Pulang ke rumah, ngunci diri dikamar, tidur, mimpiin sesuatu yang bisa ngeringanin beban di kepala, itu yang ku inginkan sekarang. Ku cepat-cepat keluar dari mobil dan tidak menggubris orang-orang yang memandang ke arah ku. Ya, tamu-tamu yang datang dengan membawa kabar tentang perusahaan, dan tak peduli dengan anak-istri yang menunggu mereka dirumah. Tidak usah membicarakan orang, ayah ku sendiri seperti itu.L
Ku masuk kekamar dan membanting pintu, ku capek melihat ayah ku bersikap seakan-akan tidak mempunyai tanggungan apapun dirumah. Apalagi sejak aku bilang ingin ke Korea untuk beberapa hari, ayah marah sejadi-jadinya.
Ku rebahkan kepala yang sedari tadi terasa berat. Tapi pikiranku melayang, ku duduk menerawang ke luar jendela, mengingat kembali janji yang ayah katakan padaku dulu.
“ayah janji, ayah akan menjaga eon (dalam bahasa korea eon atau eony adalah kakak) dengan baik” itu janji ayah saat dimana ku kehilangan kasih sayang seorang mama. Tapi sayang ayah lupa dengan semua janjinya. Kecelakaan itu telah merenggut kebahagianku, mama mengalami kecelakaan mobil saat ingin menjemput ku sehabis les. Ku menyukai korea karna aku dan mama terlahir disana, ku berada di indonesia karna ayah tidak mau meninggalkan pekerjaannya setelah menikahi mama. Dan sejak kecelakaan tiga belas tahun lalu, ku tak pernah lagi datang ke Korea, hanya sekedar mengunjungi kakakpun tidak. Tapi besok ku berencana berkunjung kesana, karena sekolah tempat aku les akan mengadakan liburan bersama di Korea.
“tok tok tok” gedoran pintu membuyarkan lamunanku.
“siapa?”
“bibi non,,” jawab suara tua di balik pintu kamarku.
“kenapa bi?”
“di tunggu tuan di ruang tengah”
“kenapa lagi orang itu?” baru kali ini ayah memanggilku setelah ayah marah karna mendengar ku ingin ke korea.
Ku menuruni tangga dengan pikiran campur aduk, sangkaan tak enak tentang ayah memenuhi kepalaku. Ku duduk sejauh yang ku bisa, dengan tatapan tajam, ku pandang orang yang menyebalkan ini. Tapi mukanya tidak memberi tanda kalau dia sedang marah padaku, mukanya terlalu ceria untuk orang yang sedang marah.
“kenapa?”
“hmm,, eon pikir ayah memanggilmu karna ingin memarahi mu, tenang saja” ayah tersenyum.
“truz ada pa memanggilku ke sini?!” ku mengedarkan mataku ke seluruh ruangan memastikan tidak ada setan yang sedang mempengaruhi orang yang menjengkelkan ini.
“bukan nya kamu ingin ke korea, jadi ayah menyiapkan ini untuk mu.” Ayah mengeluarkan cek berisi uang yang begitu banyak.
“hah?!” ayah yang minggu lalu marah karna aku ingin ke korea tiba-tiba ngasik ku cek yang jumlah uangnya yang nggak sedikit, malah kalok ku mau tinggal di korea selama satu minggu itu lebih dari cukup. Ku mengedarkan mataku melihat sekeliling, tak da yang aneh.
“eon, kamu pikir ayah bo’ong?, ini uang benar-benar untuk kamu. Dan satu lagi, terserah kamu mau tinggal berapa hari disana.” Ayah meyakinkan aku sekali lagi.
“ayah kenapa? Bukannya ayah nggak setuju aku pergi ke korea? Kejedot dimana yah?!” ku masih nggak percaya. Tapi seneng sii.☺
“ayah nggak mau liat kamu marah ma ayah.”
“heh, ayah bersungguh-sungguh?” aku masih belum percaya.
“ia, malah ayah sudah siapkan apartemen khusus untuk mu. Tapi sayang kakak mu tidak bisa menjaga mu, dia sedang mengurus ujian semester terakhirnya”
“truz,,”
“akan ada yang menjagamu. Tapi tenang saja dia anak teman kerja ayah, dan ayah yakin kamu kenal dia sangat dekat. Dia baru saja di wisuda sebagai lulusan terbaik, dan dia akan melanjutkan bisnis keluarganya”
“ok, aku terima. Tapi siapa dia yah, perasaan aku tak punya teman yang tinggal di Korea?” ku mengernyitkan alis ku.
“ sudahlah, lebih baik kamu istirahat, bukankah besok kamu harus berangkat ke korea.” Ku hanya menganggukkan kepala.
Ku menaiki tangga dengan senang, semoga saja ini akan merubah semua hal yang kurang menjadi lebih sempurna. Dan aku yakin mama sedang tersenyum di surga sana. Semoga saja.☺
Di kamar aku mulai membereskan barang-barang yang akan aku bawa ke korea nanti. Saat ku membereskan lemariku, tak sengaja ku menyenggol kotak yang sepertinya sudah belasan taun tak pernah ku buka. Karna gembok yang menguncinya mulai berkarat. Ku benar-benar lupa isi benda usang ini, sudah berkali-kali ku coba membukanya, tetap saja tak bisa.
“aish, ini benar-benar menguji kesabaranku!”
“bruagh”
“lega rasanya”
Semua benda di dalamnya berantakan setelah aku membantingnya dari atas kasur, ternyata untuk kotak sekecil itu isinya lumayan banyak. Yang terlihat hanya beberapa lembar foto dan sebuah kalung yang sepertinya tak asing bagiku.
Foto-foto itu memberi kesan yang mendalam antara satu dan yang lainnya. Itu aku, kakak, mama, ayah, dan anak kecil di sebelahku itu sepertinya aku kenal. Ya, dia adalah Jun, sahabat kecilku yang sangat aku cintai.
“hmm, dia gimana kabarnya ya? Truz kakaknya SIwon si kura-kura jelek itu juga gimana ya?” ku bersandar di pinggiran kasur dengan menekuk lututku, mengingat kembali masa kecilku. Dan ingatan itu perputar-putar seakan memenuhi ruangan kamarku.
“ya, pasangan kalung ini ada pada jun” ku tersenyum sambil memakaikan kalung itu ke leherku. Pasangan kalung yang berupa peti harta karun, yang Jun janjikan padaku saat dewasa nanti.
“semoga saja ku bisa betemu dengan jun” ku beranjak menuju kamar mandi untuk menyegarkan kembali badanku.
Lima belas menit ku habiskan untuk membersihkan tubuhku, pikiran tentang Jun masih melayang-layang di kepalaku.
“tapi kenapa Jun tak pernah menghubungi ku lagi?, bukankah dia janji akan datang memenuhi semua janjinya yang seharusnya ia dating tahun lalu?!, atau dia sudah lupa akan janjinya?!” aku agak ragu tentang Jun, sudah belasan tahun ku tak perah betemu dengannya. Dengar kabarnya saja tidak, bagaimana mau bertemu.L
Ku merebahkan tubuhku, pelan-pelan aku menyimpan kembali memori tentangnya dengan rapi di otakku karena besok jam 6 aku harus bergegas ke bandara.
1...
2...
3...
“Zzzz..”






Tidak ada komentar:
Posting Komentar