan sangat heran, mengapa dia berbicara seperti itu. Wanita itu hanya seorang pembantu apa yang harus di banggakan darinya.
“terserah mau mu… tapi aku rasa seleramu sangat murahan. Hahahha” aku tertawa terbahak-bahak menatap jonghyun yang hanya tersenyum dengan kata-kataku tadi.
“hey onew.. kau tidak bisa melihatnya.. dia bukan hanya pembantu.. dia seakan wanita cantik yang sekarang adalah milikmu.. dia berada bersama mu 24 jam.. kau bisa melakukan ‘apa saja’ dengannya..” sahut jonghyun lagi. Perkatanya itu membuat tawaku berhenti dan baru menyadarinya. Victoria adalah wanita yang tidak begitu buruk. Mungkin hanya profesinya saja.
Aku merangkul leher jonghyun sambil tersenyum. “jonghyun.. thanks.. kau menyadarkanku.” Aku segera berjalan keluar kamar hendak menemui Victoria.
__
Bau gosong tercium saat aku keluar dari kamar, dan asap hitam mengebul di sekitar ruangan. Apa-apaan ini ?
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA~” suara teriakan yang sedikit mengagenkan ku itu berasal dari dapur. Aku segera berlari menuju dapur dengan cepat.
Dan kemudian aku menemukan Victoria yang sedang loncat-loncat dan berteriak di depan kompor dengan api yang sudah mulai membesar. DAPUR KU KEBAKARAN ?
Tanpa pikir panjang aku langsung memadamkan api itu dengan air yang ku ambil dari dari washtuffle dapur.Akhirnya api itu mati.
Aku menatap Victoria yang sedang menutupi mukanya. Niatku mendekatinya hilang seketika saat menyadari wanita itu hanya membuat masalah.
“Ya! Apa yang kau lakukan dengan dapurku, huhh ?” aku menatapnya dengan tatapan marah, bagaimana tidak, dia hampir menghancurkan rumahku. Belum 5 jam dia bekerja disini dan dia sudah membuat ulah. Apa maksudnya ini ?
“ Maaf.. saya tidak sengaja.. tiba-tiba api di kompor itu membesar dan saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan.. “ Victoria memundukan kepalanya. Aku memutar bolamataku dan menghela napas. Aku tidak habis fikir dengan pembantu ini. Apa dia bisa kerja huhh ?
“Ya! Kau tahu.. kau hampir saja membakar rumahku! Sebenarnya kau bisa kerja atau tidak sih? Menyusahkan saja” aku meninggalkan victoria dan berjalan ke arah kamar lagi dengan perasaan yang sangat amat kesal !
(Onew P.o.v End)
__
(Victoria P.o.v)
Aku membersihkan seluruh ruangan dapur yang hampir terbakar ini. Begitu cerobohnya aku sampai hampir membuat rumah ‘Majikan’ku kebakaran. Dan memang benar apa katanya. Aku memang tidak bisa bekerja.. bekerja bukanlah kebiasaanku. Dan ini sangat menyulitkan.
Aku bergegas bangun mengerjakan apa yang aku bisa kerjakan di rumah ini. Semoga saja aku tidak ceroboh lagi.
‘mysteric mysteric molla.. molla.. ajik naneun molla…’
Suara teleon genggamku berbunyi dengan nyaringya. Dan mendapatkan nama Nichkhun yang sedang menelepohoneku itu, dia kekasihku. Segera ku angkat..
“ada apa kau menghubungiku, huh?” aku sedikit mengecilkan volume suaraku, aku tidak ingin majikanku itu tahu bahwa aku sedang menelephone.
“ya! Mengapa kau berbicara sangat pelan.. ? dimana kau ?”
“hey.. kau menelephoneku hanya untuk menanyakan aku dimana? Sudah aku bilang.. aku tidak ada waktu untukmu. Gara-gara ulahmu kemarin aku hampir saja di bunuh oleh keluargaku… dan gara-gara kau juga aku harus mengerjakan hukuman ini..!!” sahutku agak kesal kepadanya.
“aku.. minta maaf.. tapi bisa kah kita bertemu ? kau tahu.. kau kangen ‘minum-minum’ dengan mu dan ‘bermesraan’ denganmu.. “
Aku memutar bolamataku saat mendengar perkataan Nichkhun tadi. “jangan berbicara hal seperti itu!. Sudah! aku banyak kerjaan.. “ aku sedikit kesal dengan kata-kata nichkhun. Dia masih menganggapku seperti yang dulu, padahal aku sudah ingin berubah. Dan gara-gara dia pula aku harus menjadi pembantu seperti ini. Aku segera menutup telephone genggamku dan memasukkannya ke saku bajuku.
“VICTORIAAAAAAAAAAAAA~!!!!” teriakan itu bergeming di kupingku. Lagi lagi majikanku itu. Jinki..
Aku segera berlari menuju kamar Jinki dan mengetuk pintu kamarnya.
Pintu terbuka dan jinki berdiri tepat di depanku.
“Ya! Victoria!! Belikan kami 5 botol bir dan makanan kecil.. kami akan berpesta disini! Dan aku harap kau tidak akan bilang ke Eomma tentang hal ini. Mengerti !!”
Dia mengasih sejumlah uang padaku dan menyuruhku menutup mulut soal ‘pesta Bir’ yang akan dia lakukan dengan teman-temannya. Ternyata dia sama saja seperti anak berandalan di jalan. Hanya dia orang kaya. Aku segera menuruti perintahnya.
(Victoria P.o.v End)
__
(Onew P.o.v)
Suara musik yang kencang membuat suasana pesta ini semakin ramai walau hanya di lakukan oleh lima orang. Kami tidak memikirkan jam berapa sekarang. Kami hanya terus minum-minum sambil sesekali bergurau membicarakan hal yang biasa di bicarakan pria tentang wanita sexy.. hahaha
Walaupun si magnae taemin masih terlihat kecil, tapi dialah yang paling semangat membicarakan para wanita. Mungkin itu akibat otaknya sudah di racuni oleh aku, key, jonghyun dan minho yang sedikit tidak beres.
“Onew Hyung! Apa kita boleh memanggil wanita-wanita untuk kesini? Tidak seru bila berpesta tidak ada wanita-wanita cantik yang menemani..” kata minho sabil terus meminum bir nya.
“Aku setuju.. lagian tidak ada orangtuaku disini.. kita bebas. Hahhaha” aku tertawa sambil meneguk bir milikku berkali-kali.
Tiba-tiba jonghyun datang menghampiriku. “Onew bagaimana dengan pembantumu itu? Tidak di ajak juga? hahahha”
“Hey jonghyun! Kau gila? Pembantu itu sangatlah ketinggalan jaman! Mungkin dia tidak mengerti cara berpesta seperti kita! Dia hanya pembantu kuno.” Sahutku dengan entengnya. Tiba-tiba jonghyun berjalan keluar kamar. Apa dia sudah benar-benar gila? Mengajak pembantu berpesta.. Aneh.
(Onew P.o.v end)
__
(Victoria P.o.v)
HUH!! Suara musik itu membuatku pusing, sudah lama aku tidak mendengar musik kencang seperti itu dan sekarang malah membuat kupingku sakit. Ternyata Jinki bukanlah orang yang ku duga. Aku pikir dia orang kaya yang sangat elegan, tampan, sempurna seperti yang di cerminkan oleh orang tuanya itu. Tapi ternyata malah anak berandalan yang seperti ini. tak jauh beda sih denganku. Tapi aku kan sudah berubah. Dulu aku memang sering melakukan pesta seperti itu juga, tepatnya bersma nichkhun. Dia yang mengajarkan aku semua tentang hal seperti ini.
‘Ding Dong’ suara bell yang sedikit terpendam karena suara musik yang sangat kencang memaksaku untuk bangun dan melihat siapa yang datang. Aku segera menuju kearah pintu.
Disana berdiri 5 orang wanita cantik dengan pakaian sangat sexy, yang hampir terlihat seperti memakai bikini. Huh?
“Hey! Siapa kau ? wanita simpanan Onew yang baru ? hah?” sahut salah satu wanita yang berdiri paling depan. Dia menyebut nama ‘Onew’ ? siapa Onew?
“onew? Maaf disini tidak ada yang namanya Onew.. mungki kalian salah rumah.” Sahutku sedikit datar menatap lima wanita itu.
“ seungyeon.. mungkin dia pembantu disini jadi tidak tahu siapa onew.. “ sahut wanita di belakangnya kepada wanita yang menanyaiku tadi.
“Onew.. Onew.. bisa saja dia mencari pembantu secantik ini.. tapi aku tak akan pernah mau kalah dengan pembantu ini.. “ sahut wanita bernama seungyeon tadi. Aku hanya menggelengkan kepala. Terserah dia mau bilang apa…
Tiba-tiba seseorang menghampiriku dari belakang merangkulku
siapa dia?…..
TBC
Oh My sweet Maid – Chapter 3
NOT FOR SILENT READER..

Title : Oh My Sweet Maid
Chapter : 3
Author : Shinstarkey/Nanonadia
Cast : Onew Lee Jinki, Victoria Song
Other cast : Nichkhun, Shinee Member
Language : Indonesia
Previous : Chapter 1 | Chapter 2 |
ps : Maaf sama yang gak suka Onew di pasangin sama Victoria yah ^^
“KAU KU PECAT !!” teriakku padanya lagi.
Dia menipuku dengan tipuan murahannya. Cih, Tidak akan mempan denganku. “SEKARANG! KAU HARUS MEMBERESKAN BARANG-BARANGMU DAN PERGI DARI SINI! BARU KERJA SEHARI SAJA SUDAH MEMBUAT ULAH!”
Kemudian Victoria keluar dari kamarku. Dia menangis..
Airmata palsu.
__
‘Geobuhal su eobtneun neoeui maryeokeun LUCIFER’
Telephone ganggamku berbunyi dari bawah bantal yang aku tiduri, aku melihat ke layarnya yang bertuliskan ‘Eomma’ ..

“yeoboseyo.. Eomma.. ada apa ?”
Sahutku dengan sedikir ragu saat mengangkat telephone darinya itu.
“jinki.. bagaimana keadaanmu ?”
“aku baik eomma.. “
“bagaimana dengan pembantu baru itu ? Victoria?”
Mataku langsung terbuka mendengar eomma membahas soal pembantu itu. Pembantu yang sudah aku pecat. Gawat. Aku tidak menjawab pertanyaan eomma tadi.
“Ya! Jinki.. ada apa ? bagaimana Victoria ? kau tidak berbuat aneh-aneh denganya kan ? kau tidak memecatnya kan? Eomma tahu dia orang yang baik. Pasti bekerja dengan baik.” Kata eommaku lagi.
“A-anu.. nggak kok eomma.. Victoria baik-baik aja.. dia kerjanya bagus. Aku gak aneh-aneh kok.. masa aku macem-macem sama pembantu. Dia baik.. gak aku pecat” sahutku agak gugup dan berbohong pada eomma.
“ bagus kalau begitu. Awas.. kau tidak boleh bertingkah seEnaknya dengan victoria.. dan jangan kasar. !”
“ iya-iya eomma.. aku mengerti..”
Aku menutip telephone genggamku dan diam sejenak.
Bagaimana kalau eomma tahu kalau aku memecatnya.. bisa habis aku di marahi. Dan mengapa eomma bilang dia sangat mengenal victoria? Eomma tahu kalau dia orang baik ?
dan mengapa eomma sangat mengkhawatirkannya? Aneh.
Ah sial.. aku rasa aku harus menarik kata-kataku yang tadi. Aku tidak boleh memecatnya. Kalau eomma tahu bisa gawat!!!
(onew p.o.v end)
__
(Victoria p.o.v)
Apa-apaan ini? Baru sehari kerja aku sudah di pecat oleh Jinki menyebalkan itu. Dia yang menarik tanganku hingga tak bisa di lepas dan membuatku tertidur di kamarnya. Tapi dia malah menyalahkanku, dia menganggap aku yang mau tidur dengannya? Tidak ada niatan sama sekali untuk tidur bersamanya. Dan sepetinya kata-kata semalam harus aku tarik. DIA ADALAH ORANG YANG SANGAT BURUK..!!! Dia menganggap aku orang miskin yang gila harta..!! Asal dia tahu. Rumahku lebih besar dari pada rumah ini!! Dasar orang sombong!
Aku memasukkan semua bajuku kedalam tas lagi dengan prasaan yang sangat kesal pada laki-laki tidak tahu diri. Biarkan saja. Aku akan pergi dari rumah ini dengan senang hati. Walaupun aku harus marahi appa karena tidak menjalankan hukuman dengan baik, aku tidak akan kuat berhadapan dengan laki-laki aneh, sombong, nakal!!
‘tok tok tok’ bunyi ketikan pintu kamarku terdengar dan kemudian terbuka.
“ victoria!! “ sahut suara dari arah pintu dan aku tahu itu jinki.
Aku membalikan badan kearahnya
“ada apa tuan?” sahutku dengan tampang yang sedikit terpaksa untuk tersenyum.
“ Aku tidak jadi memecatmu. Tapi kau tidak boleh menceritakan semua kejadian ini pada eommaku ! mengerti!! Kau tetap kerja disini!” sahut jinki dan kemudia pergi.
APA ?? TIDAK JADI DI PECAT!!
Benar – benar tidak waras orang itu. Dia mempermainkanku, hah?
AAAAAAAAA~ aku masih harus terjebak dalam rumah ini bersama orang tidak punya hati itu!!! Seharusnya aku bisa keluar dari sini!!!
(victoria p.o.v end)
__
(onew P.o.v)
Aku menghabiskan sarapanku yang telah di saipkan oleh Victoria pagi ini. Sudah seminggu dia bekerja di rumahku sebagai Pembantu rumah tangga. Jarang sekali ada pembantu seperti dia, yang sesekali bisa mencuri pandanganku dengan wajahnya yang lumayan cantik dan tubuhnya yang bagus itu.
Yah tapi mau bagaimanapun dia tetap pembantu.. tidak lebih, tidak cocok bila bersamaku,
Aku bisa mencari wanita yang lebih kaya dan lebih cantik dari dia.
‘Ding dong dong dong’ Suara bell terdengar.
Siapa yang datang bagi-pagi begini ?
“Ya!! VICTORIAAA!! Cepat buka pintunya”
Teriak ku pada Victoriaa yang ku tahu dia berada di dapur.
“ Ya tuan..” sahutnya pelan dan langsung berjalan kearah pintu.
“Victoria!! Siapa yang datang ?” teriakku lagi sambil terus memandang kearah pintu depan.
“ Tuan Jonghyun.. “
Jonghyun ? ada apa dia kemari ? tumben-tumbennya.. pasti dia ada maunya.
Tak lama sosok Jonghyun pun muncul di hadapanku. Dia tersenyum kearahku.
“ Ya! Jonghyun.. ada perlu apa kau kesini , huh ?”
Jonghyun duduk di kursi sebelahku dan tersenyum lagi.
“Hanya main .. boleh kan ?”
senyumnya itu membuatku sedikit curiga, jangan-jangan dia gay, dia suka denganku makanya dia main kesini ? huh ?.
Jonghyun kembali mendekat padaku, apa maksudnya ini ?
“Hey.. hey.. apa yang akan kau lakukan?? mengapa mendekat ?”
Aku memundurkan tubuhku agar tidak terlalu dekat dengan orang aneh itu. Apa yang dia mau?
“Hahahaha Onew.. aku bisa membaca pikiranmu ? pasti kau fikir aku main kerumahmu karena aku gay dan menyukaimu bukan ?” sahut jonghyun sambil tertawa dan langsung memundurkan badannya.
“dasar kau.. pikiranmu masih seperti anak kecil, padahal kau yang paling tua di antara kami. “ sahutnya lagi.
Aku hanya menatapnya dengan tatapan bingung.
“jadi kalau bukan itu alasanmu main kerumahku, jadi apa?”
Jonghyun menunjuk ke arah dapur, tapatnya menunjuk kearah Voctoria yang sedang membereskan semua piring-piring di dapur.
“Untuk itu.. Victoria.. pembantumu yang cantik itu.. hahaha” jonghyun kembali tertawa lagi. Jadi dia mengincar Vctoria ? buat apa? Bukannya ada banyak wanita yang mengincar jonghyun sehingga dia tinggal memilihnya saja (?).
