BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

.

Selasa, 17 Mei 2011

[PG+13/S/1s] G Dragon - The Pieces of a Painful Memory

Title : The Pieces of a Painful Memory
Author : Azura-chan
Beta Reader : Kimmie Hirosheero

Main Casts : Kwon Ji Yong (G-Dragon Big Bang) and Wang Hae Min
Other Casts : Big Bang Members
Length : Oneshot (4198 words)
Genre: Tragedy, Drama
Rating : T (PG+13)
A/N :
Annyeong semua, saia author baru di mari he he...
Di sini saia liat jarang ada fic Big Bang yeh, tapi emang saia dasarnya VIP he he..
Jadi pengen nge-share fic oneshot saia di mari, hope u like it! >.<
Komennya juga saia tunggu lho~

-azura-





PRANG!
Keping demi keping pecahan cermin berjatuhan di hadapanku.
Kutatap tanganku dengan pandangan dingin.
Tetes demi tetes darah segar merembes di antara sela-sela jariku.
Perih. Itu yang kurasakan, tetapi di dalam hatiku rasa perih itu lebih terasa sakit dari apa yang kurasakan saat ini.
Beratus-ratus kali kumencoba untuk melupakan kenangan-kenangan indah itu, namun mengapa semuanya begitu sulit?
Senyuman, belaian, keceriaan, dan semua yang ada pada dirinya seolah seperti ganja bagiku.
Otak dan tubuhku bagaikan terkena candunya.
Mencoba untuk melupakannya, tetapi itu sia-sia saja karena itu semua tidak akan pernah berhasil.
Kutatap potongan cermin yang retak di hadapanku.
Wajahku. Ini seperti bukan wajahku lagi.
Luka dan goresan sekarang telah mengotorinya.
Tinjuan itu masih terasa hingga sekarang dan tetap membekas di benakku.

Semuanya disebabkan oleh dirinya.
Persahabatan, kehidupan, dan segalanya rela kukorbankan demi merebut dirinya kembali.
Akan tetapi, semua itu tetap tidak berhasil.
Aku tidak menyangka ia rela meninggalkan diriku hanya karena laki-laki brengsek itu.

Dong Young Bae.
Apa yang telah merubah dirimu?
Padahal aku sampai menganggapmu seperti saudaraku sendiri, tetapi mengapa kau berani merebut Hae Min dari diriku?
Mengapa kau sampai berani mengkhianatiku?
Apa yang telah kulewati bersama dirimu seolah seperti kebodohan terbesar yang pernah kulakukan.
Aku menyesal telah bersahabat denganmu.
----------------------------------------------
Drrtt...Drrtt...Drrtt...

SEUNG HYUN CALLING

Dengan sigap segera kutekan tombol ‘answer’ di ponselku.
“Yeoboseyo?” tanyaku.
“Ji Yong~a.” Suaranya terdengar sedikit bergetar.
“Waegurae?”
Minahae, aku sudah berbohong pada dirimu selama ini.”
Aku mengernyitkan dahi karena ucapannya itu.
“Aku tidak mengerti ucapamu.”
Mian karena telah menipumu tentang keadaan Hae Min selama ini.”
Mataku membulat saat ia mengatakan nama itu.
“Ia mengidap kanker otak stadium akhir.”
MWO?! Kau bercanda bukan? Ya! Seung Hyun~a! Katakan bahwa itu bohong!”
Emosiku memuncak.
“Ji Yong~a, mian aku tidak memberitahumu dari dulu.”
Aku tidak dapat membalas kata-katanya itu.
Lidahku kelu. Perlahan air mata turun tanpa kontrol dari otakku.
Apakah hanya diriku seorang yang tidak tahu akan penyakitnya ini?

Hae Min, mengapa kau begitu tega akan semua ini?
Kau hanya tidak memberitahu diriku seorang?
Kau meninggalkan diriku begitu saja tanpa alasan yang jelas.
Apakah kata-kata Seung Hyun-lah yang menjadi jawaban akan keputusan yang kau buat itu?


--------------------------------------------------------
Lorong demi lorong rumah sakit kususuri dengan hati pilu.
Aku berlari tanpa arah menyusuri setiap bilik hingga akhirnya kutemukan Seung Hyun dan lainnya berdiri di depan sebuah kamar operasi.
Kutatap satu persatu wajah mereka.
Aku dapat melihat guratan-guratan kecemasan menghiasi wajah mereka.

Aku frustasi akan semua hal ini.
Semua yang dikatakan Seung Hyun ternyata benar.
Hanya diriku seoranglah yang tidak tahu akan masalah ini.
Mengapa dirinya tega berbuat begitu padaku?

Satu jam, dua jam, hingga empat jam kami semua menunggu.
Kami tetap diam dan tak berbicara satu sama lain.
Aku enggan berbicara kepada pembohong.
Mereka berkata bahwa mereka sahabatku, tetapi mengapa ia menipuku seperti ini?
Aku kecewa terhadap mereka semua.

