“jung dia?”
“Jun, dia Jun”
“jun?”
“ya sudah sebaiknya kita masuk, kamu bisa pakek kamarku.” Jung menggandengku masuk ke apartemennya.
Pikiranku melayang, aku tak menyangka Jun yang begitu manis berubah, dia begitu terlihat mempedulikan penampilannya begitu keren sangat beda dengan Jun yang dulu. Jung mengantarku ke kamarnya, sekali lagi aku memergoki Jun dan cewek tadi. Jun yang melihatku hanya cuek. Tapi saat ku dan Jung akan menaiki tangga cewek yang bersama Jun menyapa.
“Siwon, dia pacar mu ya? Kenapa tidak pernah terlihat?” cewek tadi menyapa Siwon.
“ia, dia pacar ku. Kami sudah tidak bertemu belasan tahun.” Siwon dengan sengaja memelukku.
“eh?” aku menatap Siwon kaget.
“diem!” Siwon berbisik padaku, yang keluar hanya senyuman liciknya.
“hm, apa hebatnya?!” Jun mengejutkanku, dia beranjak meninggalkan kami bertiga.
“maaf soal jun, ku lee hyori, kamu?” cewek yang mengaku bernama lee hyori itu mengulurkan tangannya dan tersenyum. Cewek itu begitu cantik saat tersenyum, pantaz saja Jun suka padanya.
“aku ree” aku membalas senyumnya, tapi sayang senyumku tak bisa mengalahkan senyumnya yang begitu indah.
“ya sudah, aku antar ree ke kamar ku dulu.” Siwon tetap menggandengku, tapi ini lebih baik.
Saat menaiki tangga pikiranku melayang mengingat kembali kejadian tadi, tak ku sangka dia begitu berubah. Apa mungkin dia sudah lupa denganku?. L
“ree, ni kamarku. Untuk sementara waktu kamu tidur disini,” kata Siwon.
“...”
“re,,” Siwon menepuk bahuku, tak terlalu keras tapi itu berhasil untuk menjatuhkan ku kembali ke alam sadar.
“ya?”
“kamu tidur di kamarku” dia menarik hidungku keras.
“au, kura-kura jelek sakit tau!” ku mengelus hidungku yang sakit.
“ya dah sana tidur,” Jung mempersilahkanku memakai kamarnya, tapi,,
“truz kamu sendiri?” kata ku.
“ku tidur di sofa, kalok ada apa-apa tinggal cari aku.”
“emh”
“oh ya. Yong wha masis sibuk ngurus persiapannya buat ujian terakhirnya, jadi dia nggak bisa kesini sekarang” Siwon pun berlalu meninggalkanku dikamar nya.
Kamar yang rapi untuk ukuran cowok macam dia, banyak foto-foto berjejeran di dinding. Termasuk foto kami bertiga, dengan kalung berleontin kunci dan sebuah peti harta karun kecil di tangan Jun.
Aku berlalu dan merebahkan tubuhku ditempat tidur, tapi tiba-tiba aku merasa haus. Menahanpun sepertinya menyiksa, memanggil Siwon pun akan merepotkan dia. Aku tak mau terlalu merepotkan dia.
“bukankah aku punya kaki dan tangan?” aku beranjak dari dari tempat tidur. Akupun memelankan langkah kaki untuk tidak mengganggu yang lain.
Di dapur aku meneguk air hingga haus yang melanda tenggorokanku hilang, tapi,,
“prang”
Dengan tak sengaja aku menjatuhkan gelas yang aku pegang, bagaimana tidak pemandangan itu membuat ku benar-benar kaget. Jun berciuman dengan gadis itu di depan mataku.
“mian, maaf mengganggu.” Aku menunduk sambil memungut pecahan beling di sekitar kakiku. Sesaat aku menoleh ke arah Jun dan hyori, tatapan Jun seperti marah. Ya, Jun marah pada ku, dan bodoh. Air mataku begitu saja mengalir, dan saat itu sebuah tangan menyambutku.
“j-jun” bisikku dalam hati, berharap itu benar-benar tangan Jun, tapi aku salah Siwon yang datang membantuku.
“kamu nggak papa?” Siwon menarikku hingga aku berdiri, aku hanya bisa mengangguk dan tetap diam.
“lain kali panggil aku saja, tapi benar kamu nggak papa?” Siwon mengangkat wajahku. Siwon memelukku, entah dia sedang akting atau apa, tapi tu berhasil membuatku lebih tenang. Dan aku harap suatu hari nanti tubuh bidang ini bukan milik Siwon tapi Jun, yang akan selalu ada saat aku butuh.
“Siwon bawa pacarmu itu, menggangu saja!” suara lantang itu mengejutkanku, ya, suara milik Jun.