Jujur aku tidak suka jonghyun mendekati victoria. Untuk apa? Jangan-jangan victoria hanya jadi mainannya saja.. Hey! Untuk apa aku menghawatirka victoria, biar saja dia jadi mainannya jonghyun, bukan urusanku tapi.. dia tanggung jawabku juga. Bagaimana kalau eomma tahu victoria di permainkan oleh jonghyun ang ternyata temanku, eomma sudah berkali-kali bilang padaku untuk menjaga victoria. Sebenarnya aneh. Mengapa aku yang harus menjaga pembantu itu, sebenarnya aku atau dia sih yang majikan. AAAAA~ ini semua membuatku pusing!
“ Ya!! Onew.. mangapa kau bengong hah?” suara jonghyun menyadarkanku dari lamunan.
“ Tidak..” jawabku singkat.
“jadi bagaimana soal victoria ? boleh aku mengincarnya?” jonghyun terus menatapku.
Aku menganggukan kepala, aku tidak perduli dengan apa yang akan di lakukan jonghyun pada victoria. Terserah dia.
“ Bagus!! Thanks Onew.. sebentar lagi pembantumu akan jadi milikku.. hahahha”
(Onew p.o.v)
__
(Victoria p.o.v)
Aish.. Hidup ini terasa menyiksa karena aku berada di rumah ini. Rumah seseorang yang tidak tahu diri.. kapan sih hukumanku selesai dan segera di cabut oleh Appa? Aku tidak betah disini, tiap hari di suruh-suruh, di bentak-bentak.. apa tidak ada majikan yang lebih baik dari si Onew alias jinki menyebalkan itu.
‘mysteric mysteric molla molla’
Telephone genggamku berbunyi saat aku sedang mengelap semua tumpukan piring basah yang sudah ku cuci ini.
‘Ah menyusahkan saja.. siapa sih yang menelephone?’
Aku melihat ke arah layar, dan lagi-lagi nichkhun menelephone ku.
“ada apa? Aku sedang sibuk.. kau bisa menelephoneku jika malam bukan ?”
Sahutku pelan pada nichkhun saat aku mengangkat telephonenya.
“Hey sayang.. jangan marah-marah gitu deh… aku hanya kangen kok.. lagian hukumanmu lama sekali.. kapan selesainya, huh ?”
“ Entahlah.. aku juga tidak betah disini.. majikanku sangat menyebalkan.. Appa belum memaafkanku, makanya aku belum bisa bebas dari hukuman ini.. “
“sabar ya sayang.. apa aku perlu berbicara dengan Appamu agar mengakhiri semua hukuman ini ? aku berani kok.. “
perkataan nichkhun sedikit membuat mataku terbelelak. Bagaimana tidak. Appa sangat benci dengan nichkhun, karena menurut Appa nichkhun lah yang membuatku menjadi seperti ini. Dan lagi, saat aku minta maaf kepada keluargaku aku sudah bilang pada appa kalau aku sudah tidak berhubungan lagi dengan nichkhun. Makanya appa mau memaafkanku dan memberi hukuman ini agar aku berumah. Jika appa tahu aku masih berpacaran dengan nichkhun bagaimana jadinya hidupku, mungkin aku akan langsung di gantung oleh Appa.
“JANGAN NICHKHUN!!! Kau tidak usah berbicara dengan Appa.. “ teriakku pada nichkhun.
“ Yasudah.. tapi bolehkah aku ketempat kerjamu? “
“ Hah? Kau mau kesini!? Tidak mungkin.. kau tidak mungkin bertemu dengan majikanku!!”
“sudahlah itu bisa aku atasi.. hmm.. nanti kalau aku datang aku akan memberi tahumu. Bye sayang”
‘tut.. tut.. tut…’
nichkhun sudah menutup telephone nya, aku hanya bisa menghela napas dengan perkatanyaannya tadi.
“Eheemm..” ada suara dehaman yang datang dari arah belakangku. Aku segera membalikkan badan.
“ hay” sahut jonghyun yang ternyata ada di belakangku tadi. Dia berjalan mendekat kearahku.
“Hay..” sahutku dengan sedikit ragu.
“waw.. sepertinya kau sedang sibuk?” sahutnya dan berdiri tepat di sampingku.
“Iya..” sahutku singkat.
“dan.. ngomong-ngomong siapa nichkhun ?” Perkataan jonghyun membuatku menoleh kearahnya dan membuka mataku lebar.
“ni-nichkhun ? dari mana kau tahu ?” sahutku gugup..
“tadi kau berteriak namanya..hahahah”
“oh.. nichkhun kekasihku..” sahutku sambil menundukan kepala karena malu.
Jonghyun tiba-tiba menoleh kearahku dan menatapku terus.
“kekasih mu ?? serius?”
Aku enganggukan kepala pada jonghyun.
Jonghyun menghela napasnya.
“Sepertinya aku bertepuk sebelah tangan.. huh “ sahutnya lagi yang sedikit membuatku bingung.
“Apa maksudmu, jonghyun?”
Jonghyun menghadap kearahku dan tersenyum tepat di depan wajahku.
“ Ya, karena aku sedang mengincarmu, tapi ternyata kau sudah punya kekasih.. sayang sekali.. “
Entah mengapa kata-katanya membuat aku malu, dan mungkin sekarang pipiku sudah memerah.
“Kau pasti bercanda kan jonghyun..? maaf aku harus membereskan meja makan kalau tidak Jinki akan membunuhku.”
Aku berjalan meninggalkan jonghyun di dapur. Ada-ada saja orang itu.
(victoria p.o.v end)
__
(onew p.o.v)
Kira-kira apa yah yang Jonghyun mau dari victoria? victoria hanya wanita biasa yang hanya bisa menarik perhatian dengan tampangnya saja. Apa jonghyun serius mendekati victoria ? aku yakin dia hanya main-main saja. Aku kenal jonghyun sejak dulu, memang sih dia pria playboy, tapi hanya untuk wanita kelas atas. Baru kali ini dia mendekati seorang pembantu. Dia aneh..
Aduh.. mengapa aku tidak rela jonghyun mendekati victoria. Padahal itu bukan urusanku..dan victoria juga bukan siapa-siapaku dia hanya pembantu disini. Ah buat apa sih aku mmemikirkan mereka, tidak ada guna..
Aku berdiri dari dudukku berniat mengintip apa yang sedang di lakukan jonghyun dengan victoria di dapur, sepertinya sangat mencurigakan.
__
“Noona, apa mau aku bantu ?”
Aku tahu itu suara jonghyun. Dia sedang mencari perhatian dengan Victoria. Jonghyun kembali mendekati Victoria, dan menggenggam tangannya, apa maksudnya? Dasar laki-laki brengsek. Playboy..
Aku membalikkan badan dan tidak mau menatap kedua makhluk tidak berguna itu di dapur, buang-buang waktu.
__
“ya onew.. !!”
Jonghyun menghapiriku yang sedang duduk menonton tv.
“Ya?” sahutku tanpa menoleh kearah jonghyun sama sekali. Jonghyun duduk di sebelahku.
“Aku patah hati…” katanya sambil mengambil minuman dingin yang sedangku pegang.
“Apaa maksudmu?”
“Victoria.. “
“Victoria? Kenapa dia?” aku memperhatikan jonghyun sekarang.
“Dia sudah mempunyai kekasih…” jonghyun menundukkan kepalanya. Aku sedikit kaget dengan perkataan jonghyun, dan membuatku menahan tawa karena tandanya jonghyun tidak dapat mendekati Victoria lagi.
“hahaha.. bukan jodohmu jjong!..pastilah pembantu cantik seperti itu punya kekasih.. dan aku rasa kekasihnya tak lebih dari tukang bangunan.” Aku menepuk-nepuk punggung Jonghyun. Dan tetap menahan tawa lagi.
“Onew! Aku tahu, kau pasti menertawaiku di belakang… !!!” sahut jonghyun tiba-tiba
“hahaha.. memang!” kali ini aku mulai tertawa terbahak-bahak.
“Sial..akan aku buktikan, Victoria pasti memilihku…” jonghyun berdiri dan meninggalkanku menuju pintu depan, sepertinya dia ingin pulang.. hahah dasar bocah.
__ `
(Onew p.o.v end)
__
(Victoria p.o.v)
“VICTORIAAAAAAAAA!!!!! “
Suara jinki membangunkanku dari tidur karena kelelahan.
“Iya tuan….!!!” sahutku dan langsung bangun menguncir rambutku dan berlari kearah sumber suara jinki berasal.
__
“ada apa tuan.. ?” sahutku saat sampai di ruang TV, tempat jinki yang memanggilku.
“victoria.. kau duduk disini..” jinki menyuruhku duduk disebelahnya. Ada apa dengannya? Aneh. Aku segera menuruti perintahnya.
“Apa yang bisa saya bantu ?”
“ah tidak.. aku hanya mau tanya”
Jinki tidak biasanya seperti ini terhadapku, tumben sekali dia tidak membentakku atau merendahkanku.
Aku hanya menganggukan kepalaku pada jinki.
“Kata jonghyun, kau sudah punya kekasih ?”
Aku membuka mataku lebar dan menatap jinki, mengapa dia bertanya seperti itu? tidak ada urusan dengannya.
“iya.. apa kerja disini dilarang mempunyai kekasih?
“bukan begitu.. aku hanya bertanya.. “ sahut jinki lagi sambil sedikit membuang muka padaku… “ tapi jika kau putus dengan kekasihmu dan jonghyun menyatakan perasaannya padamu, apa kau akan menerimanya?”
Pertanyaan macam apa lagi ini? apa maksudnya sih? Bukankah ini urusan pribadi, mengapa dia ingin tahu apa yang terjadi denganku. Majikan macam apa itu ?
“entahlah tuan.. saya rasa ini urusan pribadi..” jawabku singkat sambil menahan emosiku pada jinki.
“oh.. aku hanya ingin kasih tahu saja, jonghyun itu bukanlah orang yang baik, dia tidak sebaik kelihatanya.. dia itu gampang sekali menipu perempuan… jangan terlalu percayya dengan kebaikkannya itu. sudah beberapa wanita menjadi korbannya”
Perkataan jinki membuat aku mengerutkan dahiku, apa maksudnya dia berkata seperti itu? dia menjelek-jelekan jonghyun di depanku. Tapi aku fikir tetap saja Jonghyun lebih baik dari jinki..
“iya tuan.. “ aku menganggukan kepala pada jinki. Puas kau jinki?
(Victoria p.o.v end)
__
TBC

Title : Oh My Sweet Maid
Chapter : 3
Author : Shinstarkey/Nanonadia
Cast : Onew Lee Jinki, Victoria Song
Other cast : Nichkhun, Shinee Member
Language : Indonesia
Previous : Chapter 1 | Chapter 2 |
ps : Maaf sama yang gak suka Onew di pasangin sama Victoria yah ^^
“KAU KU PECAT !!” teriakku padanya lagi.
Dia menipuku dengan tipuan murahannya. Cih, Tidak akan mempan denganku. “SEKARANG! KAU HARUS MEMBERESKAN BARANG-BARANGMU DAN PERGI DARI SINI! BARU KERJA SEHARI SAJA SUDAH MEMBUAT ULAH!”
Kemudian Victoria keluar dari kamarku. Dia menangis..
Airmata palsu.
__
‘Geobuhal su eobtneun neoeui maryeokeun LUCIFER’
Telephone ganggamku berbunyi dari bawah bantal yang aku tiduri, aku melihat ke layarnya yang bertuliskan ‘Eomma’ ..

“yeoboseyo.. Eomma.. ada apa ?”
Sahutku dengan sedikir ragu saat mengangkat telephone darinya itu.
“jinki.. bagaimana keadaanmu ?”
“aku baik eomma.. “
“bagaimana dengan pembantu baru itu ? Victoria?”
Mataku langsung terbuka mendengar eomma membahas soal pembantu itu. Pembantu yang sudah aku pecat. Gawat. Aku tidak menjawab pertanyaan eomma tadi.
“Ya! Jinki.. ada apa ? bagaimana Victoria ? kau tidak berbuat aneh-aneh denganya kan ? kau tidak memecatnya kan? Eomma tahu dia orang yang baik. Pasti bekerja dengan baik.” Kata eommaku lagi.
“A-anu.. nggak kok eomma.. Victoria baik-baik aja.. dia kerjanya bagus. Aku gak aneh-aneh kok.. masa aku macem-macem sama pembantu. Dia baik.. gak aku pecat” sahutku agak gugup dan berbohong pada eomma.
“ bagus kalau begitu. Awas.. kau tidak boleh bertingkah seEnaknya dengan victoria.. dan jangan kasar. !”
“ iya-iya eomma.. aku mengerti..”
Aku menutip telephone genggamku dan diam sejenak.
Bagaimana kalau eomma tahu kalau aku memecatnya.. bisa habis aku di marahi. Dan mengapa eomma bilang dia sangat mengenal victoria? Eomma tahu kalau dia orang baik ?
dan mengapa eomma sangat mengkhawatirkannya? Aneh.
Ah sial.. aku rasa aku harus menarik kata-kataku yang tadi. Aku tidak boleh memecatnya. Kalau eomma tahu bisa gawat!!!
(onew p.o.v end)
__
(Victoria p.o.v)
Apa-apaan ini? Baru sehari kerja aku sudah di pecat oleh Jinki menyebalkan itu. Dia yang menarik tanganku hingga tak bisa di lepas dan membuatku tertidur di kamarnya. Tapi dia malah menyalahkanku, dia menganggap aku yang mau tidur dengannya? Tidak ada niatan sama sekali untuk tidur bersamanya. Dan sepetinya kata-kata semalam harus aku tarik. DIA ADALAH ORANG YANG SANGAT BURUK..!!! Dia menganggap aku orang miskin yang gila harta..!! Asal dia tahu. Rumahku lebih besar dari pada rumah ini!! Dasar orang sombong!
Aku memasukkan semua bajuku kedalam tas lagi dengan prasaan yang sangat kesal pada laki-laki tidak tahu diri. Biarkan saja. Aku akan pergi dari rumah ini dengan senang hati. Walaupun aku harus marahi appa karena tidak menjalankan hukuman dengan baik, aku tidak akan kuat berhadapan dengan laki-laki aneh, sombong, nakal!!
‘tok tok tok’ bunyi ketikan pintu kamarku terdengar dan kemudian terbuka.
“ victoria!! “ sahut suara dari arah pintu dan aku tahu itu jinki.
Aku membalikan badan kearahnya
“ada apa tuan?” sahutku dengan tampang yang sedikit terpaksa untuk tersenyum.
“ Aku tidak jadi memecatmu. Tapi kau tidak boleh menceritakan semua kejadian ini pada eommaku ! mengerti!! Kau tetap kerja disini!” sahut jinki dan kemudia pergi.
APA ?? TIDAK JADI DI PECAT!!
Benar – benar tidak waras orang itu. Dia mempermainkanku, hah?
AAAAAAAAA~ aku masih harus terjebak dalam rumah ini bersama orang tidak punya hati itu!!! Seharusnya aku bisa keluar dari sini!!!
(victoria p.o.v end)
__
(onew P.o.v)
Aku menghabiskan sarapanku yang telah di saipkan oleh Victoria pagi ini. Sudah seminggu dia bekerja di rumahku sebagai Pembantu rumah tangga. Jarang sekali ada pembantu seperti dia, yang sesekali bisa mencuri pandanganku dengan wajahnya yang lumayan cantik dan tubuhnya yang bagus itu.
Yah tapi mau bagaimanapun dia tetap pembantu.. tidak lebih, tidak cocok bila bersamaku,
Aku bisa mencari wanita yang lebih kaya dan lebih cantik dari dia.
‘Ding dong dong dong’ Suara bell terdengar.
Siapa yang datang bagi-pagi begini ?
“Ya!! VICTORIAAA!! Cepat buka pintunya”
Teriak ku pada Victoriaa yang ku tahu dia berada di dapur.
“ Ya tuan..” sahutnya pelan dan langsung berjalan kearah pintu.
“Victoria!! Siapa yang datang ?” teriakku lagi sambil terus memandang kearah pintu depan.
“ Tuan Jonghyun.. “
Jonghyun ? ada apa dia kemari ? tumben-tumbennya.. pasti dia ada maunya.
Tak lama sosok Jonghyun pun muncul di hadapanku. Dia tersenyum kearahku.
“ Ya! Jonghyun.. ada perlu apa kau kesini , huh ?”
Jonghyun duduk di kursi sebelahku dan tersenyum lagi.