-----------------------------------------------------

Sudah hampir lima jam kami termenung di lorong depan kamar operasi.
Tiba-tiba pintu terbuka.
Aku tercengang dan segera bangkit dari posisi dudukku.
Semuanya seakan jauh dari harapanku.

Sebuah tempat tidur bertutup kain putih didorong keluar dari kamar itu.
Aku langsung berlari menghampirinya.
Air mataku tak dapat kubendung kembali.
Perlahan kubuka kain putih itu.
Tampak wajah manis Hae Min-ku yang tertidur nyenyak di atasnya.
Aku mengelus pelan pipinya yang dingin itu.
Kucoba untuk mengulas senyum demi kepergiannya, tetapi sesungguhnya hatiku ini tidak rela.
Kenangan yang telah kami ukir bersama tidak dapat semudah itu hilang bagaikan ditiup angin.

Perlahan air mataku jatuh.
Aku mengerang histeris dan kemudian berjalan ke arah Young Bae.
Aku menarik kerah bajunya, kemudian dengan amarah yang memuncak kudaratkan tinju kekesalan di wajahnya.
BUAG!

Rasanya itu semua belum cukup.
Aku ingin melampiaskan kembali sisa kekesalanku ini, tetapi sayangnya Dae Sung dan Seung Ri sudah terlebih dahulu menahan kedua lenganku.
Young Bae menatapku acuh.
Aku membalasnya dengan cibiran dan kata-kata umpatan.

Young Bae merogoh sesuatu di saku celananya itu.
Aku memperhatikan gerak-geriknya dengan tatapan dendam.
“Igeu.” Ia menyodorkan sebuah kalung platina berinisial H&J ke arahku.
Kalung itu bukanlah benda asing di mataku, tetapi mengapa benda ini dapat berada di tangan Young Bae sekarang.
Apa Hae Min memberikan ini kepadanya?
Aku terus bertanya-tanya di dalam hati dan enggan mengambil kalung yang disodorkan Young Bae itu.

Tiba-tiba Young Bae menarik tanganku dengan kasar.
Ia meletakan kalung itu di telapak tanganku, kemudian memaksa jari-jariku untuk menggenggam benda dingin itu.
“Kau tahu, Hae Min banyak membicarakan dirimu, ia masih mencintaimu.”
Aku menatapnya lurus saat ia mengucapkan kata-kata itu.
Minahae karena telah membohongiku selama ini.”
Ia tertunduk lesu di hadapanku, sedangkan diriku—aku hanya tertegun dan membujur kaku saat mendengarkan kata-katanya itu.
-----------------------------------------------------------

Ting Tong! Ting Tong!
Bel apartemenku berbunyi.
“Changkaman!” teriakku.

Aku bergegas menghampiri pintu dan memutar kenopnya.
Saat kubuka, ternyata seorang lelaki paruh baya telah berdiri di sana.
“Kwon Ji Yong?” tanyanya.
Aku mengangguk cepat.
Igeu, kau mendapat kiriman.” Ia menyodorkan sebuah kotak ke hadapanku.
Kotak itu tidak terlalu besar, namun kotak itu sudah sedikit usang dan berdebu.
Aku menerimanya lalu menutup pintu.

Kuletakan kotak yang kuterima tadi di atas meja.
Perlahan kubuka tutupnya dan kutemukan sebuah kotak kaleng di dalamnya.

Sebenarnya siapa pemilik kotak ini?
Lalu mengapa ia mengirimkannya kepadaku?

Rasa penasaranku rupanya tidak kunjung hilang, dengan berhati-hati kukeluarkan kotak kaleng itu lalu memangkunya.
Kubuka tutupnya dan betapa terkejutnya diriku saat menemukan sebuah benda yang kukenal di dalamnya.

Setumpuk foto diriku dan Hae Min tertata rapi di sana.
Rasa sakit itu bagaikan mucul kembali di benakku, tetapi aku tetap berusaha menutupinya sambil memandang foto-foto itu.
Sudah dua tahun lamanya sejak Hae Min meninggalkan diriku, namun rupanya bayang-bayang wajahnya tidak akan pernah berhenti mengganggu kehidupanku.
-------------------------------------------------------

Kutatap sebuah foto—foto yang terletak di urutan paling atas.
Aku mencoba untuk membayangkan kembali kenangan itu.
Kenangan di mana saat-saat terakhir yang dapat kuhabisankan bersama dirinya.
Kenangan terakhir di mana ia dapat menunjukan senyuman menawan itu di hadapaku.

“Oppa, bolehkah kubuka mataku sekarang?”
Andwe, changkamanyo! Sebentar lagi kau boleh membukanya, tetapi jangan sekarang.”