Air mataku tak mau berhenti, Siwon membawaku kembali kekamar. Aku duduk di bibir kasur, menunduk tak mau Siwon lihat air mataku. Siwon dengan penuh kasih sayang ia menghapus air mataku, Siwon yang cuek dan resek berubah menjadi begitu lembut. Tapi aku masih tak berani mengangkat wajahku. Aku menatap Siwon dari sela-sela rambutku, Siwon sedang menatap foto masa kecilnya, Jun dan aku. Aku tak kuasa mengingat kembali saat itu, karna Jun yang aku kenal sekarang sudah benar-benar hilang. Aku meraba kalung berbandul berbandul kunci pemberianya dulu, berdo’a agar Jun sahabat yang aku cintai bisa kembali.
“ree, maaf atas perlakuan adikku, seharusnya aku tak membawa mu ke sini.”
“hm, aku nggak papa”
“dia sudah berubah sejak bulan lalu, entah kenapa? Saat itu Jun pulang kerumah dengan tampangnya yang semraut, dia datang dan masuk kekamarnya. Dia sering kali aku pergoki melamun memegang kotak kecil, malah tidak sering aku dengar dia teriak. Tak ada yang tau ada apa dengannya, malah Jun yang tak mau pacaran tiba-tiba sering gonta-ganti pacar.” Siwon menundukkan kepalanya.
Wajah Siwon terlihat begitu menyesal, wajah cueknya dalam semalam hilang begitu saja. Aku tak kuasa melihatnya merasa bersalah seperti ini, aku reflek memeluk tubuh bidang Siwon.
Dan seandainya saja yang aku peluk adalah Jun, mungkin tak ada lagi air mata yang mengalir di pipiku. Andai saja,,
Setelah beberapa saat, Siwon membimbingku untuk tidur, tidur untuk menyelami dunia mimpi yang begitu indah. Dan aku harap setelah ini semua tak ada lagi mimpi buruk. J
***
Pagi yang cerah menyambut Ree, Ree bersia-siap untuk bertemu dengan kawand-kawand yang akan datang. Mereka datang dengan jam terbang setengahjam yang lalu. Kaos putih dan celana jins panjang Ree pasangkan dengan syal berwarna biru pemberian seseorang saat Ree berumur 9 tahun, Ree inget waktu itu dia masih 2 tahun di indonesia ia mendapatkan paketan dari korea yang di titipkan pada mamanya. Ree mengikatkannya ke leher jenjangnya. Tapi kali ini Ree tak membawa barang kesayangannya.
♪ Let me be the one neomanui saram
Naega deogosipdago
Let me be the one nan haru jongil
Neoman saenggakhandago
Let me be the one na yaksokhalge
Neoreurwilhae sandago
Let me be the one na yeongwontorok ♪
Hp baru Ree pemberian Jung berdering.
“ayah?”
“halo eon, sepertinya kamu baik-baik saja disana?!” kata ayahku dari seberang sana.
“emh, ya aku baik-baik saja”
“bohong dee” bisikku dalam hati.
“baguslah, ayah tadi mengirim uang ke rekening Sieon. Sepertinya kamu akan disana kurang lebih dua bulan, jadi ayah sudah mempersiapkan pertukaran pelajar selama kamu disana”
“mang ada apa yah?”
“ayah akan ke pranc untuk beberapa saat, stelah itu ayah akan ke afrika, ada tugas disana”
“emh,,”
“masalah sekolah Siwon yang menyiapkan, nggak apa-apa kan?”
“nggak apa-apa kugh yah, ya sudah aku mau keluar dulu. Bye yah”
“huft,,”
Dengan pasti ia melangkah turun, karna Jung sudah lama menunggu. Dari kejauhan seseorang tersenyum melihat syal pemberiannya masih disimpan dengan baik, dan dia semakin bahagia saat melihat kalung pemperiannya masih utuh tergantung indah di leher sahabat yang ia cintai.
Siwon mengantar Ree ketaman yeouido. Jung menerangkan semua masalah sekolah barunya, Ree akan bersekolah dimana Jun juga ada di sama. Ree yang tidak bisa apa-apa hanya bisa kaget dan diam.
Di taman Ree di sambut dengan gugurnya bunga cherry. Begitu indah, tapi keindahannya tak bisa membuat hatinya tersenyum lebar. Bersama rombongan Ree berencana akan pergi ke Seoul Lan, ya bisa juga di bilang Ancolnya Korea. Siwon pun ikut menemani Ree mengikuti kegiatan sekolahnya. Teman-teman Ree membelalakkan mata mereka, bagaimana tidak cewek yang selama ini cuek dan selalu di awasi setiap gerak-geriknya bisa jalan sebebas ini bareng cowok keren Korea.
“Ree, gua nggak mimpi ni liat lu jalan bareng ma cowok. Keren lagi.” Kata Mita sahabat Ree.