“Hanya main .. boleh kan ?”
senyumnya itu membuatku sedikit curiga, jangan-jangan dia gay, dia suka denganku makanya dia main kesini ? huh ?.
Jonghyun kembali mendekat padaku, apa maksudnya ini ?
“Hey.. hey.. apa yang akan kau lakukan?? mengapa mendekat ?”
Aku memundurkan tubuhku agar tidak terlalu dekat dengan orang aneh itu. Apa yang dia mau?
“Hahahaha Onew.. aku bisa membaca pikiranmu ? pasti kau fikir aku main kerumahmu karena aku gay dan menyukaimu bukan ?” sahut jonghyun sambil tertawa dan langsung memundurkan badannya.
“dasar kau.. pikiranmu masih seperti anak kecil, padahal kau yang paling tua di antara kami. “ sahutnya lagi.
Aku hanya menatapnya dengan tatapan bingung.
“jadi kalau bukan itu alasanmu main kerumahku, jadi apa?”
Jonghyun menunjuk ke arah dapur, tapatnya menunjuk kearah Voctoria yang sedang membereskan semua piring-piring di dapur.
“Untuk itu.. Victoria.. pembantumu yang cantik itu.. hahaha” jonghyun kembali tertawa lagi. Jadi dia mengincar Vctoria ? buat apa? Bukannya ada banyak wanita yang mengincar jonghyun sehingga dia tinggal memilihnya saja (?).
Jujur aku tidak suka jonghyun mendekati victoria. Untuk apa? Jangan-jangan victoria hanya jadi mainannya saja.. Hey! Untuk apa aku menghawatirka victoria, biar saja dia jadi mainannya jonghyun, bukan urusanku tapi.. dia tanggung jawabku juga. Bagaimana kalau eomma tahu victoria di permainkan oleh jonghyun ang ternyata temanku, eomma sudah berkali-kali bilang padaku untuk menjaga victoria. Sebenarnya aneh. Mengapa aku yang harus menjaga pembantu itu, sebenarnya aku atau dia sih yang majikan. AAAAA~ ini semua membuatku pusing!
“ Ya!! Onew.. mangapa kau bengong hah?” suara jonghyun menyadarkanku dari lamunan.
“ Tidak..” jawabku singkat.
“jadi bagaimana soal victoria ? boleh aku mengincarnya?” jonghyun terus menatapku.
Aku menganggukan kepala, aku tidak perduli dengan apa yang akan di lakukan jonghyun pada victoria. Terserah dia.
“ Bagus!! Thanks Onew.. sebentar lagi pembantumu akan jadi milikku.. hahahha”
(Onew p.o.v)
__
(Victoria p.o.v)
Aish.. Hidup ini terasa menyiksa karena aku berada di rumah ini. Rumah seseorang yang tidak tahu diri.. kapan sih hukumanku selesai dan segera di cabut oleh Appa? Aku tidak betah disini, tiap hari di suruh-suruh, di bentak-bentak.. apa tidak ada majikan yang lebih baik dari si Onew alias jinki menyebalkan itu.
‘mysteric mysteric molla molla’
Telephone genggamku berbunyi saat aku sedang mengelap semua tumpukan piring basah yang sudah ku cuci ini.
‘Ah menyusahkan saja.. siapa sih yang menelephone?’
Aku melihat ke arah layar, dan lagi-lagi nichkhun menelephone ku.
“ada apa? Aku sedang sibuk.. kau bisa menelephoneku jika malam bukan ?”
Sahutku pelan pada nichkhun saat aku mengangkat telephonenya.
“Hey sayang.. jangan marah-marah gitu deh… aku hanya kangen kok.. lagian hukumanmu lama sekali.. kapan selesainya, huh ?”
“ Entahlah.. aku juga tidak betah disini.. majikanku sangat menyebalkan.. Appa belum memaafkanku, makanya aku belum bisa bebas dari hukuman ini.. “
“sabar ya sayang.. apa aku perlu berbicara dengan Appamu agar mengakhiri semua hukuman ini ? aku berani kok.. “
perkataan nichkhun sedikit membuat mataku terbelelak. Bagaimana tidak. Appa sangat benci dengan nichkhun, karena menurut Appa nichkhun lah yang membuatku menjadi seperti ini. Dan lagi, saat aku minta maaf kepada keluargaku aku sudah bilang pada appa kalau aku sudah tidak berhubungan lagi dengan nichkhun. Makanya appa mau memaafkanku dan memberi hukuman ini agar aku berumah. Jika appa tahu aku masih berpacaran dengan nichkhun bagaimana jadinya hidupku, mungkin aku akan langsung di gantung oleh Appa.
“JANGAN NICHKHUN!!! Kau tidak usah berbicara dengan Appa.. “ teriakku pada nichkhun.
“ Yasudah.. tapi bolehkah aku ketempat kerjamu? “
“ Hah? Kau mau kesini!? Tidak mungkin.. kau tidak mungkin bertemu dengan majikanku!!”
“sudahlah itu bisa aku atasi.. hmm.. nanti kalau aku datang aku akan memberi tahumu. Bye sayang”
‘tut.. tut.. tut…’
nichkhun sudah menutup telephone nya, aku hanya bisa menghela napas dengan perkatanyaannya tadi.
“Eheemm..” ada suara dehaman yang datang dari arah belakangku. Aku segera membalikkan badan.
“ hay” sahut jonghyun yang ternyata ada di belakangku tadi. Dia berjalan mendekat kearahku.
“Hay..” sahutku dengan sedikit ragu.
“waw.. sepertinya kau sedang sibuk?” sahutnya dan berdiri tepat di sampingku.
“Iya..” sahutku singkat.
“dan.. ngomong-ngomong siapa nichkhun ?” Perkataan jonghyun membuatku menoleh kearahnya dan membuka mataku lebar.
“ni-nichkhun ? dari mana kau tahu ?” sahutku gugup..
“tadi kau berteriak namanya..hahahah”
“oh.. nichkhun kekasihku..” sahutku sambil menundukan kepala karena malu.
Jonghyun tiba-tiba menoleh kearahku dan menatapku terus.
“kekasih mu ?? serius?”
Aku enganggukan kepala pada jonghyun.
Jonghyun menghela napasnya.
“Sepertinya aku bertepuk sebelah tangan.. huh “ sahutnya lagi yang sedikit membuatku bingung.
“Apa maksudmu, jonghyun?”
Jonghyun menghadap kearahku dan tersenyum tepat di depan wajahku.
“ Ya, karena aku sedang mengincarmu, tapi ternyata kau sudah punya kekasih.. sayang sekali.. “
Entah mengapa kata-katanya membuat aku malu, dan mungkin sekarang pipiku sudah memerah.
“Kau pasti bercanda kan jonghyun..? maaf aku harus membereskan meja makan kalau tidak Jinki akan membunuhku.”
Aku berjalan meninggalkan jonghyun di dapur. Ada-ada saja orang itu.
(victoria p.o.v end)
__
(onew p.o.v)
Kira-kira apa yah yang Jonghyun mau dari victoria? victoria hanya wanita biasa yang hanya bisa menarik perhatian dengan tampangnya saja. Apa jonghyun serius mendekati victoria ? aku yakin dia hanya main-main saja. Aku kenal jonghyun sejak dulu, memang sih dia pria playboy, tapi hanya untuk wanita kelas atas. Baru kali ini dia mendekati seorang pembantu. Dia aneh..
Aduh.. mengapa aku tidak rela jonghyun mendekati victoria. Padahal itu bukan urusanku..dan victoria juga bukan siapa-siapaku dia hanya pembantu disini. Ah buat apa sih aku mmemikirkan mereka, tidak ada guna..
Aku berdiri dari dudukku berniat mengintip apa yang sedang di lakukan jonghyun dengan victoria di dapur, sepertinya sangat mencurigakan.
__
“Noona, apa mau aku bantu ?”
Aku tahu itu suara jonghyun. Dia sedang mencari perhatian dengan Victoria. Jonghyun kembali mendekati Victoria, dan menggenggam tangannya, apa maksudnya? Dasar laki-laki brengsek. Playboy..
Aku membalikkan badan dan tidak mau menatap kedua makhluk tidak berguna itu di dapur, buang-buang waktu.
__
“ya onew.. !!”
Jonghyun menghapiriku yang sedang duduk menonton tv.
“Ya?” sahutku tanpa menoleh kearah jonghyun sama sekali. Jonghyun duduk di sebelahku.
“Aku patah hati…” katanya sambil mengambil minuman dingin yang sedangku pegang.
“Apaa maksudmu?”
“Victoria.. “
“Victoria? Kenapa dia?” aku memperhatikan jonghyun sekarang.
“Dia sudah mempunyai kekasih…” jonghyun menundukkan kepalanya. Aku sedikit kaget dengan perkataan jonghyun, dan membuatku menahan tawa karena tandanya jonghyun tidak dapat mendekati Victoria lagi.
“hahaha.. bukan jodohmu jjong!..pastilah pembantu cantik seperti itu punya kekasih.. dan aku rasa kekasihnya tak lebih dari tukang bangunan.” Aku menepuk-nepuk punggung Jonghyun. Dan tetap menahan tawa lagi.
“Onew! Aku tahu, kau pasti menertawaiku di belakang… !!!” sahut jonghyun tiba-tiba
“hahaha.. memang!” kali ini aku mulai tertawa terbahak-bahak.
“Sial..akan aku buktikan, Victoria pasti memilihku…” jonghyun berdiri dan meninggalkanku menuju pintu depan, sepertinya dia ingin pulang.. hahah dasar bocah.
__ `
(Onew p.o.v end)
__
(Victoria p.o.v)
“VICTORIAAAAAAAAA!!!!! “
Suara jinki membangunkanku dari tidur karena kelelahan.
“Iya tuan….!!!” sahutku dan langsung bangun menguncir rambutku dan berlari kearah sumber suara jinki berasal.
__
“ada apa tuan.. ?” sahutku saat sampai di ruang TV, tempat jinki yang memanggilku.
“victoria.. kau duduk disini..” jinki menyuruhku duduk disebelahnya. Ada apa dengannya? Aneh. Aku segera menuruti perintahnya.
“Apa yang bisa saya bantu ?”
“ah tidak.. aku hanya mau tanya”
Jinki tidak biasanya seperti ini terhadapku, tumben sekali dia tidak membentakku atau merendahkanku.
Aku hanya menganggukan kepalaku pada jinki.
“Kata jonghyun, kau sudah punya kekasih ?”
Aku membuka mataku lebar dan menatap jinki, mengapa dia bertanya seperti itu? tidak ada urusan dengannya.
“iya.. apa kerja disini dilarang mempunyai kekasih?
“bukan begitu.. aku hanya bertanya.. “ sahut jinki lagi sambil sedikit membuang muka padaku… “ tapi jika kau putus dengan kekasihmu dan jonghyun menyatakan perasaannya padamu, apa kau akan menerimanya?”
Pertanyaan macam apa lagi ini? apa maksudnya sih? Bukankah ini urusan pribadi, mengapa dia ingin tahu apa yang terjadi denganku. Majikan macam apa itu ?
“entahlah tuan.. saya rasa ini urusan pribadi..” jawabku singkat sambil menahan emosiku pada jinki.
“oh.. aku hanya ingin kasih tahu saja, jonghyun itu bukanlah orang yang baik, dia tidak sebaik kelihatanya.. dia itu gampang sekali menipu perempuan… jangan terlalu percayya dengan kebaikkannya itu. sudah beberapa wanita menjadi korbannya”
Perkataan jinki membuat aku mengerutkan dahiku, apa maksudnya dia berkata seperti itu? dia menjelek-jelekan jonghyun di depanku. Tapi aku fikir tetap saja Jonghyun lebih baik dari jinki..
“iya tuan.. “ aku menganggukan kepala pada jinki. Puas kau jinki?
(Victoria p.o.v end)
__
TBC
Oh My Sweet Maid – chapter 4
NOT FOR SILENT READER..

Title : Oh My Sweet Maid
Chapter : 4
Author : Shinstarkey/Nanonadia
Cast : Onew Lee Jinki, Victoria Song
Other cast : Nichkhun, Shinee Member
Language : Indonesia
Previous : Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 |
ps : Maaf sama yang gak suka Onew di pasangin sama Victoria yah ^^
__
“oh.. aku hanya ingin kasih tahu saja, jonghyun itu bukanlah orang yang baik, dia tidak sebaik kelihatanya.. dia itu gampang sekali menipu perempuan… jangan terlalu percayya dengan kebaikkannya itu. sudah beberapa wanita menjadi korbannya”
Perkataan jinki membuat aku mengerutkan dahiku, apa maksudnya dia berkata seperti itu? dia menjelek-jelekan jonghyun di depanku. Tapi aku fikir tetap saja Jonghyun lebih baik dari jinki..
“iya tuan.. “ aku menganggukan kepala pada jinki. Puas kau jinki?
(Victoria p.o.v end)
__
(onew p.o.v)
“Onew! Victoria mana?” sahut jonghyun saat memasuki rumahku.
Sudah beberapa hari ini jonghyun selalu datang ke rumahku, dan lagi-lagi alasannya itu untuk bertemu victoria . Apa sih yang dia mau ? sudah tau victoria sudah punya kekasih.. mengapa dia tetap mengejarnya…
“Ah, Victoria.. ada di kamarnya!.. kau mau bertemu dia lagi, eh?”
“Iya, hahah.. “ jonghyun menepuk bahuku dan berjalan pergi meninggalkanku untuk bertemu victoria.
__
Jonghyun lama sekali, apa yang dia lakukan di kamar victoria, mengapa dia dan victoria tidak keluar-keluar…
Wah, apa ada yang tidak beres? Jangan-jangan! Jonghyun!!!!!
Tanpa pikir panjang, aku segera berlari ke kamar victoria
__
Aku menemukan Jonghyun yang sedang mengintip ke arah kamar victoria melalui jendela kamar victoria. Sedang apa dia ?
“Ya!! Jonghyun !!! apa yang sedang kau lakukan? Jangan-jangan kau sedang mengintip victoria berganti baju, huh!!” teriakku seraya menegur jonghyun.
“sssssstttttttt….!!! jangan berisik! Sini!” jonghyun meletakan jari telunjuknya di depan bibir dan mengecilkan suaranya.
Aku segera berjalan menghampiri jonghyun yang masih mengintip ke arah kamar victoria.
“Ya!! Ada apa?”
“Kau harus lihaaattt!!!” jonghyun menarik kepalaku agar aku bisa melihat ke arah kamar victoria. Sepertinya ada yang tidak beres.
Dugaanku benar!
Terlihat victoria dan seorang laki-laki muda sedang berciuman. Hey! Berani-beraninya dia!! Siapa laki-laki itu? kekasihnya?
Berani-beraninya di berbuat mesum di rumahku!! Bersama laki-laki yang menurutku tidak…. ah bukan, aku pikir laki-laki itu tidak terlihat sepeti laki-laki kelas bawah, lihat saja gaya pakaiannya. Celana jeans, dengan kaus putih yang di tambah jas hitam yang di buka kancing nya. Terlihat seperti orang kaya. Aneh..
“Onneeewww…” terdengar suara jonghyun yang sepeti orang menangis..
Aku menoleh kearah jonghyun.
“Aku tambah patah hati..” jonghyun menutupi muka dengan kedua tangannya.
Entah mengapa perasaanku juga aneh ketika melihat victoria. Mengapa aku sedikit tidak rela. Ah, bukan.. aku hanya tidak suka bila dia berbuat mesum di rumahku, kalau di tempat lain silahkan saja. dan berani-beraninya dia membawa kakasihnya ke rumahku, siapa yang mengijinkannya.
Jonghyun pergi meninggalkanku, dia sangat terpukul sepertinya. Baru sekali aku melihatnya sepeti ini.
Emosiku mulai terpancing lagi saat aku kembali melihat ke dalam kamar, victoria masih berduaan dengan kekasihnya. Mereka belum menyadari kehadiranku?
Baiklah…
‘BRAAAAAAKKK’
Aku buka pintu kamar victoria secara paksa.
“T-tuaann?” victoria berdiri dari duduknya, sedangkan kekasihnya itu hanya duduk sambil menundukkan kepala. Pengecut..
“Ya!!! Berani sekali kau victoria!! Siapa yang mengikinkanmu membawa kekasih kesini hah? Aku memang tidak melarangmu mempunyai kekasih, tapi bukan begini caranya… Kau pembantu yang kurang ajar!!!!”
Aku mengangkat tanganku dan hapir saja aku ingin menampar victoria. Tapi tanganku di cegah oleh kekasihnya yang Aneh itu.
“jangan kau coba-coba menampar dia! Dia bukan pembantu!!”
Hah? Bukan pembantu? Apa maksud laki-laki ini??!
“Bukan pembantu katamu? Jadi apa? Ratu?” sahutku sambil terus menatap laki-laki itu sinis. Tiba-tiba victoria mengalihkan pembicaraan.
“maaf tuan.. tidak usah dengar kata-kata dia.. saya minta maaf.. ini kesalahan saya..”
Aku menatap victoria yang sekarang tengah berlutut di hadapanku. Memohon ampun. Dia membuat ulah lagi, kali ini aku akan bilang sendiri pada eomma tentang pembantu kesayangannya ini.
“victoria! Aku rasa kau sudah keterlaluan! Kau harus siap-siap saja bila aku memecatmu nanti!! “
Aku melirik kearah kekasih victoria yang dari tadi masih memancarkan kesan marahnya padaku. Siapa sih yang seharusnya marah? Dia yang salah mengapa dia yang marah? aku yang punya rumah ini.. jelas aku yang patut marah.
“dan kau laki-laki Aneh.. cepat kau keluar dari sini!! “ Aku berteriak kearah laki-laki itu. Laki-laki itu keluar sambil mendorong bahuku. Sial..
“ Ya!!! Apa mau mu hah?”
Aku membalikan badan menatap laki-laki itu dan menggenggam ujung bajunya.
Aku benci dengan tatapannya.. tanpa basa basi aku segera menonjoknya dengan sekuat tenaga. Menghajarnya.. aku tak perduli dengan teriakan victoria yang meleraikan pertengkaran ini.
Laki-laki itu juga terus memukulku.
“dasar brengsek!! “
Darahku sudah berceceran dimana-mana.. tapi emosiku masih terus meluap-luap..
“YAAA!!! BERHENTI!!!!” suara jonghyun datang dari arah belakangku. Tapi aku tetap tidak menghiraukannya seperti suara victoria tadi.
Tiba-tiba jonghyun meleraikan ku. Menarikku hingga aku tak bisa lagi memukul pria brengsek itu.
“Onew! Sudah.. ! buat apa kau berkelahi dengan dia?”
Laki-laki itupun pergi sekarang. Ah, sial..
Lihat saja kalu sampai aku melihatnya lagi, apa lagi aku melihatnya di dalam rumahku, habis dia.
Aku melirik kearah victoria, masih dengan penuh emosi.
“Kau jangan coba-coba berbuat ini lagi!!!”
Aku melepas tangan jonghyun yang dari tadi memegang bahuku dan aku langsung berjalan pergi.
(onew p.o.v End)
__
(Victoria p.o.v)
“ya!! nichkhun! Kau dengar aku kan! Mengapa diam?! Kau tahu, kau membuat ulah di rumah majikanku! Dan itu hampir membuat aku di pecat, dan kau tahu!! Bagaimana kalo Appaku tahu semua kejadian ini! Aku bisa benar-benar di gantung olehnya!!!”
Teriakku saat menelephone nichkhun. Dia membuatku emosi. Dia telah membuatku malu, membuatku hampir di pecat. Dan tamatlah riwayatku bila appa tau semua ini..
“Iya sayang.. aku minta maaf.. lagian bagaimana appamu bisa tahu kejadian ini?.. tenanglah.. semua akan baik-baik saja.. majikanmu juga tidak akan memecatmu”
Dasar orang ini, mengapa dia berbicara begitu tenangnya, sedangkan aku masih sangat panik, khawatir memikirkan, Jinki yang marah tadi, appa yang bisa saja dia tahu..
“sudahlah.. kau tidak membantu menghilangkan semua rasa panikku.. aku mau meminta maaf lagi pada majikanku.”
Aku segera menutup telephone ku. Dan berjalan meninggalkan kamar.
(victoria p.o.v end)
__
(Onew p.o.v)
“Sial.. mukaku jadi seperti ini..”
Aku memandangi diriku di cermin, memandangi mukaku yang lebam-lebam akibat tadi. “Ini semua karena Victoria. Mengapa dia harus membawa kekasihnya ke rumah? Dan membuatku emosi karena laki-laki itu.. Arghh sudahlah… aku muak mengingat wajahnya.
Aku akan menelephone Eomma, memberi tahu kelakuan Pembantu kesayangannya itu. Berbuat mesum di rumah!!”
Aku segera mengambil handphoneku dari dalam saku.
“Eomma! Apa eomma tahu kelakuan pembantu kesayangan eomma itu?”
“apa maksdumu jinki?”
“Dia berbuat mesum dengan kekasihnya di rumah… apa tidak sepantasnya di pecat saja dia.. “ sahutku dengan sangat yakin nya pada eomma..
“kau serius? Sudah.. biarkan saja dia.. biar eomma yang urus..”
Eomma membiarkan victoria? Membiarkan pembantu kuranganjar yang tengah embawa kekasihnya secara diam-diam masuk kedalam rumah? Apa eomma tidak salah..
“eomma.. victoria itu nakal.. dia menjadikan rumah kita manjadi tempat mesum seperti ini.. eomma sadarkan?” sahutku lagi pada eomma, ntuk meyakinkan.
“Sama saja seperti mu bukan?! Membawa wanita masuk ke rumah!! Sudah kau diam saja.. maafkan victoria bila dia meminta maaf kepadamu!!” eomma segera menutup telephone dari ku itu.
Aiissshh.. eomma aneh!, mengapa jadi aku yang dimarahi, jelas-jelas pembantu itu yang harusnya dimarahi, bukannya aku. Apa maksudnya ini.. eomma labih sayang terhadap victoria dari pada aku? Padahal yang aku tahu, victoria dan eomma belum pernah bertemu sama sekali. Mengapa eomma sangat perduli dengannya.
‘tok..tokk..tokk..’
suara pintu kamarku berbunyi. Dan pasti itu victoria.
“masuk.!!” Sahutku agak membentak.
Tak lama victoriapun masuk sambil membawa baskom kecil di tangannya.
“Untuk apa kau kesini?”
“Aa-nu tuan.. saya mau meminta maaf.. atas kelakuan nichkhun tadi.. maafkan saya” victoria sekarang berlutut di hadapanku. Aduh, mengapa aku tidak tega melihatnya seperti ini?
“Sudah kau berdiri!!” aku mengalihkan pandanganku dari victoria.
“terimakasih tuan..”
Aku menatap baskom kecil yang ia bawa kekamarku.
“Itu untuk apa?”
“ini air dingin untuk membersihkan semua luka tuan..” sahut victoria dan agak menundukan kepalanya.
“oh.. terimakasih.. bisa bantu aku membersihkannya?” sahutku sambil tersenyum. Mengapa aku seramah ini dengan dia ? aneh.
“baiklah tuan..”
(Onew p.o.v end)
__
(victoria p.o.v)
“Aawww… pelan-pelan…” teriak jinki saat aku mencoba membersihkan semua lukanya akibat berkelahi dengan nichkhun. Ah manja sekali orang ini… tidak bisa mebersihkan lukanya sendiri.
“Ya!!! Pelan-pelan!! Sakit!!” teriaknya lagi padaku..
“iya tuan.. ini sudah pelan.. memang sedikit sakit..” aku kembali membersihkan lukanya.
Aku merasa jinki terus memperhatikanku, apa ini Cuma perasaanku saja yah..
“Selesai tuan..” sahutku saat selesai memberihkan luka jinki dan memasang plester di dahinya. Aku menatap jinki yang sekarang menatapku juga. Ada apa dengan orang ini?
“tuan boleh saya kembali ke dapur?” aku membereskan semua perlengkapan yang aku bawa tadi.
“Tunggu sebentar!” Jinki menahan tanganku. Kenapa kelakuannya sekarang seperti dia yang sedang mengigau kemarin ?
Aku menatapnya dengan muka bertanya. Jinki mendekatkan dirinya padaku membuat aku memundurkan badanku dan bersenderan dengan sofa. Hey, apa yang akan dia lakukan?
“tu-tuan..?? a-apa maksud anda??”
“kau diam!!” sahut jinki padaku, aku menutup kedua mataku.
Aku merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirku. Aku segera membuka mataku. APA?! Jinki menciumku?????
“JINKIIIIIIIIIIII!!! Lepaaassss!!!!!” teriakku dan mendoring jinki hingga menjauh dariku. Apa maksudnya dia mencumku?! Aku sudah tidak tahan dengan semua perlakuannya padaku.
“JANGAN KARENA KAU ADALAH MAJIKANKU, KAU BOLEH MEMPERLAKUKANKU SEPERTI INI!!! APA MAKSUDNYA KAU MENCIUMKU?!!!!!! UNTUK MELECEHKANKU?HAH?!!” aku berteriak sekeras-kerasnnya pada Jinki yang terdiam di depanku.
“Hey!! Bukan maksudku seperti itu!! tapi.. Argh,.. kau tidak mengerti! Sudah aku minta maaf… cepat kau pergi!!” Jinki mendorongku keluar dan mengunci kamarnya. Mengapa jadi dia yang marah!! Seharusnya aku yang marah padanya. Dasar tidak waras!
(victoria p.o.v end)
__
(Onew p.o.v)
“BODOH!! “ Itulah satu kata untukku.
Apa yang merasukiku hingga aku sampai mencium pembantu sialan itu?
Tapi jujur, tadi memang aku ingin sekali menciumnya. Perasaan ini berbeda dengan perasaanku saat mencium beberapa wanita lain. Karena ini bukan perasaan nafsu tapi.. Ah,, susah untuk di jelaskan. Apa aku benar-benar jatuh cinta dengan sungjun ?
Apa yang terjadi sebenarnya denganku? Bila aku benar-benar menyukai victoria, mustahil aku akan di terima olehhnya. Karena
Aduh ONEW!!! Mengapa hal seperti ini harus terjadi, padahal masih banyak wanita yang lebih cantik dari pembantu itu. Dan banyak wanita yang mengejar-ngejarku saat ini. tapi yang jelas semua nya adalah wanita yang tidak benar. Lain dengan victoria.
Apa yang harus aku perbuat untuk memikat victoria? Berubah baik padanya? Berubah menjadi anak manis, penurut, suka menolong, bijaksana, baik hati, pemurah? Seperti itu?
Huh? Tidak mungkin itu terjadi padaku.
Mengapa harus repot sepeti ini sih mengurusi perempuan? Apa tidak ada cara yang lebih gampang?
(Onew p.o.v end)
__
(victoria p.o.v)
‘Sial!!! Majikan macam apa itu?? dia menganggapku seperti wanita murahan?! Aisshh.. dasar pria tidak tahu diri, brengsek. Sudah! aku tidak kuat disini… aku akan bilang pada Appa kalau aku akan pulang, dan tidak kuat bekerja disini. Terlalu membebaniku, semoga appa berniat baik dan memberikanku kesempatan kedua, tapi pada majiakan lain yang tentunya lebih baik dari JINKI SIALAN!’
Aku membanting bantal yang ada di sebelahku dan memukuli bantal itu, karena aku anggap bantal itu adalah Onew, manusia sialan.
‘mysteric mysteric molla molla..’ handphoneku berbunyi dari dalam saku bajuku.
“Yeoboseyo.. Appa? Waeyo?” ternyata yang menelephoneku itu adalah appa. Tiba-tiba jantungku langsung berdenyut kencang, Appa menelephoneku sekarang? Ada apa? Apa aku berbuat salah padanya?
“VICTORIA!!! Jangan coba-coba kau membohongi Appa!! Apa yang kau lakukan dengan pria busuk itu di rumah majikanmu sendiri?hah?”
Sesuatu yang aku takutkan benar-benar terjadi. Appa bertanya tentang hal itu, darimana Appa tahu tentang nichkhun? Apa yang aku harus katakan pada Appa? Mungkin aku akan siap-siap dibunuh olehnya. Napasku serasa sesak mendengar semua pertanyaan appa, karena aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
“Appa, Maaa..Maaf..”
“Kau anak kurang ajar! Tidak cukup hukuman ini untukmu ? kau mau yang lebih berat?! Sudah appa bilang berkali-kali! Kau harus menjauhi pria brengsek itu!! dia yang membuatmu tidak menurut pada Appa lagi!! Dia bukan laki-laki yang benar!! KAU HARUS JAUHI DIA! KALAU TIDAK APPA TIDAK SEGAN-SEGAN MEMBUNUHNYA ATAU MEMBUNUHMU SEKALIAN!!!”
Kata-kata appa itu sangat membuaku kaget dan berhenti bernapas sejenak, appa tega membunuh anaknya sendiri. Kejam sekali.
“Iya Appa, aku mengerti.. “ Aku melemas sehabis mendengar perkataan Appa tersebut. Tidak gampang meninggalkan nichkhun begitu saja. Dia yang selama ini sangat perhatian denganku. Kalau tidak ada dia, siapa lagi yang mau menemaniku?
Appa sudah menutup telephonenya, aku hanya terduduk lemas sambil bersenderkan pada tiang tempat tidurku. Mengapa Appa bisa tahu semua yang aku lakukan? Apa jinki yang mengasih tahu Appa? Dari mana jinki kenal dengan appa? Lagian mana mungkin jinki kenal dengan appa.. Aku saja menjadi pembantu disini saja melalui penyauran pembantu. Ini sangat aneh. AAAAAAA~ Apa yang harus aku lakukan? Dan tidak mungkin aku keluar dari rumah ini dengan keadaan appa yang sedang marah besar padaku.
Aku memejamkan mata “mengapa aku harus menerima berbagai cobaan ini?? Apa yang aku harus lakukan…!! aku tidak tahan!!” Aku berteriak sekeras-kerasnya sambil menitihkan airmataku. Ini sangat membuatku tidak kuat.. “mengapa semua yang aku lakukan selalu saja salah.. “
‘tok tok tok’
Suara ketukan pintu kamar menyadarkanku. Aku langsung bangun dan merapihkan diri dan aku tahu yang akan aku hadapi adalah Jinki. Aku berniat meminta maaf karena aku sudah memarahinya tadi. Aku ingin bila hubunganku dan dia akan membaik, karena aku tidak mau mencari masalah lagi dengan Appa.. kalau appa tahu aku sampai bertengakar dengan majikanku, aku pasti langsung di gantung.
Aku membuka pintu pelan dan melihat Jinki di depan pintu sambil tersenyum ke arahku. Mau apa lagi yah orang ini? Awas saja kalau dia sampai ingin berbuat macam-macam terhadapku. Atau.. dia ingin memecatku? GAWAT.!!!
___
to be continued…

Title : Oh My Sweet Maid
Chapter : 4
Author : Shinstarkey/Nanonadia
Cast : Onew Lee Jinki, Victoria Song
Other cast : Nichkhun, Shinee Member
Language : Indonesia
Previous : Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 |
ps : Maaf sama yang gak suka Onew di pasangin sama Victoria yah ^^
__
“oh.. aku hanya ingin kasih tahu saja, jonghyun itu bukanlah orang yang baik, dia tidak sebaik kelihatanya.. dia itu gampang sekali menipu perempuan… jangan terlalu percayya dengan kebaikkannya itu. sudah beberapa wanita menjadi korbannya”
Perkataan jinki membuat aku mengerutkan dahiku, apa maksudnya dia berkata seperti itu? dia menjelek-jelekan jonghyun di depanku. Tapi aku fikir tetap saja Jonghyun lebih baik dari jinki..
“iya tuan.. “ aku menganggukan kepala pada jinki. Puas kau jinki?
(Victoria p.o.v end)
__
(onew p.o.v)
“Onew! Victoria mana?” sahut jonghyun saat memasuki rumahku.
Sudah beberapa hari ini jonghyun selalu datang ke rumahku, dan lagi-lagi alasannya itu untuk bertemu victoria . Apa sih yang dia mau ? sudah tau victoria sudah punya kekasih.. mengapa dia tetap mengejarnya…
“Ah, Victoria.. ada di kamarnya!.. kau mau bertemu dia lagi, eh?”
“Iya, hahah.. “ jonghyun menepuk bahuku dan berjalan pergi meninggalkanku untuk bertemu victoria.
__
Jonghyun lama sekali, apa yang dia lakukan di kamar victoria, mengapa dia dan victoria tidak keluar-keluar…
Wah, apa ada yang tidak beres? Jangan-jangan! Jonghyun!!!!!