Aku menuntun Hae Min ke sebuah taman indah di pinggiran kota.
Aku ingin menghabiskan waktu dengan dirinya hari ini, dan aku harap ia menyukainya.

Hana, deul, set! Kau dapat membuka matamu sekarang!”
Aku senang dengan ekspersinya wajahnya itu.
Ia berseri dan tak henti-hentinya mengerjap kagum ke arah pemandangan di depan kami.
Danau yang membentang luas seolah telah menghipnotis matanya itu.

“Oppa, gomawoyo.” Ia memelukku bahagia.
Ne, aku memiliki satu hadiah lagi untukmu.”
Kukeluarkan sebuah kalung platina dari saku kemejaku lalu menyematkan benda itu di lehernya.
“Otte? Joa?” Ia mengangguk cepat lalu mencium pipiku.

“Bagaimana jika kita berfoto bersama?” Ia tersenyum manja ke arahku.
“Geurae,” jawabku.
Ia mengambil kamera dari tas yang dibawanya itu, kemudian mengarahkan lensanya ke arah kami berdua.

---------------------------------------------------

Kusingkirkan foto-foto menyakitkan itu dari hadapanku.
Aku berusaha menenangkan diri dan melupakan kenangan-kenangan yang terpampang di dalamnya.
Kutemukan sebuah buku kecil berwarna violet tertimbun di bawah foto-foto itu.
Kuangkat benda itu keluar lalu meniup debunya dengan perlahan.
Sebuah pita berwarna pink muda membalutnya seakan mengunci kerahasia buku itu.
Kutarik perlahan simpulnya, lalu membuka halaman pertama dari buku itu.

Annyeong, buku ini milik Wang Hae Min.
Jika anda menemukannya, tolong buku ini dikembalikan ke alamat yang tertera di bawah ini. . .

Ternyata ini buku harian Hae Min.
Rasanya diriku seperti tidak layak untuk membacanya, tetapi jika begitu, untuk apa benda ini dikirimkan kepadaku?

Dengan hati yang ragu akhirnya kuputuskan untuk membuka halaman selanjutnya dari buku harian itu, namun yang kudapati hanyalah lembaran-lembaran kertas yang diselingi oleh goresan kotak-kotak di atasnya.
Setiap kotak memliki sebuah angka dan angka itu merupakan tanggal setiap harinya.

Kotak-kotak itu tidak semuanya terisi.
Kebanyakan malah dibiarkan kosong begitu saja, namun akhirnya aku menjumpai sebuah kotak yang berisi sebuah tulisan kecil tertulis di dalamnya.

27 April 2006
Hari pertama diriku dan Ji Yong bertemu.

Hari ini bagaikan hari tersial dalam hidupku.
Motorku mendadak mogok dan hujan deras juga tidak segan-segan menyiram tubuhku ini.
Aku hanya dapat menatap nanar dan meratapi nasib.

Kutinggalkan motorku di pinggir jalan.
Kemudian kujadikan tas sebagai payung darurat bagi diriku.
Kubelari sekencang mungkin menuju halte bus terdekat.

Halte begitu sepi saat cuaca buruk seperti ini, namun malah bertemu seorang gadis.
Gadis itu datang hampir bersamaan denganku.
Kami saling bertatap muka lalu tersenyum menyapa.

--------------------------------------------------------

14 Agustus 2006
Aku bertemu kembali dengan Ji Yong.


Hari itu adalah hari di mana aku datang ke toko aksesoris langgananku.

Ahjussi, bagaimana? Apa pesananku sudah tiba?” tanyaku.
Bukannya menjawab Ahjussi malah mengernyitkan dahi.
“Ji Yong~a,
mian...topi itu sudah terjual kepada orang lain.”
MWO?! Ahjussi! Bagaimana ini? Bukannya aku yang pertama memesannya? Bagaimana barang itu dapat terjual kepada orang lain?”
“Orang itu membeli dengan harga yang sangat tinggi, jadi mau tak mau, ahjussi harus memberikan barang itu kepadanya.”
Aku menggela nafas kesal.
Benar-benar tidak dapat dipercaya, barang yang kuimpikan selama berbulan-bulan dengan mudahnya dijual kepada orang lain.

Aku membanting pintu toko sambil mengeluarkan beberapa umpatan kasar.
Kuturuni setiap anak tangga dengan langkah seenaknnya.
Pokoknya dengan cara bagaimanapun aku harus mendapatkan kembali topi itu.
Aku mati-matian berkerja paruh waktu untuk mendapatkan uang demi membeli topi itu, tetapi mengapa tidak ada seorang pun yang menghormati kerja kerasku itu.

Hari itu juga, aku berkeliling di sebuah pusat pertokoan demi menemukan topi impianku itu.
Tiba-tiba aku menangkap sebuah gambaran yang sangat kudamba di dalam pikiranku.
Topi itu. Aku menemukan orang yang telah merebut topi itu dari diriku.
Kuayunkan langkahku dengan cepat dan berlari kepada sang pemilik topi.
“Ya! Khajima!” Teriakanku menggelegar di penjuru pertokoan.
Akhirnya orang itu berbalik.
Ia menatapku heran, sedangkan diriku ikut terkejut saat menatapnya.
“Kita bertemu lagi rupanya!” sahutnya.
Aku tidak mempedulikan siapa dirinya.
Kita pernah bertemu sebelumnya atau tidak, itu tidak penting bagi diriku karena yang kuinginkan sekarang hanyalah topi itu.
Ya! Kembalikan topi itu kepadaku!”“SHIRO!” Ia melepas topi itu lalu menyembunyikan di balik tubuhnya.
Mworago?! Aku yang memesannya terlebih dahulu! Kau yang merebutnya dari diriku!”
“Aku yang merebutnya? Apa kau tidak salah tuduh?! Aku yang membelinya terlebih dahulu! Jadi ini milikk dan kau tidak punya hak untuk menjadikannya milikmu!”

Sejenak aku tertawa kecil saat mengingat kembali pertemuan kedua diriku dengan dirinya itu.
Peristiwa itu begitu konyol.
Kami berteriak-teriak seperti orang gila di tengah pusat pertokoan hanya karena sebuah topi.

Karena peristiwa itu pula aku menjadi benci terhadap dirinya, tetapi untungnya kebencian itu tidak berangsur lama.
Apa mungkin pertemuan kami yang ketigalah yang menjadikan diriku selalu berdebar saat berada di dekatnya?
-----------------------------------------------------------

31 Desesmber 2006
Sepertinya aku berjodoh dengan Ji Yong.


Pertemuan ketiga kami terjadi saat malam perayaan tahun baru.
Itulah kenangan yang tidak pernah kulupakan.
Kami diundang ke dalam sebuah pesta perayaan yang sama dan aku terkejut saat kembali melihat dirinya.

Ya! Kau?!” Aku terkejut saat melihat dirinya termenung dengan riasan yang berantakan di sebelah lorong toilet wanita.
Ia menatapku dengan tatapan dingin.
“Apa maumu?” tanyanya dengan berlinang air mata.

Mendengar responnya entah mengapa hatiku merasa iba.
Kulepas jasku lalu mengenakannya di atas bahunya.
Ia tertegun saat aku melakukan hal itu kepada dirinya.
“Kha cha!”
Wajahnya berubah menjadi heran saat aku berkata seperti itu kepadanya sambil mengulurkan tangan.
“Sebentar lagi hitungan mundur itu akan dimulai, apa kau rela melewatkannya begitu saja?”
Aku menjelaskan maksudku.
Ia tersenyum hambar, tetapi ia tetap menggapai uluran tanganku.
Aku menggandengnya menuju kerumunan orang yang sedang berdiri di bawah langit cerah pada malam hari itu.
Mimik wajahnya ternyata belum juga berubah.
Aku masih dapat melihat sebuah kesedihan terukir di wajahnya.
“No gwenchana?” tanyaku.
Ia menggeleng cepat, namun tiba-tiba ia bersembunyi di belakangku saat seorang pria menghampiri kami.
Aku penasaran dengan tingkahnya itu.
Apakah laki-laki itu memiliki hubungan dengan dirinya?
“Waegeurae?”
Ia tetap menggeleng saat kuajukan pertanyaan itu, tetapi kali ini aku tidak puas dengan jawabannya itu.
“Ia mantan-mu?” Aku mencoba memancing sebuah jawaban pasti dari dirinya.
Kali ini wajahnya terlihat ingin memungkiri, namun semuanya telah terbaca olehku.
“Aku sudah tau itu, kau boleh meminjam diriku malam ini untuk melupakannya.”
Ia mulai teresenyum kecil ke arahku.
Memang pernyataan yang barusan kuucap terdengar konyol, akan tetapi aku turut senang jika dapat membantunya.


Malam itu, seolah rasa dendamku terhadap dirinya telah terhapuskan.
Aku baru menyadari bahwa perbedaan antar benci dan cinta sangatlah tipis.
Tidak ada yang tahu kapankah sebuah kebencian dapat berubah menjadi rasa cinta, sampai aku merasa bahwa di dekatnya merupakan suatu kebahagiaan terindah dalam hidupku.

-----------------------------------------------------------

29 Januari 2007
Ji Yong resmi menjadi namja chingu-ku


Aku kembali tersenyum kecut saat melihat tulisan pada kotak bertanggal dua puluh sembilan itu.
Hari itu—hari di mana aku mengumpulkan seluruh keberanian untuk mengakui perasaanku di hadapannya.
Ini memang bukan pertama kalinya, tetapi ini pun tidak dapat dianggap semudah yang dikira.
Setelah menjalin persahabatan dengannya, akhirnya aku pun menyadari bahwa diriku memiliki perasaan lain terhadap dirinya selama ini.
Gugup dan debar jantung selalu menghantui diriku saat bersama dengannya.
Aku berusaha menutupi semua itu, tetapi ini tidak dapat berlangsung selamanya.

“Hae Min~a, kau pulang sendirian hari ini?”
Aku bertanya sambil menatap butiran-butiran yang yang menggelantung di sisi jendela.
“Ye, waeyo?”
“Anio, hanya saja—”
Tenggorokanku seperti tercekat oleh sesuatu, entah mengapa keberanian itu lenyap seketika.
“Ye?” Hae Min menatapku dengan padangan bingung.
Chogiyo..umm—” Ucapanku lagi-lagi terhenti. Kali ini karena tawaan Hae Min yang tiba-tiba menyeruak tanpa sebab.
“Hae Min~a, mengapa tertawa?”
Anio, aku hanya merasa bahwa kau lucu sekali, sebenarnya apa yang hendak kau katakan? Sedari tadi kulihat kau gugup sekali, memang apakah ada yang salah?”
Kali ini Hae Min memang sudah curiga dengan gerak-gerikku.
"Geurae, kau terlalu lama berpikir, lebih baik aku yang terlebih dahulu berbicara.”
Aku mengangkat tinggi kedua alisku sambil mengangguk terpaksa.
Ara, memang apa yang hendak kau bicarakan?” tantangku.
Ia tersenyum ke arahku lalu menghela nafas dengan pelan, kemudian ia menghadap ke arah jendela yang terbuka itu.

“KWON JI YONG, KAU HARUS MAU MENJADI NAMJA CHINGU KU, ARA?”
Mataku membulat seketika saat ia meneriakkan pertanyaan itu.
Mwo? Apa aku tidak salah dengar?
“Otte?” Ia bertanya kepadaku dengan nafas terengah-engah.
Aku hanya bisa tercengang membisu di hadapannya.
“Ji Yong~a, apa jawaban darimu?” tanyanya sambil menguncang tubuhku.

Aku mendekapnya erat.
“Hae Min~a, kau telah merebut kata-kataku.”
Aku berbisik pelan.
Nun babo ya! Kau terlalu pengecut untuk mengucapkan itu, jika aku menunggunya mungkin aku sudah berubah pikiran.”
“Aku pengecut?”
Ia menangguk dengan bersemangat.
“YA! AKU BUKAN PENGECUT! WANG HAE MIN, SARANGHAE!” kuteriakan kata-kata itu keluar jendela sambil merangkulnya erat.


Sebutir tetesan air mata jatuh dan menodai halaman itu.
Aku tidak sanggup menahan tangis haruku,
Entah mengapa sekarang aku berharap agar dapat kembali ke masa itu.

-------------------------------------------------------

6 Februari 2007
Acara lembur bersama Ji Yong.


Lembur. Aku ingat akan saat itu—saat di mana ia berkata kepadaku bahwa ia bercita-cita ingin menjadi penulis terkenal.
Seminggu sebelumnya Hae Min mendapat tawaran dari sebuah perusahaan penerbit di Korea.
Aku melihat dirinya sudah amat dekat dengan impiannya itu.
Aku ingin selalu mendukungnya.

“Ji Yong~a, bisa kau temani diriku untuk malam ini saja?”
Ia merengek dengan wajah memelasnya.
Arasseo, tetapi sebaiknya kau istirahat dulu, kau kan tidak perlu menyelesaikannya hari ini juga?”
Aku tahu benar akan sifatnya.
Ia selalu keras kepala, namun aku tahu bahwa adalah seseorang yang tidak pantang menyerah.

Ia menggeleng dengan pasti.
Waeyo? Kemarin editor sudah menagih script dariku, jadi mana mungkin aku dapat mengundurnya lagi.”
Aku hanya dapat menghela nafas saat mendengar bantahannya itu.
Geurae, aku akan menemanimu,” jawabku dengan nada sedikit terpaksa.
“Oh yah, bukannya lirik lagumu juga belum selesai? Bagaimana jika kau mengerjakannya sambil menemaniku.”
Benar katanya, aku baru ingat bahwa lagu ciptaanku itu belum sepenuhnya selesai.
Lebih baik aku mengerjakannya sekarang.

Jam sudah menunjukan pukul dua dini hari.
Sekilas kulihat Hae Min sudah tertidur pulas di meja komputernya itu.
Wajahnya terlihat damai dan aku enggan membangunkan tidurnya itu.

Kutatap kertas-kertas lirik dan partitur di hadapanku.
Semuanya sudah selesai kukerjakan dan sekarang aku ingin mencoba untuk memainkannya.
Aku mulai beranjak menuju piano yang terletak di sudut ruangan.
Kusentuh tuts-tuts hitam putih itu, kemudian mulai memainkannya.
Sejanak kumenutup mata, merenungkan setiap alunan nada yang bertending di telingaku.
Lagu ini kutulis untuk Hae Min—gadisku yang selalu mengisi hari-hariku.
Hari-hari yang kulewati bersamanya seakan tidak pernah terasa hambar di mataku.
Ia selalu ceria dan mengisi hari-hariku ini, oleh karena itu kunamai lagu ini “Haru Haru”.

“Ji Yong~a.” Seseorang memanggil namaku.
Permainan pianoku langsung terhenti.
Aku berbalik dan menemukan Hae Min menggeliat di sisi meja komputernya itu.
Mian, aku membangunkanmu.. Sekarang, lanjutkan saja tidurmu.” Aku membalas tersenyum ke arahnya.
“Aku tidak bisa tidur lagi,” erangnya.
“Waeyo?”
“Aku ingin mendengarkan lagu itu sekali lagi, boleh bukan?”
Ia berjalan mendekati piano yang sedang kumainkan ini.
Aku mengangguk setuju, lalu menggeser posisi dudukku.
Setelah itu aku menepuk jok kursi sambil menatap ke arahnya. Ia tersenyum ke arahku lalu duduk di sampingku.

Malam terasa begitu spesial di mataku.
Malam di mana aku dapat memainkan lagu khusus untuknya dan ia menyenderkan kepalanya di bahu kananku.
Sesekali ia tertawa melihat permainan pianoku.

“Sekarang giliranmu, mana hasil tulisanmu? Aku mau membacanya.”
Andwe, tulisanku belum sempurna.”
Lagi-lagi alasan itu yang dilontarkan olehnya.
Aku mendengus kesal.
Akhirnya dengan cepat kubalikan tubuhku lalu beranjak menuju meja komputer miliknya.
Ya! Apa yang ingin kau lakukan?!” Ia berteriak heran, namun aku mengacuhkannya begitu saja.
Aku langsung mengarahkan mouse komputer dan membuka data miliknya.

“Ya! Ji Yong~a!” Belum sempat aku bertindak lebih, ia sudah terlebih dahulu menahan tanganku.
Ia merebut mouse di tanganku lalu mencabut flashdisk yang terpasang di komputer itu.
“Hae Min~a.
Waegurae? Mengapa aku tidak boleh melihatnya?” teriakku dengan nada kecewa.
“Karena ini belum sempurna.” Ia menjulurkan lidahnya seolah mencibir diriku.
Aku berusaha merebut benda itu dari dirinya, tetapi ia malah melarikan diri.

Kami terus berkejar-kejaran hingga tiba-tiba dirinya tersandung dan jatuh ke salah satu sofa di ruang tengah.
Aku menimpa tubuhnya.
Sejenak diriku membeku.
Jarang sekali diriku dapat melihat wajahnya dalam jarak sedekat ini.
Matanya membulat dan bibirnya seolah mengisyaratkan sesuatu kepada diriku.
Kami berdua menjadi sangat canggung, namun ia malah memejamkan matanya.
Aku tahu isyarat ini, kudekati wajahnya lalu perlahan kutempelkan bibirku lembut di bibirnya.
-----------------------------------------------------------------

Pada bulan yang sama kuperhatikan Hae Min mengisi tulisan di dua buah kotak yang tidak terlalu jauh jaraknya.
Aku terus membaca sampai aku menyadari bahwa kotak yang kedua itu bertanggal empat belas.
Mengingat yang terjadi perasaan bahagia dan haru langsung menyelimuti diriku seketika itu juga.

14 Ferbruari 2007
Hari Valentine Pertamaku dengan Ji Yong sekaligus hari pertama aku menemukan gejala itu.


Aku menatap heran kata ‘gejala’ yang tertulis di dalam kotak itu.
Aku baru menyadari bahwa selama ia bersama diriku, ia sudah merasaknnya.
Tetapi, mengapa dirimu begitu egois, Hae Min~a.
Kau selalu saja keras kepala dan berusaha menanggung sendiri.
Terkadang aku merenung, sebenarnya aku ini tidak bisa dikatakan sebagai namja-chingu yang baik untuk dirinya karena aku selalu merasa bahwa aku tidak berguna di hadapannya.
Sebenarnya akulah yang sangat membutuhkan dirinya dalam hidupku, namun aku tidak bisa membalas kebaikkannya itu.
Ji Yong, nun babo ya!

“Ji Yong~a, aku ingin menghabiskan malam ini dengan melihat bintang bersamamu, bagaimana?”
Kupandang wajahnya yang bersemu merah itu sambil mengangguk dengan pasti.
Ara, tetapi sebaiknya kita tidak jauh-jauh dari rumah. Aku mengkhawatirkan kesehatanmu.”
Ia memasang wajah cemberutnya yang menurutku lucu itu.
“Aku benar-benar menyusahkan orang saja, di hari yang berbahagia seperti ini mengapa diriku malah sakit?!”
Ia mengutuki dirinya sendiri.
“Ya! Apa yang kau bicarakan? Setidaknya kita masih bisa bersenang-senang bukan—”
“Tapi aku telah membuatmu repot, Kwon Ji Yong.” Ia mencubit kedua pipiku.
“Ahh,
apeu. Apa yang kau lakukan?”
Aku mengusap-usap pipiku, tetapi ia malah tertawa geli.
Mian, tetapi aku gemas dengan dirimu. Mengapa kau bisa sabar sekali? Aku sang pemilik tubuh saja sudah kesal dengan penyakit ini.”
Saat itu—hari Valentine pertamaku dengan Hae Min tepatnya.
Kami hanya bisa melewati hari spesial itu dengan kegiatan yang menurut orang sama sekali tidak spesial.
Hal itu dikarenakan, seminggu sebelumnya kesehatan Hae Min mendadak menurun tanpa sebab.
Aku sempat khawatir dengan kondisinya yang sering pusing dan muntah-muntah itu, tetapi Hae Min selalu berkata bahwa dirinya baik-baik saja.
Ia selalu berusaha memasang wajah ceria di hadapanku.

“Ji Yong~a, apakah kau berjanji akan selalu berada di sampingku?”
Sejenak kutertegun dengan pertanyaannya itu.
Matanya seolah menerawang ke arah langit yang membentang luas di atas kami.
“Mengapa kau bertanya soal itu?”
Aku sedikit terheran.
Anio, hanya saja aku berpikir bahwa sepertinya aku akan selalu membutuhkanmu.”
Ia menghela nafas pelan.
Aku tersenyum dan mengacak-ngacak rambutnya dengan lembut.
“Hae Min~a, seharusnya yang berkata seperti itu adalah diriku, jadi kau tidak perlu khawatir. Kita akan selalu bersama dan menggapai impian kita.”

Sebuah bintang jatuh tiba-tiba melintas di atas kami.
“Ahh, lihat itu!” Hae Min berseru kencang.
Aku pun tersontak kaget melihat reaksinya.
Kulihat sekilas ia melipat tangannya lalu mengucapkan harapan dalam hatinya, namun aku hanya bisa terkekeh dalam hati melihat tingkah lucunya itu.
****

Kubolak-balikan setiap lembaran yang tersisa di dalam buku diary itu, tetapi yang kutemukan hanyalah kotak-kotak kosong tanpa tulisan.
Beberapa lembaran bulan kuteliti dengan seksama.
Akan teapi, hasilnya sama saja.

Agustus 2007

Mataku seolah terdiam saat membaca tulisan itu.
Kuingat-ingat kembali kejadian itu—kejadian paling menyakitkan itu ternyata terjadi di bulan Agustus tepatnya saat hari ulang tahunku.

Dengan cepat kukibatkan lembar di bulan Agustus itu dan menuju kotak yang bertulisankan angka delapan belas.

18 Agustus 2007
Kuakhiri kisahku dengan Ji Yong.


“Saengil chukahamnida, saengil chukahamnida, sarang han neun Kwon Ji Yong, saengil chukahamnida!”
Aku tertawa lepas saat sahabat-sahabatku—Seung Hyun, Young Bae, Dae Sung, dan Seung Ri—mengejutkanku dengan nyanyian itu.
Kulihat wajah Hae Min yang berada di sampingku.
Ia seperti memaksakan tawanya demi menghiburku.
Belakangan ini sikapnya menjadi semakin aneh.
Ia mejadi jarang tersenyum seperti dulu.
Sebenarnya apa yang terjadi pada diri Hae Min?

Ya! Ji Yong~a, ayo cepat buat permohonan!” seru Young Bae dengan bersemangat.
Aku memejamkan mataku kemudian mulai membuat permohonan dalam hati.
Sekilas kuperhatikan wajah Hae Min.
Kebahagiaan dan keceriaan seolah pupus dari benaknya itu.
Aku terus-terus bertanya dalam hati, namun aku tidak menemukan jawaban apapun.
Aku pernah bertanya kepadanya, tetapi ia menutupi semuanya dari diriku.
Aku terasa seperti orang asing dalam hidupnya.

“Ji Yong~a, aku mau kita putus.”
Mwo?! Hae Min~a, kau jangan membuat candaan yang bodoh seperti itu.”
Aku tersenyum hambar.
“Aku serius.” Ia menatapku dingin.
Aku ubah posisi dudukku sehingga menghadap dirinya.
Kugenggam kedua tangannya yang memucat itu.
“Hae Min~a, sebenarnya apa alasannya kau mengatakan ini padaku?”
Ia terdiam, namun perlahan butiran air mata melucur keluar dari kantung matanya.

Hening. Aku benci keheningan ini.
Mengapa di hari yang kuanggap sangat bahagia ini, ia justru mengatakan hal pahit itu?!
“Ya! Jawab!” Emosiku sudah tak tertahankan lagi.
Aku mengguncang tubuhnya.
Ia terisak. “
Mian, aku tidak ber—”
Belum aku menyelesaikan kalimatku, tetapi ia sudah terlebih dahulu mengambil tas lalu berlari pergi meninggalkanku.

Hari itu merupakan hari yang kurasa paling tidak adil di dalam hidupku.
Mengapa ia sema sekali tidak memikirkan perasaanku?
Mengapa ia malah tidak memberitahu mengenai penyakit yang dideritanya kepadaku?
Ia malah memilih untuk menutupinya dari diriku.

--------------------------------------------------------

Membaca diary ini rasanya sama saja seperti mengembalikan kesedihan yang berusaha kukubur dua tahun yang lalu.

Kotak bertanggal delapan belas itulah yang merupaka kotak terakhirnya yang ditulisnya.
Ia tidak meninggalkan pesan apapun lagi.
Hanya sebuah kenangan pahit yang tertulis di sana.

Aku bermaskud untuk menutup kembali buku itu, namun sebuah lipatan kecil di akhir buku seperti memanggilku untuk menariknya.
Rasa penasaranku semakin bertambah dan akhirnya kuputuskan untuk menariknya.
Ternyata itu sebuah amplop.
Amplop itu berwarna lavender dan di depannya tertulis tertulis namaku.

Kubuka perlahan amplop itu dan lagi-lagi aku menemukan sebuah foto.
Foto diriku dan Hae Min saat di kencan pertama kami.
Rona senyuman manisnya itu masih menggembang di wajahnya dan aku rindu saat-saat itu.
Andai Tuhan tidak memanggilnya.
Andai ia tidak menderita penyakit jahanam itu, aku pasti masih bisa melihat senyuman manis itu ada di hadapanku sekarang.

Aku menemukan selembar lipatan kertas yang terselip di belakang foto itu.
Kubentangkan kertas itu dan ternyata aku menemukan sebuah surat tertulis di atasnya.


Ji Yong,

Kau tahu, aku merasa sangat bahagia karena dapat menyebut namamu kembali.
Saat aku mengetahui yang sebenarnya, ternggorokanku terasa tercekat saat mengucapkan namamu.
Aku merasa diriku tidak pantas untuk memanggil dirimu lagi.
Aku tidak ingin melibatkan dirimu lebih jauh.
Kadang aku berpikir bahwa aku masih ingin bersamamu.
Aku merindukan tawa dan dukunganmu, tetapi ternyata semua itu hanya boleh ada dalam anganku saja.
Aku terlalu egois jika ingin memiliki semua itu karena itu sama saja halnya dengan memupuskan impianmu.

Akhirnya aku sadar bahwa aku harus melepaskan dirimu.
Memang rasanya sulit untuk percaya karena aku masih membutuhkan dirimu, tetapi aku bersedia menahan segala penderitaannya.
Aku hanya mau melihat kau bahagia, sekalipun aku tidak berada di sampingmu.

Hari demi hari berjalan tanpa dirimu.
Penyakitku semakin parah dan aku tahu bahwa waktuku sudah tidak lama lagi.
Rasa sakit ini semakin menggerogoti diriku.
Kucoba untuk berdiri di bawah derasnya hujan, mengira setiap tetesannya akan melunturkan rasa sakitnya, tetapi aku salah.
Semuanya hanya sia-sia saja karena yang kubutuhkan adalah dirimu.
Aku ingin merasakan dekapanmu untuk terakhir kalinya, tetapi sekali lagi aku berusaha menghardik diriku untuk mengurungkan niat itu.

Mianhae, karena telah menutupi semuanya.
Sekalipun aku telah menginggalkan dirimu, tetapi aku ingin melihat sebuah senyum tetap terulas di wajahmu.

Hae Min


Tetesan air mataku sudah tak terbendung dan membasahi lembaran itu.
Saat membacanya aku merasa bahwa aku begitu tidak berguna.
Rasa sakit itu terus menghancurkan tubuhnya perlahan, tetapi aku malah tidak dapat berbuat apa-apa untuknya.
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Ia ingin melihatku bahagia, tetapi tidak dengan cara seperti ini.

Aku berusaha tersenyum seperti apa yang tertulis di sana.
Menutup buku diary itu dan menyimpannya di dalam kotak seperti semula.
Aku berjanji tidak akan melupakan dirimu, Hae Min.
Sekalipun dirimu tidak berada di sisiku, tetapi aku yakin aku akan selalu menerangiku layaknya bintang yang kau gemari itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Dikutip dari: http://ade-tea.blogspot.com/2011/05/kursor-diikuti-jam-dan-tanggal-v2.html#ixzz1OkC3Xc7e