“apaan sii, nggak da kerjaan banget sii. Dia itu,,”
♪ Let me be the one neomanui saram
Naega deogosipdago
Let me be the one nan haru jongil
Neoman saenggakhandago
Let me be the one na yaksokhalge
Neoreurwilhae sandago
Let me be the one na yeongwontorok ♪
“eh bentar ya,,” Ree meninggalkan Mita Siwon.
“annyeong”
“Ree ini kakak”
“kak, da dimana?”
“kakak sekarang lagi di Busan, paling besok baru pulang.”
“oh”
“hati-hati ya di sana, besok kakak langsung ke sekolah kamu. Tadi ayah sudah hubungi kakak, jadi baik-baik ya disana,,”
Sisi lain, kesialan menanti Ree,,
“aku pacar Ree” Siwon nyeplos dengan logat indonesianya yang nggak karuan. Ree yang dateng kaget setengah mati dan membuatnya batuk-batuk.
“hah, pacar?!, yang bener Ree??” Mita terlihat shok.
“heh, kura-kura jelek. Nggak kugh Mit, dianya aja yang asal” Ree mencoba mengubah pemikiran Mita, tapi sayang Mita kemakan oleh semua perkataan Siwon. L
Sedangkan Siwon hanya tersenyum melihat Ree jadi buronan Mita.
Dari kejauhan Guru pembimbing membimbing teman-teman Ree masuk ke dalam bis, terkecuali Ree, Siwon, dan Mita. Siwon membawa Ree dan Mita ke Seoul Lan mendahului Bis rombongan. Karena Siwon tau dengan adanya Mita kesedihannya bisa terlupakan untuk sementara waktu.
Ree dan Mita bersenang-senang menikmati semua fasilitas yang ada si Seoul Lan, setelah itu Ree, Siwon, dan Mita melanjutkan jalan-jalan si sekitar Seoul Lan. Tapi sayang sesuatu yang tak diharapkan saat itu datang lagi, dan membuat Ree menitikkan air matanya lagi. Bukan Lee Hyori yang bersamanya.
“J-Jun” Ree menggenggam erat kalungnya
“Ree da pa? Kamu kenal dia?” Mita bingung. Ree tak menggubris Mita.
“oh hay hyung?” Jun menghampiri. Jun jelas melihat Ree menangis menggenggam kalung kunci pemberiannya dulu.
“sedang apa disini” kata Siwon tenang.
“tentu saja dengan teman wanitaku” Jun tersenyum seakan tak ada apa-apa.
Tiba-tiba Ree menarik kalungnya hingga lepas dari lehernya. Ree membuang kalungnya di depan Jun dan pergi. Mita yang bingung hanya mengejarnya dari belakang meninggalkan Seoul Lan. Yang ada hanya kekagetan di wajah Jun yang nyaris tak terlihat.
“mian Ree.” Hati Jun berbisik.
“aku pergi dulu” Siwon menyusul Ree dan Mita meninggalkan Seoul Lan.
Di kejauhan Jun tertunduk, memungut kalung pemberianya. Perasaan bersalah menyelimuti hatinya, tak ada yang bisa Jun lakukan kecuali ini.
Jung mengantar Mita kembali ke rombongan, sedangkan Ree tertidur pulas di mobil. Fikirannya membuat tenaganya habis, seharian penuh membiarkan Ree menangis adalah hal bodoh yang Jun lakukan, Siwon pun sadar akan hal itu.
“oh ya Mit, selama beberapa bulan ni Ree akan tinggal di korea. Mohon dukung dia dari jauh, dia butuh sekali dukungan dari teman-temannya. Termasuk kamu sahabatnya.”
“tentu, dan tolong jaga dia.”
Setelah berbincang-bincang Siwon mengantar Ree ke apartemen miliknya, membopongnya menuju kamar. Siwon yang begitu cuek tak bisa lagi menjadi dirinya yang dulu, ia tak bisa membiarkan Ree tersiksa karena adiknya. Ree benar-benar membutuhkannya sebagai pelindung, dan sebagai tumpuan hatinya.
***
Jun membawa dirinya ke taman Yeouido, ia duduk di bawah pohon cherry, perasaannya tak menentu mengingat kejadian tadi. Menyakiti hati sahabatnya adalah hal terbodoh yang ia lakukan, Jun mengeluarkan kalung dari saku bajunya. Kalung yang begitu indah saat Ree memakainya, Jun menggenggam erat kalungnya. Ia masih punya janji yang belum ia tepati. Dan mengingat kembali saat masa-masa kecilnya.