Tanpa pikir panjang, aku segera berlari ke kamar victoria
__
Aku menemukan Jonghyun yang sedang mengintip ke arah kamar victoria melalui jendela kamar victoria. Sedang apa dia ?
“Ya!! Jonghyun !!! apa yang sedang kau lakukan? Jangan-jangan kau sedang mengintip victoria berganti baju, huh!!” teriakku seraya menegur jonghyun.
“sssssstttttttt….!!! jangan berisik! Sini!” jonghyun meletakan jari telunjuknya di depan bibir dan mengecilkan suaranya.
Aku segera berjalan menghampiri jonghyun yang masih mengintip ke arah kamar victoria.
“Ya!! Ada apa?”
“Kau harus lihaaattt!!!” jonghyun menarik kepalaku agar aku bisa melihat ke arah kamar victoria. Sepertinya ada yang tidak beres.
Dugaanku benar!
Terlihat victoria dan seorang laki-laki muda sedang berciuman. Hey! Berani-beraninya dia!! Siapa laki-laki itu? kekasihnya?
Berani-beraninya di berbuat mesum di rumahku!! Bersama laki-laki yang menurutku tidak…. ah bukan, aku pikir laki-laki itu tidak terlihat sepeti laki-laki kelas bawah, lihat saja gaya pakaiannya. Celana jeans, dengan kaus putih yang di tambah jas hitam yang di buka kancing nya. Terlihat seperti orang kaya. Aneh..
“Onneeewww…” terdengar suara jonghyun yang sepeti orang menangis..
Aku menoleh kearah jonghyun.
“Aku tambah patah hati..” jonghyun menutupi muka dengan kedua tangannya.
Entah mengapa perasaanku juga aneh ketika melihat victoria. Mengapa aku sedikit tidak rela. Ah, bukan.. aku hanya tidak suka bila dia berbuat mesum di rumahku, kalau di tempat lain silahkan saja. dan berani-beraninya dia membawa kakasihnya ke rumahku, siapa yang mengijinkannya.
Jonghyun pergi meninggalkanku, dia sangat terpukul sepertinya. Baru sekali aku melihatnya sepeti ini.
Emosiku mulai terpancing lagi saat aku kembali melihat ke dalam kamar, victoria masih berduaan dengan kekasihnya. Mereka belum menyadari kehadiranku?
Baiklah…
‘BRAAAAAAKKK’
Aku buka pintu kamar victoria secara paksa.
“T-tuaann?” victoria berdiri dari duduknya, sedangkan kekasihnya itu hanya duduk sambil menundukkan kepala. Pengecut..
“Ya!!! Berani sekali kau victoria!! Siapa yang mengikinkanmu membawa kekasih kesini hah? Aku memang tidak melarangmu mempunyai kekasih, tapi bukan begini caranya… Kau pembantu yang kurang ajar!!!!”
Aku mengangkat tanganku dan hapir saja aku ingin menampar victoria. Tapi tanganku di cegah oleh kekasihnya yang Aneh itu.
“jangan kau coba-coba menampar dia! Dia bukan pembantu!!”
Hah? Bukan pembantu? Apa maksud laki-laki ini??!
“Bukan pembantu katamu? Jadi apa? Ratu?” sahutku sambil terus menatap laki-laki itu sinis. Tiba-tiba victoria mengalihkan pembicaraan.
“maaf tuan.. tidak usah dengar kata-kata dia.. saya minta maaf.. ini kesalahan saya..”
Aku menatap victoria yang sekarang tengah berlutut di hadapanku. Memohon ampun. Dia membuat ulah lagi, kali ini aku akan bilang sendiri pada eomma tentang pembantu kesayangannya ini.
“victoria! Aku rasa kau sudah keterlaluan! Kau harus siap-siap saja bila aku memecatmu nanti!! “
Aku melirik kearah kekasih victoria yang dari tadi masih memancarkan kesan marahnya padaku. Siapa sih yang seharusnya marah? Dia yang salah mengapa dia yang marah? aku yang punya rumah ini.. jelas aku yang patut marah.
“dan kau laki-laki Aneh.. cepat kau keluar dari sini!! “ Aku berteriak kearah laki-laki itu. Laki-laki itu keluar sambil mendorong bahuku. Sial..
“ Ya!!! Apa mau mu hah?”
Aku membalikan badan menatap laki-laki itu dan menggenggam ujung bajunya.
Aku benci dengan tatapannya.. tanpa basa basi aku segera menonjoknya dengan sekuat tenaga. Menghajarnya.. aku tak perduli dengan teriakan victoria yang meleraikan pertengkaran ini.
Laki-laki itu juga terus memukulku.
“dasar brengsek!! “
Darahku sudah berceceran dimana-mana.. tapi emosiku masih terus meluap-luap..
“YAAA!!! BERHENTI!!!!” suara jonghyun datang dari arah belakangku. Tapi aku tetap tidak menghiraukannya seperti suara victoria tadi.
Tiba-tiba jonghyun meleraikan ku. Menarikku hingga aku tak bisa lagi memukul pria brengsek itu.
“Onew! Sudah.. ! buat apa kau berkelahi dengan dia?”
Laki-laki itupun pergi sekarang. Ah, sial..
Lihat saja kalu sampai aku melihatnya lagi, apa lagi aku melihatnya di dalam rumahku, habis dia.
Aku melirik kearah victoria, masih dengan penuh emosi.
“Kau jangan coba-coba berbuat ini lagi!!!”
Aku melepas tangan jonghyun yang dari tadi memegang bahuku dan aku langsung berjalan pergi.
(onew p.o.v End)
__
(Victoria p.o.v)
“ya!! nichkhun! Kau dengar aku kan! Mengapa diam?! Kau tahu, kau membuat ulah di rumah majikanku! Dan itu hampir membuat aku di pecat, dan kau tahu!! Bagaimana kalo Appaku tahu semua kejadian ini! Aku bisa benar-benar di gantung olehnya!!!”
Teriakku saat menelephone nichkhun. Dia membuatku emosi. Dia telah membuatku malu, membuatku hampir di pecat. Dan tamatlah riwayatku bila appa tau semua ini..
“Iya sayang.. aku minta maaf.. lagian bagaimana appamu bisa tahu kejadian ini?.. tenanglah.. semua akan baik-baik saja.. majikanmu juga tidak akan memecatmu”
Dasar orang ini, mengapa dia berbicara begitu tenangnya, sedangkan aku masih sangat panik, khawatir memikirkan, Jinki yang marah tadi, appa yang bisa saja dia tahu..
“sudahlah.. kau tidak membantu menghilangkan semua rasa panikku.. aku mau meminta maaf lagi pada majikanku.”
Aku segera menutup telephone ku. Dan berjalan meninggalkan kamar.
(victoria p.o.v end)
__
(Onew p.o.v)
“Sial.. mukaku jadi seperti ini..”
Aku memandangi diriku di cermin, memandangi mukaku yang lebam-lebam akibat tadi. “Ini semua karena Victoria. Mengapa dia harus membawa kekasihnya ke rumah? Dan membuatku emosi karena laki-laki itu.. Arghh sudahlah… aku muak mengingat wajahnya.
Aku akan menelephone Eomma, memberi tahu kelakuan Pembantu kesayangannya itu. Berbuat mesum di rumah!!”
Aku segera mengambil handphoneku dari dalam saku.
“Eomma! Apa eomma tahu kelakuan pembantu kesayangan eomma itu?”
“apa maksdumu jinki?”
“Dia berbuat mesum dengan kekasihnya di rumah… apa tidak sepantasnya di pecat saja dia.. “ sahutku dengan sangat yakin nya pada eomma..
“kau serius? Sudah.. biarkan saja dia.. biar eomma yang urus..”
Eomma membiarkan victoria? Membiarkan pembantu kuranganjar yang tengah embawa kekasihnya secara diam-diam masuk kedalam rumah? Apa eomma tidak salah..
“eomma.. victoria itu nakal.. dia menjadikan rumah kita manjadi tempat mesum seperti ini.. eomma sadarkan?” sahutku lagi pada eomma, ntuk meyakinkan.
“Sama saja seperti mu bukan?! Membawa wanita masuk ke rumah!! Sudah kau diam saja.. maafkan victoria bila dia meminta maaf kepadamu!!” eomma segera menutup telephone dari ku itu.
Aiissshh.. eomma aneh!, mengapa jadi aku yang dimarahi, jelas-jelas pembantu itu yang harusnya dimarahi, bukannya aku. Apa maksudnya ini.. eomma labih sayang terhadap victoria dari pada aku? Padahal yang aku tahu, victoria dan eomma belum pernah bertemu sama sekali. Mengapa eomma sangat perduli dengannya.
‘tok..tokk..tokk..’
suara pintu kamarku berbunyi. Dan pasti itu victoria.
“masuk.!!” Sahutku agak membentak.
Tak lama victoriapun masuk sambil membawa baskom kecil di tangannya.
“Untuk apa kau kesini?”
“Aa-nu tuan.. saya mau meminta maaf.. atas kelakuan nichkhun tadi.. maafkan saya” victoria sekarang berlutut di hadapanku. Aduh, mengapa aku tidak tega melihatnya seperti ini?
“Sudah kau berdiri!!” aku mengalihkan pandanganku dari victoria.
“terimakasih tuan..”
Aku menatap baskom kecil yang ia bawa kekamarku.
“Itu untuk apa?”
“ini air dingin untuk membersihkan semua luka tuan..” sahut victoria dan agak menundukan kepalanya.
“oh.. terimakasih.. bisa bantu aku membersihkannya?” sahutku sambil tersenyum. Mengapa aku seramah ini dengan dia ? aneh.
“baiklah tuan..”
(Onew p.o.v end)
__
(victoria p.o.v)
“Aawww… pelan-pelan…” teriak jinki saat aku mencoba membersihkan semua lukanya akibat berkelahi dengan nichkhun. Ah manja sekali orang ini… tidak bisa mebersihkan lukanya sendiri.
“Ya!!! Pelan-pelan!! Sakit!!” teriaknya lagi padaku..
“iya tuan.. ini sudah pelan.. memang sedikit sakit..” aku kembali membersihkan lukanya.
Aku merasa jinki terus memperhatikanku, apa ini Cuma perasaanku saja yah..
“Selesai tuan..” sahutku saat selesai memberihkan luka jinki dan memasang plester di dahinya. Aku menatap jinki yang sekarang menatapku juga. Ada apa dengan orang ini?
“tuan boleh saya kembali ke dapur?” aku membereskan semua perlengkapan yang aku bawa tadi.
“Tunggu sebentar!” Jinki menahan tanganku. Kenapa kelakuannya sekarang seperti dia yang sedang mengigau kemarin ?
Aku menatapnya dengan muka bertanya. Jinki mendekatkan dirinya padaku membuat aku memundurkan badanku dan bersenderan dengan sofa. Hey, apa yang akan dia lakukan?
“tu-tuan..?? a-apa maksud anda??”
“kau diam!!” sahut jinki padaku, aku menutup kedua mataku.
Aku merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirku. Aku segera membuka mataku. APA?! Jinki menciumku?????
“JINKIIIIIIIIIIII!!! Lepaaassss!!!!!” teriakku dan mendoring jinki hingga menjauh dariku. Apa maksudnya dia mencumku?! Aku sudah tidak tahan dengan semua perlakuannya padaku.
“JANGAN KARENA KAU ADALAH MAJIKANKU, KAU BOLEH MEMPERLAKUKANKU SEPERTI INI!!! APA MAKSUDNYA KAU MENCIUMKU?!!!!!! UNTUK MELECEHKANKU?HAH?!!” aku berteriak sekeras-kerasnnya pada Jinki yang terdiam di depanku.
“Hey!! Bukan maksudku seperti itu!! tapi.. Argh,.. kau tidak mengerti! Sudah aku minta maaf… cepat kau pergi!!” Jinki mendorongku keluar dan mengunci kamarnya. Mengapa jadi dia yang marah!! Seharusnya aku yang marah padanya. Dasar tidak waras!
(victoria p.o.v end)
__
(Onew p.o.v)
“BODOH!! “ Itulah satu kata untukku.
Apa yang merasukiku hingga aku sampai mencium pembantu sialan itu?
Tapi jujur, tadi memang aku ingin sekali menciumnya. Perasaan ini berbeda dengan perasaanku saat mencium beberapa wanita lain. Karena ini bukan perasaan nafsu tapi.. Ah,, susah untuk di jelaskan. Apa aku benar-benar jatuh cinta dengan sungjun ?
Apa yang terjadi sebenarnya denganku? Bila aku benar-benar menyukai victoria, mustahil aku akan di terima olehhnya. Karena
- Aku bukanlah orang baik-baik (sadar diri)
- victoria sudah mempunyai kekasih
- Dia tak suka denganku
- Terlalu murahan bila aku menyuki pembantu
- Mungkin victoria sudah terlanjur benci denganku karena kelakuanku tadi
- MUSTAHIL.
Aduh ONEW!!! Mengapa hal seperti ini harus terjadi, padahal masih banyak wanita yang lebih cantik dari pembantu itu. Dan banyak wanita yang mengejar-ngejarku saat ini. tapi yang jelas semua nya adalah wanita yang tidak benar. Lain dengan victoria.
Apa yang harus aku perbuat untuk memikat victoria? Berubah baik padanya? Berubah menjadi anak manis, penurut, suka menolong, bijaksana, baik hati, pemurah? Seperti itu?
Huh? Tidak mungkin itu terjadi padaku.
Mengapa harus repot sepeti ini sih mengurusi perempuan? Apa tidak ada cara yang lebih gampang?
(Onew p.o.v end)
__
(victoria p.o.v)
‘Sial!!! Majikan macam apa itu?? dia menganggapku seperti wanita murahan?! Aisshh.. dasar pria tidak tahu diri, brengsek. Sudah! aku tidak kuat disini… aku akan bilang pada Appa kalau aku akan pulang, dan tidak kuat bekerja disini. Terlalu membebaniku, semoga appa berniat baik dan memberikanku kesempatan kedua, tapi pada majiakan lain yang tentunya lebih baik dari JINKI SIALAN!’
Aku membanting bantal yang ada di sebelahku dan memukuli bantal itu, karena aku anggap bantal itu adalah Onew, manusia sialan.
‘mysteric mysteric molla molla..’ handphoneku berbunyi dari dalam saku bajuku.
“Yeoboseyo.. Appa? Waeyo?” ternyata yang menelephoneku itu adalah appa. Tiba-tiba jantungku langsung berdenyut kencang, Appa menelephoneku sekarang? Ada apa? Apa aku berbuat salah padanya?
“VICTORIA!!! Jangan coba-coba kau membohongi Appa!! Apa yang kau lakukan dengan pria busuk itu di rumah majikanmu sendiri?hah?”
Sesuatu yang aku takutkan benar-benar terjadi. Appa bertanya tentang hal itu, darimana Appa tahu tentang nichkhun? Apa yang aku harus katakan pada Appa? Mungkin aku akan siap-siap dibunuh olehnya. Napasku serasa sesak mendengar semua pertanyaan appa, karena aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
“Appa, Maaa..Maaf..”
“Kau anak kurang ajar! Tidak cukup hukuman ini untukmu ? kau mau yang lebih berat?! Sudah appa bilang berkali-kali! Kau harus menjauhi pria brengsek itu!! dia yang membuatmu tidak menurut pada Appa lagi!! Dia bukan laki-laki yang benar!! KAU HARUS JAUHI DIA! KALAU TIDAK APPA TIDAK SEGAN-SEGAN MEMBUNUHNYA ATAU MEMBUNUHMU SEKALIAN!!!”
Kata-kata appa itu sangat membuaku kaget dan berhenti bernapas sejenak, appa tega membunuh anaknya sendiri. Kejam sekali.
“Iya Appa, aku mengerti.. “ Aku melemas sehabis mendengar perkataan Appa tersebut. Tidak gampang meninggalkan nichkhun begitu saja. Dia yang selama ini sangat perhatian denganku. Kalau tidak ada dia, siapa lagi yang mau menemaniku?
Appa sudah menutup telephonenya, aku hanya terduduk lemas sambil bersenderkan pada tiang tempat tidurku. Mengapa Appa bisa tahu semua yang aku lakukan? Apa jinki yang mengasih tahu Appa? Dari mana jinki kenal dengan appa? Lagian mana mungkin jinki kenal dengan appa.. Aku saja menjadi pembantu disini saja melalui penyauran pembantu. Ini sangat aneh. AAAAAAA~ Apa yang harus aku lakukan? Dan tidak mungkin aku keluar dari rumah ini dengan keadaan appa yang sedang marah besar padaku.
Aku memejamkan mata “mengapa aku harus menerima berbagai cobaan ini?? Apa yang aku harus lakukan…!! aku tidak tahan!!” Aku berteriak sekeras-kerasnya sambil menitihkan airmataku. Ini sangat membuatku tidak kuat.. “mengapa semua yang aku lakukan selalu saja salah.. “
‘tok tok tok’
Suara ketukan pintu kamar menyadarkanku. Aku langsung bangun dan merapihkan diri dan aku tahu yang akan aku hadapi adalah Jinki. Aku berniat meminta maaf karena aku sudah memarahinya tadi. Aku ingin bila hubunganku dan dia akan membaik, karena aku tidak mau mencari masalah lagi dengan Appa.. kalau appa tahu aku sampai bertengakar dengan majikanku, aku pasti langsung di gantung.
Aku membuka pintu pelan dan melihat Jinki di depan pintu sambil tersenyum ke arahku. Mau apa lagi yah orang ini? Awas saja kalau dia sampai ingin berbuat macam-macam terhadapku. Atau.. dia ingin memecatku? GAWAT.!!!
___
to be continued…
Oh My Sweet Maid – Chapter 5
NOT FOR SILENT READER..

Title : Oh My Sweet Maid
Chapter : 5
Author : Shinstarkey/Nanonadia
Cast : Onew Lee Jinki, Victoria Song
Other cast : Nichkhun, Shinee Member
Language : Indonesia
Previous : Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 |Chapter 4 |
ps : Maaf sama yang gak suka Onew di pasangin sama Victoria yah ^^
__
‘tok tok tok’
Suara ketukan pintu kamar menyadarkanku. Aku langsung bangun dan merapihkan diri dan aku tahu yang akan aku hadapi adalah Jinki. Aku berniat meminta maaf karena aku sudah memarahinya tadi. Aku ingin bila hubunganku dan dia akan membaik, karena aku tidak mau mencari masalah lagi dengan Appa.. kalau appa tahu aku sampai bertengakar dengan majikanku, aku pasti langsung di gantung.
Aku membuka pintu pelan dan melihat Jinki di depan pintu sambil tersenyum ke arahku. Mau apa lagi yah orang ini? Awas saja kalau dia sampai ingin berbuat macam-macam terhadapku. Atau.. dia ingin memecatku? GAWAT.!!!
Aku membuka pintu kamar pelan.
“Tu-tuan.. saya minta maaf, karena tadi saya marah-marah pada tuan.. tapi mohon.. jangan pecat saya.. “ aku agak gugup dan menundukan kepalaku.
“bagaimana yah… aku rasa susah untuk memaafkan mu..” katanya sambil sedikit membuang muka padaku. Aiiisss.. mengapa dia mesti buang muka seperti itu padaku. Apa dia benar-benar marah? Bukannya dia yang salah?
“Apa tuan akan memecat saya?”
“Mungkin saja.. “ Sahut Jinki yang masih terus membuang muka kepadaku. Tapi mengapa aku melihat segurat senyum dibalik itu?
“baiklah tuan.. saya pasrah kalau tuan ingin memecat saya.. “ aku menundukan kepala, seluruh badanku melemas karena aku tahu ini adalah hal yang buruk. Bagaimana kalau appa tahu kini aku di pecat.
“Hahahhahahahhahahah”
Suara tawa terdengar dari Jinki. Aku menoleh kearahnya. Dia tertawa sangat kencang sambil menatapku.
“hahahhaha.. Kau..hahahha.. kau percaya aku akan memecatmu?” sahutnya di sela-sela tawanya. Aku menatapnya dengan tatapan yang sangat bingung.
“Apa maksudnya tuan?”
Jinki berhenti tertawa dan menatapku sambil tersenyum. “Aku tidak akan memecatmu Victoria. Aku ingin meminta maaf soal yang tadi. Aku sudah berbuat aneh-aneh padamu. Wajar sih kalau kau memarahiku tadi. Itu salahku.”
Aku tersenyum mendengar perkataan Jinki itu. Dia masih saja tersenyum padaku. Aku merasa akhir-akhir ini dia begitu baik terhadapku. Selalu tersenyum dan itu membuatku senang.
“makasih tuaannnn!!!” sahutku dan hampir loncat-loncat di depannya karena saking senangnya.
“ya sudaah.. Noona masih harus membereskan rumah bukan?”
Aku sedikit tersentak mendengar perkataannya yang sangat aneh itu.. dia bilang aku ‘Noona’? waw.. seorang jinki bisa sopan juga. Aku rasa ini sangat aneh.
Aku menganggukan kepalaku dan tersenyum lagi padanya. “iya tuan.. terimakasih “
Jinki membalikan badannya dan berjalan meninggalkan kamarku, tiba-tiba dia berhenti dan membalikan badannya lagi menghadapku. “Ah iya..tidak usah memangglku tuan lagi.. kau cukup panggil aku Jinki, atau Onew.. Oke.” Di akhir dia mengedipkan sebelah matanya kearahku. Dasar genit.
Jinki meneruskan langkahnya meninggalkan kamarku.
Aku tidak menyangka Jinki menjadi sebaik ini denganku.
(Victoria p.o.v end)
__
(Onew p.o.v)
Akhir-akhir ini aku sedikit bertingkah lebih baik pada Victoria. Mungkin saja cara ini bisa membuat Victoria tertarik padaku. Selalu saja muncul perasaan aneh saat aku menatap Victoria. Aku tidak mengerti perasaan apa ini, apa benar aku menyukainya? Karena perasaan ini belum pernah aku rasakan. Perasaan Aneh.
Oke, lagi-lagi pria playboy itu datang!.. Jonghyun..
“Ya! Onew! Mana pembantumu?” Jonghyun menghampiriku yang sedang duduk depan TV. Selalu saja mencari Victoria. Apa dia belum kapok?
“Victoria? Sedang menyetrika mungkin…” aku sengaja membuang mukaku pada Jonghyun.
“Oh kalau begitu aku akan menemuinya.. aku akan memberika sesuatu yang spesial untuknya. Awas kau kalau mengintip hahaha” Jonghyun berjalan meninggalkanku dan langsung menuju ke belakang. ‘Apa maksud perkataannya tadi ? mau memberikan sesuatu yang spesial?’
Aku segera berlari menyusul jonghyun dan berniat mengintip. Aku hanya takut saja Jonghyun berbuat yang aneh-aneh pada Victoria noona.
__
Aku mengunpat di balik pintu teras belakang, dekat dengan tempat victoria menyetrika baju. Jonghyun sudah berdiri di sebelah victoria sambil tersenyum lebar. Apa yang mau dia lakukan?
Aku terus memperhatikan mereka berdua.
“Victoria Noona… “
“Jonghyun.. kau kesini lagi..” Victoria menatap jonghyun yang berada di sampingnya.
“Ah.. iya.. aku ingin berbicara sesuatu padamu noona..” Jonghyun memegang tangan Victoria. Aku semakin geram melihat tingkah jonghyun. Tiba-tiba saja emosiku terpancing.
Tiba-tiba saja jonghyun berlutut di hadapan Victoria dan menggenggam kedua tangan Victoria.
“Noona.. maukah kau menjadi kekasih ku?”
‘APA?? Jonghyun menyatakan cinta pada victoria? Sialan.. dia mendahuluiku..’ Aku mengepalkan tangan sambil terus menatap jonghyun dan victoria dengan emosi yang sedikit meluap-luap. ‘ Aku harap Victoria tidak menerima cinta jonghyun…’
“Ayolah Noona.. terimalah.. aku tulus mencintaimu.. semenjak aku bertemu denganmu aku langsung tertarik, makanya aku langsung menghampiri mu.” Kata jonghyun lagi sambil memohon pada victoria. Alah.. kata-katanya sangat gombal.
“ Maaf Jonghyun.. aku tidak bisa menerimamu.. “ Sahut victoria pada Jonghyun sambil tersenyum. ‘Yes!! Akhirnya aku mulai lega.. victoria tidak menerima jonghyun sebagai kekasihnya..’
Jonghyun berdiri tetapi terus memegang keduaa tangan victoria sambil menundukan kepalanya.
“Baiklah Noona.. walaupun kau tidak menerimaku.. aku akan terus mengejarmu sampai kau suka dan menerimaku..” kata jonghyun dan langsung mencium pipi victoria..
Emosiku langsung terpancing, dan tanpa berfikir apapun aku segera menghampiri mereka.
“Ya!! Jonghyun!! Apa maksudnya kau mencium pipi victoria ?” Aku menghampiri jonghyun dengan emosi yang meluap-luap..
Jonghyun mentapku dengan tatapan tajam. “apa urusanmu? Kau juga bukan siapa-siapanya kan? Dia hanya pembantumu bukan?” jonghyun berhadapan denganku sekarang.
Karena kesal mendengar perkataannya itu, aku langsung menghantam wajahnya itu dengan kepalan tanganku. Ya, aku menonjoknya sampai dia terpental ke arah dinding.
“Hey!” teriak jonghyun yang menatapku dengan tatapan berapi-api..
“Aku tidak mau kau mendekati Victoria!” teriakku pada jonghyun yang sekarang ku genggam kerah bajunya.
“HEY! Kau pikir kau siapa?! ini HAK ku!!!”
Aku melepaskan genggamanku pada kerah bajunya dan berjalan mundur.
Victoria terus memandangiku dan jonghyun sambil menutupi muka dengan kedua tangannya
jonghyun masih memandangiku dengan tatapan murkanya. ‘BODOH! Mengapa emosiku bisa meluap-luap seperti ini… dan argh.. jonghyun benar.. aku memang bukan siapa-siapa Victoria.. tidak sepantasnya aku berbuat seperti ini.. ‘
Aku berjalan meninggalkan jonghyun dan Victoria.. tanpa meminta maaf..
(onew p.o.v end)
__
(Victoria p.o.v)
Aku baru saja menyaksikan sendiri jinki dan jonghyun berkelahi, tepat di hadapanku. Mataku terbuka lebar menatap kedua lelaki itu saling memukul. Aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat.
Aku bingung mengapa jinki tiba-tiba datang dan langsung saja memukul jonghyun? Dan apa maksudnya dia berkata jonghyun tidak boleh mendekatiku? Bukankah itu memang hak jonghyun…
Jinki sekarang sudah pergi meninggalkan aku dan jonghyun. Aku membantu jonghyun berdiri menyempurnkan tubuhnya.
“Sial… “ sahut jonghyun sambil mengelap darah yang ada di sudut bibirnya dengan emosi yang sangat meluap-luap.
“jonghyun.. kau tidak apa-apa?”
“tidak apa-apa.. sialan onew!” sahutnya lgi masih dengan amarah.
“sudah sebaiknya kau pulang saja.. kalo kau tetap disini aku akan ikut dimarahinya juga dan bisa saja aku dipecat..” Aku terpaksa berkata seperti ini pada jonghyun. tapi memang benar, aku bisa saja di pecat oleh jinki.
“baiklah Noona.. aku tidak mau kau ikutan bermasalah dengan onew aneh itu. Tapi ingat janjiku.. aku maish akan terus mengejarmu! Oke” sahut jonghyun sambil mengedipkan sebelah matanya dengan senyum yang di lengkapi luka di sudut bibirnya itu.
“iya.. terserah padamu saja… “ aku membalasnya dengan sedikit tersenyum kearahnya.
__
‘tok.. tok.. tok..’
Ku ketuk pintu kamar jinki yang pintunya sedikit terbuka. Aku tahu dia pasti di dalam sana. Niatku kali ini adalah meminta maaf padanya, sebenarnya aku tidak tahu salahku apa. Tapi karena kejadian jinki dan jonghyun tadi berkaitan denganku otomatis aku juga harus meminta maaf pada jinki.
Tidak ada tanggapan dari dalam, serasa ruangan itu benar-benar sepi. Tapi aku memang sangat yakin bahwa jinki masih berada di dalam. Tanpa pikir panjang aku segera memasuki kamar jinki walau ini terkesan seperti tidak sopan.
“permisi.. Tuan..” aku melangkah perlahan sambil mendorong pintu kamar pelan.
Ruangan masih terasa sepi, aku mencari sosok jinki disana, dan mataku menangkap sosok satu orang yang tengah duduk di pinggir jendela sambil menatap keluar dengan tatapan kosong. Apa itu jinki ? mengapa dia?
Aku masih memperhatikannya dari jauh sosok itu sambil sedikit sedikit mengambil langkah mendekatinya.
“kemarilah…”
Suara tiba-tiba dari jinki sedikit membuatku kaget dan terdiam. Aku segera menghampiri jinki disana yang masih terdiam memandangi kearah luar.
“duduklah disini..” ia menyuruhku untuk duduk di sebelahnya tanpa menoloh sedikitpun kearahku. Aku masih terus menatapnya bingung sambil menyesuaikan tubuhku untuk duduk di sampingnya.
“apa kau tahu.. mengapa aku sampai berbuat seperti itu?” katanya lagi dan kini ia menundukan kepalanya.
Aku hanya menggelengkan kepalaku. Aku berusaha menatap wajahnya tapi dia seakan menyembunyikan raut wajahnya dariku.
“Kau membuatku berubah, Victoria….”
“Kau merubah hidupku….”
Aku semakin merasa bingung dengan semua perkataan jinki. Seakan aku harus memecahkan semua misteri pada dirinya dan aku harus menebak semua yang ada pada pikirannya.
“Apa maksud tuan?”
Jinki menarik napas panjang, dia masih belum juga mau menatapku masih tetap dengan tatapan kosong menatap kebawah dan……
“AKU MENCINTAIMU”
Nafasku serasa berhenti tiba-tiba. Dan aku hanya bisa mentap jinki dengan mulut terbuka dan tatapan penuh dengan rasa terkejut. Jinki kini menatapku. Menatapku dalam. Matanya menunjukan kejujuran dan aku belum pernah melihatnya seperti ini sebelumnya. Aku membisu, tak tahu apa yang harus aku katakan dan serasa waktu berhenti sekarang.
“kau tahu.. ini konyol rasanya.. aku yang biasanya memarahimu sekarang malah menyatakan cinta.. “ dia menghela napas dan menunjukan senyum di sudut bibirnya. “Aku tak bisa menyimpan perasaan ini lagi, victoria.. aku lelah..”
“perasaan ini selalu menghantuiku.. aku tak tau dari mana perasaan ini datang.. “
Jinki kembali menundukan kepalanya.. memanglingkan wajahnya dariku lagi. Menatap kebawah.
“Aku tau.. kau benci padaku.. karena tingkahku yang tidak karuan itu.. yang tidak dapat mengatur emosiku sendiri..”
Aku terus menatap jinki.. dan entah kenapa tanganku ini malah mengelus pelan punggung jinki.. aku merasa kali ini aku begitu dekat dengannya..
“dan soal jonghyun.. aku tidak suka dia mendekatimu.. aku cemburu..”
“aku tahu.. ini memang tidak masuk akal, tapi entah kenapa aku ingin memilikimu.. aku mau kau menjadi milikku.. bukan orang lain..”
Aku memeluk jinki, aku masih belum bisa berkata apa-apa.. sebenarnya aku sudah menyadari ini dari sinya akhir-akhir ini, saat dia mencium bibirku.
Jinki kembali membuka suara
“ Aku sangat bodoh.. Aku cemburu pada kekasihmu.. yah, itu hal bodoh.. jelas-jelas dia kekasih mu.. aku tidak ada apa-apa nya di banding dia. Tapi itulah yang aku rasakan.. saat melihat kau dengan laki-laki lain.. termasuk kekasihmu..”
“Itu bukan salahmu, jinki…” kata-kata itu keluar dari bibirku sambil terus memeluk jinki.. Aku baru tahu di balik sikap jinki yang keras dan egois dia menyimpan hati yang lemah, lemah menerima keadaan di sekitarnya, aku masih bingung harus berbuat apa. Aku hanya ingin dia tenang. Aku tidak mau dia terus tertekan. Tapi bagaimana caranya? Apa aku harus menerimanya.. menerima cintanya?
“Aku tak perduli dengan perkerjaanmu yang sekarang menjadi pembantu.. pembantuku.. Aku hanya ingin cintamu victoria.. aku ingin kau.. walau aku tahu.. kau pasti menolakku mentah mentah..”
Jinki kini memelukku juga. Meletakkan kepalanya di pundakku. Aku rasa dia menangis. Dia masih seperti bocah yang tidak mendapatkan sesuatu yang dia inginkan. Aku membelai halus rambutnya. Tidak tahu apa yang harus aku katakan. Aku memikirkan nichkhun. Aku bimbang… Aku juga bingung,, apa aku masih mencintai nichkhun? Tapi perhatianku sekarang hanya tertuju pada jinki.
“Aku ingin kau victoria.. hanya kau..” Suara jinki terdengar buyar karena tangisnya itu.
Aku membelai rambutnya pelan. Mencoba menenangkannya. aku tidak mengerti dengan perasaanku sekarang. Rasanya aku juga ingin memiliki jinki. Perasaan macam apa ini. mengapa datang terlalu tiba-tiba. Memang sih dari awal aku sudah sedikit tertarik padanya tapi karena sikapnya yang seperti itu padaku rasa tertarik ku hilang. Sekarang rasa itu datang lagi…
“Jangan menangis.. kau itu kan pria dewasa.. kalau begitu mana bisa aku menerima cintamu.. kelakuanmu seperti anak kecil begini.. aku tidak suka..” kataku dengan nada yang sedikit marah. Aku berkata seperti ini untuk membuat jinki berhenti menangis.
“Apa maksudmu noona?” Jinki melepas pelukanku dan memandangku dengan tampang bingung. mukanya memerah karena sehabis menangis.
“Aku ini lebih tua darimu, tentu saja aku tidak suka dengan laki-laki cengeng yang bertingkah seperti bocah ingusan ini.. kecuali kau bersikap lebih dewasa di bandingku.”
Aku tersenyum kepadanya. Rasanya ini bukan seperti percakapan antara seorang majikan dan pembantunya. Hh..
Jinki tiba-tiba menunduk “walaupun aku bertingkah dewasapun, kau juga tidak akan menerimaku, bukan? Bagaimana dengan kekasihmu.. atau Jonghyun yang terus mengejarmu.. huh?”
Aku sedikit tersenyum menatapnya. Membelai halus pipinya, dia sangat lucu..
“bagaimana kalau Aku menerimamu?” kataku sambil mengangkat wajahnya agar menatapku sekarang. Aku memang tidak yakin dengan tindakan ku sekarang. Tapi hatiku seakan tidak bisa menolak jinki, aku tidak terpikir lagi bagaimana dengan nichkhun jonghyun atau Appaku..
(Victoria p.o.v end)
__
(Onew p.o.v)
“bagaimana kalau aku menerimamu?”
Aku terdiam mendengar kata-kata yang barusan aku dengar. Aku tidak percaya victoria berkata seperti itu, bukankah dia benci padaku? Dan bagaimana dengan kekasih nya?
“apa kau serius dengan perkataanmu?” sahutku bingung.
“Terserah padamu sih.. kalau kau mau berubah , mungkin aku mau menerimamu…”
Aku tersenyum lebar, rasanya aku ingin berteriak kalau aku sangat senang mendengar Victoria ternyata menerimaku. Tapi rasanya ini terlalu berlebihan.
“TUAN JINKI! Jangan hanya tersenyum.. atau kau sebenarnya malu berhubungan dengan pembantu? Huh? “ ujar Victoria sambil menatapku dengan matanya yang bulat.
“Tentu saja aku ingin berubah.. demi mendapatkan pembantuku yang sangat cantik ini.. “
Aku mendekatkan wajahku kearahnya dan mencium bibirnya. Haha.. kali ini dia tidak berontak seperti waktu pertama kali aku menciumnya….
(Jinki p.o.v end)
__
(author p.o.v)
“Yaaa! Jangan bergerak!! Kalian sudah di kepung”
beberara polisi mengerahkan senapannya kearah kerumunan orang di sudut Gang sempit. Yang ternyata mereka sedang menggunakan obat-obatan terlarang.
Dan tiba-tiba seorang laki-laki nekat kabur dan berlari menerobos jejeran polisi.
“YA! NICHKHUN!!! KAU GILA!!” teriak salah seorang untuk mencegah laki-laki itu kabur menerobos jejeran polisi.
Akhirnya laki-laki itu berhasil kabur. Walau ada satu tembakan di kakinya yang membuat kakinya berdarah-darah
(Author p.o.v end)
__
(victoria P.o.v)
Ini memang terlihat sangat aneh. Seorang pembantu berpacaran dengan majikannya sendiri. Tapi inilah yang aku jalani bersama jinki sekarang. Kami menjalani hubungan yang begitu dekat. Sebenarnya aku masih bingung. Nichkhun.. bagaimana dengan dia. Dia tidak ada kabar sama sekali. Aku ingin berpisah dengan cara baik-baik. Bisa di bilang aku berkhianat pada Nichkhun, pada lelaki yang selama ini mencintaiku. Tapi bagaimana jika sekarang cintaku pindah pada majikanku sendiri. Apa mungkin nichkhun sudah tertangkap oleh Appa?
“Noonaaaaaaaaaaa……..mana sarapanku?” teriak jinki dari arah meja makan. chh.. dasar kelakuannya masih belum berubah.
“Iyaaa! Sebentar..” balasku yang sekarang membawa sarapan untuk jinki. Dengan nasi goreng, susu dan roti ini.
“ini.. “ sahutku dengan sedikit kesal kearahnya sambil menaruh semua makanan di meja makannya.
“ya! Mangapa kau marah-marah? “
“sepertinya kau masih menganggap aku sebagai pembantumu.. Tuan Jinki!!” balasku sambil membuang muka kearahnya.
“mau bagaimanapun kau tetap pembantuku. “ Jinki kini memperlihatkan wajahnya yang menyebalkan. Aku muak melihat wajahnya itu!
“tapi aku mencintai pembantuku……..” sahutnya lagi dan kini dia memelukku. Aku masih tetap dengan posisiku.
“kau gombal!”
“biar saja.. hahahhaha”
‘ting.. tong.. tong.. tong… “ Bell rumah berbunyi.
“Aiiissshhh.. siapa sih yang datang?! Merusak suasana saja!!” gumam jinki.
“Biarlah.. mungkin itu tamu mu.. sudah. Tidak baik kita terus seperti ini.. bairku bukakan pintu dulu.”
Aku berjalan kearah pintu rumah. Membukanya…
“ONEEEEEEEEEEWWWWWWWWWWWWWWWWW…..!!!” seorang wanita berambut pendek dengan sedikit menangis menerobos masuk ke rumah. Eh?
Wanita itu langsung masuk sambil membawa koper besar yang sepertinya berisi alat make up semua..
Ah, aku baru saja ingat. Wanita itu..
Wanita itu adalah wanita yang datang ke rumah ketika jinki membuat pesta. Wanita yang memakai baju super duper seksi. Eh.. mau apa lagi dia kesini?
Aku segera menutup pintu dan berjalan menuju ruang tengah. Aku ingin tahu apa yang di lakukan wanita itu.
(victoria P.o.v end)
__
(onew p.o.v)
Terdengar suara wanita berteriak dari arah ruang tamu. Dan itu bukan suara victoria.. siapa yang datang?
“ONEW!!”
Mataku membulat melihat siapa yang datang dan kini berlari manja kearahku. Apa-apaan sih wanita ini??!
“YA!! Seungyeon!! Lepaskan!”
Aku berusaha melepaskan genggaman tangan seungyeon yang melingkar di badanku.
“Onew.. Aku rindu padamu…!!” seungyeon memelukku semakin erat.
“Mau apa kau kesini?!”
Aku sangat tidak suka melihat seungyeon datang kesini. Wanita murahan yang dari dulu selalu bersamaku. Sebenernya orang-orang selalu menganggap kami berpacaran tapi yang benar saja. Dari dulu aku tidak sudi berpacaran dengan wanita murahan seperti dia. Dia hanya menjadi wanita untuk bersenang-senang saja.
Aku menatap victoria yang berjalan melewati aku dan seungyeon. Dia hanya menghela nafas nya dan berjalan melewatiku. Dia sama sekali tidak mau menatapku. Aduh.. bagaimana ini.. apa victoria marah?
“untuk apa kau kesini?!” aku manjauh dari seungyeon, aku tidak perduli padanya.
“Aku ingin memberitahu kabar baik untukmu, jagiya..” katanya sambil duduk di sebelahku. Ah.. sanhgat Jijik mendengarnya memanggilku dengan sebutan itu. Aku muak. Aku meneguk secangkir teh yang dari tadiku pegang.
“berita apa?.”
Seungyeon diam dan menatapku. Aku tidak mau menatapnya aku mengacuhkannya dan pandanganku beralih kerah dapur. Untuk melihat sosok Victoria.
“Onew.. perhatikan aku!” seungyeon menarik wajahku untuk menatapnya. Apa-apaan sih wanita ini.
“Aku Hamil.. Anakmu..”
to be continued…

Title : Oh My Sweet Maid
Chapter : 5
Author : Shinstarkey/Nanonadia
Cast : Onew Lee Jinki, Victoria Song
Other cast : Nichkhun, Shinee Member
Language : Indonesia
Previous : Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 |Chapter 4 |
ps : Maaf sama yang gak suka Onew di pasangin sama Victoria yah ^^
__
‘tok tok tok’
Suara ketukan pintu kamar menyadarkanku. Aku langsung bangun dan merapihkan diri dan aku tahu yang akan aku hadapi adalah Jinki. Aku berniat meminta maaf karena aku sudah memarahinya tadi. Aku ingin bila hubunganku dan dia akan membaik, karena aku tidak mau mencari masalah lagi dengan Appa.. kalau appa tahu aku sampai bertengakar dengan majikanku, aku pasti langsung di gantung.
Aku membuka pintu pelan dan melihat Jinki di depan pintu sambil tersenyum ke arahku. Mau apa lagi yah orang ini? Awas saja kalau dia sampai ingin berbuat macam-macam terhadapku. Atau.. dia ingin memecatku? GAWAT.!!!
Aku membuka pintu kamar pelan.
“Tu-tuan.. saya minta maaf, karena tadi saya marah-marah pada tuan.. tapi mohon.. jangan pecat saya.. “ aku agak gugup dan menundukan kepalaku.
“bagaimana yah… aku rasa susah untuk memaafkan mu..” katanya sambil sedikit membuang muka padaku. Aiiisss.. mengapa dia mesti buang muka seperti itu padaku. Apa dia benar-benar marah? Bukannya dia yang salah?
“Apa tuan akan memecat saya?”
“Mungkin saja.. “ Sahut Jinki yang masih terus membuang muka kepadaku. Tapi mengapa aku melihat segurat senyum dibalik itu?
“baiklah tuan.. saya pasrah kalau tuan ingin memecat saya.. “ aku menundukan kepala, seluruh badanku melemas karena aku tahu ini adalah hal yang buruk. Bagaimana kalau appa tahu kini aku di pecat.
“Hahahhahahahhahahah”
Suara tawa terdengar dari Jinki. Aku menoleh kearahnya. Dia tertawa sangat kencang sambil menatapku.
“hahahhaha.. Kau..hahahha.. kau percaya aku akan memecatmu?” sahutnya di sela-sela tawanya. Aku menatapnya dengan tatapan yang sangat bingung.
“Apa maksudnya tuan?”
Jinki berhenti tertawa dan menatapku sambil tersenyum. “Aku tidak akan memecatmu Victoria. Aku ingin meminta maaf soal yang tadi. Aku sudah berbuat aneh-aneh padamu. Wajar sih kalau kau memarahiku tadi. Itu salahku.”
Aku tersenyum mendengar perkataan Jinki itu. Dia masih saja tersenyum padaku. Aku merasa akhir-akhir ini dia begitu baik terhadapku. Selalu tersenyum dan itu membuatku senang.
“makasih tuaannnn!!!” sahutku dan hampir loncat-loncat di depannya karena saking senangnya.
“ya sudaah.. Noona masih harus membereskan rumah bukan?”
Aku sedikit tersentak mendengar perkataannya yang sangat aneh itu.. dia bilang aku ‘Noona’? waw.. seorang jinki bisa sopan juga. Aku rasa ini sangat aneh.
Aku menganggukan kepalaku dan tersenyum lagi padanya. “iya tuan.. terimakasih “
Jinki membalikan badannya dan berjalan meninggalkan kamarku, tiba-tiba dia berhenti dan membalikan badannya lagi menghadapku. “Ah iya..tidak usah memangglku tuan lagi.. kau cukup panggil aku Jinki, atau Onew.. Oke.” Di akhir dia mengedipkan sebelah matanya kearahku. Dasar genit.
Jinki meneruskan langkahnya meninggalkan kamarku.
Aku tidak menyangka Jinki menjadi sebaik ini denganku.
(Victoria p.o.v end)
__
(Onew p.o.v)
Akhir-akhir ini aku sedikit bertingkah lebih baik pada Victoria. Mungkin saja cara ini bisa membuat Victoria tertarik padaku. Selalu saja muncul perasaan aneh saat aku menatap Victoria. Aku tidak mengerti perasaan apa ini, apa benar aku menyukainya? Karena perasaan ini belum pernah aku rasakan. Perasaan Aneh.
Oke, lagi-lagi pria playboy itu datang!.. Jonghyun..
“Ya! Onew! Mana pembantumu?” Jonghyun menghampiriku yang sedang duduk depan TV. Selalu saja mencari Victoria. Apa dia belum kapok?
“Victoria? Sedang menyetrika mungkin…” aku sengaja membuang mukaku pada Jonghyun.
“Oh kalau begitu aku akan menemuinya.. aku akan memberika sesuatu yang spesial untuknya. Awas kau kalau mengintip hahaha” Jonghyun berjalan meninggalkanku dan langsung menuju ke belakang. ‘Apa maksud perkataannya tadi ? mau memberikan sesuatu yang spesial?’
Aku segera berlari menyusul jonghyun dan berniat mengintip. Aku hanya takut saja Jonghyun berbuat yang aneh-aneh pada Victoria noona.
__
Aku mengunpat di balik pintu teras belakang, dekat dengan tempat victoria menyetrika baju. Jonghyun sudah berdiri di sebelah victoria sambil tersenyum lebar. Apa yang mau dia lakukan?
Aku terus memperhatikan mereka berdua.
“Victoria Noona… “
“Jonghyun.. kau kesini lagi..” Victoria menatap jonghyun yang berada di sampingnya.
“Ah.. iya.. aku ingin berbicara sesuatu padamu noona..” Jonghyun memegang tangan Victoria. Aku semakin geram melihat tingkah jonghyun. Tiba-tiba saja emosiku terpancing.
Tiba-tiba saja jonghyun berlutut di hadapan Victoria dan menggenggam kedua tangan Victoria.
“Noona.. maukah kau menjadi kekasih ku?”
‘APA?? Jonghyun menyatakan cinta pada victoria? Sialan.. dia mendahuluiku..’ Aku mengepalkan tangan sambil terus menatap jonghyun dan victoria dengan emosi yang sedikit meluap-luap. ‘ Aku harap Victoria tidak menerima cinta jonghyun…’
“Ayolah Noona.. terimalah.. aku tulus mencintaimu.. semenjak aku bertemu denganmu aku langsung tertarik, makanya aku langsung menghampiri mu.” Kata jonghyun lagi sambil memohon pada victoria. Alah.. kata-katanya sangat gombal.
“ Maaf Jonghyun.. aku tidak bisa menerimamu.. “ Sahut victoria pada Jonghyun sambil tersenyum. ‘Yes!! Akhirnya aku mulai lega.. victoria tidak menerima jonghyun sebagai kekasihnya..’
Jonghyun berdiri tetapi terus memegang keduaa tangan victoria sambil menundukan kepalanya.
“Baiklah Noona.. walaupun kau tidak menerimaku.. aku akan terus mengejarmu sampai kau suka dan menerimaku..” kata jonghyun dan langsung mencium pipi victoria..
Emosiku langsung terpancing, dan tanpa berfikir apapun aku segera menghampiri mereka.
“Ya!! Jonghyun!! Apa maksudnya kau mencium pipi victoria ?” Aku menghampiri jonghyun dengan emosi yang meluap-luap..
Jonghyun mentapku dengan tatapan tajam. “apa urusanmu? Kau juga bukan siapa-siapanya kan? Dia hanya pembantumu bukan?” jonghyun berhadapan denganku sekarang.
Karena kesal mendengar perkataannya itu, aku langsung menghantam wajahnya itu dengan kepalan tanganku. Ya, aku menonjoknya sampai dia terpental ke arah dinding.
“Hey!” teriak jonghyun yang menatapku dengan tatapan berapi-api..
“Aku tidak mau kau mendekati Victoria!” teriakku pada jonghyun yang sekarang ku genggam kerah bajunya.
“HEY! Kau pikir kau siapa?! ini HAK ku!!!”
Aku melepaskan genggamanku pada kerah bajunya dan berjalan mundur.
Victoria terus memandangiku dan jonghyun sambil menutupi muka dengan kedua tangannya
jonghyun masih memandangiku dengan tatapan murkanya. ‘BODOH! Mengapa emosiku bisa meluap-luap seperti ini… dan argh.. jonghyun benar.. aku memang bukan siapa-siapa Victoria.. tidak sepantasnya aku berbuat seperti ini.. ‘
Aku berjalan meninggalkan jonghyun dan Victoria.. tanpa meminta maaf..
(onew p.o.v end)
__
(Victoria p.o.v)
Aku baru saja menyaksikan sendiri jinki dan jonghyun berkelahi, tepat di hadapanku. Mataku terbuka lebar menatap kedua lelaki itu saling memukul. Aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat.
Aku bingung mengapa jinki tiba-tiba datang dan langsung saja memukul jonghyun? Dan apa maksudnya dia berkata jonghyun tidak boleh mendekatiku? Bukankah itu memang hak jonghyun…
Jinki sekarang sudah pergi meninggalkan aku dan jonghyun. Aku membantu jonghyun berdiri menyempurnkan tubuhnya.
“Sial… “ sahut jonghyun sambil mengelap darah yang ada di sudut bibirnya dengan emosi yang sangat meluap-luap.
“jonghyun.. kau tidak apa-apa?”
“tidak apa-apa.. sialan onew!” sahutnya lgi masih dengan amarah.
“sudah sebaiknya kau pulang saja.. kalo kau tetap disini aku akan ikut dimarahinya juga dan bisa saja aku dipecat..” Aku terpaksa berkata seperti ini pada jonghyun. tapi memang benar, aku bisa saja di pecat oleh jinki.
“baiklah Noona.. aku tidak mau kau ikutan bermasalah dengan onew aneh itu. Tapi ingat janjiku.. aku maish akan terus mengejarmu! Oke” sahut jonghyun sambil mengedipkan sebelah matanya dengan senyum yang di lengkapi luka di sudut bibirnya itu.
“iya.. terserah padamu saja… “ aku membalasnya dengan sedikit tersenyum kearahnya.
__
‘tok.. tok.. tok..’
Ku ketuk pintu kamar jinki yang pintunya sedikit terbuka. Aku tahu dia pasti di dalam sana. Niatku kali ini adalah meminta maaf padanya, sebenarnya aku tidak tahu salahku apa. Tapi karena kejadian jinki dan jonghyun tadi berkaitan denganku otomatis aku juga harus meminta maaf pada jinki.
Tidak ada tanggapan dari dalam, serasa ruangan itu benar-benar sepi. Tapi aku memang sangat yakin bahwa jinki masih berada di dalam. Tanpa pikir panjang aku segera memasuki kamar jinki walau ini terkesan seperti tidak sopan.
“permisi.. Tuan..” aku melangkah perlahan sambil mendorong pintu kamar pelan.
Ruangan masih terasa sepi, aku mencari sosok jinki disana, dan mataku menangkap sosok satu orang yang tengah duduk di pinggir jendela sambil menatap keluar dengan tatapan kosong. Apa itu jinki ? mengapa dia?
Aku masih memperhatikannya dari jauh sosok itu sambil sedikit sedikit mengambil langkah mendekatinya.
“kemarilah…”
Suara tiba-tiba dari jinki sedikit membuatku kaget dan terdiam. Aku segera menghampiri jinki disana yang masih terdiam memandangi kearah luar.
“duduklah disini..” ia menyuruhku untuk duduk di sebelahnya tanpa menoloh sedikitpun kearahku. Aku masih terus menatapnya bingung sambil menyesuaikan tubuhku untuk duduk di sampingnya.
“apa kau tahu.. mengapa aku sampai berbuat seperti itu?” katanya lagi dan kini ia menundukan kepalanya.
Aku hanya menggelengkan kepalaku. Aku berusaha menatap wajahnya tapi dia seakan menyembunyikan raut wajahnya dariku.
“Kau membuatku berubah, Victoria….”
“Kau merubah hidupku….”
Aku semakin merasa bingung dengan semua perkataan jinki. Seakan aku harus memecahkan semua misteri pada dirinya dan aku harus menebak semua yang ada pada pikirannya.
“Apa maksud tuan?”
Jinki menarik napas panjang, dia masih belum juga mau menatapku masih tetap dengan tatapan kosong menatap kebawah dan……
“AKU MENCINTAIMU”
Nafasku serasa berhenti tiba-tiba. Dan aku hanya bisa mentap jinki dengan mulut terbuka dan tatapan penuh dengan rasa terkejut. Jinki kini menatapku. Menatapku dalam. Matanya menunjukan kejujuran dan aku belum pernah melihatnya seperti ini sebelumnya. Aku membisu, tak tahu apa yang harus aku katakan dan serasa waktu berhenti sekarang.
“kau tahu.. ini konyol rasanya.. aku yang biasanya memarahimu sekarang malah menyatakan cinta.. “ dia menghela napas dan menunjukan senyum di sudut bibirnya. “Aku tak bisa menyimpan perasaan ini lagi, victoria.. aku lelah..”
“perasaan ini selalu menghantuiku.. aku tak tau dari mana perasaan ini datang.. “
Jinki kembali menundukan kepalanya.. memanglingkan wajahnya dariku lagi. Menatap kebawah.
“Aku tau.. kau benci padaku.. karena tingkahku yang tidak karuan itu.. yang tidak dapat mengatur emosiku sendiri..”
Aku terus menatap jinki.. dan entah kenapa tanganku ini malah mengelus pelan punggung jinki.. aku merasa kali ini aku begitu dekat dengannya..
“dan soal jonghyun.. aku tidak suka dia mendekatimu.. aku cemburu..”
“aku tahu.. ini memang tidak masuk akal, tapi entah kenapa aku ingin memilikimu.. aku mau kau menjadi milikku.. bukan orang lain..”
Aku memeluk jinki, aku masih belum bisa berkata apa-apa.. sebenarnya aku sudah menyadari ini dari sinya akhir-akhir ini, saat dia mencium bibirku.
Jinki kembali membuka suara
“ Aku sangat bodoh.. Aku cemburu pada kekasihmu.. yah, itu hal bodoh.. jelas-jelas dia kekasih mu.. aku tidak ada apa-apa nya di banding dia. Tapi itulah yang aku rasakan.. saat melihat kau dengan laki-laki lain.. termasuk kekasihmu..”
“Itu bukan salahmu, jinki…” kata-kata itu keluar dari bibirku sambil terus memeluk jinki.. Aku baru tahu di balik sikap jinki yang keras dan egois dia menyimpan hati yang lemah, lemah menerima keadaan di sekitarnya, aku masih bingung harus berbuat apa. Aku hanya ingin dia tenang. Aku tidak mau dia terus tertekan. Tapi bagaimana caranya? Apa aku harus menerimanya.. menerima cintanya?
“Aku tak perduli dengan perkerjaanmu yang sekarang menjadi pembantu.. pembantuku.. Aku hanya ingin cintamu victoria.. aku ingin kau.. walau aku tahu.. kau pasti menolakku mentah mentah..”
Jinki kini memelukku juga. Meletakkan kepalanya di pundakku. Aku rasa dia menangis. Dia masih seperti bocah yang tidak mendapatkan sesuatu yang dia inginkan. Aku membelai halus rambutnya. Tidak tahu apa yang harus aku katakan. Aku memikirkan nichkhun. Aku bimbang… Aku juga bingung,, apa aku masih mencintai nichkhun? Tapi perhatianku sekarang hanya tertuju pada jinki.
“Aku ingin kau victoria.. hanya kau..” Suara jinki terdengar buyar karena tangisnya itu.
Aku membelai rambutnya pelan. Mencoba menenangkannya. aku tidak mengerti dengan perasaanku sekarang. Rasanya aku juga ingin memiliki jinki. Perasaan macam apa ini. mengapa datang terlalu tiba-tiba. Memang sih dari awal aku sudah sedikit tertarik padanya tapi karena sikapnya yang seperti itu padaku rasa tertarik ku hilang. Sekarang rasa itu datang lagi…
“Jangan menangis.. kau itu kan pria dewasa.. kalau begitu mana bisa aku menerima cintamu.. kelakuanmu seperti anak kecil begini.. aku tidak suka..” kataku dengan nada yang sedikit marah. Aku berkata seperti ini untuk membuat jinki berhenti menangis.
“Apa maksudmu noona?” Jinki melepas pelukanku dan memandangku dengan tampang bingung. mukanya memerah karena sehabis menangis.
“Aku ini lebih tua darimu, tentu saja aku tidak suka dengan laki-laki cengeng yang bertingkah seperti bocah ingusan ini.. kecuali kau bersikap lebih dewasa di bandingku.”
Aku tersenyum kepadanya. Rasanya ini bukan seperti percakapan antara seorang majikan dan pembantunya. Hh..
Jinki tiba-tiba menunduk “walaupun aku bertingkah dewasapun, kau juga tidak akan menerimaku, bukan? Bagaimana dengan kekasihmu.. atau Jonghyun yang terus mengejarmu.. huh?”
Aku sedikit tersenyum menatapnya. Membelai halus pipinya, dia sangat lucu..
“bagaimana kalau Aku menerimamu?” kataku sambil mengangkat wajahnya agar menatapku sekarang. Aku memang tidak yakin dengan tindakan ku sekarang. Tapi hatiku seakan tidak bisa menolak jinki, aku tidak terpikir lagi bagaimana dengan nichkhun jonghyun atau Appaku..
(Victoria p.o.v end)
__
(Onew p.o.v)
“bagaimana kalau aku menerimamu?”
Aku terdiam mendengar kata-kata yang barusan aku dengar. Aku tidak percaya victoria berkata seperti itu, bukankah dia benci padaku? Dan bagaimana dengan kekasih nya?
“apa kau serius dengan perkataanmu?” sahutku bingung.
“Terserah padamu sih.. kalau kau mau berubah , mungkin aku mau menerimamu…”
Aku tersenyum lebar, rasanya aku ingin berteriak kalau aku sangat senang mendengar Victoria ternyata menerimaku. Tapi rasanya ini terlalu berlebihan.
“TUAN JINKI! Jangan hanya tersenyum.. atau kau sebenarnya malu berhubungan dengan pembantu? Huh? “ ujar Victoria sambil menatapku dengan matanya yang bulat.
“Tentu saja aku ingin berubah.. demi mendapatkan pembantuku yang sangat cantik ini.. “
Aku mendekatkan wajahku kearahnya dan mencium bibirnya. Haha.. kali ini dia tidak berontak seperti waktu pertama kali aku menciumnya….
(Jinki p.o.v end)
__
(author p.o.v)
“Yaaa! Jangan bergerak!! Kalian sudah di kepung”
beberara polisi mengerahkan senapannya kearah kerumunan orang di sudut Gang sempit. Yang ternyata mereka sedang menggunakan obat-obatan terlarang.
Dan tiba-tiba seorang laki-laki nekat kabur dan berlari menerobos jejeran polisi.
“YA! NICHKHUN!!! KAU GILA!!” teriak salah seorang untuk mencegah laki-laki itu kabur menerobos jejeran polisi.
Akhirnya laki-laki itu berhasil kabur. Walau ada satu tembakan di kakinya yang membuat kakinya berdarah-darah
(Author p.o.v end)
__
(victoria P.o.v)
Ini memang terlihat sangat aneh. Seorang pembantu berpacaran dengan majikannya sendiri. Tapi inilah yang aku jalani bersama jinki sekarang. Kami menjalani hubungan yang begitu dekat. Sebenarnya aku masih bingung. Nichkhun.. bagaimana dengan dia. Dia tidak ada kabar sama sekali. Aku ingin berpisah dengan cara baik-baik. Bisa di bilang aku berkhianat pada Nichkhun, pada lelaki yang selama ini mencintaiku. Tapi bagaimana jika sekarang cintaku pindah pada majikanku sendiri. Apa mungkin nichkhun sudah tertangkap oleh Appa?
“Noonaaaaaaaaaaa……..mana sarapanku?” teriak jinki dari arah meja makan. chh.. dasar kelakuannya masih belum berubah.
“Iyaaa! Sebentar..” balasku yang sekarang membawa sarapan untuk jinki. Dengan nasi goreng, susu dan roti ini.
“ini.. “ sahutku dengan sedikit kesal kearahnya sambil menaruh semua makanan di meja makannya.
“ya! Mangapa kau marah-marah? “
“sepertinya kau masih menganggap aku sebagai pembantumu.. Tuan Jinki!!” balasku sambil membuang muka kearahnya.
“mau bagaimanapun kau tetap pembantuku. “ Jinki kini memperlihatkan wajahnya yang menyebalkan. Aku muak melihat wajahnya itu!
“tapi aku mencintai pembantuku……..” sahutnya lagi dan kini dia memelukku. Aku masih tetap dengan posisiku.
“kau gombal!”
“biar saja.. hahahhaha”
‘ting.. tong.. tong.. tong… “ Bell rumah berbunyi.
“Aiiissshhh.. siapa sih yang datang?! Merusak suasana saja!!” gumam jinki.
“Biarlah.. mungkin itu tamu mu.. sudah. Tidak baik kita terus seperti ini.. bairku bukakan pintu dulu.”
Aku berjalan kearah pintu rumah. Membukanya…
“ONEEEEEEEEEEWWWWWWWWWWWWWWWWW…..!!!” seorang wanita berambut pendek dengan sedikit menangis menerobos masuk ke rumah. Eh?
Wanita itu langsung masuk sambil membawa koper besar yang sepertinya berisi alat make up semua..
Ah, aku baru saja ingat. Wanita itu..
Wanita itu adalah wanita yang datang ke rumah ketika jinki membuat pesta. Wanita yang memakai baju super duper seksi. Eh.. mau apa lagi dia kesini?
Aku segera menutup pintu dan berjalan menuju ruang tengah. Aku ingin tahu apa yang di lakukan wanita itu.
(victoria P.o.v end)
__
(onew p.o.v)
Terdengar suara wanita berteriak dari arah ruang tamu. Dan itu bukan suara victoria.. siapa yang datang?
“ONEW!!”
Mataku membulat melihat siapa yang datang dan kini berlari manja kearahku. Apa-apaan sih wanita ini??!
“YA!! Seungyeon!! Lepaskan!”
Aku berusaha melepaskan genggaman tangan seungyeon yang melingkar di badanku.
“Onew.. Aku rindu padamu…!!” seungyeon memelukku semakin erat.
“Mau apa kau kesini?!”
Aku sangat tidak suka melihat seungyeon datang kesini. Wanita murahan yang dari dulu selalu bersamaku. Sebenernya orang-orang selalu menganggap kami berpacaran tapi yang benar saja. Dari dulu aku tidak sudi berpacaran dengan wanita murahan seperti dia. Dia hanya menjadi wanita untuk bersenang-senang saja.
Aku menatap victoria yang berjalan melewati aku dan seungyeon. Dia hanya menghela nafas nya dan berjalan melewatiku. Dia sama sekali tidak mau menatapku. Aduh.. bagaimana ini.. apa victoria marah?
“untuk apa kau kesini?!” aku manjauh dari seungyeon, aku tidak perduli padanya.
“Aku ingin memberitahu kabar baik untukmu, jagiya..” katanya sambil duduk di sebelahku. Ah.. sanhgat Jijik mendengarnya memanggilku dengan sebutan itu. Aku muak. Aku meneguk secangkir teh yang dari tadiku pegang.
“berita apa?.”
Seungyeon diam dan menatapku. Aku tidak mau menatapnya aku mengacuhkannya dan pandanganku beralih kerah dapur. Untuk melihat sosok Victoria.
“Onew.. perhatikan aku!” seungyeon menarik wajahku untuk menatapnya. Apa-apaan sih wanita ini.
“Aku Hamil.. Anakmu..”
to be continued…
Langganan:
Postingan (Atom)