Saat itu,,
Ulang tahun Ree yang ke-9, dimana tiga hari setelah ulang tahunnya Ree harus pergi meninggalkan Korea tempat kelahirannya. Di bawah pohon cemara besar, Ree dan Jun bermain seakan-akan tak ada seorang pun yang dapat mengganggu waktu mereka. Tak ada beban dalam wajah mungil mereka. Tapi Jun sadar, sebentar lagi Ree akan pergi jauh. Mengingat rencana kepergiannya, Jun menunduk dan menangis. Ya, si kecil Jun yang rapuh.
“J-Jun, kenapa?” Ree kecil membelai lembut rambut Jun.
“Ree mau pergi, Jun sendirian,,” Jun kecil terus menangis.
“Ree akan di sini kok” Ree menyentuh dada Jun. “Ree akan selalu di hati Jun” Ree tersenyum, mencoba tegar menrima kenyataan tuk meninggalkan Jun kecil yang rapuh. Hujan mengguyur tubuh mungil mereka.
“sungguh?”Jun tersenyum.
“hujan, kita berteduh dulu.” Ree menarik tangan Jun, tapi Jun kecil menolak.
“Jun bisa sakit lagi, Ree nggak mau lihat Jun sakit” Ree mencoba menarik tangan Jun, tapi Jun menolak lagi.
“Jun nggak akan sakit, Jun punya sesuatu untuk Ree” Jun kecil mengeluarkan peti harta karun kecil, dan sebuah kalung berliontinkan kunci.
“saat Jun dewasa nanti, Jun akan datang ke Indonesia. Jun akan memberikan kotak harta karun ini pada Ree, Ree yang pegang kuncinya.” Jun kecil tersenyum, bibirnya mulai pucat.
Jun dewasa beranjak dari tempat duduknya menuju mobil sport hitam miliknya. Jun pergi menuju apartemen. Jun tak mempedulikan apapun lagi, di fikirannya hanya rasa bersalah yang teramat sangat. Karena Jun berhasil menyakiti sahabat yang ia cintai. Jun mengistirahatkan tubuhnya, tapi tak benar-benar mengistirahatkan fikiranya. Duduk di balkon menatap gelapnya langit yang bertaburan bintang-bintang, dan mengulang kembali ingatannya yang sempat terputus.
“kalau Jun nggak dateng?, Ree akan datang menagih janji Jun” Ree tersenyum.
“Jun akan selalu inget dengan kalung ini.” Jun menyunggingkan bibir pucatnya.
Esoknya saat tiba waktunya Ree pergi, Jun demam tinggi yang bisa ia lakukan hanya melihat Ree lewat jendela kamarnya. Mama Jun melarang Jun untuk keluar, Jun diam_diam meninggalkan rumah. Sebelum Jun bertemu dengan Ree, mobil yang membawa Ree dan keluarganya telah meninggalkan halaman rumah Ree. Jun kecil berlari mengejar mobil, bersama turunnya hujan yang tiba-tiba turun mengiringi kepergian Ree. Jun terus berlari dan sampai akhirnya ia jatuh, tangisnya memecah hujan. Jun kecil menangis karna tak sempat mengucapkan selamat tinggal, menangis karena membiarkan orang yang ia sayang meninggalkannya. Hujan tak henti mengguyur tubuh mungilnya, langit ikut menangis bersamanya.
Tanpa ia sadar air matanya menetes membasahi wajahnya.
“Ree maafkan aku, suatu saat kau akan tau alasanku.” Bisiknya dalam hati.
Jun menutup matanya, membiarkan tubuh dan fikiranya jatuh ke alam mimpi. Melupakan rasa bersalahnya sesaat, menyimpan kembali file-file kenangan masa lalunya bersama sahabat yang ia cintai. Dan berharap ini akan cepat berakhir.
“Aaaarg,,”
Suara teriakan mengagetkan Jun, Jun berlari menuju arah suara itu datang. Teriakan itu mengingatkannya pada Ree. Saat memasuki kamar Siwon, Ree menangis di pelukan Siwon.
“hanya mimpi, kamu tidur lagi”
“emh”
“kalok ada apa-apa, aku di depan.”
“jangan, aku takut.” Ree tetap menangis di pelukan Siwon.
Jun hanya bisa diam melihat orang yang ia cintai ketakutan. Jun berbalik meninggalkan tempat itu, hanya Jung yang di butuhkan Ree sekarang.
“aku akan kembali ke tujuan awalku” Jun berbisik pada otaknya, sekalipun hatinya yang paling dalam memberontak.
Jun berjalan menuju balkon, ia duduk menatap bintang di langit. Sesuatu mengalir dari hidungnya, dingin. Jun tersenyum membiarkan darah segar mengalir di hidungnya.
“akan kah besok bisa berjalan lancar?” Jun memejamkan matanya, mencoba menyelami alam bawah sadarnya.
See U,,
^^
Rabu, 09 Maret 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar